
Lucia mencoba melepaskan ikatan di tangannya. Namun, semakin dia memberontak semakin dia melukai tangannya. Sudah sejak kemarin, dia mencoba untuk melepaskan ikatan di tangannya, tapi tetap tidak bisa. Lucia tidak berhenti mengumpat saat melihat Albert masuk kedalam ruangannya.
"Lepaskan aku sialan! Kau jangan bermain-main padaku! Aku sudah melihat berita kalau Kakakku sudah mati! Dan Brayen harus membalas budi atas kebaikan Kakakku!" Sentak Lucia meluapkan segala amarahnya dengan sorot mata yang tajam pada Albert yang berdiri di hadapannya.
"Kau ini berasal dari keluarga Wilson bukan? Kenapa sifatmu seperti wanita yang berasal dari jalanan?" tukas Albert sarkas.
"Beraninya kau menghinaku! Kau pikir, kau ini siapa? Kau itu hanya asisten rendah dan kau berani menghinaku! Aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu!" Seru Lucia meninggikan suaranya dan meluapkan segala emosinya.
Albert tersenyum sinis, "Meski aku hanya seorang Asisten, tapi aku tidak pernah berniat membunuh atau pun melukai orang yang tidak bersalah hanya demi ambisiku. Kau itu terlalu banyak bermimpi Nona Lucia Wilson. Bahkan Tuan Brayen juga tidak tertarik sedikitpun pada wanita sepertimu. Kau tidak bisa di bandingkan dengan Nyonya Devita."
"Devita yang tak sebanding denganku! Tutup mulutmu itu! Wanita seperti Devita tidak pantas di bandingkan denganku!" Bentak Lucia dengan wajah yang penuh dengan kemarahan, di tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Albert.
"Kau yang tidak pantas di bandingkan dengan istriku! Berani sekali orang sepertimu menghina istriku!" Suara Brayen berseru meninggikan suaranya. Kini Brayen dan juga Felix baru saja tiba. Mendengar ucapan dari Lucia membuat Brayen tidak mungkin bisa menahan diri. Dengan penuh amarah dan tatapan tajam, Brayen melangkah mendekat ke arah Lucia.
"Tuan," sapa Albert. Saat melihat Brayen mendekat. Kemudian Albert melangkah menjauh, memberikan ruang untuk Brayen dan juga Felix.
Brayen sedikit menunduk, lalu menarik dagu Lucia dengan kasar. "Kau harus menjaga dengan baik mulutmu ini! Atau aku tak akan segan untuk merobeknya!"
"Lepas! B-Brayen lepaskan aku!" Lucia berusaha untuk memberontak namun sia - sia. Karena Brayen semakin mencengkram kuat dagu Lucia.
Brayen tersenyum miring. "Kau masih di sini harusnya bersyukur! Aku bahkan belum meminta anak buahku untuk menyiksa dirimu!"
"Lepas Brayen! Apa kau sudah lupa, kalau saudara kembarku yang sudah menolong mu selamat dari kematian! Kau harusnya membalas budi atas kebaikan Kakakku! Dan bukannya mengurungku di sini!" Seru Lucia, dia memberanikan diri menatap tajam ke arah Brayen.
"Ini semua karenamu sialan! Dan kau masih berpikir aku harus membalas budi melalui dirimu?" Brayen tersenyum sinis, lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga Lucia dan berbisik tajam. "Aku tidak sebaik itu, Lucia. Bahkan aku bisa dengan mudahnya membawamu menuju kematian menyusul Kakakmu itu. Tapi aku rasa bermain - main dengan membuat hidupmu menderita itu lebih membuat diriku puas." Brayen melepaskan dagu Lucia dengan kasar, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Sialan kau Brayen! Kau tidak tahu diri! Kau tidak bisa melakukan ini! Kakakku sudah menolongmu!" Sentak Lucia.
"Dan kau tidak mengenalku dengan baik! Aku mampu melakukan apapun yang aku inginkan! Membuatmu menderita atau pun mengantarkan mu langsung dalam kematian, tentu aku bisa melakukannya!" Tukas Brayen dengan sorot mata yang tajam dan penuh kebencian. "Kau juga tidak tahu bukan? Bagaimana nasib perusahaanmu? Sepertinya dengan menunjukkan langsung padamu, itu jauh lebih baik dari pada aku harus menceritakan langsung."
Brayen menggerakkan kepalanya memberikan isyarat pada Albert untuk menunjukkan berita pagi ini pada Lucia. Albert mengangguk patuh, dia langsung menunjukkan berita pagi ini dari Ipad-nya pada Lucia.
Seketika tubuh Lucia mematung, saat Albert menunjukkan berita itu. Wajahnya berubah menjadi pucat. Bahkan Lucia tidak sanggup lagi untuk berkata - kata. Lucia menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya apa yang dia lihat ini. Bagaimana mungkin. Wilson Company berhasil di akuisisi oleh Brayen dalam hitungan hari. Napas Lucia memburu, dia tidak akan pernah mempercayai ini semua.
"Tidak! Tidak! Kau berbohong padaku Brayen! Kau berbohong sialan! Tidak mungkin dengan mudahnya kau mengakuisisi perusahaanku!" Teriak Lucia begitu kencang dan histeris.
Brayen menyeringai puas, "Kau lihat? Kau bisa mengatakan selamat tinggal pada kemewahanmu selama ini. Karena kau sendiri yang mengantarkan kematianmu. Kau berani bermain denganku maka kau harus bersiap untuk hidup di jalanan. Aku sudah katakan padamu, aku bukanlah orang yang berbaik hati. Nikmatilah dengan apa yang kau lakukan."
"Tidak! Kau sialan! Kau pembohong! Kau tidak mungkin melakukan itu setelah apa yang telah di lakukan oleh Kakakku padamu! Kenapa tidak kau saja yang mati!" Teriak Lucia. Dia terus memberontak dan berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Plakkk.
Suara tamparan begitu keras, yang di layangkan oleh Felix pada Lucia, hingga membuat wanita itu tersungkur dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
"Kau diam sialan! Kau sudah membuat hidup wanitaku hancur! Dan kau sudah membuat Devita hampir kehilangan bayinya! Aku masih berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Itu masih termasuk baik! Kau memang harus mendapatkan balasan dari apa yang telah kau lakukan! Aku belum puas jika kau hanya kehilangan hartamu! Aku menginginkan kau lebih menderita dari saat ini!" Seru Felix meninggikan suaranya. Dia sudah tidak bisa lagi memendam amarahnya. Tatapannya menajam penuh dengan kebencian menatap wanita yang berada di hadapannya ini.
Lucia menatap tajam Felix yang berada di hadapannya ini. "Ah, maksudmu kau adalah kekasih dari teman Devita yang dengan bodohnya mengorbankan dirinya untuk Devita? Harusnya kau itu marah pada Devita? Bukan padaku! Kalau bukan karena menyelamatkan Devita, kekasihmu itu tidak akan seperti ini! Kasihan sekali nasib kekasihmu itu. Aku bahkan sudah mendengar dari anak buahku, kekasihmu akan kehilangan rahimnya bukan?"
Lucia tertawa sinis. "Kenapa kau harus membalaskan dendam? Kau cari saja wanita yang sempurna? Dan bukannya wanita yang sudah cacat seperti kekasihmu itu!"
"Akh!" Ringis Lucia kesakitan saat Felix menarik kasar rambutnya.
"Tutup mulutmu! Atau aku bersumpah akan menyuruh seluruh anak buahku untuk menyentuh dirimu hingga membuat dirimu tidak sanggup lagi untuk hidup di dunia ini!" Desis Felix tajam dan menusuk.
"Lepaskan aku sialan!" Sentak Lucia.
"Brayen, harus aku apakan wanita seperti ini?" tukas Felix dengan seringai di wajahnya. Tangannya semakin kasar mencengkram kasar rambut Lucia.
Brayen melangkah mendekat, dan kembali menunduk. "Sepertinya menyuruh anak buahmu dan anak buahku untuk menyentuh wanita ini tidak masalah. Lalu serahkan seluruh bukti kejahatannya ke kantor polisi dan buat wanita ini membusuk di penjara. Aku rasa itu lebih baik. Karena aku tidak ingin dia mati dengan mudah. Buat dia mati secara perlahan."
Wajah Lucia memucat, saat mendengar ucapan dari Brayen. "Kau jangan berani melakukan itu! Atau kau akan tahu akibatnya!"
Brayen tersenyum sinis, dia menatap wanita rendahan yang ada di hadapannya. "Aku mampu melakukan apapun yang aku inginkan!"
"Singkirkan tanganmu darinya Felix. Dia terlalu rendah untuk bersentuhan dengan tanganmu." Seru Brayen. Felix langsung melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Lucia.
"Albert, lakukan semaumu pada wanita ini. Pastikan kau menyiksanya sebelum kau menjebloskannya ke penjara. Buat dia membusuk di penjara dengan segala kejahatannya." tukas Brayen dingin.
Albert mengangguk patuh, "Baik Tuan."
"Kau harus membuat dia seperti hidup di dalam neraka!" Seru Felix. Albert kembali mengangguk patuh.
Kemudian Brayen dan juga Felix berjalan meninggalkan ruangan. Teriakan dan jeritan dari Lucia begitu kencang saat Brayen dan Felix memerintahkan Albert. Brayen dan Felix pun tidak memperdulikan teriakan dari Lucia, mereka terus berjalan meninggalkan ruangan.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.