Love And Contract

Love And Contract
Di Mall Bersama Olivia



Olivia yang baru saja keluar dari kelas, dia sudah mendapatkan pesan dari Devita sebelumnya, jika kini Devita sedang berada di taman. Olivia langsung melangkah menuju ke arah taman dan benar saja, sahabatnya itu sedang duduk di taman sambil membaca novel. Kemudian dia melangkah mendekat ke arah Devita sebelum duduk. Olivia mengambil minuman Devita dan meminumnya lalu dia duduk di hadapan Devita dengan wajah masam.


"Olivia, kau ini sudah datang langsung mengambil minumanku, dan menunjukkan wajah yang sudah di tekuk seperti itu," Devita menyipitkan pandangannya. Terlebih melihat wajah masam Olivia.


Olivia mendesah pelan. "Kenapa aku harus mengulang mata kuliah itu, membuat kepalaku hampir pecah." Ucap Olivia. Dia meremas dengan kuat rambut panjangnya.


Devita menggeleng pelan, seraya mengulum senyumannya. "Itu salahmu sendiri, aku sudah mengatakan padamu untuk fokus. Kau malah tidak mendengarkanku."


Olivia berdecak kesal, "Jangan menyalahkanku, ini sudah pasti dosennya salah menilai."


Devita terkekeh, "Kau ini jangan asal bicara! Kalau Mr. Gerald mendengar ucapanmu, aku pastikan kau akan kembali mengulang mata kuliahnya."


"****! Dia memang sungguh menyebalkan, kenapa aku harus mengulang mata kuliah dengan dosen yang tua? Aku ingin dosen yang tampan." Olivia mendengus.


"Sudahlah. Tadi semua kan berjalan dengan baik, kan?" tanya Devita sambil menatap Olivia.


Olivia mengangkat bahunya. "Ya setidaknya, jauh lebih baik dari sebelumnya,"


"Devita, kau belum menceritakan padaku. Hadiah apa yang sudah di berikan oleh Brayen, saat ulang tahunmu kemarin?" tanya Olivia yang sejak kemarin dirinya sudah penasaran.


Devita langsung menunjukkan jemarinya pada Olivia, dia memperlihatkan cincin yang di berikan oleh Brayen kemarin. " Brayen, melamarku dengan cincin ini," ujarnya dengan senyuman di wajahnya.


"Melamar? Bukankah kalian sudah menikah?" Olivia mengerutkan keningnya menatap bingung Devita.


Devita tersenyum. "Ya, kau benar. Tapi kita tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Kita menikah karena perjodohan, bahkan Brayen tidak pernah melamarku secara langsung. Kemarin saat Brayen berulang tahun, dia membawaku ke Italian Restaurant. Dia memutar Vidio pernikahan kita, lalu dia melamarku. Dia memintaku menjadi istrinya," jawabnya yang menceritakan hadiah dari sang suami. Sejak tadi Devita terus tersenyum, terlebih jika membayangkan, hadiah yang di berikan oleh Brayen. Dia pasti akan selalu tersenyum bahagia.


"Kau serius suamimu, Brayen melakukan itu? Aku tidak menyangka, jika dia sungguh romantis," ujar Olivia yang tidak percaya. Pasalnya dia sungguh tidak mengira, Brayen akan memiliki sisi romantis.


"Ya, tentu dia melakukannya.Bahkan aku juga tidak menyangka dia begitu romantis." jawab Devita.


Olivia mendesah pelan, "Kau sungguh beruntung Devita, tidak sepertiku nasibku sungguh sial."


"Kenapa kau selalu mengatakan, nasibmu sungguh sial?" Devita menautkan alisnya.


"Kau tahu, saat kau berulang tahun kemarin. Aku di culik oleh Felix. Sepupu dari suamimu itu, sungguh dia itu tidak waras! Dia menculikkku, Devita!" Seru Olivia kesal.


"Felix menculikmu? Bagaimana bisa?" tanya Devita yang masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya ini.


"Kemarin dia datang ke kampus, lalu dia datang menghampiriku. Aku pikir dia datang kesini mencarimu atau dia akan mendaftarkan sepupunya kuliah. Tapi dia datang untuk menemuiku. Saat aku bertanya kenapa dia mencariku, dia bilang memiliki urusan denganku. Lalu dia menarikku masuk kedalam mobilnya." jelas Olivia yang menceritakan tentang Felix yang memaksa dirinya.


Devita terkekeh, " Dia mengajakmu berkencan! Bukan menculikmu, Olivia."


"Tidak! Dia menarik paksa diriku masuk kedalam mobilnya. Itu sama saja dengan penculikan! Tidak ada yang mengajak perempuan berkencan seperti itu!" Olivia mencibir.


Devita menggeleng pelan, dia tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh sahabatnya. "Memangnya, Felix membawamu kemana?"


"Felix memang membawaku French Restoran. Tapi tetap saja, itu namanya penculikan," tukas Olivia penuh dengan penekanan.


"Apa Felix ada mengatakan sesuatu padamu?" Devita kembali bertanya, dia menatap lekat mata sahabatnya itu.


Olivia membuang napas kasar. " Dia sudah gila, Devita, dia bilang padaku sejak dia bertemu denganku. Aku tidak akan pernah hilang dari pikirannya. Dia juga bilang padaku, aku harus terbiasa jika dia mengangguku."


Devita terkekeh geli, " Benarkah Felix mengatakan itu padamu? Ah, Felix ternyata begitu manis."


"Aku merasa dia itu sudah tidak waras! Bagaimana bisa? Aku ini baru saja bertemu dengannya, dia sudah mengatakan itu. Parahnya dia bilang, dia akan sering bertemu denganku, supaya aku bisa mengenal satu sama lain. Aku tidak habis pikir dengannya," seru Olivia kesal.


Devita mengulum senyumannya. " Itu artinya dia sudah jatuh cinta denganmu. Lebih tepatnya jatuh cinta pada pandangan pertama,"


Olivia berdecak kesal. "Kenapa kau mengatakan itu. Rasanya tidak mungkin, Dia tidak mungkin menyukai anak kecil sepertiku," tukasnya dengan yakin.


Devita mendengus. " Kau bukan anak kecil lagi bodoh! Jadi hentikan pikiranmu itu yang mengatakan kau ini anak kecil!"


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas tentangnya. Lebih baik, setelah mata kuliah terakhir, kita langsung pergi ke mall. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama," kata Olivia yang mengajak sahabatnya itu untuk bersantai. Semenjak Devita menikah, mereka sudah jarang menghabiskan waktu bersama.


Devita mengangguk setuju. " Kau benar, sudah lama, kita tidak menghabiskan waktu bersama. Nanti, saat di mall aku akan kirim pesan pada Brayen.


"Ya, Devita beranjak dari tempat duduknya, bersama dengan Olivia yang beranjak dari tempat duduknya. Kemudian mereka melangkah masuk ke dalam kampus.


...***...


Devita dan Olivia kini sudah sampai di Literal Town Centre, salah satu mall terkenal di kota B. Mereka berdua masuk kedalam mall. Rasanya sudah lama sekali Devita tidak menghabiskan waktu bersama dengan Olivia. Semenjak sudah menikah, Devita memang sudah jarang sekali pergi ke mall bersama dengan Olivia.


" Devita, kita makan Ice cream di sana. Aku sangat ingin makan Ice cream rasa matcha," Olivia menunjuk salah satu ice cream yang letaknya tidak jauh darinya.


Devita mengangguk, " Ya, belikan aku juga. Aku ingin rasa cokelat. Aku ingin kirim pesan pada Brayen. Tadi aku belum kirim pesan padanya jika aku pergi ke mall bersamamu."


"Baiklah, kalau begitu kau tunggu di sini sebentar. Aku akan membelinya dulu," ujar Olivia.


"Ya ingat, berikan aku porsi large jangan small." balas Devita mengingatkan. Dia tidak suka jika di belikan Ice cream dengan ukuran kecil.


Olivia mendengus, " Kau ini badan kecil, tapi porsi makanmu banyak sekali!" Cibirnya.


"Memangnya kau ini sedikit? Kau juga banyak!" Jawab Devita tidak mau kalah.


"Sudahlah, aku kesana dulu. Nanti, rasa matcha-nya habis," Olivia langsung berjalan meninggalkan Devita menuju ke toko Ice cream.


Melihat Olivia yang sudah pergi, Devita mengambil ponselnya. Dia belum memberi kabar pada Brayen, jika dirinya sedang bersama dengan Olivia di mall setelah pulang kuliah.


Devita : Brayen, aku sedang berada di mall bersama dengan Olivia. Pulang kuliah tadi, aku langsung pergi ke mall. Aku akan pulang sedikit terlambat.


Brayen : Kau pulang jam berapa?


Devita : Mungkin, sekitar jam tujuh malam.


Brayen : Aku juga akan pulang terlambat malam ini. Aku harus meeting dengan Mr. Nicholas.


Devita : Baiklah, jaga kesehatanmu. Apa kau sudah makan?


Brayen : Sudah, bagaimana denganmu


Devita : Aku akan makan sebentar lagi, sekarang aku sedang memesan Ice cream.


Brayen : Ya sudah, aku harus segera meeting lagi. Jangan pulang terlalu malam. Hubungi Ruby untuk menyusulmu ke mall.


Devita : Aku akan menghubungi Ruby, jika aku membutuhkannya. sampai nanti, aku ingin makan dulu.


Setelah membalas pesan dari Brayen, Devita kembali menyimpan ponselnya di dalam tas. Devita membuang napas kasar, mengingat Brayen memintanya untuk membawa Ruby. Devita, tidak pernah suka jika harus di ikuti. Lagi pula, Devita tidak berniat belanja terlalu banyak hari ini. Jika hanya dua atau tiga shopping bag, Devita tidak memerlukan bantuan Ruby.


Olivia yang baru saja membeli dua ice cream di tangannya, kini sudah memegang ice cream ukuran large. Olivia melangkah mendekat ke arah Devita yang sudah sejak tadi. Devita menahan diri untuk menahan diri untuk tidak tertawa ketika melihat Olivia yang tengah membawa dua ice cream ukuran large.


"Kenapa kau tertawa!" Dengus Olivia. Dia langsung menyerahkan ice cream coklat large di tangannya pada Devita.


Devita terkekeh geli, "Kau mengatakan, kalau badanku kecil dan makanku banyak, apa bedanya denganmu? Ukuran ice creammu juga sama denganku."


Olivia mencebikkan bibirnya. "Jangan berisik, sudah makan saja ice creammu."


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.