Love And Contract

Love And Contract
Obsesi Lucia



Brayen turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam rumah. Brayen tidak habis pikir, anak dari Gelisa Wilson berani datang menemuinya. Bagi Brayen anak dari Gelisa Wilson itu terlalu berani menghampiri dirinya. Saat Brayen melangkah masuk, langkahnya terhenti saat melihat Albert berdiri menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau di sini?" tanya Brayen dingin. Harusnya Albert berada di kantor karena Brayen menyerahkan semua pekerjaannya pada Albert.


"Tuan maaf, saya meninggalkan perusahaan karena ada hal yang ingin saya sampaikan langsung," jawab Albert.


"Kita bicara di ruang kerjaku." balas Brayen, dan Albert mengangguk patuh. Kemudian Brayen berjalan menuju ke ruang kerjanya dan Albert mengikuti Brayen dari belakang.


Brayen melangkah masuk kedalam ruang kerjanya, dia duduk di kursi kerjanya dan menatap lekat Albert. "Apa yang ingin kau katakan?"


"Anak buah kita ada yang mengikuti Nyonya Nadia. Hari ini Nyonya Nadia pergi ke CF. ION ORCHARD." jawab Albert yang menjelaskan. "Dan di saat Nyonya Nadia keluar rumah,dari kejauhan ada mobil yang mengikuti Nyonya Nadia. Anak buah kita mengikuti mobil itu yang terus membuntuti Nyonya Nadia. Bahkan saat Nyonya Nadia berada di sebuah cafe, dengan berani Gelisa Wilson menghampiri Nyonya Nadia."


Brayen menautkan alisnya, "Apa yang di katakan Gelisa? Kenapa dia harus menemui Ibu mertuaku? Apa tujuannya?"


"Beberapa anak buah kita yang berdekatan dengan Gelisa saat berbicara dengan Nyonya Nadia. Mereka mengatakan, jika Nyonya Gelisa meminta Nyonya Nadia untuk tidak menghalangi langkahnya. Gelisa ingin Nyonya Nadia membiarkan Tuan Edwin untuk bertemu dengan anaknya." jelas Albert yang menceritakan semuanya. "Tapi Nyonya Nadia tidak merespon perkataan Gelisa. Nyonya Nadia malah menyindir Gelisa yang tidak berpendidikan. Setelah itu, Nyonya Nadia pergi meninggalkan Gelisa."


Brayen menyeringai puas. " Pantas istriku sangat keras, bahkan terkadang mulutnya itu terlalu cerdas melawan perkataanku. Ternyata Ibu mertuaku sangat mampu melawan musuhnya dengan cara yang hebat."


"Lalu apa yang harus kita lakukan kedepannya, Tuan? Apa Tuan akan segera menceritakan semuanya pada Tuan Edwin Smith? Atau Tuan masih menunggu tindakan Gelisa?" tanya Albert memastikan. Pasalnya, hingga detik ini, Brayen masih belum membongkar hasil Tes DNA itu pada Edwin. Padahal Albert sudah melakukan test itu beberapa minggu yang lalu.


Brayen menyandarkan punggungnya di kursi. "Aku akan segera membongkarnya. Selama ini aku diam, karena aku ingin melihat apa yang di lakukan oleh Gelisa. Tapi hingga detik ini, Ayah mertuaku masih belum juga menemui Lucia dan juga Edgar, itu yang membuat aku menundanya."


"Maaf Tuan. Apa Tuan akan mengatakan pada Tuan Edwin, saat Tuan Edwin sudah bertemu dengan Lucia dan juga Edgar?" tanya Albert hati - hati.


"Tidak," jawab Brayen cepat. "Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bertemu. Sebelum itu terjadi maka aku akan membongkar semuanya. Aku hanya menunggu sedikit waktu, karena ingin melihat apa yang akan di lakukan wanita itu. Sekarang aku rasa sudah cukup dia bermain - bermain denganku."


Albert mengangguk, " Benar Tuan, saya rasa ini waktunya sudah tepat. Kita harus bertindak sebelum Gelisa semakin jauh."


Brayen tersenyum sinis, " Kau tenang Albert, aku tidak akan pernah membiarkan wanita itu bermain - main terlalu lama. Dia itu sungguh bodoh, karena tidak menyadari siapa yang menjadi musuhnya. Aku ingat perkataan Edgar Rylan Wilson memberikan ancaman padaku agar aku tidak melukai adik dan juga Ibunya. Tapi sayangnya, mereka yang lebih dulu mencari masalah denganku."


...***...


"Mommmmyyy....!!!" Suara teriakan Lucia begitu kencang saat memasuki rumah.


Gelisa terkesiap. " Lucia, kau ini kenapa berteriak! Mommy ini sedang banyak pikiran dan kau berteriak seperti ini! Sejak kapan Mommy mendidikmu untuk berteriak! Mommy sudah berulang kali katakan bukan, jadilah wanita yang anggun, kau tidak bisa berteriak seperti ini!" Tukas Gelisa dengan tegas.


"Kau ini bagaimana Lucia! Mom sudah mengatakan padamu, jangan berani mendekati Brayen! Jangan mencari masalah! Jika sampai dia menghancurkan karirmu, bagaimana?!" Seru Gelisa menggeram menahan amarahnya. " Carilah pria lain. masih banyak pria yang mengejarmu! Bukannya kau sedang dekat dengan pengusaha asal Korea? Jadi fokuslah padanya. Jangan mencoba mendekati Brayen."


"Mom, pria yang aku dekati tidak sebanding dengan Brayen Adams Mahendra. Aku sudah membaca artikel tentang Brayen! Dia sangat mengagumkan, Mom. Dengan segala yang dia miliki akan membuatku melebihi teman - temanku." balas Lucia dengan seringai di wajahnya. " Dan aku pastikan, Brayen Adams Mahendra akan menyukaiku, Mom. Aku ini sangat cantik dan seksi. Bahkan aku sudah melihat Devita dia itu masih kalah denganku. Aku jauh lebih seksi dari Devita."


"Lucia, mengertilah. Jangan menghancurkan karirmu sendiri. Mommy tidak ingin karirmu yang tengah berada di puncak harus hancur karena obsesimu mengejar Brayen. Apa kau tidak lihat? Brayen sama sekali tidak tersentuh wanita manapun! Mommy tidak ingin kau terus - terusan mengejarnya. Lebih baik lupakan, dan carilah pria lain. Karena masih banyak pengusaha hebat yang bisa menjadi kekasihmu." kata Gelisa mengingatkan.


"Tidak!" Tolak Lucia tegas. " Aku hanya menginginkan Brayen Adams Mahendra! Aku akan pastikan aku mampu medapatkannya, Mom! Lebih baik, Mom segera pertemukan aku dengan Ayah kandungku. Dengan status yang aku miliki sekarang aku ini jauh lebih hebat. Beruntung Mom menikah dengan Dad Valdis yang kaya. Di tambah dengan kenyataan aku juga anak dari Edwin Smith. Hidupku jauh lebih sempurna karena memiliki segalanya."


Gelisa terdiam sebentar, lalu dia menarik napas panjang. " Kamu tahu, Mom ini baru saja berurusan dengan Nadia, istri dari Ayah kandungmu. Mom, sedang pusing memikirkannya. Kau lagi datang menambah masalah dengan obsesimu menginginkan Brayen." balas Gelisa. "Kenapa kau ini keras kepala sekali? Mom sudah mengingatkanmu, jika terjadi sesuatu padamu maka Mom tidak akan tinggal diam, Lucia! Tapi Mom juga tidak bisa melawan Brayen."


Lucia tersenyum, lalu dia berjalan mendekat ke arah Ibunya. " Mom, tenang saja. Aku tidak pernah gagal dalam hidup ku. Lebih baik pertemukan aku dengan Ayah kandungku. Mom pasti mau kan, melihat hidup putri Mommy ini sempurna? Karena aku tidak suka, jika ada yang menjadi penghalang dalam hidupku."


"Baiklah, Mommy akan mendukungmu. Tapi ingat Lucia, jangan melakukan itu dengan cara yang bodoh. Karena Mommy tidak ingin kau terluka sedikitpun. Ingat, kau harus tetap melakukan semuanya dengan cara yang anggun dan berkelas." ujar Gelisa menegaskan. " Dan menyerahlah, jika memang Brayen Adams Mahendra tidak bisa kau gapai. Karena saat ini Mommy terlalu banyak yang harus Mommy pikirkan."


"Tenang saja Mom, aku sudah mengatakan padamu. Cukup Mommy mendukung setiap langkahku, maka aku akan memastikan jika diriku ini tidak akan pernah gagal. Mommy ingat, pengusaha asal Korea itu? Pria kaya itu, bahkan bertekuk lutut di hadapanku. Maka aku pastikan Brayen Adams Mahendra, tidak akan pernah aku lepaskan dari genggaman tanganku." balas Lucia dengan mengulas senyuman di wajahnya. "Seluruh teman-temanku akan iri padaku, Mom. Mereka akan iri dengan apa yang aku miliki saat ini. Karena aku yakin, diriku lah yang akan terus menjadi pemenang."


Gelisa mengulas dengan lembut rambut panjang putrinya. "Kau memang harus membuat banyak orang iri padamu. Mommy selama ini berjuang untukmu, agar kau bisa menjadi seorang wanita yang hebat di masa depan."


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.