Love And Contract

Love And Contract
Devita Dan Laretta



*Author mau minta maaf sebelumnya, kalau selama pembuatan novel ini kadang ada tulisan nama karakternya yang ke tuker dengan novel author yang masih on going lainnya🙏 Dan terima kasih juga untuk para reader yang udah mau mengoreksi kesalahan dalam penulisan karakter nama tersebut sehingga author langsung bisa memperbaikinya.*


...****...


"Pagi Devita," sapa Laretta ketika melihat Devita melangkah masuk kedalam ruang makan.


"Pagi Laretta," balas Devita. Dia langsung duduk tepat di hadapan Laretta.


"Kau terlihat sedang tidak bersemangat. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Laretta sambil menatap lekat Devita.


Devita mendesah pelan, "Tadi malam aku menghubungi Brayen tapi dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Lalu aku menghubungi Albert dan Albert memberitahuku ada masalah dengan perusahaan."


"Masalah? Memangnya belum selesai? Biasanya Kakakku selalu cepat dalam menyelesaikan masalah perusahaan." ujar Laretta.


"Ini berbeda. Albert mengatakan ada rekan bisnisnya Dad David yang sengaja menyerang Dad David yang sedang lengah. Belakangan ini, Brayen juga hanya fokus pada perusahaan yang ada di sini. Jika perusahaan cabang di Madrid mengalami masalah, maka sangat berdampak di perusahaan Felix." jelas Devita.


Seketika raut wajah Laretta langsung berubah. "Itu benar Devita, seingatku Felix membangun perusahaan jauh lebih besar di Madrid dari pada di sini.Lalu bagaimana dengan Felix? Kakakku tidak mungkin diam saja bukan? Kenapa Kak Brayen tidak menceritakan apapun padaku. Aku ini adiknya, tapi dia tidak menceritakan apapun."


Devita menghela nafas kasar. "Jangankan kau, aku saja tidak beritahu oleh Brayen. Aku tahu semuanya dari Albert. Brayen memang lebih memilih untuk menutupinya, tanpa memberitahu padaku. Tapi kau tenang saja Laretta, aku sudah di beritahu oleh Albert jika Brayen sudah memberikan uang dua miliar dollar untuk perusahaan Felix. Setidaknya perusahaan Felix mampu bertahan. Dan penurunan saham di perusahaan milik Felix bisa teratasi dengan suntikan dana dari Brayen."


Laretta tersenyum lega, "Aku tahu Kak Brayen pasti akan membantu Felix. Meski mereka berdua selalu bertengkar ketika bertemu, aku sudah tahu pasti Kak Brayen tidak mungkin hanya diam jika terjadi sesuatu pada Felix."


"Ini sama seperti saat kami kecil dulu Devita. Saat itu, usia Kakakku sekitar 10 tahun dan Felix berusia 7 tahun. Sejak dulu Ka Brayen dan Felix memang sering tidak akur. Saat Kak Brayen sedang bermain bola dengan teman - temannya, Kak Brayen melihat Felix tengah di pukul oleh temannya. Dan kau tahu apa yang Kakakku lakukan? Kakakku meninggalkan lapangan bola, hanya untuk menghampiri Felix dan menghajar teman - temannya Felix yang memukul Felix."


"Aku tahu ini, Karena aku juga ada di sana. Saat itu, aku ingin menonton Kak Brayen yang sedang bermain bola. Sejak kecil, Kakakku itu sudah sangat tampan dan hebat dan itu yang membuatku mengidolakannya," jelas Laretta yang menceritakan masa kecilnya dulu.


Devita tersenyum bangga. "Brayen memang memiliki caranya sendiri. Dan itu yang membuatku bersyukur memilikinya di hidupku."


"Tidak hanya kau Devita, tapi Kak Brayen juga bersyukur memilikimu." balas Laretta. Devita membalasnya dengan kembali tersenyum.


"Laretta, tadi kau bilang bahwa Brayen menghajar teman - temannya Felix?" Devita menatap lekat Laretta. "Brayen masih sangat kecil, bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu?"


Laretta terkekeh pelan. "Kau pasti terkejut. Tapi Kakakku memang seperti itu. Sejak kecil dia sangat angkuh dan tidak banyak bicara. Biasanya, jika ada yang menganggunya, Kakakku pasti langsung menghajar orang itu. Dulu saja ketika ada anak laki-laki yang menggangguku, Kakakku juga menghajarnya sampai membuat anak - anak laki - laki itu masuk ke rumah sakit. Mereka takut mendekatiku karena sifat Kakakku itu."


Devita mengulum senyumannya. "Kalau seperti itu, Brayen akan overprotektif jika kami memiliki anak perempuan nanti."


"Aku juga sudah menduganya Devita. Aku yakin, Kakakku akan sangat overprotektif dengan anak perempuannya nanti," balas Laretta.


"Oh ya, Laretta apa jenis kelamin anakmu? Bukankah kandunganmu sudah empat bulan?" tanya Devita.


"Aku tidak ingin memeriksanya Devita? Biar nanti buat kejutanku dan Angkasa," jawab Laretta. "Bagaimana denganmu? Apa kau sudah periksa kandunganmu, Devita?"


"Aku sudah memeriksanya sebelum Brayen berangkat ke Madrid. Dan kandunganku juga sehat." ujar Devita.


"Ya sudah, selesai nanti kita sarapan. Temani aku di studio lukis, ya. Aku bosan jika hanya sendirian," kata Laretta.


"Aku tidak mungkin menolaknya. Aku juga bosan jika hanya berdiam diri di kamar," balas Devita.


Hingga kemudian, setelah Devita dan Laretta selesai sarapan. Devita dan Laretta beranjak dan berjalan meninggalkan ruang makan. Seperti biasa, Devita menemani Laretta di studio lukis adik iparnya itu. Paling tidak, Devita tidak akan bosan jika menemani Laretta.


Suara dering ponsel terdengar, membuat Devita yang tengah tidur siang terganggu dengan suara dering ponsel yang sejak tadi tidak berhenti berdering. Dengan terpaksa Devita membuka matanya, dia mengerjap dan melihat ke layar tertera nama Olivia. Dan Devita mendesah kasar, karena sahabatnya itu sudah menganggu saja. Devita kemudian menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian menempelkannya di telinganya.


"Ya Olivia, ada apa?" tanya Devita dengan suara yang serak saat panggilannya terhubung.


"Devita, apa aku sudah menganggumu?" tanya Olivia dari sebrang telepon.


"Aku sedang tidur siang, Olivia. Aku masih mengantuk. Ada apa?"


"Kau tidur siang? Tidak biasanya kau itu tidur siang?"


Devita mendengus. "Cepat katakan, ada apa? Kalau kau tidak bicara juga, lebih baik aku matikan saja teleponnya!"


"CK! Kau ini benar-benar! Aku menghubungimu karena aku ingin mengatakan besok aku ingin kerumahmu."


"Olivia, sejak kapan kau ingin kerumahku harus meminta izin terlebih dulu? Kau bisa datang kapanpun yang kau inginkan?"


"Tapi aku tetap harus memberitahumu. Karena aku takut, besok kau akan pergi. Jadi, aku tidak ingin datang sia - sia."


"Ya, ya baiklah. Besok aku ada di rumah. Kau datang saja. Sudah, aku masih mengantuk. Kau hubungi aku nanti lagi."


Panggilan terputus, Devita sudah lebih dulu mematikan sambungannya teleponnya. Dan Devita kemudian meletakkan kembali ponselnya yang ada di atas nakas, lalu memejamkan mata dan menarik selimutnya.


Suara dering ponsel kembali terdengar, Devita membuka matanya kesal. Dia langsung menyambar ponselnya, menggeser tombol hijau dan meletakkannya ke telinganya.


"Olivia! Aku masih mengantuk! Sudahku katakan kalau besok kau mau datang, kau itu datang saja! Jangan banyak bertanya!" Suara Devita berseru dengan nada kesal saat panggilannya terhubung.


"Jadi seperti ini cara istriku menyambut telepon dari suaminya? Aku dengar dari Albert, istriku begitu merindukanku, dan sekarang aku sudah di sambut dengan marah - marah seperti ini," ujar Brayen dari sebrang telepon.


Devita tersentak, dia menjauhkan ponselnya dari telinganya. Menatap ke layar dan tertera nama suaminya yang tengah menghubunginya. Devita mendesah pelan, dia tidak melihat nama yang menghubunginya. Dengan cepat, Devita kembali menempelkan ponsel ke telinganya.


"Brayen? kau darimana saja? Apa kau ini lupa sudah memiliki istri? Kenapa pekerjaanmu itu selalu menjadi yang nomor satu?" gerutu Devita.


...***********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.