
Sepanjang perjalanan Devita melihat ke arah ponselnya. Sejak kemarin dia tidak berhasil menghubungi kedua orang tuanya. Padahal, beberapa hari yang lalu Devita sudah mengingatkan hari kelulusannya.
"Brayen, apa kau tahu di mana orang tuaku? Sejak kemarin ibuku tidak menjawab teleponku." keluh Devita mengerutkan bibirnya.
"Aku tidak tahu," jawab Brayen tanpa melihat ke arah Devita. Dia tetap fokus untuk mengemudikan mobilnya.
Devita mendengus kesal. "Apa Papa dan Mamaku sudah lupa ya, kalau hari adalah hari kelulusanku? Tapi bagaimana mungkin? Mereka tidak mungkin lupa!"
"Meski mereka tidak datang, terpenting aku di sini sayang." balas Brayen.
"Tapi tetap saja, aku menginginkan orang tuaku juga datang. Dulu saat kelulusanku di SMA, orang tuaku selalu menemaniku." jawab Devita dengan nada kesal.
"Besok, kau fitting baju untuk pernikahan Laretta nanti. Aku sudah meminta Viona untuk menyiapkan gaun untukmu." Brayen memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin melihat istrinya yang masih terus kesal.
Devita mengangguk samar. "Aku akan fitting bersama dengan Olivia."
"Ya, tapi aku sudah memberitahu Viona untuk tidak memberikanmu pakaian yang terbuka." tukas Brayen memperingatkan. "Aku tidak ingin kau memakai gaun yang terlalu terbuka."
Devita mendesah pelan. "Gaun yang kau maksud itu, sudah tidak muat lagi Brayen. Meski masih muat, tapi di perutku itu sudah sesak. Aku tidak mungkin memakai gaun yang membuat perutku tidak nyaman."
Brayen mengulum senyumannya, dia membawa tangannya mengelus perut Devita. "Anakku itu memang sangat cerdas. Dia tumbuh dengan sangat cepat."
Devita menggeleng pelan, dia menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Merasakan tangan Brayen, terus mengelus perutnya hingga membuat rasa kesal di dirinya perlahan menghilang tergantikan dengan kenyamanan.
...***...
Brayen membelokkan mobilnya masuk kedalam halaman parkir. Kemudian Brayen dan Devita turun dari mobil. Saat mereka hendak masuk kedalam, Devita melihat beberapa paparazi sudah memotret dirinya dengan Brayen dan Devita pun berusaha tersenyum, ketika ada orang yang diam - diam memotretnya. Devita sungguh tidak menyangka, kenapa Paparazi sampai datang ke universitasnya hanya demi bisa mendapatkan kabar tentang dirinya dan juga suaminya.
Devita memeluk lengan Brayen dan melangkah masuk kedalam. Namun, langkah Devita terhenti ketika melihat orang tuanya berada di hadapannya. Devita pun langsung melepaskan tangannya dari pelukan Brayen. Dia langsung berjalan cepat menghampiri kedua orang tuanya.
"Devita! Perhatikan langkahmu!" Seru Brayen penuh dengan peringatan.
Devita langsung menghamburkan pelukkannya pada kedua orang tuanya. Edwin mengusap kepala putrinya. Begitupun dengan Nadia yang mengelus punggung putrinya.
"Pa... Ma...." sapa Brayen yang Kini sudah berada di hadapan Edwin dan Nadia.
Edwin dan Nadia tersenyum hangat melihat Brayen.
Devita mengurai pelukannya, lalu dia mengerutkan bibirnya. "Kenapa Mama dan Papa tidak menjawab teleponku? Aku pikir kalian sudah melupakan hari kelulusanku!"
Edwin mengelus lembut pipi putrinya. "Sudah jangan marah, sayang. Kami memang ingin membuat kejutan untukmu. Sekarang lebih baik kita masuk ke dalam. Acara kelulusanmu pasti segera di mulai."
Devita menganguk, dia kembali memeluk lengan Brayen dan melangkah masuk kedalam acara. Pandangan Devita, kini melihat Olivia yang datang bersama dengan Felix. Kemudian, Devita dan Olivia masuk kedalam dan bergabung dengan para mahasiswa lainnya.
...***...
Suara tepuk tangan terdengar, ketika pembawa acara menyebutkan nama mahasiswa dengan lulusan yang terbaik. Devita dan Olivia yang sedang duduk di kursi depan, mereka menatap kagum para mahasiswa yang menjadi lulusan yang terbaik.
"Devita, mereka hebat sekali." bisik Olivia.
Devita menganguk. "Ya, kau benar. Mereka sungguh hebat. Aku yakin, mereka akan memilki karir yang cemerlang."
"Tapi terkadang, karir cemerlang bukan karena kita memiliki nilai yang bagus saat kuliah." jawab Olivia. "Banyak orang yang tidak meneruskan pendidikannya, tapi mereka memiliki pekerjaan yang bagus. Faktor keberuntungan juga mendukung." Olivia terkekeh pelan setelah mengatakan ini.
Devita menghela nafas dalam. "Jangan bicara seperti itu, Olivia."
"Saya persilahkan untuk mahasiswi bernama Devita Mahendra, jurusan bisnis yang menjadi salah satu mahasiswi lulusan yang terbaik untuk maju kedepan."
Devita tersentak mendengar namanya di panggil. Begitupun dengan Olivia, yang juga terkejut. Namun, Olivia langsung mendorong pelan tubuh Devita agar maju kedepan.
Setelah acara kelulusan berakhir, Devita banyak berfoto dengan teman - temannya. Tentu Devita juga memilki banyak foto dengan Olivia. Kini giliran Devita berfoto dengan kedua orang tuanya. Devita juga berfoto bersama dengan Felix. Dan yang terakhir Devita berfoto berdua dengan suaminya. Segala pose, yang di lakukan Devita ketika berfoto dengan Brayen. Mulai dari berpelukan dan Brayen mencium bibirnya.
Olivia dan juga Felix berpamitan ketika sudah selesai berfoto. Begitu pun dengan Edwin dan Nadia yang juga ikut berpamitan. Sedangkan Devita dan Brayen mereka langsung menuju ke arah parkiran mobil.
"Tunggu sayang," Brayen menarik tangan Devita ketika istrinya hendak masuk ke dalam mobil.
"Kenapa?" tanya Devita.
Brayen menangkup kedua pipi Devita, dia ******* lembut bibir Istrinya. "Malam ini, kita akan makan malam di luar untuk merayakan kelulusanmu."
"Benarkah?" Devita tersenyum bahagia, dengan mata berbinar.
Brayen mengangguk. "Ya, kita akan makan malam di luar."
"Hm," Devita menunjuk pelan dagunya dengan telunjuknya. "Aku rasa, kita makan malamnya di rumah saja. Tapi aku ingin kau yang memasak untukku."
Brayen membuang napas kasar. "Minta Chef Della saja, sayang. Aku tidak tahan di depan kompor."
Devita mengerutkan bibirnya. "Tapi aku ingin kau yang memasak, sayang."
Brayen berdecak kesal. "Ya, ya sekarang lebih kita pulang."
"Kau tidak ingin menciumku, sayang?" goda Devita dengan mengedipkan sebelah matanya.
Brayen terdiam sesaat karena kesalnya, tapi tidak menunggu lama Brayen langsung menyambar bibir Devita. ******* dengan lembut bibir Istrinya, yang selalu menjadi candu baginya. Devita tersenyum, dia membalas pagutan yang di berikan suaminya.
...***...
Brayen mengumpat pelan ketika Chef Della mengajarkannya memasak. Jika bukan karena keinginan aneh istrinya itu, dia tidak akan mau lagi memasak. Dalam hidup Brayen, hanya memasak ketika menikah dengan Devita. Karena memang sebelumnya, Brayen sama sekali tidak pernah menyentuh dapur untuk memasak. Tapi, setidaknya hari ini Devita tidak meminta dirinya untuk memasak makanan Indonesia. Malam ini, Brayen khusus membuatkan Bouillabaisse. Dia sengaja memilih hidangan dari Perancis, mengingat istrinya tengah hamil. Sup Ikan bagus di konsumsi untuk ibu hamil.
Sudah sejak tadi selama Brayen tengah memasak, Devita duduk di sebrang dengan tangan yang menopang dagu. Pandangan yang begitu indah melihat suaminya memasak untuk dirinya. Hanya dengan memakai celana training panjang dan kaos berwarna putih yang begitu tercetak tubuh sempurna milik suaminya, mampu membuat Devita sejak tadi tidak berkedip. Ya, Devita memang mengganggumi tubuh suaminya yang begitu menggoda. Dada bidang, otot perut dan lengannya, mampu membuat Devita berdesir. Meski mereka, sudah bukan pengantin baru lagi, tapi baik Brayen dan juga Devita sering mengagumi satu sama lainnya.
Tidak lama kemudian, Brayen melangkah mendekat ke arah Devita dengan membawakan piring. Devita tersenyum ketika melihat suaminya, dia beranjak dari tempat duduknya, lalu membantu Brayen untuk mempersiapkan makan malam untuk mereka. Jika Brayen sudah menyiapkan Bouillabaisse, Devita menyiapkan nasi dan orange juice untuk mereka. Setelah makanan dan beberapa dessert sudah terhidang di atas meja, dan Chef Della langsung menundukkan kepalanya pamit undur diri dari hadapan Brayen dan juga Devita.
"Sayang, kenapa kau memilih Bouillabaisse? Tidak biasanya kau memilih hidangan dari Perancis?" tanya Devita. Tatapannya tidak lepas dari makanan yang ada di hadapannya itu.
"Sup ikan sangat bagus untuk ibu hamil." jawab Brayen datar.
Devita mengulum senyumannya. "Apa kau tidak menyukai harus memasak untukku?"
"Jangan bicara yang tidak-tidak, Devita. Cepat makan dan habiskan makananmu," balas Brayen yang malas menanggapi ucapan istrinya itu.
...***********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.