Love And Contract

Love And Contract
Jangan Pikirkan Apapun



Suara dering ponsel membuat Devita harus terbangun dari tidurnya. Devita mengerjapkan matanya beberapa kali, dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan langsung menatap ke layar. Kening Devita berkerut dalam, melihat nomor tidak kenal, yang waktu itu menghubunginya kini kembali menghubunginya. Devita memilih untuk menolak panggilan itu. Dan kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas.


Dering ponsel kembali terdengar, ketika Devita membaringkan tubuhnya lagi. Ponselnya terus kembali berdering. Devita mengumpat pelan, dia menyambar ponselnya. Dengan cepat dia langsung mengusap layar ponselnya dengan kasar untuk menerima panggilan. Lalu meletakkan ke telinganya.


"Kau siapa? Kenapa kau selalu menghubungiku dengan mengangguku!" Suara Devita berseru dengan nada dingin. Tersirat penuh dengan kekesalannya. Dia meluapkan emosinya ketika panggilannya terhubung.


"Devita! Begini kau menyapaku ketika aku menghubungimu!" Suara wanita dari sebrang telepon dengan nada yang terdengar marah.


Devita tersentak, mendengar suara yang dia dengar. Dia langsung menatap ke layar ponsel. Devita mendesah kasar, tertera di layar ponselnya adalah nomor Olivia. Kemudian, dia meletakkan ponselnya ke telinganya.


"Olivia? Maaf, aku tidak tahu ini kau." Devita kembali menjawab, namun kali ini amarahnya telah hilang, setelah tahu yang menghubunginya adalah Olivia.


"Kau ini, kenapa langsung marah? Apa kau tidak melihat dulu siapa yang sudah menghubungimu?" suara Olivia terdengar kesal.


"Maaf, belakangan ini ada nomor yang tidak aku kenal, selalu menghubungiku. Itu benar-benar menggangguku. Dan tadi sebelum kau menghubungiku, nomor yang tidak aku kenal, kembali menghubungiku."


Helaan nafas berat Olivia terdengar dari balik teleponnya. "Apa kau sudah meminta Brayen untuk menyelidiki nomor telepon yang sudah mengganggumu itu?"


"Sudah, Brayen bilang sudah meminta Albert untuk menyelidiki nomor yang mengganguku. Lupakan orang yang mengganguku itu. Sekarang katakan, ada apa kau menghubungiku?"


"Apa besok kau ada waktu? Aku ingin kerumahmu. Ada yang ingin aku katakan."


"Aku tidak pergi kemanapun. Kau bisa langsung pergi kerumahku."


"Baiklah, sampai bertemu besok."


Panggilan terputus, Devita meletakkan kembali ponselnya yang ada di atas nakas. Lalu dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Devita menarik selimut, dia lebih memilih untuk melanjutkan kembali tidurnya.


Namun, saat Devita baru mau menutup mata. Dering ponsel menandakan pesan masuk terdengar. Devita mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan mulai membuka pesan masuk itu dari nomor yang tidak di kenal.


Kau telah mengambil milikku! Dia hanya milikku! Aku bersumpah akan mengambilnya darimu!


Devita tersentak membaca pesan masuk itu dan Devita langsung menekan tombol hijau untuk menghubungi nomor itu. Devita membuang napas kasar, ketika nomor yang mengirimkan pesan padanya, tapi tidak aktif.


"Lebih baik aku mematikan ponselku saja! Agar tidak di ganggu!" Gumam Devita, kemudian langsung mematikan ponselnya. Dan memilih kembali membaringkan tubuhnya dan mulai menutup matanya.


...***...


Brayen melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hujan begitu deras membuat Brayen ingin segera pulang. Dia mengingat pada sang istri yang takut pada petir. Tidak lama kemudian mobil Brayen memasuki halaman mansionnya. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam. Saat Brayen sudah tiba di kamar, dia menatap Devita yang tengah tertidur pulas. Beruntung suara petir dan hujan tidak membangunkan Devita. Brayen mendekat dia langsung duduk di tepi ranjang. Tatapannya menatap wajah polos istrinya, membuat Brayen langsung memberikan banyak kecupan di seluruh wajah Devita.


Devita menggeliat, dia merasakan ada yang menyentuh wajahnya. Seketika Devita membuka matanya, dia sedikit terkejut suaminya sudah menciumnya.


"Maaf membuatmu bangun," bisik Brayen tepat di depan bibir Devita.


Devita tersenyum, dia langsung memeluk leher Brayen. "Aku merindukanmu."


"Maaf, aku pulang terlambat. Tadi ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucap Brayen.


Devita mengangguk paham. "Ya, aku mengerti."


"Brayen, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?" sambung Devita sambil menggigit bibir bawahnya, dia tidak berani menatap Brayen.


"Apa kau sudah tahu, nomor telepon yang mengganguku?" tanya Devita hati - hati.


"Apa dia kembali mengganggumu?" kali ini Brayen menatap serius ke arah Devita.


"Apa kau berjanji untuk tidak marah?"Devita mengelus lembut rahang Brayen. Dia tahu, suaminya itu mudah sekali marah.


"Aku tidak akan marah jika kau menceritakan semuanya. Aku hanya ingin kau selalu jujur padaku." tukas Brayen menekankan.


Devita membenamkan wajahnya di leher Brayen. Dia menghirup aroma parfum maskulin yang begitu dia sukai. Hingga kemudian, Devita menjauhkan wajahnya dari Brayen. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Lalu memberikannya pada Brayen. "Bacalah pesan yang masuk. Aku tidak akan menutupi apapun darimu. Aku sudah berjanji untuk selalu jujur padamu."


Brayen tersenyum mendengar perkataan dari Devita. Dia langsung mengambil ponsel Devita, dan membaca pesan terbaru yang masuk. Seketika, saat Brayen membaca pesan masuk, raut wajah Brayen berubah. Brayen mengumpat kasar, pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal.


Devita mengelus rahang Brayen. Memberikan ketenangan pada suaminya. "I am fine, sayang. Jangan mengkhawatirkan ku. Kau memilki banyak begitu penjaga. Tidak mungkin ada yang melukaiku."


Brayen, mengelus tangan Devita, lalu mengecup punggung tangan Istrinya. "Ya, aku pastikan tidak akan pernah ada yang melukaimu. Meski hanya sedikit aku tidak akan membiarkan kau terluka."


Devita tersenyum, dia mengecup rahang Brayen. "I know, sayang. Aku tahu, kau tidak akan pernah membiarkan aku terluka."


"Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu."


"Aku tidak pernah takut apapun. Aku tahu, kau pasti akan melindungiku, Brayen. Tapi jujur, aku tidak mengerti dengan orang yang mengganguku? Kenapa dia mengatakan aku merebut miliknya? Memangnya apa yang sudah aku rebut?"


"Tidak perlu kau pikirkan? Aku akan selalu menjagamu dan anak kita. Sekarang lebih baik kau beristirahat. Tidak baik, jika kau tidur terlambat."


"Tapi aku belum menyiapkan pakaian untukmu." Devita mengerutkan bibirnya.


"Kau istirahatlah, aku akan menyiapkan sendiri pakaianku." balas Brayen sambil mengecup kening Devita.


Devita mengangguk. Kemudian Brayen menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh istrinya. Lalu berjalan keluar dari kamar.


Brayen mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Albert dan berkata dengan tegas. "Temukan orang yang sudah menggangu istriku dalam waktu dua hari! Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan, kau harus bisa menemukan orang yang menggangu istriku! Seret orang itu kehadapanku!"


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.