
Brayen terus menatap Devita yang masih menutup mata. Dia mengecupi punggung tangan Devita. Untungnya dokter mengatakan jika Devita hanya memar dan kondisi Devita pingsan karena benturan keras.
Perlahan Devita mulai membuka matanya. Dia menatap ruangan putih. Tatapan Devita kini melihat ke samping. Senyum di bibir Devita terukir ketika melihat Brayen berada di sampingnya.
"Sayang, kau sudah sadar?" tanya Brayen yang melihat Devita sudah sadar, dia langsung mengecupi puncak kepala Devita. "Maaf sayang... maafkan aku..."
Devita tersenyum, dia mengulas rahang Brayen. "Apa lukamu sudah di obati?"
"Ini hanya luka kecil," Brayen tidak henti mengecupi puncak kepala Devita, dia bersyukur tidak terjadi sesuatu pada Istrinya itu.
Devita mendengus. "Meski luka kecil, tetap saja harus di obati."
"Nanti aku akan mengobatinya," jawab Brayen. "Aku sungguh mengkhawatirkanmu,"
Devita mendekatkan dirinya ke arah Brayen, lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan suaminya itu. "Aku tidak apa - apa Brayen, jangan mengkhawatirkanku,"
"Maaf sayang, Brayen mengusap rambut Devita dengan lembut.
"Tidak perlu meminta maaf, sekarang aku hanya ingin kau menjawab ku. Apa alasanmu sampai kau berkelahi dengan William?" tanya Devita dengan tatapan yang begitu serius ke arah Brayen.
"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan emosiku, ketika dia mengatakan akan merebutmu dariku," jawab Brayen seraya mengecupi punggung tangan Devita.
Devita tersenyum mendengar ucapan Brayen. Kemudian dia berkata, "Aku tidak akan pernah mungkin mengkhianatimu,Brayen. Aku akan tetap memilihmu. Jangan pernah mendengarkan perkataan orang lain. Karena sampai kapanpun aku hanya akan memilihmu."
Perkataan Devita membuat Brayen tersenyum. Hatinya begitu menghangat begitu mendengar ucapan Istrinya itu.Dia menangkup kedua pipi Devita dan memberikan kecupan di bibir Devita, "Maaf, aku terlalu takut kehilanganmu,"
"Tidak ada yang perlu di takutkan. Selamanya aku akan tetap menjadi milikmu," Devita mengelus lembut rahang Brayen.
"Devita, bisakah sekarang kau menuruti perkataanku?" tanya Brayen dengan tatapan lekat pada Devita.
"Apa yang kau inginkan?" Devita kembali bertanya, dia mengerutkan keningnya menatap Brayen.
"Berhentilah dari Dixon's Group. Masa magangmu tinggal dua Minggu lagi, bukan? Kau berhentilah. Aku akan mengeluarkan surat yang di butuhkan oleh kampusmu. Selama dua Minggu, kau boleh datang ke kantor atau hanya tetap berada di rumah,"
"Tapi..."
"Aku tidak terima penolakan, Devita. Kau turutilah permintaanku," potong Brayen cepat.
Devita mendesah pelan, "Baiklah, aku akan berhenti dari Dixon's Group, tapi kau harus mengurus semuanya. Termasuk masalah kuliahku,"
"Aku akan meminta Albert untuk mengurus semuanya," Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibir Istrinya dengan lembut.
Suara ketukan pintu terdengar, Brayen melepaskan ciumannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan menginterupsi untuk masuk.
"Devita? Brayen? Apa aku menganggu kalian?" tanya Olivia yang melangkah masuk ke ruang rawat Devita.
"Olivia, kemarilah," kata Devita saat melihat Olivia masuk ke dalam ruangannya.
"Devita, aku harus pergi sebentar ada hal yang harus aku selesaikan. Nanti aku akan kembali," Brayen mengecup puncak kepala Devita.
Devita mengangguk, " Apa kau akan lama?"
"Tidak, aku tidak akan lama," jawab Brayen.
"Aku akan menemani Devita," sambung Olivia.
Brayen mengangguk lalu meninggalkan ruang rawat Devita.
" Devita, kau tidak apa - apa kan? Aku sungguh sangat khawatir padamu. Kenapa kau ini sangat berani?" tukas Olivia saat Brayen sudah pergi, dia langsung duduk di tepi ranjang.
Devita menghela nafas dalam. " Jika aku tidak menghentikan mereka, maka mereka akan tetap berkelahi. Aku tidak mungkin membiarkan itu,"
Devita mendengus. " Jangan bercanda Olivia! Brayen sudah ada lebam di wajahnya. Apa kau tadi tidak melihat wajah suamiku juga memiliki luka lebam?"
"Oh astaga Devita Mahendra. Ternyata kau sungguh sangat mencintai suamimu itu," ledek Olivia.
"Sudah, jangan meledekku. Lebih baik kita makan. Brayen sudah meminta Albert untuk membelikan kita makanan," Devita menatap kesal Olivia.
"Good, kalau begitu aku akan siapkan," jawab Olivia antusias.
...***...
Kini Brayen sudah tiba di Apartemen milik Elena. Brayen berjalan masuk ke dalam bersama dengan Albert yang mengikutinya dari belakang. Brayen terpaksa meninggalkan Devita di rumah sakit. Dia harus menemui Elena, banyak hal yang harus di selesaikan. Setibanya di depan Apartemen, Brayen menekan password Apartemen Elena. Dia melangkah masuk kedalam.
Seketika Elena tengah duduk di sofa, terkejut melihat Brayen yang datang. Namun, keterkejutannya tergantikan dengan wajah yang begitu senang melihat Brayen datang.
"Brayen? Kau datang?" Elena beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah mendekat ke arah Brayen dan langsung memeluk lengan Brayen.
Brayen melepaskan tangan Elena yang memeluk lengannya dan menatap dingin Elena. "Kau tidak bertanya kenapa aku datang ke sini?" tanya Brayen.
"Kau merindukanku?" Elena menunjukkan wajahnya yang tersenyum ke arah Brayen. Dia begitu yakin, jika Brayen pasti merindukannya.
"Merindukanmu, apa yang harus aku rindukan dari seorang ****** sepertimu? Kenapa aku begitu mudah di tipu oleh mu?" tukas Brayen sarkas. Terlihat jelas kilat mata Brayen menunjukkan kemarahan dan kebencian.
"Maksudmu apa Brayen? Aku tidak mengerti?" jawab Elena yang berusaha untuk bersikap tenang.
"Aku rasa kau bukan tidak mengerti. Tapi kau sedang berpura - pura tidak mengerti!" Seru Brayen.
"A...aku sungguh tidak mengerti maksudmu, Brayen," Elena kembali berusaha memeluk lengan Brayen, namun dengan cepat Brayen menepisnya.
"Kau sungguh tidak mengerti?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah Brayen.
Elena langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jika memang kau tidak mengerti. Maka aku akan menunjukkannya." Brayen menggerakkan tangannya ke arah Albert memberikan isyarat agar Albert mendekat ke arahnya.
Albert mengangguk, lalu menyerahkan map coklat pada Elena. Kemudian Elena yang menerima map itu. Perlahan Elena membuka map itu. Seketika tubuh Elena mematung, dia menggelengkan kepalanya melihat foto dirinya bersama dengan pria lain. Termasuk fotonya bersama dengan William.
"B....Brayen ini bukan aku!" Ucap Elena langsung melempar foto itu ke lantai.
Brayen tersenyum sinis. " Bukan dirimu, lantas siapa yang ada di foto itu? Apa kau ingin beralasan kau memiliki saudara kembar? karena foto itu hasil asli bukan hasil edit!"
"Sudah aku katakan! Itu bukan aku!" Seru Elena.
"Cukup! Sudah cukup permainan mu Elena! Kau sudah sejak lama berselingkuh dariku. Bahkan William pria sialan itu sudah mengakui Kalian bersama. Alex pria yang menjadikanmu simpanannya juga sudah mengatakan semuanya! Kau sudah tidak bisa lagi menutupi kebusukanmu! Kenapa aku pernah memiliki kekasih seperti dirimu? Sungguh menjijikkan. Kau memberikan tubuhmu untuk mendapatkan yang kau inginkan," Brayen menatap rendah Elena dia berkata dengan sarkas.
"Dan aku juga sudah memeriksa bank accountmu. Kau selalu mendapatkan kiriman uang dari William Dixon dan dari simpananmu yang lainnya. Aku rasa kau adalah wanita yang haus akan uang. Aku memberikanmu begitu banyak kemewahan. Nyatanya itu tidak pernah cukup untuk dirimu!" Brayen melanjutkan perkataannya dengan tajam.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.