Love And Contract

Love And Contract
Kepulangan Alena



Semua orang yang ada di ruang makan mengalihkan pandangannya saat mendengar suara milik Alena. Seketika semua orang yang berada di ruang makan terkejut. Melihat Alena kini melangkah masuk kedalam ruang makan.


"A-Alena? Sayang, Mama tidak sedang bermimpi kan?" Citra beranjak dari tempat duduknya dia menatap tak percaya. Rasanya tidak mungkin, jika putrinya itu ada di hadapannya.


"Ma, Alena pulang." mata Alena berkaca-kaca, menatap ibunya.


Citra langsung memeluk erat putrinya. Air mata Citra berlinang membasahi pipinya dan tidak pernah berhenti bersyukur, putrinya kini berada di hadapannya.


"Sweet heart? Bagaimana bisa kamu ada di sini?" Citra mengurai pelukannya, dia menangkup kedua pipi Alena. Sudah lama dia tidak bertemu dengan putri bungsunya itu.


"Alena?" Varell yang sejak tadi menatap tak percaya. Dia tidak menyangka jika putrinya kini berada di hadapannya.


Alena mengalihkan pandangannya ke arah Varell dengan cepat, Alena langsung menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Ayahnya. Varell membalas pelukan putrinya. Varell mengelus punggung putrinya itu. Tidak bisa di pungkiri jika Varell juga sangat merindukan putrinya itu.


Kemudian, kini Alena menatap ke arah Angkasa yang tidak bergeming dari tempat duduknya. "Kak? Apa aku bisa memelukmu?"


Angkasa tersenyum, dia menjawab dengan anggukan kepalanya. Tidak menunggu lama, Alena langsung memeluk erat tubuh Angkasa. Tangis Alena pecah ketika berada di dalam pelukan Angkasa. Alena membenamkan wajahnya di dada bidang Angkasa. Isak tangis sesegukan, membuat Angkasa langsung mengelus rambut Alena.


"Jangan menangis, aku tidak ingin melihatmu menangis." Angkasa mengelus rambut adiknya. Menenangkan adiknya yang kini berada dalam pelukannya.


"Maafkan aku, Kak." kata Alena lirih. "Aku itu selalu menyusahkanmu, Kak. Aku sungguh minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan."


"Lupakanlah, jangan lagi meminta maaf. Semua yang terjadi bisa menjadi pembelajaran untukmu," jawab Angkasa.


Alena mengurai pelukannya, dia menatap wajah Angkasa dengan matanya yang masih memerah. "Terima kasih Kak, terima kasih karena sudah memaafkanku."


"Kau adikku. Aku akan memaafkanmu dan jangan lagi melakukan kesalahan itu," balas Angkasa seraya mengelus lembut pipi Alena. "Sekarang katakan padaku, kenapa bisa kau ada di sini?"


"Sebenarnya, aku bebas sudah sejak kemarin," jawab Alena yang masih terisak. "Tapi aku sungguh malu bertemu denganmu, Mama dan Papa. Aku memilih hari ini untuk bertemu dengan Kalian. Aku tahu, kalian semua pasti terkejut aku bisa ada di sini. Aku sendiri tidak menyangka bisa bebas dan menghirup udara segar. Brayen Adams Mahendra yang membebaskanku. Dia juga yang memberikan kesempatan kedua padaku."


"Brayen yang membebaskanmu?" Citra terkejut mendengar apa yang telah di katakan oleh putrinya itu.


Alena menggangguk. "Ya, Brayen yang sudah membebaskanku, Mah. Dia memang terlihat begitu keras. Tapi sebebarnya, dia masih memiliki kebaikan di dalam hatinya. Jika tidak, mana mungkin dia mau membebaskanku."


"Ceritakan semuanya, bagaimana Brayen membebaskanmu?" Angkasa menatap serius Alena. Menuntut adiknya itu untuk segera menjawab.


"Kemarin saat aku bebas, aku datang ke perusahaan milik Brayen. Aku tahu, dia masih membenciku. Aku melihat dari matanya ketika dia menatapku begitu membenciku. Tapi dia memberikan kesempatan kedua untukku. Jika tidak, mungkin aku tidak akan pernah bebas dari penjara."


"Aku juga sudah bertemu dengan Laretta untuk meminta maaf padanya. Ternyata calon istrimu itu sangat baik, Kak. Dia sudah memaafkanku sebelum aku minta maaf padanya. Aku sungguh malu padanya. Dia dengan mudahnya memaafkanku tanpa menaruh dendam sedikitpun. Seharusnya dia berniat mempermalukanku. Tapi Laretta sama sekali tidak menginginkan itu. Dia tidak ingin membalas dendam apapun padaku."


Alena menundukkan kepalanya, setelah menceritakan ini. Dia memang sangat malu pada Laretta. Wanita itu sangat baik padanya. Padahal seharusnya, Laretta membalas dendam padanya. Apa yang di lakukan Alena sangat keterlaluan. Membuat Laretta malu di hadapan publik.


Seketika senyum di bibir Angkasa terukir mendengar perkataan dari Alena. "Aku tahu, sejak awal aku sudah yakin aku tidak salah memilih calon istri. Laretta memang wanita yang tepat untukku."


"Mama bangga pada Laretta. Dia adalah wanita yang sangat baik. Setelah ini, Mama ingin menemuinya. Mama harus berterima kasih, karena dia tidak menaruh dendam pada Alena." ujar Citra dengan tatapan yang haru. Dia begitu bahagia, putranya itu memilki calon istri yang sangat baik.


Varell melangkah mendekat, dia mengelus rambut panjang Alena. "Sekarang, kau sudah mengerti arti sebuah tanggung jawab, bukan? Papa hanya ingin kau belajar dari sebuah tanggung jawab. Kelak, kau akan selalu bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan. Papa berharapnya kedepannya kau lebih bijaksana. Papa juga tidak ingin, kau melukai orang di sekitarmu dengan perkataanmu. Papa juga ingin kau lebih baik setelah kejadian yang menimpamu ini."


Alena mengangguk patuh. "Aku berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan seperti kemarin, Pa. Aku berjanji tidak akan melukai seseorang.


Citra mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Mama sangat senang sekali mendengarnya sayang. Itu artinya kau sudah dewasa, dan bisa menyikapi masalah yang pernah hadir di hidupmu."


"Aku senang, jika kau sudah mengakui kesalahanmu," balas Angkasa. "Aku juga bangga padamu karena sudah meminta maaf langsung pada Laretta."


"Ada apa?" Angkasa mengerutkan keningnya, menatap bingung Alena.


"Brayen mengatakan, besok kau harus membawa Papa dan Mama kerumah keluarganya," jawab Alena.


Angkasa menatap serius Alena, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh adiknya itu. "Bicara yang benar Alena. Jangan bicara yang tidak-tidak."


Alena mendesah pelan. "Aku tidak mungkin bicara yang tidak-tidak, jika itu menyangkut tentang Brayen. Kau sangat tahu seperti apa dia. Tidak mungkin seorang Brayen Adams Mahendra mengatakan sebuah omong kosong. Dia memang memintamu untuk membawa Mama, Papa bertemu dengan keluarga Mahendra."


Senyum di bibir Varell dan Citra terukir ketika mendengar perkataan Alena. Setelah apa yang telah Angkasa buktikan demi Laretta. Akhirnya, Angkasa mendapatkan kesempatan.


Angkasa menarik sudut bibirnya, mengulas senyuman tipis. "Aku sudah menduganya sejak awal. Brayen Adams Mahendra banyak mengujiku, hanya ingin tahu dimana letak kesabaranku. Dan pada akhirnya, aku memang tidak akan pernah menyerah sedikitpun."


Varell menepuk pundak putranya. "Ya, ini adalah buah dari perjuanganmu. Papa sama sekali tidak menyangka, jika Brayen akhirnya memberikanmu kesempatan. Tunjukkan padanya, kau akan selalu membahagiakan Laretta."


Angkasa mengangguk. "Aku berjanji akan selalu membahagiakan Laretta."


...***...


Mobil Brayen mulai memasuki halaman parkir mansionnya, dia melirik arlojinya kini sudah pukul enam sore. Dia sengaja pulang lebih awal, hari ini dia melimpahkan semua pekerjaannya pada Albert. Brayen melangkah masuk kedalam mansion, para pelayan dan penjaga yang melihat Brayen, mereka langsung menundukkan kepala mereka. Sedangkan Brayen hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya.


Saat Brayen masuk kedalam kamar, dia mendapati istrinya yang sedang tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Brayen menggelengkan kepalanya, melihat istrinya yang sudah tertidur pulas. Dia melangkah mendekat ke arah Devita, lalu langsung duduk tepat di samping Devita. Dia menatap wajah polos Devita yang terlihat menggemaskan. Pipi istrinya yang semakin hari, selalu semakin berisi.


Brayen mengelus lembut pipi Devita, memberikan kecupan di seluruh wajah istrinya itu. Mata indah milik istrinya yang masih terpejam, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung dan bibir yang mungil berwarna pink alami. Membuat Brayen tidak henti memberikan kecupan di seluruh wajah istrinya.


Devita menggeliat, merasakan ada sentuhan di wajahnya. Perlahan dia mulai membuka matanya. Senyum di bibirnya terukir ketika suaminya sudah berada di hadapannya.


"Maaf sayang, aku membangunkanmu." Brayen masih terus memberi kecupan di seluruh wajah Devita. Sedangkan Devita memilih untuk memejamkan mata sebentar, ketika suaminya tidak henti menciumi dirinya. Tentu Devita sangat senang jika Brayen terus menciuminya. Hal yang terindah ketika membuka mata sudah mendapati banyak kecupan dari pria yang begitu di cintainya.


"Kau sudah makan?" sembari mengelus lembut pipi Devita.


"Sudah, tapi aku rasa anakmu lapar lagi." jawab Devita dengan senyuman yang lebar.


Brayen menganggukan kepalanya seolah mempercayai perkataan istrinya. "Jadi, sekarang kau lapar lagi. Kau selalu membawa - bawa anakku?"


"Memang anakmu yang lapar! Jika tidak ada anakmu di perutku, pasti aku sudah kenyang! Aku sudah banyak makan tadi!" Cebik Devita kesal.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.