Love And Contract

Love And Contract
Tidak Sengaja



Devita terkekeh pelan. "Maafkan aku sayang, aku memang suka berbelanja."


"Aku senang jika kau berbelanja, itu artinya aku sudah membahagiakanmu," balas Brayen sambil tersenyum ke arah Devita.


"Kau ini pintar sekali berbicara manis," Devita langsung mengecup bibir Brayen.


Mendapatkan kecupan dari Devita. Brayen langsung menahan tengkuk leher Istrinya dan berbisik, " Rupanya Istriku sudah berani menciumku, Hem? Kenapa hanya kecupan? Aku ingin mendapatkan ciuman yang panjang darimu?"


"Jangan menggodaku, Brayen." Devita berusaha menjauh, namun Brayen semakin menahan tengkuk lehernya.


Hingga kemudian Brayen bangkit dan menarik tangan Devita, membawanya masuk ke dalam pelukannya. " Kenapa kau sangat menggemaskan, Hem?" Dia memberikan kecupan yang bertubi - tubi di bibir Istrinya.


"Sudah Brayen, aku ingin istirahat," balas Devita.


"Tapi aku tidak akan membiarkanmu istirahat, sayang. Aku sudah menjalankan kewaibanku sebagai seorang suami. Sekarang kau yang harus menjalankan kewajibanmu sebagai seorang Istri." ujar Brayen mengingatkan.


Devita mengerutkan keningnya menatap bingung Brayen, " Kewajiban seorang istri? Aku sudah menyiapkan baju ketika kau mandi tadi?"


"Bukan itu sayang, kewajiban istri, kau harus melayani suamimu dengan baik," jawab Brayen dengan nada menggoda.


Devita memincingkan matanya. "Melayani?"


Brayen menarik dagu Devita. Mencium dan ******* bibir Devita. " Bahkan kita sudah sering melakukannya, sayang. Kenapa masih sangat polos, Hem?"


Seketika pipi Devita merona, dia langsung menjawab dengan gugup.


"B... Brayen. Aku lelah, aku ingin tidur,"


Tanpa di duga Brayen langsung naik ke atas tubuh Devita, hingga membuat Devita terkesiap. " Aku tidak akan membiarkanmu tidur," bisik Brayen. Dia terus mengecupi leher Devita.


"Brayen," desah Devita.


"Yes, call my name," bisik Brayen


Brayen menghentakkan miliknya dengan dalam hingga membuat Devita semakin mendesah dan mempercepat temponya, hingga akhirnya keduanya mendapatkan pelepasan. Tubuh Brayen ambruk dan membaringkan tubuhnya di samping Devita.


Brayen menarik selimut yang menutupi tubuh polos dirinya dan juga Istrinya. Menarik tangan Devita agar masuk ke dalam pelukannya. Napas Devita masih terengah - engah.


Brayen masih mengecupi pucuk kepala Istrinya, " Jangan tidur dulu sayang, aku masih ingin lagi," bisik Brayen.


Devita mendelik dan menatap tajam Brayen. "Kau jangan gila, Brayen! Besok aku tidak akan bisa jalan!"


"Memang itu tujuanku," bisik Brayen.


"Aku tidak..." tanpa memperdulikan ucapan Devita, Brayen kembali naik ke atas Devita, dan ******* Devita dengan liar.


Brayen kembali menyatukan miliknya pada milik Istrinya. Dia menghentakan miliknya semakin dalam. Kini suara ******* bersahutan terdengar merdu di telinganya.


...****...


Malam hari Devita dan Brayen akan pergi ke Taksim Square. Devita memang menyukai pasar tradisional. Dia bisa membeli pernak pernik lucu untuk dirinya. Tadi siang Devita sudah berbelanja sepuasnya. Membelikan tas, baju dan yang lainnya untuk keluarganya yang ada di kota B. Termasuk untuk Albert dan Olivia, Devita sudah membelikan semuanya.


Kini Devita mematut cermin, dia memoles make up tipis pada wajahnya. Malam ini Devita memilih memakai outwear di padukan dengan ankle boots, rambut pirangnya di biarkan tergerai indah.


Brayen yang baru saja selesai menerima telepon, dia mengalihkan pandangannya lalu menatap penampilan istrinya yang terlihat sangat cantik. Dia langsung mendekat ke arah Istrinya dan memeluk Devita dari belakang. "Why you are so beautiful? Hem? Sengaja menggodaku agar aku mengurungmu di kamar?" bisik Brayen.Dia mengecupi leher Devita. Hingga membuat tubuh Devita meremang.


Devita mendengus. "Aku tidak menggodamu, kau saja yang mudah terpancing. Apa semua wanita cantik akan membuatmu merayu seperti ini?" ucap Devita ketus.


Brayen membalikkan tubuh Devita, berhadapan dengannya. Dia menarik dagu Devita mencium dan ******* bibir Devita. "Aku tidak pernah tergila - gila pada seorang wanita. Kaulah wanita pertama yang berhasil membuatku gila karenamu," bisik Brayen tepat di depan bibir Devita.


Devita mengulum senyumannya. "Pintar sekali mulutmu, Brayen. Kau membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini."


"No sayang, kau salah. Aku yang beruntung karena telah memilikimu," balas Brayen sambil mengelus pipi Devita.


Brayen menempelkan keningnya di kening Devita. Menyentuh hidung Devita dengan hidungnya dan menggesek pelan. " Aku sungguh beruntung memilikimu,"


Devita memeluk erat Brayen, mengecup bibir Brayen. " Aku juga beruntung memilikimu,"


Brayen tersenyum, " Rasanya aku ingin sekali mengurungmu," Dia kembali berbisik menggoda Istrinya itu.


Devita mencebikkan bibirnya, "Aku ingin pergi Brayen. Aku ingin melihat Turkey di malam hari,"


Brayen terkekeh, " Alright, kita berangkat sekarang,"


Brayen menggenggam tangan Devita keluar dari kamar. Sopir mereka sudah menjemput di lobby. Kali ini Devita hanya pergi berdua dengan Brayen. Sesuai keinginan Devita, dia ingin berkencan dengan suaminya.


...***...


Sejak tadi, banyak pria yang menatap Devita. Tatapan Brayen menatap tajam para pria yang yang berani melirik Istrinya. Dia langsung memeluk pinggang Devita. Mengikuti kemanapun Devita berjalan. Di Taksim Square, Devita membeli beberapa souvernir yang menurutnya sangat bagus.


"Brayen, aku ingin minum itu," Devita menunjuk salah satu toko.


Brayen menautkan alisnya. "Kau tidak apa minum seperti itu?"


"Tidak Brayen, kau ini sungguh berlebihan." Devita langsung menarik paksa tangan Brayen menuju toko minuman yang dia tunjuk itu.


"Hi, can you tell me what is that?" tanya Devita pada penjual minuman.


"Hi miss. This is Ayran, it's same like yoghurt," jawab seorang pria penjual minuman.


"Yoghurt? Ok give me two please,"


"Sure, wait a moment,"


Pria itu memberikan Ayran yang sudah di pesan oleh Devita. Kemudian Devita menyerahkan uang. Devita tidak tahu harganya, tapi dia tahu ini pasti harganya murah. " Keep the change," ucap Devita saat menyerahkan uang.


"Thank you miss,"


"Brayen, cobalah. Ini yoghurt," Devita menyerahkan satu minumannya pada Brayen.


"Kenapa kau membelinya harus dua? Aku belum tentu menyukainya? balas Brayen. Dia menatap minuman yang bernama Ayran. Brayen memang jarang makan makanan ringan. Hanya beberapa makanan Turkey yang dia tahu. Jika itu menu utama biasanya dia mengetahuinya.


Devita mencebik kesal, "Aku sudah memesankan untukmu. Tapi kau menolaknya. Jadi kau tidak suka?"


Brayen membuang napas kasar, "Bukan begitu, aku hanya memastikan ini bersih,"


Devita mendengus, "Kau jangan selalu makan di restauran mewah, Brayen. Aku juga sering makan makanan tradisional."


"Ya, ini aku akan meminumnya," balas Brayen yang akhirnya mengalah.


Devita tersenyum senang. "Brayen, itu adalah kebab. Aku ingin kebab, belikan aku kebab Brayen."


"Kita makan di restauran, di sana juga ada kebab," jawab Brayen.


"No, aku mau yang itu!" Cebik Devita.


Brayen mengumpat dalam hati. Dia harus sabar mengatasi sifat ke kanakan Istrinya. "Kau tunggu di sini. Aku akan membelikannya untukmu,"


Devita mengangguk dan tersenyum senang.


Kemudian Brayen berjalan dan meninggalkan Devita. Devita membalikkan tubuhnya. Dia ingin mencari dan melihat makanan di Taksim Square.


Bruk.


Saat Devita membalikkan tubuhnya, dia tidak tahu ada wanita di belakangnya. Minuman yang ada di tangannya tumpah mengenai baju wanita itu.


"Astaga, maaf. Sungguh aku tidak sengaja," ucap Devita penuh penyesalan. Dia sungguh tidak enak, baju wanita yang dia tabrak itu harus terkena minumannya.


"Tidak apa - apa ini bukan salahmu. Aku yang tadi ada di belakangmu," balas wanita itu.


"Sayang, kau kenapa?" seorang pria menghampiri wanita yang di tabrak oleh Devita.


"Baju kotor, tertumpah minuman. Tapi ini juga salahku," jawab wanita itu.


Devita semakin tidak enak. Wanita ini bahkan tidak marah - marah padanya. "Maaf, Nona dan Tuan. Saya sungguh tidak sengaja. Tapi biarkan saya mengganti bajumu, Nona"


Wanita itu tersenyum, "No, itu tidak perlu. Kau tidak perlu mengganti bajuku,"


"Nona, maaf baju yang di pakai istriku itu tidak murah. Kau hanya akan membebani diri mu jika mengganti rugi baju Istriku," tukas pria itu sarkas.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.