Love And Contract

Love And Contract
Berusaha Berbicara Pada Brayen



"Tapi-"


"Aku tidak ingin membahasnya, tujuanku menghubungimu karena aku ingin mengatakan, kau tidak perlu mencemaskan apapun. Kita akan tetap menikah. Meski aku harus menghadapi Brayen, aku percaya bahwa aku mampu untuk menghadapinya." suara Angkasa menegaskan.


"Tidak mungkin Angkasa, kau akan kehilangan segalanya jika kau tetap memaksa dirimu untuk menghadapi Kakakku." Laretta menjawab dengan cemas.


"Jika itu memang harus terjadi, maka aku akan tetap melakukannya. Kau dan anak kita jauh lebih berharga dari apapun yang aku punya saat ini. Aku tidak akan pernah melepaskan kalian. Aku akan tetap berjuang demi kalian," tukas Angkasa dengan nada penuh penekanan.


Laretta terdiam sesaat, matanya berkaca-kaca mendengar perkataan dari Angkasa. Hatinya begitu tersentuh, tidak pernah ada yang mengatakan ini padanya.


"Laretta? Kau masih di sana?" seru Angkasa.


"Ya, Angkasa."


"Ya sudah Laretta, aku harus tutup dulu teleponnya. Ada yang harus aku selesaikan. Aku hanya ingin kau selalu percaya dan yakin


padaku."


"Aku sangat percaya padamu, Angkasa..."


"Terima kasih, hanya itu yang aku butuhkan saat ini. Kita akan tetap menikah, kau tidak perlu cemas."


Panggilan terputus, Laretta lebih dulu memutuskan panggilan itu. Laretta bahkan tidak menjawab perkataan Angkasa yang terakhir. Karena memang dirinya tidak bisa untuk tidak mencemaskan keadaan ini.


Devita yang melangkah ke taman, dia menatap Laretta yang tengah melamun. Devita mendekat ke arah Laretta, dia langsung duduknya di samping adik iparnya itu.


"Kenapa kau melamun Laretta?" tanya Devita yang kini berada di samping Laretta.


Laretta mengalihkan pandangannya, dia menatap Devita yang duduk di sampingnya. "Aku hanya melihat bunga di taman mu yang tumbuh dengan begitu indah." jawab Laretta tidak ingin membuat Devita khawatir.


"Baiklah, aku hanya ingin pergi ke perusahaan milik Brayen. Apa kau tidak apa-apa aku tinggal sendiri?" tanya Devita, dia khawatir jika meninggalkan Laretta sendiri. Mengingat Laretta tidak bisa keluar dari rumah karena aturan dari Brayen.


"Aku tidak apa-apa, aku akan menghabiskan waktuku di studio lukisku," jawab Laretta. "Kau akan pergi ke perusahaan Kak Brayen? Apa kau yakin?"


Devita mendesah pelan. "Aku tidak bisa menunggu lagi Laretta. Aku harus segera berbicara dengan Brayen. Aku tidak ingin masalah ini semakin berlarut."


"Kau benar Devita," Laretta membawa tangannya menyentuh tangan Devita. "Aku yakin, Kak Brayen akan memaafkanmu Devita."


"Semoga saja, karena terakhir Brayen begitu marah padaku," balas Devita terlihat begitu muram. "Aku memang terlalu sering menutupi sesuatu darinya. Aku tahu aku memang salah. Tapi tujuanku, karena aku tidak ingin Brayen tidak mampu mengendalikan emosinya."


"Devita, ini bukan kesalahanmu. Aku yang memintamu menutupi ini dari Kakakku. Aku yang bersalah, jangan menyalahkan dirimu lagi Devita." kata Laretta yang semakin bersalah mendengar perkataan dari Devita.


"Banyak hal yang Brayen tidak suka dari sifatku Laretta, lepas dari aku menutupi masalahmu. Selama ini aku hampir tidak pernah mendengarkan perkataan suamiku. Aku selalu meminta Brayen untuk menuruti segala keinginanku. Terkadang, aku merasa aku bukanlah pasangan yang tepat untuk Brayen. Banyak wanita dewasa yang lebih pantas untuk bersanding dengan Brayen."


Devita tersenyum lirih, dia menatap ke depan dengan tatapan yang sendu. Banyak hal yang membuat Devita merasa, jika dirinya itu tidak pantas untuk suaminya. Selama ini Brayen selalu menuruti keinginannya.


"Kenapa kau berbicara seperti itu, Devita?" kata Laretta yang tidak menyetujui ucapan dari Devita. "Kau dan Kakakku adalah pasangan yang sangat serasi. Kau sangat cantik dan juga baik. Dan hanya wanita sepertimu yang pantas bersanding dengan Kakakku. Jangan lagi mengatakan itu Devita, aku yakin Kak Brayen akan marah jika kau mengatakan itu."


Devita menghela nafas dalam. "Aku memiliki sifat yang Brayen tidak menyukainya, Laretta. Terkadang aku berusaha untuk menjadi istri yang terbaik untuk Brayen."


"Kau salah Devita! Sela Laretta cepat. " Jika kau berpikir kau tidak pantas untuk Kak Brayen, kau salah Devita. Kau adalah istri yang terbaik untuk Kak Brayen. Di dunia ini, pasangan itu untuk saling melengkapi satu sama lainnya. Aku juga tahu, banyak dari sifat Kakakku yang tidak kau sukai. Tapi, meski demikian Kakakku selalu menunjukkan rasa cintanya yang besar itu padamu Devita. Selama ini aku tidak pernah melihat Kakakku mencintai seseorang wanita sepertimu Devita."


"Aku berharap kau tidak lagi mengatakan hal seperti itu Laretta. Karena jika memang kau tidak pantas untuk Kakak Brayen, aku adalah orang pertama yang akan menghalangi hubungan kalian. Seperti dulu, aku berusaha sekuat tenaga menghalangi hubungan Kakakku dengan Elena."


Laretta menatap lembut wajah Devita, dia sengaja mengatakan ini karena Laretta tidak menyukai perkataan dari Devita yang mengatakan tidak pantas untuk Brayen. Karena Laretta tahu, Devita adalah wanita yang sangat baik untuk Kakaknya.


Devita tersenyum. "Terima kasih, Laretta."


Laretta kemudian menepuk punggung tangan Devita. "Ketika masalah hadir di kehidupan rumah tangga kalian, ingatlah Devita kalau Kak Brayen itu selalu mencintai dirimu."


Devita mengangguk. "Ya, aku akan selalu mengingat itu."


"Aku harus berangkat sekarang, jaga baik-baik dirimu, Laretta." pamit Devita.


"Hati - hati Devita." balas Laretta "Percayalah, Kakakku itu akan selalu memaafkanmu."


Devita kembali tersenyum, dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Laretta yang masih duduk di taman. Sedangkan Laretta dia masih terus menatap Devita hingga menghilang dari pandangannya.


"Jika aku gagal dalam cinta, aku tidak menginginkan kau mengalami hal yang sama denganku Devita." gumam Laretta dengan tatapan yang sendu.


Mobil Devita mulai memasuki lobby perusahaan Brayen. Devita turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam. Devita mengatur napasnya saat masuk kedalam perusahaan milik Brayen. Kali ini, Devita harus memberanikan diri untuk bertemu dengan suaminya. Setidaknya Devita sudah berusaha untuk menemui suaminya. Devita melangkah masuk kedalam lift pribadi yang sering di gunakan oleh Brayen.


Ting.


Pintu lift terbuka, Devita melangkah keluar dari lift dan langsung menuju ke ruang kerja Brayen. Namun, saat Devita melangkah dia menatap Albert yang kini mendekat ke arahnya.


"Nyonya," sapa Albert yang menundukkan kepalanya, ketika berhadapan dengan Devita.


"Albert, apa suamiku ada di dalam?" tanya Devita.


"Tuan sedang meeting dengan Tuan Nicholas, Nyonya." jawab Albert.


"Baiklah, aku akan menunggunya." balas Devita. "Aku ingin menunggu di ruangan Brayen."


"Baik Nyonya, silahkan...." balas Albert mempersilahkan Devita untuk melanjutkan langkahnya.


Devita melangkah menuju ke ruang kerja Brayen. Ketika Devita hendak masuk kedalam, langkahnya terhenti ketika Nicholas dan Brayen keluar dari ruangan meeting.


"Nona Smith?" sapa Nicholas saat melihat Devita.


"Maaf. Maksudku, Nyonya Mahendra." ralat Nicholas cepat, ketika dia menyadari salah memanggil Devita.


Devita tersenyum ramah. "Apa kabar, Tuan Nicholas?"


"Aku baik," jawab Nicholas "Bagaimana dengan anda Nyonya?"


"Aku juga baik." balas Devita.


"Aku dengar saat ini, anda sedang hamil. Selamat atas kehamilan anda Nyonya," ucap Nicholas dengan senyuman di wajahnya.


"Terima kasih, Tuan."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." pamit Nicholas.


"Hati - hati, Tuan." balas Devita.


"Tuan Brayen, sampai bertemu di pertemuan yang selanjutnya." ujar Nicholas dan Brayen mengangguk singkat.


Saat Nicholas sudah pergi, Brayen membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk kedalam ruang kerjanya. Devita terus menatap Brayen, namun Brayen seolah tidak melihat dirinya. Kemudian, Devita melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen. Devita tahu, Brayen masih belum menginginkan bertemu dengannya. Tapi Devita tidak perduli. Devita akan tetap berusaha berbicara pada Brayen.


"Brayen...." panggil Devita ketika dirinya sudah berada di dalam ruang kerja Brayen.


"Pulanglah Devita, aku sedang tidak ingin membahas apapun." tukas Brayen dingin


Devita terdiam ketika mendengar perkataan dari Brayen. Bahkan Brayen berbicara dengannya tanpa melihat ke arahnya. Devita menatap sendu Brayen, sebisa mungkin Devita menahan air matanya. Devita ingin sekali memeluk tubuh suaminya itu.


"Brayen, aku ingin bicara denganmu." Devita melangkah mendekat ke arah Brayen.


Brayen membuang napas kasar, kini pandangan Brayen menatap dingin Devita yang berada di hadapannya. "Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu Devita. Pulanglah, dan jangan lagi mengangguku."


Mata Devita berkaca-kaca, ini pertama kalinya Brayen mengatakan jika dirinya menganggu Brayen. Devita berusaha untuk tidak menangis, meski hatinya begitu terluka mendengar perkataan dari suaminya yang seperti itu.


"Aku tidak akan pulang sebelum kita bicara."


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.