
Olivia tengah mengemasi barang-barang yang akan dia bawa ke Kanada. Olivia tentu tidak akan membawa banyak barang. Karena dirinya hanya sementara kembali ke Kanada. Sudah lama sekali Olivia tidak ke Kanada. Biasanya kedua orang tuanya yang datang ke Indonesia. Olivia memang memutuskan untuk menetap di Indonesia alasannya tentu karena Devita. Sejak kecil, Olivia tidak pernah berjauhan dengan Devita. Saat orang tua Devita memutuskan untuk meninggalkan Kanada dan menetap di Indonesia, Olivia juga memilih untuk pindah ke Indonesia. Beruntung, kedua orang tuanya tidak melarang keputusannya.
Setelah mengemasi barang-barangnya, Olivia langsung meninggalkan kamarnya menuju ke arah dapur. Saat tiba di dapur, pandangan Olivia kini menatap cheesecake yang berada di atas meja.
Olivia mengerutkan keningnya, menatap cheesecake yang terletak di atas meja. "Seharusnya, cheesecake sudah habis dari tadi malam, tapi kenapa sekarang masih ada?"
Tanpa ingin berpikir lama, Olivia melangkah mendekat ke arah meja itu, lalu mengambil cheesecake dan langsung memakannya. Ya, cheesecake adalah salah satu cake kesukaannya bersama dengan Devita. Biasanya, Olivia dan Devita selalu banyak menghabiskan cake tanpa pernah perduli tubuh mereka gemuk akibat terlalu banyak memakan cake.
"Enak sekali cake ini? Ini siapa yang membelinya?" gumam Olivia saat menikmati cake.
"Apa kau menyukai cake yang aku beli?" suara bariton dari arah belakang, membuat Olivia yang sedang menikmati cake nya terkejut.
Olivia langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah sumber suara itu. "Astaga, Felix? Kenapa kau ada di rumahku malam - malam seperti ini? Kau ini mengejutkanku saja!" Seru Olivia kesal. Tatapannya, menatap dingin Felix yang kini melangkah mendekat ke arahnya.
"Apa kau ini memiliki kekasih lebih dari satu sampai kau tidak tahu, kekasihmu itu datang?" Felix mendekat, dia mengecup kening Olivia, lalu duduk di kursi meja makan.
Olivia mendengus. Dia langsung duduk tepat di samping Felix. "Kenapa kau datang, tidak bilang padaku? Kau membuatku terkejut saja!"
"Aku tahu password rumahmu, sayang. Kedatanganku kesini untuk memberitahumu satu hal penting," jawab Felix sambil mengambil cheesecake yang ada di hadapannya.
"Kau ingin membicarakan apa?" tanya Olivia sambil menuangkan orange juice itu ke gelas kosong, lalu memberikannya pada Felix kemudian Olivia menyeret kursi lalu dia duduk kembali sambil menatap lekat wajah Felix.
"Sepertinya kamu harus menunda keberangkatan mu untuk kembali ke Indonesia." balas Felix sembari menerima orange juice itu, dan meminumnya. Kemudian, dia meletakkan gelas yang berisi orange juice ke atas meja. "Aku sudah meminta orangku untuk mengurus perusahaanmu. Aku juga sudah menyuntikkan dana ke perusahaanmu. Jadi, kau tenang saja. Tidak akan terjadi masalah besar di perusahaanmu."
Olivia mendelik, dia melayangkan tatapan tajam ke arah Felix. "Kenapa kau mengatur semuanya Felix! Aku sudah bilang kan, dua hari lagi aku harus kembali ke Kanada! Dan kenapa kau menyutikan dana ke perusahaan keluargaku, tanpa mengatakan apapun padaku!"
"Bisakah kau mendengarkan alasanku sebelum kau marah? Kau tidak pernah mendengarkan alasanku, kau hanya langsung marah tanpa mau mendengarkan penjelasanku." suara Felix terdengar begitu dingin.
Olivia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Felix yang yang tengah menatap dingin dirinya. Dia lebih memilih diam sampai Felix memberikan penjelasan padanya.
"Aku terpaksa melakukan ini, karena besok kita harus menemui Bibiku." ujar Felix yang berusaha untuk mengendalikan emosinya. Dia tidak akan pernah mungkin melukai Olivia. Terlebih melihat Olivia yang sudah menurut seperti ini, tidak mungkin Felix mengatakan sesuatu yang akan melukai kekasihnya.
Olivia memberanikan diri mengangkat wajahnya, di mengerutkan bibirnya dan menjawab, "Bibimu? Maksudmu Bibi Rena? Mommy-nya Brayen?"
Felix menganggukan kepalanya. "Ya, Bibi Rena. Aku tidak mungkin menolak undangan Bibiku. Aku sudah menganggapnya seperti ibu kandungku sendiri. Bibiku sengaja mengundang kita, karena dia ingin mengenal dekat dirimu. Saat ini, aku belum bisa memperkenalkan orang tuaku padamu. Karena Daddyku sedang melakukan perjalanan dinas ke Jepang dan Mommyku selalu menemani Daddyku."
"Tapi kenapa kau tidak bilang ini dari awal Felix? Orang tuaku tahu, dua hari lagi aku akan kembali ke Kanada." jawab Olivia dengan helaan nafas berat.
"Kau tidak perlu mencemaskan itu. Sebelum aku kesini, aku sudah menghubungi Ayahmu. Aku sudah meminta izin pada Ayahmu untuk membawamu menemui Bibiku." balas Felix sambil mengelus lembut pipi Olivia.
Olivia mendesah pelan. "Baiklah, ada lagi yang ingin aku tanyakan padamu."
"Ada apa?" Felix mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau menginvestasikan uanganmu ke perusahaan keluargaku? Aku tidak ingin menyusahkanmu Felix? Harusnya kau itu tidak usah menginvestasikan uanganmu ke perusahaan keluargaku?" kata Olivia. Bukan tidak ingin, tapi Olivia merasa tidak enak karena selama ini Felix selalu membantu dirinya. Padahal beberapa bulan lalu, perusahaan milik Felix mengalami penurunan. Jika bukan karena bantuan Brayen, sudah pasti perusahaan milik Felix tidak akan terselamatkan.
"Tidak perlu di pikirkan sayang. Kau akan menjadi istriku nanti, jadi uang bukanlah masalah yang besar," balas Felix.
Olivia mendengus tak suka. "Kau saja sering di bantu Brayen! Harusnya kau itu tidak membuangmu Felix! Bagaimana, jika sewaktu-waktu Brayen menarik uangnya dari perusahaanmu? Kau pasti akan jatuh bangkrut! Kau ingin menikahiku, kan? Tapi tidak mungkin menikah dengan cinta saja, Felix! Kau harusnya lebih bijak dalam menyimpan uangmu!"
"Astaga Felix!" Olivia memukul pelan lengan Felix. "Tujuanku mengatakan itu padamu, bukan untuk kau berjaga - jaga meminta bantuan Pamanmu. Tapi, aku ingin kau lebih bijaksana dalam mengelola keuangan. Aku tidak ingin kau membuang uangmu untuk tidak perlu."
Felix menarik tangan Olivia dan membawanya kedalam pelukannya. "Aku tidak akan bangkrut sayang, aku lahir dari keluarga Mahendra dan Jordy. Aku tidak mungkin bangkrut. Kau jangan takut dan jangan mencemaskanku. Aku juga tidak ingin membuang uangku. Aku hanya menginvestasikan uangku ke salah satu perusahaan yang cukup terkenal di Kanada, Dan kebetulan perusahaan itu milik kekasihku."
"Baiklah, tapi setelah aku kembali ke Kanada. Kita harus membuat kesepakatan bisnis. Bagaimanapun kau adalah investor di perusahaan keluargaku. Aku tidak ingin urusan pribadi harus di campurkan dengan urusan pekerjaan."
Felix mengangguk dia mengecup kening Olivia "Ya, semua keinginanmu pasti akan ku turuti."
Olivia tersenyum, dia mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan Felix. "Aku juga ingin bertanya sesuatu tentang Ivana Wilson?"
"Ivana Wilson?" Felix menautkan alisnya. "Kenapa kau bertanya tentang Ivana Wilson?"
"Aku lihat wanita itu menyukai Brayen. Aku tidak ingin, kau membahas Ivana Wilson di depan Devita. Kau tahu, Ibu hamil cenderung pencemburu! Kau jangan mencari masalah Felix!" Seru Olivia memperingati.
"Tenanglah sayang, aku tidak akan pernah lagi membahas Ivana Wilson di depan Devita. Lagi pula jika Ivana Wilson menyukai Brayen, sudah pasti Brayen tidak akan pernah memperdulikannya. Aku sangat mengenal Brayen dengan baik." balas Felix.
Olivia mengangguk. "Kau benar, aku juga mengenal Brayen. Dia tidak akan mungkin melukai Devita."
"Tapi sebenarnya, aku seperti tidak asing dengan wajah Ivana Wilson?" ujar Felix.
"Tidak asing? Bukannya sejak dulu kau sudah mengenal Ivana Wilson?" Olivia mengerutkan keningnya menatap bingung Felix.
"Tidak, aku baru mengenalnya satu bulan yang lalu saat Wilson Grup bekerja sama dengan Mahendra Enterprise." jawab Felix. "Di pertemuan pertamaku dengan Ivana Wilson, aku seperti tidak asing dengan wajahnya. Tapi aku benar-benar tidak mengingat wanita itu."
"Mungkin, aku pernah bertemu dengannya di klub malam. Bukannya aku sering mendengar, dulu banyak wanita yang menemani dirimu ketika minum?" tukas Olivia yang sengaja menyindir kekasihnya.
"Tidak sayang, jika dia adalah wanita yang pernah menemaniku. Pasti aku tidak akan pernah merasa mengenalnya. Karena para wanita itu hanya menemaniku minum. Tapi jika aku mengingat seseorang, artinya aku pernah berbicara cukup dekat dengan orang tersebut." ujar Felix.
"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Kalau dia mengenalmu? Harusnya dia menyapamu di awal pertemuan kalian bukan? Jika dia tidak menyapa artinya, dia tidak ingin mengenalmu." balas Olivia.
Felix mengangguk. "Kau benar, mungkin hanya perasaanku saja."
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.