Love And Contract

Love And Contract
Suara Ledakan



"Aku akan menghalangi langkahmu, Ivana! Tidak peduli apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu untuk melukai seseorang yang tidak bersalah! Obsesimu ingin memiliki Brayen, sudah membuatmu kehilangan akal sehatmu! Jika dulu, aku selalu mendukung segala yang kau putuskan. Maka kali ini aku tidak akan mendukung mu! Aku tidak ingin kau terjebak dalam sebuah masalah besar, Ivana!" Monika kembali melanjutkan perkataannya, dia menatap Ivana dengan tatapan dingin dan tegas.


"Jadi? Kau ingin menghalangiku Monika?" seru Ivana.


Monika mengangguk. "Ya, aku akan menghalangi langkahmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu!"


Ivana tersenyum sinis. "Kalau begitu, aku minta maaf. Kau tidak akan bisa keluar dari sini." Ivana menggerakkan kepalanya, memberikan isyarat pada pengawalnya untuk mendekat ke arahnya.


"Apa maksudmu, Ivana? Jadi kau mau mengurungku di sini?" seru Monika. Tatapannya begitu tajam menatap Ivana.


"Ya! Aku akan mengurungmu!" Tukas Ivana dengan wajah penuh dengan kemarahan.


"Masukkan dia ke kamar kosong. Dan jangan sampai biarkan di keluar!" Perintah Ivana tegas pada anak buahnya.


"Lepas! Kau beraninya menyentuhku!" Ivana menghentakkan tangannya, berusaha melepaskan tangannya yang sudah di tarik paksa oleh anak buah Ivana.


"Maafkan aku, Monika. Karena kau sudah menghalangi langkahku. Maka aku harus melakukan ini," seru Ivana.


"Kau sudah gila, Ivana! Lepaskan aku! Aku seperti ini karena aku tidak ingin kau terluka!" Teriak Monika. Dia meronta berusaha untuk melepaskan tangannya yang semakin di tarik paksa oleh anak buah Ivana.


"Ya, aku gila karena aku sangat mencintai Brayen! Dan aku tidak perduli!" Teriak Ivana.


"Kau pasti akan menyesal Ivana Wilson!" Monika berteriak begitu keras. Karena semakin dia meronta, maka semakin kuat para pengawal Ivana mencengkram di tangannya.


Ivana menyeringai. "Karena, jika aku tidak memiliki Brayen, maka tidak akan ada wanita yang bisa memilikinya."


...***...


Devita duduk di tepi kolam renang. Dia memejamkan matanya sebentar, menikmati hembusan angin yang menyentuh kulitnya. Hari menjelang malam Devita memilih untuk menikmati cuaca yang begitu indah.


"Kenapa kau di sini, sayang?" suara Brayen dari arah belakang, membuat Devita sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah belakang.


"Brayen kau sudah pulang." Devita tersenyum, ketika melihat Brayen melangkah mendekat ke arahnya.


"Ya, aku sudah pulang. Kita masuk ke kamar, hari sudah malam." Brayen mengulurkan tangannya, membantu Devita untuk berdiri.


Devita tersenyum, dia langsung menyambut uluran tangan dari Brayen dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Kemudian Devita memeluk lengan Brayen, dan melangkah masuk menuju ke arah kamar.


"Brayen, kau mandilah. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu." kata Devita, saat dia dan Brayen sudah tiba di dalam kamar.


Brayen mengangguk dia mengecup kening Devita. Lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi. Melihat Brayen sudah menuju ke kamar mandi, Devita langsung menyiapkan pakaian untuk Brayen. Setelah menyiapkan pakaian untuk Brayen, Devita membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Suara dering ponsel terdengar menandakan ada pesan masuk. Devita membuang napas kasar, dia begitu malas jika ponselnya berdering. Dia terlalu lelah, jika di ganggu oleh orang asing itu. Devita mengambil ponselnya lalu menatap ke layar. Ternyata Olivia yang menghubunginya. Devita langsung membuka pesan masuk dari Olivia dan membaca pesan itu.


Olivia : Devita, apa kau bisa menemaniku besok? Aku ingin membeli tas untuk ibuku?


Devita : Ya, besok aku akan menemanimu.


Olivia " Baiklah, nanti aku akan menjemputmu jam 11 siang."


Devita : Ok, see you..."


Setelah membalas pesan dari Olivia. Devita meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


"Siapa yang mengirim pesan padamu?"tanya Brayen yang baru saja selesai mandi, dia sudah mengganti pakaiannya dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Devita.


"Olivia, dia bilang padaku untuk menemaninya berbelanja." jawab Devita. "Apa kau memperbolehkanku berbelanja?"


Brayen menarik dagu Devita. Mencium dan ******* lembut bibir istrinya itu. "Ya, jangan lupa bawa Nagita. Aku tidak ingin kau kelelahan."


Devita tersenyum, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. "Tenang sayang, aku pasti akan membawa Nagita."


Brayen mengeratkan pelukannya, dia memberikan kecupan di puncak kepala istrinya. "Besok, beberapa pengawal akan mengikutimu. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu."


"Tapi-"


"Aku masih belum bisa menemukan orang yang menggangumu. Aku tidak bisa tenang, membiarkanmu keluar tanpa adanya penjagaan." tukas Brayen menekankan.


Devita mengangguk patuh. "Ya baiklah,"


Devita tersenyum, dia memberikan kecupan di rahang Brayen. "Aku mengerti sayang, aku memahami kecemasanmu. Aku tahu, kau pasti akan selalu melindungiku."


Brayen menangkup kedua pipi Devita, memagut dengan lembut bibir ranum Istrinya. "Ya, aku pasti akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka meski hanya sedikit."


Devita kembali tersenyum, dia kembali mengeratkan pelukannya. Lalu memejamkan matanya. Berada di pelukan Brayen adalah hal yang ternyaman.


...***...


"Pagi," Brayen mengancingkan jasnya, dia tersenyum ketika melihat Devita sudah bangun dari tidurnya.


"Pagi," Devita beranjak, dia mengikat asal rambutnya. Lalu menghampiri Brayen, dia langsung merapihkan dasi Brayen yang terlihat kurang rapih "Maaf, aku terlambat bangun."


Brayen mengecup kening Devita. "Tidak apa-apa, sayang. Lebih baik kau minum susu, tadi aku sudah meminta pelayan untuk membuatkan susu untukmu." Brayen mengambil gelas yang berisikan susu yang telah di buat oleh pelayan, kemudian memberikannya pada Devita.


"Terima kasih," Devita mengambil gelas yang berisikan susu, lalu meneguknya hingga tandas.


"Hari ini, aku akan pulang terlambat. Kau tidurlah dulu dan jangan menungguku." kata Brayen sembari memberikan kecupan singkat di bibir Devita. "Aku harus berangkat sekarang, kau tidak perlu mengantarku ke depan rumah."


Devita mengangguk kemudian dia mengantarkan Brayen sampai kedepan kamar. Setelah Brayen pergi Devita langsung bersiap - siap, karena hari ini dia akan menemani Olivia berbelanja.


...***...


"Selamat pagi Nona Olivia," sapa pelayan ketika melihat Olivia masuk kedalam rumah.


"Pagi? Dimana Devita? Apa dia sudah bangun?" tanya Olivia.


"Nyonya masih bersiap - siap, tadi Nyonya meminta saya mengatakan pada Nona Olivia untuk menunggu sebentar," jawab pelayan itu.


Olivia mendesah pelan. "Baiklah, aku akan menunggu."


"Kalau begitu, saya permisi Nona." pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Olivia.


Tidak lama kemudian Devita turun melangkah masuk kedalam ruang tamu. Dia menatap Olivia yang sedang membaca majalah. Dia langsung berjalan menghampiri Olivia. Kemudian Devita dan Olivia berjalan menuju ke arah mobil Olivia. Ya, hari ini Devita memilih untuk tidak bersama dengan sopir dan juga Nagita. Para pengawal yang telah di siapkan oleh Brayen, berada di depan. mengikuti kemanapun Devita pergi. Dan Devita harus belajar untuk menerima ini.


...***...


Olivia melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melirik ke arah spion sudah ada tiga mobil dari pengawal Brayen yang mengikutinya. Olivia menghela nafas dalam, seumur hidupnya Olivia tidak pernah sampai di ikuti oleh pengawal sebanyak ini.


"Devita, kenapa kita di ikuti banyak sekali pengawal? Maksudku, tidak hanya satu mobil saja? Kenapa harus tiga mobil?" Olivia menatap tak percaya. Dia benar-benar seperti membawa seorang putri raja.


Devita mendengus. "Kalau tidak berlebihan bukan Brayen namanya. Sejak orang asing yang menghubungiku belum di temukan, Brayen terlalu mencemaskanku."


"Apa orang itu sulit di temukan?" tanya Olivia.


"Ya, jujur saja aku ingin sekali tahu siapa orang yang sudah mengangguku." balas Devita.


Suara ledakan terdengar, membuat Devita dan Olivia terkejut. Olivia menghentikan mobilnya, dia melihat ke arah belakang. Begitupun dengan Devita yang melihat ke arah belakang. Seketika wajah Olivia dan Devita menegang, melihat ketiga mobil anak buah Brayen hancur terbakar. Tubuh Devita gemetar ketakutan, napasnya mulai sesak. Sama halnya dengan Olivia. Wajah Olivia menegang, melihat ketiga mobil anak buah Brayen hancur.


"D- Devita?" Olivia menelan salivanya susah payah.


"Olivia apa yang terjadi?" wajah Devita semakin panik dan juga cemas. Dia memikirkan para pengawal yang ada di ketiga mobil itu yang berjumlah dua belas orang. Devita menggelengkan kepalanya. Itu artinya ada dua belas nyawa yang tidak selamat.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.