
Felix membuang napas kasar, "Olivia Roberto. Itu artinya aku tertarik dan ingin mengenal dekat denganmu."
"Mengenal dekat diriku? Tentu boleh. Aku senang memiliki banyak teman," jawab Olivia sambil menikmati makanannya.
Felix mengumpat dalam hati, ini adalah resiko menyukai gadis yang masih belia. "Aku tertarik lebih dari teman. Apakah kau ini tidak pernah memiliki seorang kekasih?"
"Kekasih? Kau bertanya padaku, apakah aku memiliki seorang kekasih?" tanya Olivia memastikan.
Felix mengangguk, " Ya, apa kau sudah pernah memiliki seorang kekasih?"
Olivia mencebikkan bibirnya. " Sepertinya kau menghinaku. Kau tahu? Aku dan Devita ini tidak pernah memiliki kekasih. Nasib beruntung datang pada Devita karena bisa menikah dengan Brayen."
"Apa kau bilang tadi? Beruntung? Jadi menurutmu, menikah dengan Brayen Adams Mahendra itu sangat beruntung?" seru Felix yang kesal.
"Bukankah seluruh wanita menyukai Brayen? Jadi itu artinya Devita sangat beruntung" jawab Olivia jujur.
"Sudah, jangan membahas sepupuku itu. Bukan Devita yang beruntung memiliki Brayen, tapi Brayen yang beruntung memiliki Devita," balas Felix.
Olivia mendesah pelan. " Ya, ya terserah kau Felix."
"Tapi sepertinya kau membuatku terus memikirkanmu." Felix tersenyum dia terus menatap Olivia.
"Sudah Felix, jangan bercanda. Aku ini masih kuliah, aku seperti anak kecil. Kau tidak mungkin memikirkan anak kecil sepertiku," ucap Olivia ketus. Dia sudah tahu, Felix tidak mungkin menyukai gadis yang seperti dirinya.
"Kau sudah 20 tahun Olivia. Kau bukan lagi anak kecil!" Jawab Felix. " Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat,"
"Aku tidak ingin membahas ini, Felix. Bahkan, kita baru beberapa kali bertemu," Olivia menghela nafas dalam, dia saja baru bertemu dengan Felix, tapi pria itu sudah ingin mengenalnya lebih dekat.
Felix mengangguk, " Ya, kedepannya kita akan sering bertemu untuk kita saling mengenal lebih dekat,"
"Tunggu, maksudku bukan itu!" Kening Olivia berkerut dalam.
"Tapi itu Maksudku, Olivia. Kita akan sering bertemu untuk saling mengenal satu sama lain," tukas Felix menekankan.
Olivia mendengus, dia menatap kesal Felix. Bisa - bisanya pria yang ada di hadapannya ini memaksa, memangnya dia pikir, dia itu siapa?
...***...
Brayen dan Devita kini sudah tiba di mansion mereka, setelah kejutan manis dari Brayen, benar - benar membuat Devita tidak akan pernah melupakannya. Selama Devita merayakan ulang tahun. Hadiah dari Brayen, adalah hadiah yang terindah yang dia dapatkan. Dia sungguh, tidak menyangka akan mendapatkan hadiah yang sangat manis dari Brayen. Bahkan Devita tidak pernah terpikir, jika Brayen akan melamarnya, karena memang mereka telah menikah dan berawal dari sebuah perjodohan, tapi pada akhirnya mereka saling mencintai.
Devita yakin, di masa depan, Brayen akan memberikannya kebahagiaan. Brayen adalah pria yang terbaik untuk dirinya. Bahkan Devita bisa merasakan, Brayen begitu mencintai dirinya. Dulu Devita berpikir, menikah dengan Brayen tanpa cinta akan memiliki akhir yang menderita. Tapi itu salah, pada akhirnya Devita dan Brayen saling jatuh cinta.Mereka kini saling bahagia. Meski kini tidak pernah terpikir di awal Devita akan jatuh cinta pada Brayen, tentu alasannya karena Brayen yang memiliki sifat yang keras, angkuh dan dingin. Itu yang membuat Devita yakin, dia tidak mungkin mencintai Brayen.
Namun, seiring berjalannya waktu, Brayen telah berhasil merebut posisi Angkasa di hati Devita. Dan Devita sangat tahu, dirinya lebih mencintai Brayen dari pada mencintai Angkasa dulu. Kini Devita hanya menganggap Angkasa sebagai teman masa kecilnya. Sekarang, Devita telah memulai lembaran hidup yang baru dengan pria yang dia cintai. Masa lalu, akan tetap berada di sana. Tidak akan berubah menjadi masa depan. Masa depannya hanya dia dengan Brayen, serta anak - anak mereka nantinya.
Kini Devita duduk di ranjang, dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang, dia baru saja selesai mengganti pakaiannya. Hari ini, adalah hari yang terindah bagi Devita Sejak tadi, Devita tidak berhenti tersenyum, jika membayangkan hadiah dari Brayen.
Brayen yang baru saja selesai mandi, dia menatap sang Istri yang tengah duduk di ranjang. Kemudian dia mendekat, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. melihat Brayen sudah membaringkan tubuhnya, Devita pun ikut membaringkan tubuhnya seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Brayen," panggil Devita sambil mengelus lembut rahang Brayen.
"Terima kasih untuk hadiah yang kau berikan. Aku sungguh menyukainya,"
Devita mendongakkan kepalanya dia mengecup rahang suaminya itu.
Brayen tersenyum, "Aku juga berterima kasih, karena kau mau menerimaku,"
"Aku tidak mungkin menolakmu, bukan?" Devita kembali mengecup rahang Brayen.
Brayen mengangguk, " Kau benar, kau tidak akan mungkin menolakku."
Devita mengulum senyumannya. Tentu dia tidak akan pernah menolak suaminya itu.
"Devita?" Brayen mengelus lembut pipi Devita. "Aku sudah memberikanmu hadiah, sekarang kau yang harus memberikan hadiah untukku."
"Kau ingin hadiah apa, Brayen?" kening Devita berkerut, dia menatap bingung suaminya.
Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* bibir Devita " I want you to night," bisiknya tepat di bibir Devita.
Devita membulatkan matanya. " B... Brayen?"
Tanpa menjawab, Brayen langsung menindih tubuh Devita, dia ******* dengan lembut bibir Istrinya. Jika sudah seperti ini, Tentu Devita tahu apa yang di inginkan oleh suaminya.
...***...
Cuaca malam begitu sejuk, Laretta duduk di balkon kamarnya. Menikmati suasana malam di kota B, negara kelahirannya. Sudah lama Laretta tidak tinggal lama di kota B. Sejak dulu Laretta memang lebih banyak menghabiskan waktu di Australia dan Korea. Alasan Laretta meninggalkan kota B adalah karena dia ingin melupakan semua tentang perasaannya pada Felix.
Laretta memulai hidup barunya di Australia dan Korea, tanpa orang mengetahui jika dia adalah putri dari keluarga Mahendra. Tapi itulah yang membuat Laretta sangat nyaman. Orang di sekelilingnya tidak perlu segan dan takut padanya. Laretta memang tidak pernah mengambil alih perusahaan. Baginya, Brayen Kakaknya sudah sangat hebat. Dan Laretta lebih memilih untuk menjadi seorang pelukis, meski seluruh keluarganya menentang dirinya.
Saat ini Laretta lebih memilih untuk berdamai dengan keadaan, Ayah dari anak yang di kandung olehnya adalah pria yang tidak pernah dia cintai. Laretta mengusap dengan lembut perutnya. Perasaan sangat bahagia kini dia rasakan. Menjadi seorang Ibu adalah hal yang sangat membahagiakan. Meski Laretta pernah ingin menggugurkan kandungannya, tapi Laretta mengurungkan niatnya, dan sekarang dia sudah terlanjur mencintai kandungannya.
Laretta beranjak dari balkon, dia kembali masuk kedalam kamar. Namun, tiba - tiba saat dia masuk kedalam kamar dia terkejut ada tangan yang membekap mulutnya.
"Hmmmmptt.." Laretta berusaha memberontak, dia ingin berteriak tapi tidak bisa.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.