Love And Contract

Love And Contract
Rumah Sakit



"Daddy David masuk ke rumah sakit? Bagaimana keadaannya?" tanya Devita yang cemas dan panik.


"Aku belum tahu, Albert memintaku langsung datang ke rumah sakit, terjadi sesuatu di kota B saat kita Turkey. Albert tidak memberitahuku, dia mengatakan supaya kita langsung ke rumah sakit," tukas Brayen dingin.


"Apa yang membuat Daddy David terkena serangan jantung? Apa karena masalah pekerjaan? Bukankah perusahaanmu baik - baik saja, Brayen?"


"Ini bukan karena perusahaan tapi karena adikku, Laretta. Albert mengatakan Daddyku terkena serangan jantung akibat adikku yang kurang ajar itu. Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah di perbuat oleh Laretta. Aku pasti akan menghukumnya, kali ini jika dia melakukan sesuatu hal yang buruk," geram Brayen.


"Tenanglah Brayen, mungkin ini hanya salah paham saja Brayen. Kau tenang saja. Aku yakin Laretta tidak akan melakukan hal buruk," ujar Devita yang berusaha menenangkan suaminya.


"Dia itu memang suka membuat masalah. Mulai dari dia tidak menetap di kota B, memilih menjadi pelukis. Dia tidak memperdulikan perusahaan sama sekali. Dia tidak mau terjun dalam bisnis. Itu yang membuat Daddyku marah padanya!" Seru Brayen.


Devita mendesah pelan. " Aku rasa Laretta sama denganku, Brayen. Hanya saja Laretta sedikit beruntung. Laretta memiliki kakak yang bertanggung jawab sepertimu. Sedangkan aku adalah anak tunggal yang tidak memiliki pilihan. Hidupku sudah tersusun sempurna, dan aku tidak bisa menentangnya."


Mendengar ucapan Devita membuat Brayen terdiam. Dia kini menatap dalam mata Devita. "Orang tuamu memberikan yang terbaik Devita, jangan berbicara seperti itu. Kau memilikiku, aku akan selalu di sampingmu."


Devita tersenyum, "I know, aku percaya padamu. Nanti saat kita tiba di kota B lebih baik kita langsung pergi ke rumah sakit. Jika kau bertemu dengan Laretta, aku mau kau kendalikan amarahmu Brayen," kata Devita mengingatkan.


Brayen memilih untuk diam, pikirannya kini tidak bisa berpikir jernih. Dia tidak ingin membuat sebuah janji yang tidak bisa dia tepati.


...***...


Kota B, Indonesia.


Kini Brayen dan Devita sudah tiba di kota B. Pesawat private jet pribadi milik Brayen baru saja mendarat di private airport milik keluarga Mahendra. Brayen menggenggam tangan Devita turun dari pesawat.


Brayen dan Devita tidak langsung pulang ke rumah. Mereka harus mengunjungi David yang masih terbaring di rumah sakit. Sebenarnya Brayen sudah meminta Devita untuk pulang terlebih dulu. Brayen tidak ingin Devita kelelahan. Tapi Devita memaksa untuk pergi ke rumah sakit. Devita sendiri cemas pada Ayah mertuanya. Akhirnya Brayen menyetujui untuk membawa Devita ke rumah sakit.


Saat Devita dan Brayen sudah menuju ke lobby. Brayen sudah melihat sopirnya sudah menjemput. Tidak hanya sopir, tapi Albert juga datang menjemput. Brayen dan juga Devita melangkah mendekat ke arah mobil. Dengan sigap, Albert menundukkan kepalanya hormat dan langsung membukakan pintu untuk Brayen dan juga Devita. Setelah Brayen dan Devita masuk ke dalam mobil, Albert juga masuk ke dalam mobil duduk di kursi depan.


Sedangkan Ruby berada di mobil lain, Ruby sudah di bantu oleh anak buah Brayen, yang Albert kirim. Barang belanjaan Devita sangat banyak, tidak mungkin satu mobil dengan Brayen dan Devita.


Mobil Rolls Royce milik Brayen sudah meninggalkan bandara. Susana di dalam mobil masih hening. Devita melirik ke arah Brayen yang wajahnya masih menahan amarah. Devita memilih untuk memandang keluar melihat pemandangan kota.


"Albert, dimana Mommyku?" tanya Brayen yang akhirnya memulai percakapan terlebih dulu.


"Nyonya Rena masih berada di Rumah sakit, Tuan," jawab Albert dari kursi depan.


"Bagaimana dengan keadaan orang tuaku?" tanya Brayen kembali.


"Tuan David, masih dalam pemeriksaan dokter," jawab Albert.


Brayen membuang napas kasar. "Sebenarnya apa yang sudah di lakukan oleh adikku?"


"Maaf Tuan. Sebaiknya, nanti anda langsung berbicara dengan Nona Laretta. Karena Nona Laretta juga masih berada di rumah sakit, Tuan." jelas Albert.


"Siapkan ruangan lain. Aku akan berbicara dengan Laretta," tukas Brayen dingin.


Albert mengangguk patuh. " Baik, Tuan."


Devita melirik ke arah Brayen yang menahan amarahnya, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Kendalikan emosimu Brayen, aku percaya Laretta tidak akan melakukan hal buruk,"


"Kau tidak tahu bagaimana sikap pemberontaknya adikku, Devita!" Geram Brayen.


...***...


Mobil Rolls Royce, milik Brayen kini sudah tiba di rumah sakit. Brayen dan Devita langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Albert mengikuti Brayen dari belakang.


"Dimana ruang rawatnya?" tanya Brayen dingin.


"Mari Tuan, saya tunjukkan," ucap Albert.


Kemudian Albert menunjukkan ruang rawat David.


Saat Brayen masuk ke dalam ruang rawat David, dia menatap Ibunya dengan wajah yang pucat dan mata yang sembab. Devita terkejut dengan keadaan Ibu mertuanya yang terlihat begitu rapuh.


"Mom?" sapa Brayen yang sudah berjalan masuk ke dalam ruang rawat. Devita juga masuk ke dalam ruang rawat.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Brayen yang kini melihat David yang terbaring lemah.


"Daddymu masih dalam perawatan. Tapi dia di larang untuk mendengar berita yang membuatnya terkejut. Untung tidak terjadi sesuatu pada Daddymu. Jika sampai terjadi sesuatu, Mommy tidak akan pernah sanggup," ucap Rena dengan Isak tangisnya.


Devita menyentuh lengan ibu mertuanya. Menenangkan Rena agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. " Daddy pasti akan sehat, Mom. Jangan khawatir. Kata Devita yang berusaha menenangkan Ibu mertuanya.


Rena tersenyum, " Terima kasih, sayang."


"Katakan ada apa, Mom. Apa yang sudah di lakukan Laretta?" tanya Brayen saat menatap Ibunya.


"Lebih baik kita bicara di luar, Laretta berada di ruangan lain. Kau bisa bertanya langsung pada adikmu." jawab Rena dengan suara yang parau.


Brayen mengangguk, lalu mereka berjalan meninggalkan ruang rawat David. Tangan kanan Brayen masih menggenggam tangan Devita. Sedangkan tangan lainnya memeluk bahu Rena, Ibunya yang kini terlihat sangat rapuh.


Brayen melangkah mengikuti Albert, yang menunjukkan dimana ruangan adiknya berada. Saat Brayen masuk ke dalam ruangan, dia melihat adiknya yang sedang duduk meringkuk dengan memeluk lutut. Tanpa menunggu Devita langsung melepaskan tangannya dari genggaman Brayen. Devita langsung berlari ke arah Laretta yang tidak berhenti menangis.


"Laretta," Devita ikut bersimpuh di lantai. Lalu mengelus rambut adik iparnya itu.


Laretta menoleh dan menatap Devita yang berada di hadapannya, Laretta langsung memeluk erat Devita. Tangis Laretta pecah setelah saat berada di pelukkan Devita.


"Ssst, ada apa Laretta? Siapa yang menyakitimu?" tanya Devita dengan lembut. Dia membalas pelukkan Laretta.


"Devita kemarilah," perintah Brayen. Dia masih menatap adik dan istrinya bersimpuh di lantai. Brayen sudah tahu pasti Devita akan berlari ke arah Laretta.


"Tidak Brayen, kau lihat adikmu sedang ada masalah," bantah Devita.


"Laretta bangun! Sejak kapan kau menjadi gadis yang lemah. Bagun sekarang!" Tegas Brayen dengan tatapan yang tajam.


Devita mengulurkan tangannya pada Laretta membantu Laretta untuk berdiri.


"Katakan padaku, kali ini apa yang sudah kamu lakukan hingga membuat kedua orangtuamu seperti ini! Katakan Laretta!" Seru Brayen.


Laretta melihat Rena ibunya yang berada di samping Brayen tidak berhenti menangis. Bahkan Laretta tidak mampu berkata - kata di depan Kakaknya. Laretta sangat mengenal sifat tegas Brayen. Dia tidak berani membantah perkataan Brayen.


"A.... Aku?" Laretta terus menangis, dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Kakaknya yang menatap tajam dirinya.


"Katakan Laretta Gisel Mahendra! Apa kesalahan yang sudah kau perbuat!" Sentak Brayen.


"Brayen, kendalikan emosimu." Devita menyentuh lengan Brayen dan mengelusnya pelan.


"Diam Devita. Aku tidak ingin membentakmu," tukas Brayen dingin.


"A...Aku hamil Kak, maafkan aku" ucap Laretta dengan Isak tangisnya.


Rahang Brayen mengeras, pandangannya menggelap mendengar ucapan adiknya. "Laretta Gisel Mahendra! Katakan sekali lagi!" Geram Brayen.


"Maaf Kak


" Aku bersumpah itu karena alkohol. Aku mabuk, dan saat aku bangun aku sudah tidur dengan pria yang tidak aku kenal. Lalu beberapa hari yang lalu aku memeriksa ternyata aku hamil. Tapi Kak, dia akan menikahiku." ucap Laretta.


Brayen menggeram, tangan Brayen langsung melayangkan pukulannya pada Laretta. Namun, Brayen terhenti saat Devita menghadang. Devita berdiri di depan Laretta, melindungi Laretta dari amarah Brayen. "Jika kau berani memukul Laretta! Aku bersumpah Brayen, kau akan kehilangan aku selamanya." ancam Devita dengan tatapan mata tajam ke arah Brayen.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.