Love And Contract

Love And Contract
Permintaan Veronica



"Baiklah, ayo kita jalan ke tempat lain," Devita memeluk lengan Brayen.


Brayen tersenyum, dia mengusap rambut Devita.


Kini mereka berkunjung ke Guray Museum. Biasanya para pengunjung yang datang ke Cappadocia pasti akan mendatangi museum ini. Guray Museum di Cappadocia menjadi museum keramik pertama di dunia dan satu - satunya yang berada di bawah tanah.


Setelah puas, Devita dan Brayen memutuskan untuk ke restauran terdekat. Devita sudah mengeluh lapar. Brayen sudah tahu, karena istri kecilnya ini memang hobby makan.


Brayen dan Devita masuk ke dalam restauran, kemudian Brayen memesan Manti, Hummus, dan Patlican Tava. Devita hanya menambah kebab untuk dirinya. Entah kenapa kebab Turkey memiliki daging yang sangat gurih dan enak.


"Brayen, aku sangat lelah sekali. Nanti malam sepertinya kau harus memijitku," keluh Devita.


"Dengan senang hati aku akan memijitmu, sayang," balas Brayen sambil tersenyum.


"Ingat Brayen, aku masih ingin bisa berjalan. Jangan berbuat macam-macam!" Seru Devita. Dia sudah tahu sekarang apa yang ada di otak suaminya ini.


"Tidak bisa sayang, itu harus setiap hari agar prosesnya lebih cepat," ucap Brayen dengan nada membujuk.


Brayen menarik dagu Devita lalu mengecup lembut bibir Devita dan berbisik, " Kita sedang bulan madu, sayang. Tidak bisa langsung tidur,"


"Brayen, otakmu itu sepertinya harus segera di bersihkan;" Seru Devita kesal.


"Otakku tidak perlu di bersihkan, sayang. Itu kan memang sudah menjadi kewajibanmu," Brayen berbisik, sembari mengecup bibir Devita.


Devita mendengus.


Obrolan mereka terhenti ketika pelayan mengantarkan makanan di meja mereka. Karena lapar, Devita langsung menikmati makanan yang sudah tersedia di meja makan.


"Ini sedikit pedas, apa ini? Tapi rasanya enak." kata Devita saat mencoba salah satu menu makanan yang ada di hadapannya.


"Palatican Tava,ada irisan eggplant, chili and beef," jawab Brayen.


"Hem pantas saja sedikit pedas," komentar Devita.


Devita kini menikmati Hummus. Salah satu makanan Turkey yang terkenal. Di buat dari kacang arap, minyak zaitun, perasaan lemon, dan bumbu - bumbu. Ini biasanya di sebut sebagai salad khas Turkey. Devita makan ini bersama dengan roti pita. Sedangkan Manti terbuat dari daging sapi yang di bungkus dengan adonan seperti pangsit.


"Brayen, aku tidak melihat Ruby. Dia dimana?" tanya Devita saat tidak menyadari keberadaan asistennya itu.


"Dia selalu menjaga jarak dengan kita, kau tidak akan menemukannya jika aku tidak memintanya datang," jawab Devita.


"Baguslah, aku tidak suka di ikuti. Seperti Istri pejabat saja," gumam Devita.


"Kau memang bukan istri pejabat, tapi kau adalah Istriku, bahkan aku bisa memberimu banyak pengawal," seru Brayen.


"Jangan Brayen. Aku tidak mau!" Protes Devita cepat, karena sejak dulu dia tidak mau di ikuti oleh pengawal.


"Sudah cepat habiskan makananmu dan kita akan langsung kembali ke hotel," tukas Brayen mengingatkan.


"Ya sebentar. Aku ingin makan ice cream,"


Brayen menggeleng pelan, " Perutmu itu kecil tapi makanan bisa masuk semua."


Devita mengerutkan bibirnya, " Jangan meledekku Brayen."


...****...


Tidak terasa sudah delapan hari Brayen dan Devita di Turkey. Sepulang dari Cappadocia, Devita banyak berbelanja sepuasnya. Devita banyak membelikan oleh-oleh untuk keluarga di kota B, teman termasuk Albert asisten Brayen. Tidak hanya itu Devita juga membelikan segala keperluan Brayen, mulai dari baju, jas, dan sepatu Brayen. Meskipun masih muda, tapi Devita sudah menjadi istri yang baik dan sempurna bagi Brayen.


Besok mereka akan pulang ke kota B. Harusnya memang dua hari lagi baru kembali ke kota B. Tapi Brayen tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Brayen memiliki proyek kerja sama dengan perusahaan asal Hongkong.


Brayen duduk di sofa kamar hotel, sambil duduk dan membaca email masuk di iPad. Sedangkan Devita, dia masih berendam. Devita memang menyukai berendam, jika tubuhnya merasakan sangat lelah.


Saat Brayen sedang membalas email masuk terdengar dering ponsel miliknya. Dia langsung mengambil ponselnya dan melihat ke layar ponsel ternyata nomor tidak di kenal yang menghubunginya. Brayen memilih untuk mengabaikan, dia tidak suka jika harus menjawab nomor telepon yang tidak dia kenal. Namun, ponsel Brayen tidak berhenti berdering, Brayen membuang napas kasar, melihat ke layar nomor ponsel tidak di kenal itu kembali menghubunginya. Akhirnya dia terpaksa menjawab panggilan telepon itu.


"Brayen? Maaf kalau aku menganggumu malam - malam seperti ini," ucap suara wanita dari sebrang telepon.


"Kau siapa?" Brayen mengerutkan keningnya.


"Aku Veronica,"


"Veronica? Kau tahu darimana nomer ponselku?" seru Brayen.


"Tidak penting aku tahu darimana. Tidak sulit bagiku untuk mendapatkan nomer ponselmu, Brayen." jawab Veronica dengan lembut.


"Apa maumu, Veronica? Kenapa kau menghubungiku?" Brayen kembali bertanya dengan nada dingin dan tak suka jika Veronica menghubunginya.


"Apa kabar?" tanya Veronica yang terlihat sangat gugup dari balik telepon.


"Baik, seperti yang kau lihat,"


"Brayen, bisakah kita bertemu sebentar? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,"


"Kenapa kau tidak bicara langsung?"


"Tidak bisa, aku mohon hanya sebentar Brayen,"


"Besok aku sudah kembali ke Indonesia. Kita tidak bisa bertemu,"


"Boleh aku bertemu denganmu di lobby hotelmu besok? Sungguh hanya sebentar,"


Brayen, membuang napas kasar, "Apa yang ingin kau katakan Veronica?"


"Aku mohon, Brayen. Besok aku berjanji hanya akan berbicara selama sepuluh menit denganmu,"


"Lima menit. Aku beri waktu padamu besok berbicara denganku hanya lima menit."


"Terima kasih, Brayen."


Tanpa menjawab, Brayen langsung mematikan sambungan teleponnya. Sebenarnya dia enggan untuk bertemu dengan Venorica, tapi karena Veronica ingin bertemu dengannya di lobby hotel, tidak masalah jika meluangkan waktu lima menit.


Hubungan Brayen dan Veronica sudah berakhir lama. Mereka berpisah karena Brayen memergoki Veronica tidur dengan William. Meskipun Veronica menjelaskan pada Brayen, jika itu terjadi karena Veronica mabuk. Tapi Brayen memilih untuk meninggalkan Veronica. Alasannya tentu karena William adalah teman dekat Brayen. Bisa di bilang saat William kuliah di Harvard University dengan Brayen mereka sangat dekat. Selama ini Brayen tidak pernah menaruh curiga pada William akan mengkhianatinya.


Hingga akhirnya ternyata, William menginginkan Veronica dan Brayen pun melepas Veronica. Tapi kenyataannya saat Brayen menjalin hubungan dengan Elena, ternyata Elena juga berselingkuh dengan William. Mungkin jika itu orang lain, Brayen tidak akan menaruh dendam. Namun, ini adalah William yang pernah menghancurkan hubungannya dengan Veronica.


Saat masa kuliah, Veronica memang terkenal sebagai gadis tercantik, banyak pria yang mengejar Veronica, tentu saja Brayen sangat beruntung, karena begitu banyak pria yang mengharapkan Veronica namun Veronica hanya memilih Brayen.


Brayen dan Veronica menjalin hubungan hampir dua tahun. Bahkan Brayen pernah membicarakan pernikahan dengan Veronica. Brayen saat itu yakin hubungan dengan Veronica akan berkahir di janji suci pernikahan. Kenyataannya salah, meski Veronica memohon minta maaf pada Brayen, tapi Brayen tidak akan pernah kembali pada seorang wanita yang pernah berkhianat padanya. Segala rencana Brayen menikah dengan kekasihnya ternyata tidak sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan. Takdir mempertemukan Brayen menikah dengan seorang gadis yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Brayen sangat bersyukur dengan takdir di hidupnya. Bagi Brayen menikah dengan Devita adalah hal yang terindah. Memiliki Istri seperti Devita adalah kebahagiaan yang tidak ternilai. Pertemuan mereka memang tidak menyenangkan. Bahkan adanya perjanjian yang mereka buat. Tapi siapa yang menyangka, perjanjian yang mereka buat nyatanya berbanding terbalik. Mereka saling jatuh cinta.


Kini Brayen melihat foto layar ponselnya, melihat dirinya dan juga Devita. Foto itu saat mereka berada di Cappadocia. Kemarin Devita sudah mengatur foto dengan Brayen di ponsel Brayen. Tidak hanya ponsel Brayen tapi ponsel Devita juga foto mereka berdua.


Devita melangkah keluar dari kamar mandi. Dia baru saja selesai berendam. Ia juga sudah selesai mengganti bajunya dengan gaun tidur yang berwarna maroon. Entah kenapa gaun tidur yang di bawa oleh Ruby untuk dirinya semuanya terlihat sangat seksi. Devita yakin pasti ini di sengaja. Karena, jika Devita yang packing tidak mungkin memilih gaun tidur yang seksi.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.