Love And Contract

Love And Contract
Tidak Menyangka



"Bagaimana keadaaan istriku?" Brayen bertanya dengan cemas, pada dokter yang baru saja memeriksa Devita.


"Tuan Brayen, kandungan Nyonya Devita saat ini sangat lemah. Dia mengalami trauma setelah kejadian yang menimpanya." jawab dokter itu.


Brayen membuang napas kasar. "Apa aku bisa melihat istriku?"


"Maaf Tuan, tapi lebih baik biarkan Nyonya Devita untuk beristirahat." jawab dokter itu.


Brayen mengangguk singkat.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan Brayen." Dokter itu menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen.


"Brayen...." panggil Felix. Dia melangkah mendekat ke arah Brayen.


Brayen melirik ke arah Felix sekilas. "Kau di sini?"


"Ya, dokter baru saja memeriksa Olivia." jawab Felix. "Bagaimana dengan keadaan Devita?"


"Kandungannya lemah. Dan dia juga mengalami trauma." tukas Brayen dingin.


"Apa kau ingin tahu kabar Ivana Wilson?" Felix menatap serius Brayen.


"Bagaimana kabarnya? Albert belum melaporkan apapun padaku?" balas Brayen datar.


"Ivana Wilson tidak selamat. Dia sudah tidak ada. Kemungkinan dalam beberapa hari ini, kau dan juga Devita akan menjadi kejaran para media." ujar Felix.


"Nanti aku akan meminta Albert untuk mengurusnya." Brayen menyandarkan punggungnya di dinding. Dia memejamkan mata singkat.


Felix melangkah mendekat ke arah Brayen. "Aku masih mengingat gadis yang bernama Beatrice. Saat itu, kau masih memiliki hubungan dengan Veronica. Aku tahu, kau tidak pernah berkata kasar pada wanita yang menyatakan perasaannya padamu. Tapi, kau bersikap dingin pada mereka. Aku menyelamatkan Beatrice saat dia ingin bunuh diri karena kau tidak membalas perasaannya. Aku memang pernah memberikan nasehat padanya, untuk tidak pernah menyerah pada sesuatu hal. Mungkin, itu salah satu alasannya dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkanmu."


"Hingga detik ini, aku masih tidak menyangka. Beatrice adalah di balik perpisahanmu dengan Veronica. Dulu, aku berpikir jika William yang di balik semua ini. Tapi kenyataannya tidak. Semua ini terjadi karena Beatrice. Wanita itu juga terus mengawasi kehidupanmu saat dulu kau berada di Milan." Felix kembali melanjutkan perkataannya.


"Aku tidak pernah mempermasalahkan hubunganku yang berakhir dengan Veronica." balas Brayen datar. "Aku tetap berterima kasih pada Beatrice, karena pada akhirnya takdir mempertemukan aku dengan Devita."


Felix menepuk pelan bahu Brayen. "Kau benar, tidak perlu ada yang di sesali. Pada akhirnya kau bersatu dengan wanita yang sebaik Devita."


Brayen tersenyum tipis.


"Ya sudah, sekarang aku harus pergi. Aku ingin melihat Olivia. Salamkan kau pada Devita jika dia sudah sadar nanti."


Brayen mengangguk "Ya,"


Kemudian Felix melangkah meninggalkan Brayen. Sejak Brayen kembali mengingat tentang perkataan Ivana. Brayen tidak menyangka, jika selama ini ada wanita yang memendam perasaan padanya. Selama ini Brayen tidak pernah mengingat gadis yang bernama Beatrice. Bukan karena Beatrice memiliki fisik yang buruk, tapi memang saat kuliah dulu Brayen tidak pernah menanggapi gadis yang menyukai dirinya atau menyatakan perasaan padanya.


"Brayen," Monika yang baru saja tiba dari rumah sakit, dia berjalan menghampiri Brayen.


Brayen mengalihkan pandangannya sesaat ke arah Monika yang kini berada di hadapannya. Dia menatap Monika yang tampak begitu sedih. Terlihat jelas, wanita itu tidak berhenti menangis. "Ada apa kau kesini?" suara Brayen bertanya dengan nada dingin, namun pelan.


"Bagaimana kabar Devita?" tanya Monika.


"Sudah lebih baik. Kandungan istriku lemah. Tapi dia akan segera pulih." jawab Brayen.


Monika mengangguk. "Sebelumnya, atas nama Ivana, aku minta maaf Brayen. Aku tahu apa yang di lakukan oleh Ivana sudah melebihi batasannya. Tapi, wanita itu begitu mencintaimu. Terkadang, mencintai seseorang bisa membuat kita kehilangan akal sehat kita. Sampaikan juga permintaan maafku pada Devita. Istrimu harus terluka, akibat Ivana. Dan aku juga minta maaf, karena Ivana yang dulunya sudah menghancurkan hubunganmu dengan Veronica."


"Aku sudah melupakannya. Pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak membenci seseorang yang telah melukai istriku. Untuk masalah Veronica, dia adalah masa laluku. Aku beruntung berpisah dengan wanita yang ada di masa laluku. Pada akhirnya aku bisa bersatu dengan Devita. Di dunia ini, tidak ada yang aku inginkan selain Devita. Istriku adalah hidupku. Mungkin, jika aku mengetahui ini sejak dulu, aku akan sangat marah karena Ivana sudah membuat hubunganku dengan Veronica hancur. Tapi, sekarang setelah aku mengetahui semuanya. Aku benar - benar berterima kasih pada Ivana. Karena bagaimana pun dia memiliki peran yang membuatku bersatu dengan Devita"


"Segala pengakuan dari Ivana sungguh membuatku sangat terkejut. Aku tidak tahu, jika wanita itu sudah memendam perasaan begitu lama denganku. Monika Taylor, aku harap kau tidak lagi membahas tentang Ivana Wilson. Dia sudah tenang. Aku sudah meminta orangku, untuk mengurus pemakamannya. Aku juga akan segera menjelaskan kepada para media. Lebih baik sekarang kau pulang. Aku akan meminta orangku untuk mengantarmu."


"Dulu, aku sering marah pada Ivana karena terlalu mencintaimu, Brayen. Kau tidak pernah tersentuh. Kau selalu bersikap dingin, pada para wanita yang mengejar dirimu. Dan sekarang aku tahu, alasan Ivana sangat mencintaimu. Kau pria yang begitu mencintai pasanganmu. Kau juga begitu setia pada wanitamu. Istrimu sungguh sangat beruntung memilikimu. Terima kasih atas kebaikanmu Brayen. Terima kasih karena kau sudah mau memaafkan Ivana, sahabatku. Aku pamit, mungkin ini adalah terakhir kali kau melihatku. Karena besok, aku akan memulai kehidupan baruku di Las Vegas." Monika berkata dengan suara pelan dan juga lembut. Dia mengulas senyuman hangat di wajahnya pada Brayen. Kemudian dia, membalikkan tubuhnya hendak berjalan meninggalkan Brayen.


"Kau salah Monika Taylor. Akulah yang sangat beruntung memiliki istriku." tukas Brayen membuat langkah Monika terhenti. Namun, Monika tidak membalikkan tubuhnya menatap Brayen. Monika hanya melihat Brayen dari sudut matanya, lalu dia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Brayen.


...***...


Brayen terdiam, melihat seluruh ruangan Apartemen Ivana di penuhi oleh fotonya. Tatapannya Brayen kini tertuju pada sebuah foto. Brayen langsung mengambil foto itu, dia terus menatap foto dirinya ketika dia sedang berlibur di Melbourne. Dan hampir seluruh foto ketika dia sedang berlibur, ada di apartemen milik Ivana. Kemudian, pandangan Brayen teralih pada seluruh foto dirinya yang sedang bermain badminton di kampus. Bahkan, hampir seluruh kegiatan Brayen saat kuliah dulu, berada di Apartemen milik Ivana. Tidak hanya itu, beberapa foto Brayen dengan Veronica yang diambil secara diam-diam juga terpajang di sana. Rasanya Brayen tidak percaya dengan apa yang dia lihat ini. Jika selama ini, ada yang diam - diam mengikuti dirinya. Ya, tentu yang ada di pikiran Brayen ketika melihat ini semua adalah wanita yang mengambil fotonya seperti ini, benar - benar sudah kehilangan akal sehatnya.


Hari ini, Felix memang sengaja membawa Brayen ke Apartemen milik Ivana. Setidaknya, Felix ingin menunjukkan apa yang akan di lihat oleh Brayen. Dan benar saja, saat Brayen masuk kedalam Apartemen milik Ivana. Wajah Brayen terlihat menatap datar, namun tersirat dia begitu terkejut dengan apa yang di lihatnya.


Felix menepuk pelan bahu Brayen. " Kau lihat? Ada seorang wanita yang begitu terobsesi padamu? Dia sampai merubah penampilannya hanya untuk dirimu."


Brayen membuang napas kasar, "Aku tidak pernah melihat fisik seorang wanita! Aku memang tidak mengenalnya!"


Felix terkekeh pelan. "Sekarang, masuklah ke dalam kamarnya. Aku melihat sebuah kotak. Tapi karena saat itu, aku sudah di serang oleh anak buah Ivana, tidak mungkin aku membuka kotak itu.


Tanpa menjawab Brayen langsung berjalan menuju ke arah kamar yang di tunjuk oleh Felix. Dia mengambil kotak itu yang terletak di atas meja dan membukanya. Sebelum dia membacanya, dia melihat tanda love yang berada di lembar palung depan surat itu dan juga tertera namanya. Brayen membuka surat itu dan membacanya.


* Dear, Brayen Adams Mahendra.


Aku menulis surat ini untuk kesekian kalinya. Karena surat yang aku berikan padamu tidak pernah kau balas. Dan aku tidak pernah lelah untuk menulis surat untukmu. Aku selalu mengikutimu kemanapun kau pergi. Aku selalu berusaha untuk mendapatkan perhatianmu, tapi kau tetap tidak pernah melihatku. Aku berfikir, kau tidak menyukaiku karena fisikku yang buruk. Aku tidak seperti Veronica, mantan kekasihmu yang terkenal sangat cantik dan sempurna itu. Kau dan Veronica sering di sebut sebagai pasangan yang sempurna. Setelah ini, aku berjanji akan menjadi sosok wanita yang sempurna melebihi Veronica. Tunggu aku Brayen. Suatu saat aku akan datang padamu, bukan sebagai Beatrice, seorang gadis yang buruk rupa. Tapi aku akan datang padamu, dengan wajah dan tubuhku yang sudah sempurna.


With Love,


Beatrice Ivana Wilson*


Brayen menutup surat itu, dia meletakkan kembali ke tempat yang semula.


"Kau sudah melihat?" tanya Felix seraya menatap Brayen yang memasang wajah dingin dan seolah tidak memperdulikan surat itu.


Brayen mengangguk, "Aku sudah meminta Albert untuk mengurus pemakaman Ivana, dan besok aku akan memberikan keterangan pada para media."


"Apa kau akan datang ke pemakaman Ivana?" Felix kembali bertanya, meski Felix tahu, Ivana sudah melakukan cara yang salah. Tapi Felix merasa kasihan pada nasib wanita itu. Felix masih mengingat, saat Ivana selalu di hina karena bentuk tubuhnya.


"Ya, aku akan ke pemakamannya." tukas Brayen dingin.


Felix menghela nafas dalam, "Aku akan menemanimu Dan ada hal yang ingin aku katakan padamu. Aku sudah memberitahu keluarga Wilson. Dan sepertinya, keluarganya sudah tidak terkejut. Alan Wilson, Ayah dari Ivana mengatakan padaku, sejak dulu Ivana selalu ingin mengakhiri hidupnya. Aku sungguh kasihan pada wanita itu. Dia salah mengartikan mencinta seseorang. Seharusnya dia bisa menerima, jika pria yang di cintainya, tidak memilihnya."


Brayen memilih diam dan tidak menjawab ucapan dari Felix. Hingga kemudian Brayen langsung berjalan meninggalkan Apartemen milik Ivana. Melihat Brayen sudah pergi, Felix langsung menyusul Brayen melangkah keluar dari Apartemen milik Ivana.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.