
Tanpa menunggu, Devita langsung meninggalkan Lucia yang di penuhi oleh amarah setelah mendengarkan ucapan Devita. Napas wanita itu semakin memburu, dia semakin mengepalkan tangannya dengan kuat. Terlebih saat Devita menjatuhkan harga dirinya. Lucia masih tidak menyangka bahwa Devita mampu melawan, karena yang dia baca mengenai Devita adalah wanita yang lemah lembut dan baik.
Devita berjalan dengan anggun keluar dari kafe itu, tapi sebelumnya Devita meminta bill pada pelayan. Ia tidak akan pernah mau jika wanita itu yang membayar minuman yang telah dia pesan. Devita tidak tahu tujuan wanita itu datang menghampirinya dan mengatakan hidupnya sempurna. Karena memang semuanya harus menjadi miliknya. Posisi ini memang untuk Devita dan bukan dari anak wanita lain.
...***...
Devita memarkirkan mobilnya di parkiran mansionnya, lalu melangkah masuk kedalam rumah. Sejak bertemu dengan wanita yang bernama Lucia, Devita tidak dalam keadaan yang baik. Membuatnya ingin langsung segera pulang kerumah. Saat Devita berpapasan dengan pelayan, Devita meminta untuk membawakan Ice cream kedalam kamar.
Beberapa hari ini, Devita memang tidak bisa berpikir dengan baik. Terlalu banyak masalah yang datang di hidupnya. Padahal, dia ingin sekali bersantai tapi kenyataannya dirinya harus di hadapkan dengan masalah yang sangat berat.
"Devita? Kau sudah pulang?" sapa Laretta, saat melihat Devita melangkah masuk kedalam rumah.
Devita tersenyum. "Ya, aku sudah pulang. Kau sedang apa Laretta?"
"Aku baru saja selesai melukis? Bagaimana kabarmu, Devita? Belakang ini kau terlihat muram." ujar Laretta, ia memang selalu memperhatikan Devita yang sangat terlihat memiliki masalah.
"Belakangan ini memang masalah selalu datang, semoga ini yang terakhir. Aku juga lelah dengan masalah yang datang." balas Devita. Ia sendiri merasa lelah dengan masalah yang datang di hidupnya.
Laretta mendekat ke arah Devita, lalu mengelus lengan Devita. "Terkadang, kita di hadapkan banyak masalah agar kita tahu seberapa kuat kita bisa menjalani hidup. Percayalah Devita, selalu ada pelangi sehabis hujan. Aku selalu menerapkan itu dalam hidupku. Setelah ini aku yakin, hidupmu akan di penuhi kebahagiaan."
Devita mengulas senyuman di wajahnya. "Kau benar Laretta. Aku harap, masalah ku cepat selesai."
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu." balas Laretta.
"Terima kasih Laretta. Ya sudah, aku harus masuk dulu ke kamar." kata Devita dan Laretta mengangguk.
Devita pun berjalan meninggalkan Laretta dan menuju ke kamar. Sebenarnya Devita ingin sekali menemani Laretta. Tetapi hatinya tidak dengan kondisi yang baik. Akhirnya Devita lebih memilih untuk menyendiri di dalam kamar.
Devita melangkah masuk kedalam kamar, ia meletakkan high heelsnya dan meletakkan tasnya di atas meja. Lalu ia berjalan menuju ke arah sofa dan duduk di sofa itu dengan nyaman. Di meja, pelayan sudah menyediakan Ice cream yang tadi Devita pesan. Ice cream cokelat dan juga vanilla. Devita langsung mengambil ice cream itu dan mulai menikmatinya. Setidaknya dengan makan Ice cream, pikiran dan hatinya jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Dering ponsel terdengar, Devita langsung menoleh dan mengambil ponselnya di dalam tas. Ia melihat ke layar tertera nama Olivia mengirimkan pesan padanya.
Olivia : Devita, kau sudah pulang?
Devita : Ya, aku pulang duluan. Maaf tidak memberitahu.
Olivia : Tidak masalah. Tapi tadi aku baru mengingat wanita yang bersama denganmu. Dia adalah Lucia Wilson. Bagaimana kau bisa mengenalnya?
Devita : Kau mengenal wanita itu?
Olivia : Perusahaan keluargaku bekerja sama dengan Wilson Company. Perusahaan asal Australia yang sudah cukup besar, jelas aku mengetahuinya. Terlebih jarak dari Kota B ke Australia tidak terlalu jauh.
Devita : Apa kau mengenal baik wanita itu?
Olivia : Aku tidak terlalu mengenal baik. Tapi dia icon sosialita di Asia. Dia terkenal dengan kemewahannya dan dia tidak pernah sembarangan berbicara dengan orang.
Devita : Lebih dari itu, apa kau mengetahuinya?
Olivia : Tidak. Aku tidak dekat dengannya. Kau tahu, aku itu tidak terlalu suka dengan para sosialita. Dan dompetku bisa menangis dengan gaya hidup mereka.
Devita mengulum senyumnya saat membaca pesan dari Olivia. Sahabatnya ini memang memiliki cara untuk membuatnya tersenyum. Inilah yang Devita suka dari Olivia.Sahabatnya itu terlihat apa adanya meski keluarganya berkecukupan.
Devita : Ya sudah, tidak usah membahas wanita itu. Aku ingin beristirahat. See you.
Devita kembali menyimpan ponselnya setelah membalas pesan Olivia. Dilihat dari ucapan Olivia, wanita itu tidak kekurangan tapi kenapa harus iri pada dirinya? Memang benar Devita memilliki semuanya tapi itu memang miliknya. Jadi, sudah sepantasnya memang itu berada di tangannya.
Ceklek.
Brayen menatap lekat istrinya, yang sibuk membantunya melepaskan dasi. Terlihat jelas, meski Devita berusaha untuk menyambut dirinya dengan senyuman yang manis. Tapi Devita memang tidak bisa menyembunyikan apapun.
Brayen menarik dagu Devita dan menatap mata istrinya, "Ada hal yang mengaggu pikiranmu?"
"Tidak Brayen," jawab Devita, ia mengalihkan pandangannya dari suaminya itu.
"Katakan apa yang terjadi, sebelum aku mencari tahunya sendiri." tukas Brayen. Ia sangat tahu, ada yang di pikirkan oleh istrinya. Devita memang tidak pandai dalam menutupi sesuatu. Brayen sangat mengenal istrinya itu.
Devita menghela nafas berat. "Anak Ayahku, dari wanita lain datang menghampiriku hari ini."
Brayen mengerutkan dahinya, "Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia melukaimu?"
"Tidak Brayen. Dia datang menemuiku karena ingin melihat hidupku yang sempurna. Aku memiliki segalanya, kasih sayang, perhatian dan sebagai pewaris seluruh harta keluargaku. Aku rasa dia itu sakit jiwa." ujar Devita dengan kesal.
"Kau tahu siapa namanya?" tanya Brayen.
"Lucia Wilson, aku dengar dari Olivia bahwa keluarganya pernah bekerja sama dengan keluarga Olivia. Wilson Company adalah perusahaan yang cukup besar di Australia. Jika dia sudah hidup dalam kemewahan, untuk apa merasa iri dengan apa yang aku miliki? Aku rasa dia harus segera datang ke psikolog." ucap Devita dengan ketus.
Brayen tersenyum, ia mengelus dengan lembut pipi Istrinya. " Tidak perlu di pikirkan, aku disini di sampingmu. Aku yang akan berhadapan dengan orang yang berani berniat melukaimu. Tataplah musuhmu dan jangan pernah takut. Kau adalah Devita Mahendra, Istriku. Jika ada yang berani melukaimu, maka akan aku pastikan orang itu akan hancur di tanganku." tukas Brayen dengan penuh penekanan.
Mendengar ucapan dari Brayen membuat Devita tersenyum, ia tahu Brayen memang sangat melindunginya dari apapun. Bahkan Brayen tidak akan pernah membiarkan dirinya terluka. Inilah yang membuat Devita selalu mencintai Brayen. Meski suaminya terkadang bersikap arrogant, tapi Brayen selalu mencintai Devita dengan cara yang luar biasa. Devita memang sangat beruntung memiliki suami yang begitu mencintainya.
Devita mengelus rahang suaminya itu dan menatapnya dengan lembut. " I know Brayen, kau akan selalu bersama denganku dan selalu melindungiku."
Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* bibir istrinya itu. "Yes, aku akan selalu melindungi dan selalu berada di sisimu. Ketika masalah menghampirimu kau cukup diam dan tidak usah melakukan apapun. Karena bagian itu, adalah aku yang akan menyelesaikannya. Aku tidak membiarkanmu menyelesaikan masalah mu. Semua tentang dirimu sudah menjadi tanggung jawabku."
Devita kembali tersenyum dan menatap lembut suaminya. "I like the way you love me Brayen."
Brayen menangkup pipi istrinya, mencium dan ******* dengan lembut bibir Istrinya. "Karena aku memang mencintaimu lebih dari apapun." bisik Brayen.
Tanpa di duga, Brayen langsung membopong tubuh Devita gaya bridal menuju ke arah ranjang. Devita terkesiap saat Brayen membopong tubuhnya.
"Brayen, kenapa kau menggendongku?" gerutu Devita.
"Aku merindukan istriku," balas Brayen.
Devita membulatkan matanya. " Tapi Brayen, ini masih sore!"
"But, i want you now." tanpa memperdulikan teriakan istrinya, Brayen kembali membawa Devita ke ranjang.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.