
Devita duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Karena sudah berjam - jam Brayen belum juga pulang. Setelah menonton film dan makan, Devita memutuskan untuk kembali ke dalam kamar.
Devita mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, dia langsung menghubungi Brayen. Satu, dua hingga lima kali panggilan tapi tidak terjawab. Devita pun mendengus kesal, karena Brayen selalu saja seperti ini.
"Apa kau sedang menunggu suamimu?" sudah sejak tadi Brayen berada di dalam ambang pintu. Tapi istrinya tidak menyadarinya. Bahkan saat ponsel Brayen bergetar pria itu tersenyum tipis setelah melihat wajah istrinya berubah menjadi kesal.
"Kau darimana saja Brayen!" Seru Devita.
Brayen tidak langsung menjawab, dia melangkah mendekat ke arah Istrinya. Lalu duduk di tepi ranjang. Tatapannya tidak henti menatap istrinya. Terlihat jelas wajah Devita yang terlihat kesal padanya.
"Aku harus bertemu dengan rekan bisnisku," jawab Brayen. "Setelah itu aku akan ke kafe terdekat dengan hotel bersama Felix dan juga Angkasa."
Devita mencebik, " Lama sekali! Aku tidak suka menunggu jika kau meninggalkanku lama! Kau ingat bukan? Kalau malam ini kita akan pergi ke night market? Aku ingin kesana?"
"Aku ingat," Brayen menarik dagu Devita mencium dan ********** dengan lembut. "Apa kau sudah mandi?"
"Belum!" Ucap Devita ketus.
"Kalau begitu kita mandi bersama," balas Brayen. Dia beranjak dan langsung membopong tubuh Devita gaya bridal. Devita memekik terkejut saat dengan mudahnya Brayen membopong tubuhnya.
"Brayen! Aku mandi sendiri!" Seru Devita.
"Lama Devita, kita akan menghemat waktu jika kita mandi bersama. Bukannya kau ingin ke night market?" balas Brayen.
"Tapi kita masih memiliki waktu Brayen!" Tukas Devita.
Brayen tersenyum tipis, dia melanjutkan langkahnya berjalan masuk kedalam kamar mandi. Devita mendesah pasrah, seperti biasa dia akan berada lama jika di dalam kamar mandi bersama dengan suaminya.
...***...
Asia Night Market, tempat yang di pilih oleh Devita, Laretta dan juga Olivia. Sebelumnya Devita memang pernah mendatangi tempat ini beberapa hari yang lalu. Tapi hanya sebentar. Itu alasan Devita ingin datang lagi kesini. Awalnya Brayen memang tidak menyukai pasar tradisional, dia takut makanan di pinggir jalan tidak baik untuk kandungan Devita. Tapi, karena paksaan dari Devita, akhirnya berhasil membuat suaminya itu luluh dan menurut padanya. Seperti biasa, Devita selalu mengatakan ini adalah keinginan anaknya.
Kini Brayen dan Devita sudah tiba di Asian Night Market. Devita menatap dengan mata berbinar melihat makanan yang menggodanya. Dan Olivia sudah lebih dulu menarik Felix untuk mengelilingi food vendor. Begitu pun dengan Laretta yang juga menarik tangan Angkasa untuk mengelilingi food vendor.
Melihat Laretta dan Olivia sudah mengelilingi food vendor, Devita langsung mengulas senyuman manis di wajahnya dan langsung memeluk lengan suaminya mengelilingi food vendor itu. Brayen tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan Devita yang sudah sejak tadi merajuk padanya.
"Brayen, sepertinya aku ingin makan itu." Devita menunjuk salah satu food vendor terdekat darinya.
Brayen membuang napas kasar. "Apa kau tidak ingin mencari makanan di restoran saja? Aku tidak yakin itu bersih sayang? Tidak baik untuk kandunganmu."
Devita mendengus tak suka. Brayen kembali mengatakan ini, padahal Brayen sudah memperbolehkan Devita untuk membeli makanan di food vendor Asian Night Market ini.
"Kau sudah mengizinkanku makan di food vendor? Kenapa sekarang kau masih melarangnya?" cebik Devita kesal.
"Aku hanya tidak ingin kau dan anak kita sakit," balas Brayen yang memberikan pengertian pada Istrinya itu.
Devita memeluk suaminya, mendongak dan menatap lekat wajah suaminya itu. "Aku dan anak kita tidak akan sakit, Brayen."
Brayen mengusap dengan lembut rambut Devita, jika sudah seperti ini Brayen tidak mungkin untuk menolaknya. "Kau ingin makan apa?"
"Noodles," jawab Devita antusias.
Brayen mengangguk lalu menggenggam tangan Devita menuju ke arah food vendor yang di tunjuk oleh Devita. Brayen kemudian menatap jenis menu yang di hidangkan. Sesekali Brayen melirik ke arah pelayan ketika pelayan itu memberikan pesanan pada pelanggannya.
"What do you want to order sir?" tanya pelayan dengan ramah.
"Devita, kau ingin makan apa?" Brayen menatap istrinya yang tengah melihat menu.
"Shang beef noodle soup." Devita menunjuk salah satu menu makanan.
"Allright, wait a moment miss," kata pelayan itu dan Devita mengangguk.
Tidak lama kemudian pelayan memberikan pesanan yang tadi Devita pesan. Brayen mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang tiga lembar seratus ribu dollar pada pelayan itu. Kemudian Brayen langsung memeluk bahu Devita dan berjalan meninggalkan food vendor. Namun, saat Brayen hendak melangkah, pelayan tadi berlari menghampiri Brayen.
"Sir, your money-"
"Keep the change." Brayen sudah lebih dulu memotong ucapan pelayan itu.
"Thank you sir. May god always bless your life," ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
"Brayen, ini enak sekali. Kau itu harus mencobanya." ucap Devita saat menikmati makanan yang dia pesan tadi. Devita langsung mengarahkan sendok ke bibir Brayen.
"Tidak sayang, kau saja yang makan." Brayen menjauhkan sendok itu.
"Tapi anakmu bilang, Daddynya juga harus ikut makan!" Devita merajuk, dia kembali mengarahkan sendok ke arah bibir Brayen.
Brayen membuang napas kasar, istrinya itu selalu mengatakan itu. Dengan terpaksa Brayen membuka mulutnya dan menerima suapan yang di berikan oleh istrinya itu.
Devita, kau beli apa?" Olivia mendekat ke arah Devita, menatap makanan yang di pegang oleh sahabatnya itu.
"Noodles," jawab Devita. "Kau beli apa?"
"Aku beli makanan food truck," balas Olivia.
"Kau beli apa Laretta?" tanya Devita, sambil menatap makanan yang ada di tangan Laretta.
"Aku membeli chicken grill. Ternyata Angkasa juga menyukai makanan yang ada di pasar tradisional seperti ini." jawab Laretta.
Devita tersenyum, "Ya, Angkasa memang sejak dulu sangat menyukai makanan yang ada di pasar tradisional."
"Kau masih mengingatnya Devita?" Angkasa sedikit terkejut ketika Devita mengingat kebiasaannya.
"Tentu aku mengingatnya, itu kan makanan kesukaanmu." balas Devita sembari terkekeh pelan.
"Kau juga begitu menyukai makanan di pasar tradisional. Aku sudah menduganya, kau akan meminta kesini lagi." ujar Angkasa.
Tanpa Devita sadari, Brayen dan Laretta tengah menatap dirinya dan Angkasa yang tertawa membahas kebiasaan mereka.
"Kita pulang sekarang." tukas Brayen dia langsung menarik tangan Devita menuju ke mobil.
"Eh? Tapi kenapa kita pulang sekarang Brayen?" Devita mengerutkan keningnya.
"Besok pagi kita sudah harus di bandara. Aku tidak ingin kita terlambat." suara Brayen terdengar begitu dingin.
Devita menatap Brayen bingung, dia tidak mengerti ada apa dengan suaminya itu. Wajah Laretta juga berubah. Laretta sedikit mempercepat langkahnya masuk kedalam mobil.
...***...
Sepanjang perjalanan, Devita melihat wajah suaminya yang sejak tadi tidak berubah. Tidak hanya Brayen tetapi Laretta juga hanya diam. Bahkan Laretta terus menatap ke luar jendela.
Kini mobil mulai memasuki lobby hotel. Brayen langsung turun dari mobil. Devita juga langsung turun menyusul Brayen. Devita menoleh ke arah Laretta dan Olivia untuk berpamitan. Devita pun semakin tidak mengerti ketika Laretta memaksakan senyuman di wajahnya.
Devita menggelengkan kepalanya. Menepis segala pikiran buruk yang ada.
Devita melangkah mengikuti Brayen masuk kedalam kamar. Tanpa satu kata pun, Brayen berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Devita melepas sepatu dan juga jaketnya, lalu duduk di sofa menunggu Brayen selesai mandi. Tidak lama kemudian, Brayen keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan celana training panjang dan bertelanjang dada. Memperlihatkan dada bidang dan otot perutnya yang begitu menggoda.
Devita beranjak dan melangkah ke arah Brayen. Dia langsung memeluk Brayen. Melihat suaminya seperti ini, rasanya Devita ingin terus memeluk suaminya itu.
"Aku ingin istirahat." Brayen melepaskan pelukan Devita.
Kening Devita berkerut dalam, dia semakin di buat tidak mengerti. Devita pun berusaha untuk tetap berpikir positif dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.