Love And Contract

Love And Contract
Tunggu Hingga Aku Pulih



Setelah Albert pergi, Brayen menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Belakangan ini dirinya terlalu banyak di sibukkan dengan pekerjaan dan mengurus masalah Laretta. Bahkan terkadang Brayen merasa, waktu berdua dengan istrinya hanya sedikit. Setelah pulang dari Turkey banyak masalah yang datang.


Terdengar dering ponsel, Brayen melirik ponselnya yang terletak di atas meja. Ia mengambil ponselnya, saat ia melihat ke layar ponsel, tertera nama My little wife.


"Devita?" sapa Brayen saat panggilannya terhubung.


"Brayen, kau dimana? Apakah hari ini kau akan pulang terlambat?" tanya Devita dari sebrang telepon.


"Ya, aku hari akan pulang sedikit terlambat. Kau sudah di rumah?"


"Sudah. Aku sudah di rumah. Aku sekarang sedang bersama dengan Laretta "


"Nanti malam, kau tidurlah duluan. Jangan menungguku,"


"Ya, tapi kau jangan lupa untuk makan dan jaga kesehatanmu," ucap Devita.


"Kau tenang saja, aku pasti akan menjaga kesehatanku. Sekarang aku harus meeting. Nanti aku akan menghubungimu lagi,"


"Oke, selamat bekerja. Cari uang yang banyak Brayen, supaya kau bisa membayar seluruh tagihan belanjaku."


Panggilan tertutup, Brayen menggeleng pelan dan mengulum senyumannya. Bisa - bisanya istrinya mengatakan itu. Brayen beranjak dari kursi kerjanya, lalu ia berjalan meninggalkan ruang kerjanya.


...***...


"Elena, keadaanmu masih belum pulih, apa rencanamu yang selanjutnya?" tanya seorang wanita.


"Ya, yang penting anak sialan itu sudah lenyap. Sialan, kenapa rasanya sakit sekali! Aku hampir mati karena anak ini!" Seru Elena.


"Karena kau sudah kehilangan akal sehatmu, Elena. Tentu saja sangat sakit, perutmu sudah besar tapi kau membunuhnya. Kau beruntung, kau tidak mati saat membunuh anakmu." tukas wanita itu, tajam.


Elena terseyum sinis. " Anak itu hanya akan menghalangi impianku. Kau tahu, aku tidak akan mungkin membiarkan impianku lenyap." balas Elena.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. " Kau tahu, banyak wanita yang kesulitan untuk memiliki seorang anak. Dan kau malah membunuhnya, apa kau tidak menyayangi anakmu?"


"Aku akan menyayangi anakku. Jika itu, anak Brayen. Kau bisa bayangkan, dunia berada di genggaman tanganku, jika aku menjadi Nyonya Mahendra. Aku akan memiliki segalanya." tukas Elena dengan seringai di wajahnya.


"Aku lihat, William Dixon juga cukup kaya. Apa dia masih kurang untukmu?" tanya wanita itu.


"Kurang! Sangat kurang! Aku tidak suka jika priaku tidak memiliki kekuasaan sehebat Brayen. Aku tahu, aku sering berselingkuh dari Brayen. Kau juga tahu, aku sering bosan jika hanya dengan satu pria. Tapi untuk menikah, tentu aku hanya menginginkan Brayen Adams Mahendra yang harus menjadi suamiku," seru Elena.


Wanita itu membuang napas kasar. "Apa kau tidak pernah mencintai Brayen?"


"Cinta? Apa yang kau bicarakan tentang cinta. Cinta itu omong kosong! Semua membutuhkan uang. Kau ingat, tidak ada yang tidak bisa di beli oleh uang. Dan aku hanya menginginkan uang dan bukan cinta sialan yang kau maksud itu." tukas Elena.


"Lihat dirimu? Kau membantuku karena uang bukan? Sudahlah kerjakan tugasmu! Awasi Devita, aku akan membayarmu mahal. Sebelum aku meninggalkan William, aku sudah mengambil lima puluh juta dollar di rekeningnya dan sudah aku pindahkan ke rekeningku."


"Kau mengambil uang William sebanyak itu, Elena? Kau sungguh gila! Dan ya, aku memang membutuhkan uang yang sangat banyak. Tapi aku tidak tega saat melihat istri dari Brayen. Dia sangat baik pada semua orang," ujar wanita itu.


"Singkirkan pikiranmu itu! Aku tidak mau mendengar kau mengatakan itu lagi!" Seru Elena.


"Well, tenanglah aku akan tetap membantumu, Elena." balas wanita itu.


"Jadi, apa yang kau rencanakan. Apa kau akan menculiknya?" tanya wanita itu.


"Tidak, aku tidak akan menculiknya. Aku ingin datang kerumahnya, menemuinya. Tunggu hingga aku pulih," jawab Elena.


"Kau sudah gila, Elena?! Penjagaan di sana sangat ketat. Kau tidak mungkin melakukan itu." seru wanita itu.


Elena terseyum sinis, " Tentu saja bisa, tidak ada yang tidak bisa bagi Elena. Aku memilikimu, kau bisa mengaturnya. Kau bisa memberikan obat tidur, dan memberikan minuman itu di seluruh penjaga di sana."


"Tapi Laretta, adik Brayen juga tinggal di sana." jawab Wanita itu.


"Baiklah, aku akan mengurusnya. Ingat, setelah semua ini selesai, aku akan melarikan diri dari kota B. Aku tidak ingin mati di tangan Brayen Adams Mahendra ataupun William Dixon," tukas wanita itu.


"Kau tenang saja, setelah ini kau bisa pergi jauh dari kota B." seru Elena dengan seringai di wajahnya.


...***...


Mobil Brayen baru saja tiba di mansion, ia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah. Ia melirik arlojinya, kini sudah pukul sebelas malam. Pasti Istrinya kini sudah tertidur.


Brayen melangkah masuk ke dalam kamar, saat Brayen masuk ke dalam kamar, ia melihat Devita sudah tertidur lelap. Brayen melepas dasi dan kemejanya, sebenarnya Brayen ingin langsung mencium Devita. Tapi Brayen memutuskan untuk membersihkan diri dulu sebelum mencium istrinya. Brayen, masuk kedalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Brayen sudah selesai membersihkan diri. Ia melangkah menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Devita. Brayen menatap Devita yang tertidur pulas. Brayen sangat tahu, Devita memang jika sudah tertidur dan ada orang masuk dia tidak akan mungkin bangun.


Brayen merapihkan rambut Devita, mengelus dengan lembut pipi Devita. Meski tubuh Devita kurus, tapi pipi Devita sedikit berisi. Brayen mencium, mata, hidung, dan bibir Devita.


Devita menggeliat saat merasakan ada yang menyentuhnya. Perlahan Devita mulai membuka matanya. Saat ia membuka mata, ia terkejut melihat Brayen sudah berada di sampingnya.


"Brayen, kau sudah pulang?" ucap Devita dengan suara khas bangun tidur.


Brayen mengangguk. "Kau ingin minum?" tawar Brayen.


"Ya, aku haus Brayen." Brayen langsung beranjak dan mengambil air putih, lalu memberikannya pada Devita.


Setelah minum, Devita meletakkan gelasnya di atas nakas. "Kau sudah pulang dari tadi?" tanya Devita.


"Sekitar satu jam lalu aku baru pulang." jawab Brayen.


Devita melirik jam dinding kini sudah pukul dua belas malam. " Brayen, kenapa kau pulang malam sekali?" seru Devita.


Brayen menarik tangan Devita dan membawanya ke dalam pelukannya. "Maaf, aku bertemu dengan rekan bisnis. Mereka berasal dari Ukraina dan Barcelona. Mereka sudah kembali ke negaranya. Itu kenapa aku pulang terlambat." jelas Brayen.


Devita mendesah pelan. "Apa kau sudah makan?"


"Sudah, aku sudah makan. Bagaimana denganmu?"


"Jika aku belum makan, aku pasti tidak bisa tidur, Brayen. Kau tahu, aku paling tidak bisa menahan lapar," jawab Devita.


Brayen terkekeh. " Benar, aku lupa jika istriku memang banyak makan"


"Ya, kau sering menghinaku. Aku kurus dan makanku banyak," dengus Devita.


Brayen terseyum, lalu ia mendekatkan bibirnya ke bibir Devita dan mengecup bibir istrinya berkali - kali. " Kenapa bibirmu ini selalu membuatku tidak berhenti untuk menciummu," bisik Brayen.


"Brayen! Kau ini benar - benar!" Tukas Devita.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.