Love And Contract

Love And Contract
Ceraikan Aku Jika Itu Anakmu



Di lobby Devita berlari menuju parkiran, Devita masuk ke dalam parkiran mobil dan mengendarai mobil dengan kecepatan penuh meninggalkan perusahaan Mahendra Tower.


Brayen yang baru saja tiba di lobby, dia melihat mobil Devita yang meninggalkan perusahaannya. Brayen langsung berlari menuju ke mobilnya, dia masuk kedalam mobil dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh mengikuti mobil Devita.


Devita sudah melihat dari kaca spion, mobil Brayen terus mengikutinya. Tanpa memperdulikan, Devita menginjak gas dan semakin menambah kecepatan. Ini pertama kalinya dalam hidup Devita mengendarai mobilnya dalam kecepatan penuh. Air mata terus membasahi pipinya. Hati Devita terlalu sakit mendengar percakapan Brayen dan Elena.


Brayen memukul stir mobil, dia juga menginjak gas menambah kecepatannya. "Damn it! Devita beraninya kau membawa mobil seperti itu! Aku bersumpah akan menarik mobilmu! Jangan berharap kau bisa membawa mobil lagi!" Geram Brayen dengan sorot mata tajam penuh dengan kemarahan.


Mobil Devita sudah tiba di mansion mereka, dia turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam. Brayen sedikit lebih tenang, karena Devita ternyata pulang ke rumah mereka. Brayen turun dari mobil dan berlari mengejar Devita.


Devita langsung masuk ke dalam kamar, dia menuju ke arah walk in closet mengambil kopernya.


Brayen dengan cepat menarik paksa lengan Devita. " Kau mau kemana Devita!" Seru Brayen dengan tatapan penuh peringatan.


"Bukan urusanmu, aku mau pergi kemana! Jangan pernah mencampuri urusanku!" Devita menghentakkan tangannya, berusaha melepaskan cengkraman Brayen. Namun sia - sia, karena Brayen semakin mencengkram kuat tangan Devita.


"Kau Istriku Devita! Letakkan kopermu atau aku akan membuang kopermu!" Geram Brayen.


"Lepaskan aku! Sakit Brayen! Lepaskan aku! Aku ingin pergi!" Devita berontak, dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Brayen.


"Bisakah kau tenang Devita kita bisa membicarakan ini. Tidak dengan cara kau pergi meninggalkan rumah ini Devita! Aku akan menjelaskannya pada mu," Brayen berusaha menenangkan Devita. Namun, tangannya tetap mencengkram kuat tangan Devita.


Dengan mata yang memerah, Devita menatap tajam Brayen. "Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan Brayen! Semua yang aku dengar sudah jelas! Kau tidak perlu menjelaskan apapun! Telingaku masih berfungsi dengan baik!"


"Bisakah kau mendengarkan penjelasanku Devita? Ini semua tidak seperti yang kau bayangkan. Aku bisa menjelaskan ini semuanya, Devita!" Seru Brayen.


"Tidak! Sudah aku katakan, aku tidak akan mendengar penjelasanmu! Aku ingin pergi, lepaskan aku!" Sentak Devita dengan penuh emosi.


Devita berusaha melepaskan cengkraman tangan Brayen, tapi percuma Brayen tidak akan pernah melepaskannya. Brayen mendorong tubuh Devita hingga membentur dinding. Brayen menangkup wajah Devita dengan cepat dia ******* dengan kasar bibir Devita.


Devita mendorong tubuh Brayen dengan keras, memukul dada Brayen. Namun, Brayen mengunci tubuh Devita hingga membuat Devita tidak bisa bergerak. Akhirnya Devita membiarkan Brayen mencium dan ******* bibirnya dengan kasar.


"Please, listen to me. I beg you." ucap Brayen saat pagutanya terlepas. Dia menatap dalam mata Devita. Saat air mata Devita kembali menetes. Jari jemari Brayen langsung menghapus air mata Devita.


"Apalagi yang ingin kau jelaskan, Brayen!" Ucap Devita dengan Isak tangisnya.


"Kali ini Devita, untuk kali ini mohon dengarkan aku," Brayen kembali memohon agar Devita mau mendengarkan penjelasannya.


Hingga kemudian, Devita mengangguk. Brayen tersenyum ketika Devita mau mendengarkan penjelasannya. Dia menggenggam tangan Devita dan membawa istrinya itu duduk di sofa kamar mereka.


"Aku akan menjelaskan semuanya Devita. Tapi aku mohon, apapun itu kau harus percaya padaku," ujar Brayen dengan tatapan penuh permohonan.


"Jelaskan sekarang, aku akan mendengarkan penjelasanmu," tukas Devita dingin.


"Harusnya tahun depan, kami sudah menikah. Tapi Daddyku memintaku untuk pulang ke kota B, dan ternyata aku sudah di jodohkan denganmu. Aku tidak pernah berpikir pada akhirnya aku jatuh hati padamu, Devita. Selama aku menjalin sebuah hubungan, baru pertama kali aku merasakan ketakutan kehilangan. Itu hanya denganmu. Saat dengan Elena, aku tidak pernah merasakan takut kehilangan Elena. Karena yang aku tahu, Elena tidak pernah bisa berpisah denganku."


"Tetapi berbeda saat aku bersama denganmu, ketakutan itu terus muncul. Hingga aku menyadari, jika aku memang jatuh hati padamu. Aku memilih untuk mengakhiri hubunganku dengan Elena beberapa hari yang lalu. Dan ketika aku meminta untuk mengakhiri hubunganku dengan Elena, dia memberikan aku bukti, bahwa dia tengah mengandung tiga bulan." ucap Brayen kembali melanjutkan perkataannya.


"Dan itu anakmu? Kau mengakui itu kan?" tanya Devita dingin


"Awalnya aku yakin itu anakku. Tapi, saat aku melihat bukti foto yang Felix berikan kepadaku. Aku mulai meragukan anak yang di kandung Elena adalah anakku. Felix memberikanku bukti perselingkuhan Elena, foto Elena berciuman mesra dengan beberapa pria asing. Bahkan, di foto itu, Elena tengah berada di hotel bersama dengan pria lain. Aku sudah meminta Albert untuk mencari bukti tentang Elena. Kemungkinan 2 - 3 hari lagi Albert akan melaporkannya kepada ku," jelas Brayen.


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika kenyataannya bayi yang di kandung Elena adalah anakmu?" Devita kembali bertanya dengan menatap sinis Brayen.


"Jika memang itu benar anakku, maka aku akan bertanggung jawab. Tanggung jawab yang aku maksud adalah membiayai kehidupannya. Tapi tidak dengan menikahi Elena. Apa menurutmu aku akan menerima seorang wanita yang pernah berselingkuh dariku? Tidak Devita, aku tidak akan pernah memilih wanita yang pernah mengkhianati ku," jawab Brayen tegas.


Devita tersenyum sinis, " Dengarkan aku, Brayen Adams Mahendra, jika bayi yang di kandung Elena adalah anakmu. Maka kau harus menceraikanku. Aku tidak perduli kau menikahi siapapun. Tapi jika itu terbukti dia adalah anakmu, maka aku ingin kita berpisah!"


Brayen menatap tajam Devita. "Tidak! Kita tidak akan pernah bercerai Devita! Kau jangan pernah bermimpi akan berpisah denganku! Sampai kapan pun kau adalah milikku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku!"


"Kau tidak berhak mengatur segala keputusanku Brayen. Aku tidak ingin kau atur, aku berhak menentukan kehidupanku. Jika itu benar anakmu, maka kita harus berpisah. Satu hal yang harus kau tahu jika kau memiliki anak dari wanita lain, sampai kapanpun kalian akan terikat karena ada anak di antara kalian. Aku tidak mau itu, aku lebih memilih kita berpisah dari pada aku harus melihatmu terikat dengan wanita lain. Meskipun kau mengatakannya hanya sekedar bertanggung jawab dengan memberikan uang, tapi aku tetap tidak mau!" Seru Devita.


"Tidak ada perempuan di dunia ini, yang mau suaminya memiliki anak dari wanita lain. Aku tahu, itu adalah masa lalumu. Tapi maaf, aku memang bukanlah wanita yang sempurna. Aku tidak bisa menerima itu semua. Kau boleh menikahi Elena atau pun wanita lain yang kau inginkan. Tapi aku akan tetap pada keputusanku, kita akan berpisah jika terbukti itu adalah anakmu." Devita kembali melanjutkan perkataannya dengan tegas.


"Apa kau ini tidak mendengarkanku? Bukankah aku sudah mengatakan padamu, jika aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu? Dan kalau sampai itu terbukti dia adalah anakku, aku tidak akan mau berpisah denganmu!" Balas Brayen dengan tatapan yang menghunus tajam pada Devita.


"Terserah apapun yang kau katakan, Brayen Adams Mahendra! Aku hanya memberikanmu waktu satu minggu padamu, untuk membuktikan itu adalah anakmu atau bukan. Aku harap selama kau membuktikan, kau tidak mengangguku." Devita bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Brayen.


Brayen meremas rambutnya kuat, Devita hanya memberikan waktu padanya satu minggu. Bagaimana jika benar itu adalah anak Brayen, itu artinya Brayen dan Devita harus berpisah


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.