
Brayen langsung melayangkan tatapan dingin pada istrinya itu. "Itu karena bantuan dari Chef Della! Kau ini bicara yang tidak - tidak. Sudah cukup, memintaku untuk memasak. Lain kali aku akan menambah sepuluh Chef lagi untuk bekerja dengan kita. Jadi, jika kau sudah bosan dengan masakan Chef Della kau bisa makan masakan Chef yang lainnya."
Devita mendengus tidak suka. "Kau ini sudah gila Brayen! Pemborosan sekali! Kenapa sampai sepulu Chef! Kau tahu, menggaji mereka itu sangat mahal!"
"Kita ini tidak miskin Devita! Jangan berlebihan." balas Brayen yang malas menanggapi ucapan istrinya itu.
Devita mendesah kasar. "Kau ini berlebihan sekali Brayen! Tidak, aku tidak mau kalau terlalu berlebihan. Kau ini benar - benar!"
"Terserah! Tapi kau jangan lagi memintaku untuk memasak. Aku tidak tahan di depan kompor!" Seru Brayen
Devita mengedikkan bahunya acuh. "Ini bukan keinginanku Brayen. Tapi keinginan anak kita. Jadi mau tidak mau kau itu harus menurutinya."
"Anakku masih belum bisa bicara Devita. Dia masih berada di dalam perutmu. Jadi ini hanya alasanmu saja!" Geram Brayen.
Devita mencebik, dia mengerutkan bibirnya. "Kau tidak mau memasak lagi untukku? Kau bohong! Katanya kau itu mau menuruti setiap keinginanku!"
Mata Devita mulai berkaca-kaca, dia menatap kecewa Brayen yang duduk di hadapannya. Brayen membuang napas kasar melihat sifat istrinya yang sungguh seperti anak kecil. Apapun keinginan Devita, mau tidak mau Brayen harus menurutinya. Jika tidak, Devita akan menangis seperti sekarang ini.
Brayen beranjak, dia pindah duduk di samping Devita. Kemudian mengelus dengan lembut pipi istrinya itu. "Sudah jangan menangis. Aku akan menuruti setiap keinginanmu."
Devita tersenyum, menatap Brayen dengan mata yang berbinar. "Benarkah? Kau itu akan menuruti segala keinginanku?"
Brayen mengangguk. "Ya, aku akan selalu menuruti keinginanmu."
Devita kembali tersenyum, dia langsung memeluk erat tubuh Brayen. "Aku tahu, kau itu memang suami yang terbaik."
"Cepat habiskan makananmu setelah itu kita kembali ke kamar," balas Brayen sambil mengusap rambut istrinya.
Devita mengurai pelukannya, dia menatap lekat Brayen. "Aku ingin bertanya kenapa kau pulang malam ini, tapi tidak memberitahuku?"
"Untuk memberikan kejutan pada istriku yang selalu meminta suaminya agar pulang lebih cepat." Brayen mencubit pipi Devita yang berisi itu.
"Memangnya kau betah di Madrid tanpa diriku?" Devita merengut kesal.
"Tidak, aku tidak betah jika tidak ada dirimu." jawab Brayen.
"Kau ini semakin cerdas merayu!" Tukas Devita.
Brayen tak menjawab, dia hanya mengusap lembut kepala Devita.
"Hem, Brayen apa semua pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Devita.
"Semua pekerjaanku sudah selesai. Sisanya aku meminta perwakilan direktur operasionalku yang akan menyelesaikannya." jawab Brayen.
Devita mengangguk paham, kemudian dia menyuapkan pasta pada Brayen. "Buka mulutmu, pasti kau lapar."
"Tidak Devita, aku tidak lapar." balas Brayen.
"Buka saja mulutmu Brayen! Kau itu harus makan!" Seru Devita
Tidak ada pilihan lain, dengan terpaksa Brayen membuka mulut dan menikmati pasta yang ia buat tadi.
"Brayen, apa Felix juga pulang bersama denganmu?" tanya Devita.
"Tidak, dia masih bersenang-senang dengan teman - temannya. Aku tidak tahu kapan dia pulang, mungkin dalam beberapa hari lagi." jawab Brayen.
"Kau tidak ikut bersenang - senang dengan Felix?" Devita memincingkan matanya menatap Brayen penuh dengan selidik.
"Jika aku memilih untuk bersenang-senang aku tidak akan ada di sini Mrs. Mahendra," balas Brayen.
Devita tersenyum, dia memeluk lengan Brayen. "Ini alasan aku selalu jatuh cinta padamu. Kau selalu mengutamakan diriku. Bahkan meski kau jauh sekalipun, kau tetap mengutamakanku."
"Kau dan anak kita memang lebih penting dari apapun." Brayen mengelus lembut pipi Devita.
...***...
Sinar matahari pagi menebus tirai - tirai. Devita menguap dan menggeliat. Dia mulai membuka matanya. Tangan Devita meraba ke arah samping, ketika ranjang sudah kosong dan Devita langsung menoleh. Devita mendengus ketika melihat Brayen sudah tidak ada di sampingnya. Devita beranjak dari tempat tidur, dia mengikat asal rambutnya. Kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi. Tidak ingin marah di pagi hari, lebih baik Devita memilih untuk membersihkan diri.
Setelah sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Devita memeriksa nakas. Biasanya Brayen selalu meletakkan note di sana. Namun, ketika Devita memeriksa di atas nakas masih kosong. Tidak ada note yang biasa di tulis oleh Brayen. Dengan cepat Brayen menyambar ponselnya yang terletak di atas nakas dan langsung menghubungi Brayen.
"Memangnya Brayen sedang menghubungi siapa sepagi ini!" Gerutu Devita, saat nomor telepon Brayen tengah sibuk. Tapi hingga lima kali Devita menghubungi suaminya itu tetap saja nomor telepon Brayen itu sibuk.
"Apa kau mencariku?" suara Brayen berseru, dia masuk kedalam kamar dan menatap wajah kesal istrinya.
Devita membalikkan tubuhnya, dia menatap Brayen yang mendekat ke arahnya. "Kau darimana saja?"
"Tadi Albert menghubungiku." Brayen mengelus pipi Devita. "Kau tadi tertidur pulas, aku tidak ingin menganggumu. Jadi aku menjawab telepon di luar." jawab Brayen.
Devita mengangguk paham, kemudian dia mendekat dan memeluk Brayen. "Apa hari ini kau akan pergi ke kantor?"
"Ya, hari ini aku akan pergi ke kantor." Brayen mengecup kening Devita, "Kau ingin berbelanja hari ini?"
"Tidak," Devita menggelengkan kepalanya. "Aku ingin ikut ke kantormu. Aku bosan di rumah, aku ingin ikut ke kantormu."
"Kau ingin ikut ke kantor?" Brayen menautkan alisnya. "Kau yakin? Aku memiliki banyak meeting hari ini, sayang. Aku takut kau akan bosan jika sendirian."
"Aku tidak akan bosan Brayen, aku ingin ikut denganmu. Jika aku di rumah saja aku malah akan lebih bosan." Devita mengerutkan bibirnya, menatap penuh harap agar suaminya itu menyetujui keinginannya.
"Allright, kau bisa ikut tapi kau harus berjanji kepadaku untuk beristirahat di kamar pribadiku. Nanti aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan segala yang kau butuhkan," balas Brayen. "Dan kau harus ingat, kau itu tidak boleh kelelahan. Kau hanya menungguku sampai aku selesai meeting."
Devita tersenyum, dia kembali memeluk erat tubuh suaminya. "Aku akan menurutimu. Kau tenang saja, aku tidak akan kelelahan."
"Aku harus bersiap - bersiap," Brayen mengusap pelan rambut Devita, kemudian dia berjalan menuju ke arah walk in closetnya.
"Aku akan membantumu, sayang." Devita langsung menyusul ke arah Brayen menuju ke walk in closet. Dia membantu memilihkan pakaian Brayen yang akan di pakai hari ini.
Devita memilih jas berwarna navy dengan arloji berwarna silver untuk Brayen. Setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya, Devita mengganti pakaiannya. Devita memilih dress berwarna putih dengan bagian model one off shoulder.
Pandangan Brayen kini menatap Devita yang kini sudah mengganti pakaiannya. Brayen melangkah mendekat, dia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Kenapa kau ini sangat cantik, HM?" bisik Brayen sambil mengecupi tengkuk leher istrinya.
Devita tersenyum, dia membalikkan tubuhnya. Kini mereka saling menatap satu sama lainnya. Devita mendekatkan bibirnya ke bibir Brayen dan berbisik. "Dan kau sangat tampan."
Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu. "Aku rasa, kita itu tidak perlu berangkat. Aku ingin mengurungmu di sini, sayang."
"Kau ini bagaimana!" Devita menepuk pelan lengan Brayen. "Kau bilang sudah memilki meeting dengan rekan bisnismu. Sudah kita berangkat sekarang, aku tidak ingin kau merugi karena hal ini."
Brayen mengulum senyumannya, dia memeluk bahu Devita. "Kita berangkat sekarang,"
Devita mengangguk, dia mengambil tasnya di atas meja rias kemudian berjalan bersama dengan suaminya keluar dari kamar. Devita lebih memilih untuk tidak sarapan di rumah, dia ingin sarapan di kantor Brayen. Lagi pula, pagi hari ini Devita belum lapar. Jadi Devita memutuskan untuk sarapan di kantor suaminya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.