Love And Contract

Love And Contract
Menemui Laretta



Angkasa menatap dokumen yang baru saja di berikan oleh Hendrick, asistennya. Kini pikirannya tidak bisa lagi berpikir jernih, setelah Hendrick mengatakan ada investor yang akan menyuntikkan dana sebesar dua miliyar dollar ke perusahaannya. Tapi, saat Angkasa membaca dokumen tersebut tertera nama Laretta Gissel Mahendra sebagai investor di perusahaannya. Rasanya tidak mungkin Angkasa bisa menerima ini. Sungguh dia sangat malu jika wanitanya yang harus mengeluarkan uang demi menyelamatkan perusahaan miliknya. Di sisi lain, Angkasa juga tidak bisa memiliki waktu yang lebih karena dia kesulitan mendapatkan investor dalam waktu dekat ini.


Angkasa tidak bisa lagi berpikir, waktu yang di berikan oleh Brayen hanya tinggal beberapa hari. Jika dia tidak menerima dana yang di berikan oleh Laretta maka perusahannya akan merugi dan pasti akan berada di ambang kehancuran. Angkasa sudah berusaha untuk mencari investor lain, tetapi itu tidak mudah karena kondisi perusahaan miliknya yang sedang tidak baik. Terlebih media selalu memberitakan perusahaan tentang miliknya. Dan itu semakin membuat saham perusahaan miliknya pun ikut menurun.


"Tuan," sapa Hendrick menundukkan kepalanya, saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Angkasa.


"Ada apa?" tanya Angkasa dingin.


"Tuan, mereka meminta Tuan untuk segera menandatangi dokumen ini, Tuan. Karena memang kita sudah tidak memiliki waktu lagi, Tuan" ujar Angkasa.


"Bagaimana bisa aku menandatangani ini! Laretta adalah calon istriku! Bagaimana bisa seorang pria di bantu oleh wanitanya!" Tukas Angkasa.


"Tuan, anggap saja Tuan meminjam uang pada Nona Laretta. Ketika perusahaan ini sudah seperti semula, Tuan bisa mengembalikannya." kata Hendrick yang sengaja memberikan saran karena kondisi perusahaan yang sangat tidak baik.


"Tidak semudah itu, dua miliyar dollar bukanlah nominal kecil. Aku tahu, calon istriku putri dari keluarga Mahendra. Tapi rasanya aku sangat malu jika menerima bantuan dari Laretta." ujar Angkasa. Ingin sekali dia menolaknya tetapi di sisi lain perusahaannya kini sangat membutuhkan.


"Tuan, kita tidak memiliki pilihan yang lain. Saat ini hanya Nona Laretta Gissel Mahendra yang bisa membantu kita, Tuan. Jika tidak, sudah pasti perusahaan ini tidak bisa berjalan." jelas Hendrick.


Angkasa membuang napas kasar. " Berikan waktu untukku dalam satu hari. Aku harus menemui Laretta."


"Baik Tuan." Hendrick menunduk lalu undur diri dari ruang kerja Angkasa.


Angkasa beranjak dari kursi kerjanya, dengan cepat ia menyambar kunci mobilnya dan berlari meninggalkan ruang kerjanya.


...***...


Laretta menatap lukisan yang baru saja selesai dibuat. Sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah keluarga yang indah. Entah kenapa perasaannya sungguh tidak enak. Terlebih melihat pemberitaan tentang perusahaan milik Angkasa. Waktu yang di berikan oleh Brayen pun sangat singkat, tidak mungkin Angkasa akan lolos dari persyaratan kedua yang telah diberikan oleh Brayen.


Rasanya ini tidak mungkin, jika Angkasa akan bisa lolos, dan Laretta sangat tahu bagaimana sifat keras Kakaknya itu. Karena Brayen tidak suka dengan kegagalan. Laretta tahu, Kakaknya itu memang sangat hebat dalam memimpin perusahaan. Bahkan perusahannya selalu bertambah hebat, berkat kerja keras dari Kakaknya.


Laretta menyentuh perutnya dengan lembut, memberikan kekuatan pada dirinya sendiri dia bisa melewati semuanya. Meski dia putus asa tetapi Laretta harus tetap yakin, bahwa Angkasa bisa menyelesaikan semua persyaratan dari Brayen.


Sejak Angkasa hadir di hidup Laretta, Angkasa telah berhasil membuat Laretta perlahan menghilangkan perasaannya pada Felix. Ya, Laretta tentu menyadari perasaannya pada Felix tidak sepenuhnya hilang. Tapi paling tidak dirinya kini bisa mengendalikan perasaannya, tidak seperti dulu.


"Aku berharap kau berhasil." gumam Laretta, ia terus memandangi lukisannya.


"Lukisan yang indah, bahkan aku tidak pernah melihat lukisan seindah itu." suara bariton masuk kedalam kamar Laretta.


Laretta tersentak, ia menoleh ke sumber suara itu. "A.. Angkasa? Kenapa kau ada di sini?"


Angkasa melangkah mendekat ke arah Laretta. Ia Lalu duduk di samping Laretta. "Lukisan mu itu sangat indah, kau sangat berbakat menjadi pelukis terkenal." ujar Angkasa.


"Keluargamu melarangmu sebagai pelukis?" tanya Angkasa.


"Lebih tepatnya mereka selalu mengatakan, melukis itu cukup dijadikan sebuah hobi. Mereka lebih memintaku untuk memimpin perusahaan. Beruntung aku memiliki seorang Kakak. Jadi Kakakku yang memimpin perusahaan keluargaku. Jika aku anak tunggal seperti Devita, aku pasti harus menerima takdirku." ujar Laretta.


"Kau tahu Laretta, saat aku bertemu denganmu, kau benar - benar sosok wanita yang sempurna. Terlebih saat aku tahu, kau adalah putri dari Alexander David Mahendra. Aku sadar kenapa nasibku sungguh beruntung mendapatkan wanita yang sempurna seperti dirimu." balas Angkasa.


"Berlebihan! Aku tidak seperti itu Angkasa! Aku itu tidak sesempurna seperti yang kau katakan!" Tukas Laretta.


Angkasa tersenyum, ia menggenggam tangan Laretta dan mengecupnya. "Apa kau tidak percaya denganku, Laretta?"


Laretta mengerutkan dahinya. "Maksudmu apa Angkasa? Kenapa aku tidak percaya denganmu?"


"Kenapa kau yang harus menjadi investor di perusahaanku? Dua miliyar dollar bukanlah uang yang sedikit. Kenapa kau harus membantuku? Apa kau tidak percaya padaku, bahwa aku bisa menyelesaikan semuanya, Laretta?" suara Angkasa terdengar begitu lirih. Ia merasa gagal karena sudah menjadi seorang pria.


"Angkasa tunggu, apa maksud dari ucapanmu itu?" tanya Laretta. Kini Laretta berusaha untuk mengerti ucapan dari Angkasa, tapi sungguh apa maksud dari Angkasa mengatakan jika dirinya menjadi investor.


"Laretta, aku sudah tahu. Aku sudah menerima dokumen yang kau berikan. Kau menyuntikkan dana dua milyar dollar ke perusahaanku." balas Angkasa.


Laretta tersentak mendengar apa yang di ucapkan oleh Angkasa. "Dua miliyar dollar? Angkasa. Asal kamu tahu, aku bahkan tidak memiliki kuasa untuk mengeluarkan dana sebanyak itu. Meski aku adalah putri dari keluargaku, tetapi aku tidak bisa mencairkan dana yang besar Angkasa."


"Maksudmu? Itu bukan kau, yang sudah menjadi investor di perusahaanku? Tetapi di dokumen itu tertera nama Laretta Gissel Mahendra. Aku pun sudah memeriksa dan membaca dokumen itu." balas Angkasa, ia semakin tidak mengerti dengan Laretta.


"Angkasa, sungguh aku tidak memiliki kuasa untuk mencairkan uang sebanyak itu. Dua miliyar dollar bukanlah uang yang sedikit. Jika aku membutuhkan uang sebanyak itu, maka aku harus membutuhkan izin dari Daddyku atau dari Kakakku, Brayen. Daddyku keadaannya sedang tidak sehat, tidak mungkin aku memintanya untuk dia menyetujui, jika aku mencairkan dana yang besar," jelas Laretta.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.