Love And Contract

Love And Contract
Suara Keributan



Pagi hari Devita dan juga Laretta tengah duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton film. Ya, seperti biasa, weekend, Devita akan menghabiskan waktunya di rumah. Karena sekarang ada Laretta di rumahnya. Dia mengajak Laretta menonton film. Sedangkan Brayen, meskipun ini adalah weekend, tapi Brayen tetap berada di ruang kerjanya.


Sejujurnya, Devita sangat kesal dengan Brayen, karena suaminya itu masih memikirkan pekerjaannya saat weekend seperti ini. Padahal, Devita ingin menonton film bersama dengan Brayen sambil memakan Ice cream. Beruntung, ada Laretta yang menemaninya. Jika tidak ada Laretta, mungkin saat ini dia sudah marah dengan suaminya itu.


"Laretta, kenapa pemeran pria utamanya romantis sekali. Aku rasa itu hanya ada di film jadi jauh lebih sempurna."


Laretta pun terkekeh. " Ya, kau benar. Tapi apakah Kakakku romantis? Karena setahuku dia bukan pria yang romantis." tanya Laretta.


Senyum di bibir Devita terukir, kala Laretta menanyakan tentang Brayen. Kemudian dia menjawab "Brayen sungguh manis, terkadang dia sangat menyebalkan. Tapi terkadang dia juga sangat romantis. Aku suka semua cara Brayen memperlakukanku. Ya, walaupun terkadang Kakakmu itu menyebalkan."


Laretta mengulum senyumannya. "Aku sudah tahu itu, Kakakku itu memang sangat menyebalkan. Bahkan dulu saat kami kecil, dia selalu memarahiku ketika aku menyukai seorang pria saat aku sekolah dulu."


"Itu namanya kau beruntung Laretta. Sejak dulu aku menginginkan seorang Kakak. Tapi kenyataannya aku ini adalah tunggal," jawab Devita.


Laretta mengangguk. " Ya kau benar. Meski dia menyebalkan, aku tetap menyayangi Kakakku itu."


"Jadi rupanya dua wanita cantik sedang menonton film?" suara bariton masuk ke dalam ruang keluarga, membuat Devita dan juga Laretta mengalihkan pandangan mereka, ke sumber suara itu. Seketika Laretta dan Devita sama - sama tersenyum, melihat Felix mendekat ke arahnya.


"Felix? Kau di sini?" sapa Devita bersamaan dengan Laretta. Terlihat Laretta yang berusaha untuk tenang saat berada di hadapan Felix.


"Aku kesini karena memenuhi undangan Kakak Ipar." Felix duduk tepat di hadapan Laretta dan juga Devita.


Devita mendengus "Aku mengundangmu sudah lama, Felix. Tapi kenapa kau baru datang sekarang?"


"Ya, maafkan aku, Devita. Aku baru bisa datang. Kau tahu, aku sangat malas bertemu dengan suamimu itu," jawab Felix.


Devita terkekeh, " Kau ini, bagaimanapun dia adalah sepupumu?"


Felix berdecak. "Aku sebenarnya ingin menolak sekali, kalau dia adalah sepupuku."


Laretta menggeleng pelan. Felix memang selalu membuatnya tersenyum dan tertawa. "Kau ini tidak berubah, Felix," ucapnya seraya terkekeh pelan.


"Bagaimana kabarmu, Laretta?" tanya Felix sambil tersenyum ke arah Laretta.


"Aku baik. Kau sendiri bagaimana kabarmu?" Laretta bertanya balik.


Felix mengangguk singkat. "Ya, seperti yang kau lihat. Aku sangat baik." Kemudian kini tatapannya menatap Devita yang duduk di samping Laretta. "Devita, apa Olivia tidak datang ke rumahmu?"


Sesaat Devita tampak ragu, untuk menjawab, terlebih Felix menanyakan tentang Olivia, tepat di depan Laretta. Namun, dia tidak mungkin hanya diam dan tidak menjawab. Devita melirik sebentar ke arah Laretta yang berusaha bersikap tenang. Kemudian, dia menjawab, "Weekend seperti ini, Olivia selalu menonton film di rumah atau dia bermain games. Tidak mungkin Olivia kesini. Dia itu lebih memilih untuk menghabiskan waktu sendirian di kamarnya."


Felix tersenyum. " Temanmu itu sungguh menggemaskan, apakah kau tahu, Devita? Jika dia juga mengatakan kalau aku ini penguntit."


"Penguntit? Bagaimana bisa Olivia mengatakan kau ini penguntit?" Devita tidak habis pikir, bagaimana mungkin Olivia mengatakan Felix adalah penguntit. Astaga, Devita benar - benar di buat malu oleh Olivia.


Felix membuang napas kasar. " Itu karena aku tahu, alamat mansionnya dan juga alamat rumahnya yang ada di Kanada. Dia langsung mengatakan kalau aku ini penguntit. Aku tidak tahu, bagaimana cara temanmu itu berpikir."


Devita terkekeh geli. " Kau kenapa bisa tahu, alamat rumah Olivia yang ada di Kanada?"


"Aku sudah tertarik dengannya di awal pertemuan ku dengannya. Itu yang membuatku mencari tahu tentangnya," jawab Felix dengan santai.


Perkataan Felix sukses membuat wajah Laretta menjadi muram. Devita sungguh tidak enak pada situasi yang seperti ini. Terlebih Laretta yang masih belum bisa melupakan Felix. Namun, Devita yakin, perasaan Laretta pada Felix perlahan akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.


"Jika kau benar mencintai Olivia, kau harus membuktikannya, Felix." Devita membalas dengan suara yang pelan. Sedangkan Laretta yang duduk berada di sampingnya hanya tersenyum ke arah Felix.


Felix mengangguk. " Aku kan membuktikannya, Devita. Kau tenang saja. Pasti cepat atau lambat Olivia akan menjadi milikku,"


Devita tersenyum. " Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Felix."


"Untuk apa kau datang ke sini?" Brayen melangkah masuk ke dalam ruang keluarga. Tatapannya menatap dingin Felix yang duduk dengan santai. Kemudian dia mendekat dan duduk tepat di samping istrinya.


Felix berdecak. "Aku datang karena memenuhi undangan Kakak Iparku."


"Kau lihat, Kakak Iparku membelaku. Devita, kau harus tahu, jika aku boleh memilih, aku juga tidak mau menjadi Sepupunya!" Tukas Felix kesal.


"Kau pikir, aku mau menjadi sepupumu!" Jawab Brayen dingin.


Devita menggeleng pelan dan tersenyum. " Kalian ini, kenapa hari ini kalian berdebat seperti ini."


"Ini semua karena suamimu. Aku saat ini sedang memikirkan cara, agar suamimu itu mau melepaskan sahamnya yang ada di perusahaanku." jawab Felix sambil menyandarkan punggungnya di sofa, seraya menyilangkan kakinya.


"Jangan pernah bermimpi! Aku tidak akan pernah melepaskan sahamku." ucap Brayen dingin.


Tiba - tiba terdengar suara keributan di luar. Semua orang yang ada di sana langsung menghentikan percakapan mereka. Brayen langsung mengalihkan pandangannya, kala mendengar keributan itu.


"Brayen, ada apa di luar?" tanya Devita sambil melihat ke arah pintu. Tidak lama kemudian terlihat Ruby yang berlari masuk kedalam ruang keluarga menghampiri Brayen dan juga Devita.


"T..Tuan Brayen." Ruby menundukkan kepalanya, saat berada di hadapan Brayen.


"Ada apa? Kenapa aku mendengar keributan di depan?" tanya Brayen dingin, tatapannya menatap tajam Ruby yang ada di hadapannya.


"Maaf Tuan, ada pria yang bernama Angkasa Nakamura, memaksa ingin masuk. Dia juga membawa beberapa anak buahnya. Dia mengancam, jika tidak di izinkan untuk masuk, dia akan membuat keributan dan melawan para pengawal yang berjaga di depan, Tuan." ucap Ruby gugup.


Rahang Brayen mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. " Kalau begitu, katakan padanya, minta anak buahnya untuk melawan pengawalku yang berjaga di depan. Jika mereka bisa lolos, maka aku akan mengizinkannya untuk masuk!"


Seketika wajah Laretta memucat, saat mendengar Angkasa datang bersama dengan anak buahnya. Laretta tidak menyangka, Angkasa benar - benar datang. Pria itu benar - benar sungguh berani. Bahkan sangat berani.


"Tidak! Jangan membuat keributan, Brayen!" Sela Devita, tatapan Devita kini terlalih pada Ruby. "persilahkan dia masuk, Ruby!"


"Aku tidak akan pernah mengizinkan pria itu masuk, Devita!" Seru Brayen dengan tatapan penuh dengan peringatan pada istrinya itu.


Devita menyentuh dada bidang Brayen, kemudian mengelusnya pelan, seraya berkata. " Angkasa, ingin bicara denganmu. Ingat Brayen, aku juga adalah Nyonya di rumah ini, dan aku juga berhak mengizinkan orang untuk masuk kedalam rumah ini."


Brayen membuang napas kasar. " Suruh mereka masuk," ucapnya dingin.


"Baik Tuan," Ruby menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Devita dan juga Brayen.


Tidak lama kemudian, Brayen menatap tajam sosok pria yang masuk dengan beberapa pengawal yang di bawa oleh pria itu. Sesaat Brayen dan Angkasa menatap tajam satu sama lain. Terlihat Brayen mengepalkan tangannya dengan kuat melihat Angkasa berada di hadapannya.


"Untuk apa kau datang kesini!" Seru Brayen.


"Mari kita bicara, Brayen!" Tukas Angkasa.


Brayen tersenyum sinis. " Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"


"Aku rasa kau sangat tahu, apa yang ingin aku katakan padamu?" jawab Angkasa tegas.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.