
"Tuan Nicholas, apa kau sudah menunggu lama? Maaf membuatmu menunggu," Brayen menarik pelan kursinya, lalu duduk di hadapan rekan bisnisnya itu.
"Tidak apa - apa, Tuan Brayen. Saya juga baru datang sepuluh menit yang lalu," jawab Nicholas seraya tersenyum ramah ke arah Brayen. Kemudian tatapan Nicholas teralih pada wanita cantik yang duduk di samping Brayen. "Tuan Brayen, apa dia sekretaris anda?" tanyanya yang tak lepas menatap wanita cantik yang duduk di samping Brayen.
"Ya, dia adalah Raisa, sekretarisku." ucap Brayen sambil mengambil gelas sloki yang berisikan wine di hadapannya. Lalu menyesapnya dengan perlahan. " Kita langsung pada pembahasan kita. Sebelumnya aku sudah membaca proposal yang kau berikan pada Asistenku. Aku rasa kau menyetujuinya, untuk pembangunan hotel di Barcelona. Dan untuk proses selanjutnya Asistenku yang akan mengurusnya."
Nicholas tersenyum ramah, "Terimakasih Mr. Brayen, senang bekerja sama dengan anda."
Brayen mengangguk. "Kalau begitu, aku harus pergi."
"Tunggu, apa aku bisa mengantar sektretarismu?" tawar Nicholas seraya melirik ke arah Raisa.
Seketika wajah Raisa memucat. Terlihat wajah Raisa yang tampak begitu takut. Kemudian dia menoleh ke arah Brayen seakan dia meminta pertolongan.
"Raisa, apa kau mau di antar oleh Tuan Nicholas?" tanya Brayen.
"Ti...Tidak, Tuan. Saya membawa mobil,"
"Tuan Nicholas, sekretarisku menolaknya. Kalau begitu saya harus pergi," Brayen melangkah keluar dan Raisa langsung mengikutinya.
...****...
Devita dan Olivia turun dari mobil. Mereka berdua kini sudah tiba di For Season Hotel, kota B. Acara pernikahan dari teman Ayahnya Olivia di adakan di hotel ini.
Devita sungguh malas untuk melangkah masuk, sebenarnya dia tidak ingin datang ke pesta. Dia lebih memilih di kamar daripada harus datang ke pesta seperti ini. Jika bukan karena Olivia yang mengajaknya ke pesta, Devita tidak akan pergi ke pesta.
Devita dan Olivia berjalan memasuki ballroom hotel. Saat Devita ingin memasuki ballroom hotel, langkah Devita terhenti saat melihat sosok yang dia kenali sedang bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik dan seksi.
"Devita, ayo kita kesana." Olivia menarik tangan Devita. Namun, Devita masih terus saja diam dan terus menatap sosok yang begitu Devita kenal.
"Olivia, maaf. Aku rasa aku harus pulang," ucap Devita cepat.
"Pulang? Kita baru saja sampai, Devita " Seru Olivia kesal.
"Maaf Olivia. Tapi aku harus pulang sekarang," jawab Devita sontak membuat Olivia semakin kesal.
"Sebenarnya ada apa, Devita?" Olivia berdecak, kali ini dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh sahabatnya itu.
Tanpa memperdulikan ucapan Olivia, Devita langsung membalikkan tubuhnya. Dia berlari langsung meninggalkan Olivia yang masih tak bergeming dari tempatnya.
"Devita!" Teriak Olivia saat melihat Devita berlari meninggalkannya.
Brayen yang baru saja keluar dari restoran yang ada di dalam hotel, dia tersentak mendengar nama istrinya. Dia langsung mengalihkan pandangannya. Namun, kini matanya menatap Devita berlari menjauh dari hotel. Seketika wajah Brayen langsung memucat. Brayen yakin Devita sudah salah paham karena sekretaris barunya yang sedang berada di sampingnya.
Dengan cepat Brayen langsung berlari mengejar Devita, Brayen bahkan tidak memperdulikan beberapa paparazzi yang mengambil gambar dirinya yang sedang berlari mengejar Istrinya. Kali ini dia akan menjelaskan semuanya. Meski Devita tidak mau mendengarkannya, namun Brayen akan memaksanya.
"Devita tunggu," Brayen berhasil menarik lengan Devita.
"Lepas Brayen!" Sentak Devita. Dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Brayen. Namun sia - sia, Brayen semakin erat mencengkram pergelangan tangannya.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan. Aku tahu kau sudah salah paham!" Tukas Brayen tegas.
"Tidak sayang, kali ini kau sudah salah paham. Aku tadi habis meeting dengan rekan bisnisku," jelas Brayen.
Devita tersenyum sinis, " Rekan bisnis? Lalu dimana Albert? Jangan mencari alasan lagi, Brayen. Kau sungguh hebat Brayen, padahal kau sedang menjauh dari istrimu. Tetapi sekarang kau langsung membawa wanita lain ke hotel. Bagus kalau kau menunjukkan ini. Besok pagi, aku harus segera mengurus surat perceraian kita!"
Brayen menggeram rahangnya mengetat. Tangannya terkepal kuat. Sorot matanya begitu tajam kala mendengar Devita mengucapkan kata cerai.
"Cerai? Jangan bermimpi!" Ucap Brayen tegas.
"Terserah! Tapi besok pagi aku akan tetap mengurus surat perceraian kita!" Seru Devita.
Tiba - tiba Brayen langsung menarik tubuh Devita dan membawanya ke bahunya seperti karung beras. Devita tersentak saat Brayen langsung membopong tubuhnya.
"Brayen! Lepaskan aku!" Suara teriakan Devita begitu kencang. Namun, Brayen tetap tidak memperdulikannya, Brayen terus kembali kedalam hotel. Bahkan Brayen sama sekali tidak memperdulikan paparazzi yang kini sedang mengambil gambar dirinya dan juga istrinya.
Brayen sudah tidak perduli dengan pemberitaan di media, saat dirinya mengejar dan membopong Devita, istrinya. Bagi Brayen yang terpenting saat ini adalah menjelaskan semuanya pada Istrinya. Dia tidak ingin semuanya berlarut. Sudah cukup dia berjauhan dari istrinya, dia tidak bisa lagi menahan diri.
Kini Brayen membawa Devita masuk kedalam kamar hotel yang baru saja dia pesan. Kali ini dia akan memaksa istrinya itu untuk berbicara dengannya. Tidak perduli jika Devita menolaknya, dia akan terus memaksa istrinya untuk berbicara dengannya.
"Lepaskan aku Brayen, aku ingin pulang!" Devita mendorong tubuh Brayen. Dia hendak meninggalkan kamar hotel itu, namun Brayen langsung memeluk pinggangnya. Hingga membuat Devita tidak berkutik
"Kita harus bicara, Devita." tukas Brayen menekankan.
"Lepas! Aku tidak ingin berbicara denganmu!" Devita terus berontak, dia terus mendorong tubuh suaminya itu.
Kita bicara, jika kau tidak mau bicara denganku. Aku akan melakukan cara seperti saat aku marah, saat pria di masa lalumu itu datang. Kau ingat Devita, cara kejam seperti apa yang pernah aku lakukan terakhir kali padamu?" Kini Brayen melayangkan tatapan dingin. Terpaksa dia mengancam istrinya itu. Jika tidak, Devita akan terus memberontak.
Devita terdiam, dia tidak lagi memberontak mendengar ucapan Brayen. Terakhir kali Brayen memperlakukannya layaknya seorang ******. Bahkan Devita hingga detik ini masih tidak bisa melupakan itu.
Brayen membuang napas kasar, kemudian dia menarik tangan Devita, membawa istrinya itu untuk duduk di sofa.
"Wanita yang kau lihat itu adalah Raisa, sektretarisku yang baru. Malam ini aku memiliki pertemuan dengan dua pengusaha asal Ukraina dan Barcelona. Albert menemui pengusaha asal Ukraina. Sedangkan aku, bertemu dengan Nicholas, pengusaha asal Barcelona," jelas Brayen yang menceritakan keadaan yang sebenarnya.
"Devita, aku tidak mungkin berselingkuh darimu. Untuk apa aku berselingkuh, jika aku memiliki istri yang sempurna seperti dirimu, Devita. Aku tidak bodoh untuk melakukan hal itu. Percayalah, aku tidak akan pernah mungkin melakukan hal seperti itu. Aku tahu, kau pasti tidak mudah memaafkanku. Tapi sudah cukup sayang. Cukup untuk menghukumku. Aku tidak bisa jauh darimu lagi, Devita. Aku sudah menahan diri untuk tidak bertemu denganmu, tapi kenyataannya tidak mudah. Aku tidak bisa Devita."
Brayen bersimpuh di hadapan Devita. Kemudian dia melanjutkan perkataannya. "Kau boleh menghukumku dengan cara apapun, Devita. Bahkan kau boleh memukulku jika itu membuatmu puas. Asal, kau tidak pergi jauh dariku, Devita. Aku sudah menyesali semuanya. Aku menyesal dengan semua yang sudah aku lakukan. Aku mohon maafkan aku, Devita." suara Brayen terdengar begitu lemah, tatapannya menatap Devita penuh dengan permohonan.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.