Love And Contract

Love And Contract
Menemani Devita



Brayen menatap wajah polos istrinya yang masih tertidur pulas. Dia membiarkan Devita untuk tidur lebih lama. Bahkan saat dering ponsel berbunyi, Brayen langsung segera mematikan ponselnya. Brayen tidak akan menganggu tidur istrinya. Terlebih seperti ini, dirinya melihat pemandangan yang begitu indah. Jika dulu, di awal pernikahan Brayen diam - diam memperhatikan wajah Devita yang tengah tertidur pulas, sekarang dia tidak perlu lagi diam - diam. Brayen selalu menyukai istrinya yang tertidur pulas. Pipi yang mulai berisi, bulu mata yang lentik, hidung mancung yang mungil dan bibir ranum milik istrinya membuat Brayen tidak berhenti mencium istrinya itu.


Brayen mengelus lembut pipi Devita, memberikan kecupan di bibir istrinya. Dia tersenyum saat melihat istrinya masih tidur juga. Padahal dirinya sejak tadi tidak henti mencium seluruh wajah Devita. Brayen mengingat - ngingat kembali awal - awal pernikahan mereka. Dulu, saat Devita menemani dirinya perjalanan bisnis ke Berlin, Devita sering tertidur pulas jika berada di jalan. Padahal, dulu Devita masih belum hamil. Dan sekarang, ketika Devita tengah mengandung Devita lebih sering tertidur. Bahkan ketika Brayen pulang dari tempat kerjanya, dia sering mendapati istrinya tertidur di sofa.


Devita menggeliat dia merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajahnya membuat Devita perlahan mulai membuka matanya. Dia mengerjap beberapa kali, dia mendapati suaminya tidak hentinya memberikan kecupan di seluruh wajahnya. Devita tersenyum, sudah menjadi kebiasaan ketika dirinya terbangun suaminya itu selalu mencium dirinya.


"Apa aku membangunkanmu?" Brayen menangkup kedua pipi Devita, dan memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Istrinya.


Devita tersenyum, dia menggeleng pelan. "Tidak sayang, kau tidak membangunkanku." jawab Devita dengan suara yang serak khas baru bangun tidur.


Devita merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya, dia mencium aroma parfum maskulin di dada bidang suaminya yang menjadi candu baginya.


"Nanti aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan sarapan kita ke kamar." kata Brayen sambil mengelus lembut rambut istrinya.


Devita mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Brayen. "Apa barang - barang Laretta sudah di pindahkan ke mansion Angkasa?"


"Sudah, Nagita dan Albert yang mengurusnya. Barang - barang Laretta sangat banyak. Tidak bisa hanya Nagita. Aku juga sudah meminta pada anak buahku untuk membantu Nagita dan Albert. Anak nakal itu meninggalkan barang-barang yang sangat banyak. Sangat menyusahkan." tukas Brayen


Devita terkekeh pelan. "Sayang, aku juga memiliki banyak barang - barang. Kau tahu sendiri, Laretta dan aku begitu mencintai fashion. Itu yang membuat kami memiliki banyak barang. Terlebih studio lukis Laretta, dia banyak sekali lukisan indah di studio lukisnya."


"Ya, tetap saja. Aku tidak menyangka dia hanya tinggal beberapa bulan di sini, dan tidak membawa pakaian dari rumah orang tauaku, ketika dia pindah dari rumah kita, barang - barang yang dia miliki sangat banyak." tukas Brayen.


Devita mengulum senyumannya, mendengar ucapan suaminya itu. Bagaimana tidak? Para pria pasti akan kesal jika melihat barang - barang wanita yang begitu banyak. Padahal, Brayen sangat tahu, jika istrinya juga memiliki banyak barang-barangnya. Hampir setiap Minggu Rena mengirimkan gaun - gaun yang indah dan juga tas keluaran terbaru. Itu yang membuat Devita harus di pusingkan karena tidak tahu lagi di mana dia meletakkan barang-barang pembelian mertuanya itu.


Devita mengelus lembut rahang suaminya itu."Sayang, nanti minta pelayan untuk membawakanku chocolate cake. Anakmu ini ingin chocolate cake."


"Anakku?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, dia tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Ah, aku lupa anakku selalu banyak Ingin makan."


Devita mengangguk cepat. "Benar Daddy! Anakmu itu selalu menginginkan banyak makan! Aku saja sampai lelah menuruti keinginannya."


Brayen menangkup kedua pipi Devita, mencium dan ******* lembut bibir istrinya. itu "Pintar sekali Mommy, hm? Anakku ini selalu di salahkan."


"Memang anakmu yang banyak keinginannya!" Tukas Devita.


Brayen memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya. "Lebih baik kau mandilah. Nanti aku akan menghubungi pelayan."


"Tunggu, apa kau tidak ke kantor?" Devita langsung melirik ke arah jam dinding, kini sudah pukul delapan pagi. Tidak biasanya suaminya masih berada di rumah.


"Hari ini, aku ingin menemani istriku." jawab Brayen sambil menempelkan hidungnya ke hidung Devita dan menggeseknya pelan.


"Kau tidak ke kantor?" tanya Devita memastikan. Rasanya tidak percaya, jika suaminya itu tidak ke kantor. Biasanya suaminya itu tidak akan mungkin meninggalkan pekerjaannya. Karena memang belakangan ini Brayen di sibukkan dengan mengurus kedua perusahaan sekaligus.


"Ya sayang, aku ingin menemani istriku seharian di rumah." jawab Brayen. "Biasanya ada Laretta yang menemanimu bukan? Aku tahu, kau pasti akan merasa kesepian. Belakangan ini aku juga di sibukkan dengan pekerjaanku. Nanti Albert yang mengambil alih pekerjaanku. Sekarang lebih baik kau mandi."


Devita tersenyum, lalu mengangguk samar. Dia memberikan kecupan singkat di bibir Brayen. Dan beranjak dari ranjangnya, dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Melihat Devita sudah berjalan ke arah kamar mandi, Brayen langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas lalu menghubungi pelayan. Meminta pelayan agar membawakan sarapan dan cake yang di inginkan oleh istrinya. Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan sarapan sesuai permintaan Brayen.


Setelah Devita dan Brayen selesai mandi dan sudah mengganti pakaian mereka. Jika Devita dengan dress yang sederhana, seperti biasa Brayen hanya memakai celana training panjang dan bertelanjang dada. Devita sudah tidak lagi terkejut melihat suaminya itu selalu menunjukkan dada bidang dan otot perutnya yang begitu sempurna. Lagi pula, Brayen selalu seperti itu jika berada di dalam kamar. Devita juga menyukai melihat pemandangan yang begitu indah. Membuat Devita tidak henti ingin mencium suaminya itu.


"Brayen, apa kau tidak ingin mencari asisten lagi?" tanya Devita yang membuat Brayen mengalihkan pandangannya dan menatap dirinya.


"Kenapa aku harus mencari asisten lagi?" Brayen meletakkan cangkir yang ada di tangannya ke atas meja.


"Aku hanya kasihan saja dengan Albert. Dia mengurus barang - barang Laretta dan hari ini, dia masih harus menggantikan pekerjaanmu. Apa dia tidak lelah? Bahkan hingga detik ini Albert belum juga menikah? Aku rasa, ini karena dia bekerja denganmu." ujar Devita yang merasa kasihan pada Albert.


"Tidak mudah untuk mencari asisten yang sesuai denganku. Aku sudah terbiasa dengan Albert yang mengurus semuanya." jawab Brayen.


"Aku memberikan gaji yang tinggi padanya. Kau tidak perlu mencemaskannya. Dia memang memiliki banyak tanggung jawab, tapi aku juga memberikan gaji yang sangat tinggi untuknya."


Devita mendesah pelan. "Tapi, aku rasa Albert tidak akan menikah jika dia terus memikirkan pekerjaanmu."


"Tahun depan dia akan menikah." tukas Brayen.


"Dia menikah?" Devita mengerutkan keningnya, menatap tak percaya. "Bagaimana dia menikah? Dia saja selalu sibuk dengan pekerjaanmu?"


"Aku tidak pernah mengurusi maslah pribadi Asistenku. Dia hanya pernah meminta izin padaku, dia ingin cuti selama sepulu hari di tahun depan. Karena dia ingin menikah," jelas Brayen.


Devita mengangguk paham. "Aku tidak pernah melihat kekasihnya Albert. Apa kekasihnya tinggal di kota B?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi yang aku dengar kekasihnya tinggal di kota D." jawab Brayen.


Devita kembali mengangguk - anggukan kepalanya. "Sayang, apa besok kau juga akan ke kantor?" Devita bertanya dengan senyuman di wajahnya. Berharap suaminya itu tidak pergi ke kantor. Dia masih ingin menikmati waktu bersama dengan suaminya itu.


"Kau ingin aku kekantor atau tidak?" Brayen mengulum senyumannya, dia menatap gemas istrinya itu. Dia sudah tahu, pasti Devita tidak hanya meminta dirinya libur hanya untuk satu hari saja. Istrinya itu, pasti meminta dirinya, untuk lebih lama untuk mengambil libur.


Devita mencebik, dia mengerutkan bibirnya. "Aku tentu menginginkanmu selalu menemaniku. Tapi tidak mungkin, karena kau memilki banyak tanggung jawab di perusahaan. Jadi aku memintamu untuk libur dua atau tiga hari, tidak masalah kan? Aku yakin, perusahanmu itu tidak akan bangkrut jika kau meninggalkan sebentar perusahaanmu hanya dua atau tiga hari."


"Allright, Mrs. Mahendra. Aku akan meminta sekretarisku untuk mengatur semua jadwalku. Tiga hari ini aku akan menemani istriku," jawab Brayen yang menyetujui permintaan istrinya.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.