
"Aku tidak suka jika kau menangis, jangan menangis." Brayen menarik tangan Devita, membawanya kedalam pelukannya. Dan mengusap lembut rambut panjang istrinya.
Devita membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen, dia memeluk erat tubuh suaminya itu. "Aku hanya tidak ingin kau marah Brayen. Maafkan aku, aku berjanji akan selalu menceritakan apapun padamu."
"Jangan lagi mengulangi itu, Devita. Kau harus menceritakan apapun padaku. Aku tidak ingin kau menutupi sesuatu dariku," tukas Brayen penuh dengan penekanan.
Devita mengangguk, kemudian dia mendongak dari dalam pelukan Brayen. "Aku harus mengobati lukamu."
Devita menarik tangan Brayen untuk duduk di sofa. Kemudian Devita mengambil kotak obat, es dan juga handuk."
"Ah.." ringis Brayen ketika Devita menekan keras luka lebam di wajahnya.
"Sakit?" Devita tersenyum kecil. "Satu pukulan saja sakit bukan? Kenapa kau itu selalu saja menyelesaikan masalah dengan kekerasan?"
"Aku masih belum puas sebelum menghabisinya dengan tanganku!" Tukas Brayen.
Devita mendesah pelan, "Aku tidak suka melihatmu terluka Brayen."
"Aku tidak apa-apa."
"Bisakah kau berjanji padaku agar tidak menggunakan kekerasan?" pinta Devita.
"Aku menggunakan kekerasan, jika ada yang berani menganggu milikku!" Jawab Brayen.
"Meski milikmu di ganggu, tapi apa yang telah menjadi milikmu akan selamanya menjadi milikmu." Devita mengoleskan salep luka di lebam Brayen. Kemudian dia merapihkan obat - obatan itu ke tempat semula.
"Akh!" Devita memekik terkejut, saat Brayen menarik dirinya membawanya duduk di atas pangkuan suaminya.
"Kau benar," Brayen memeluk erat tubuh Devita. "Selamanya, tidak ada satupun orang yang mampu mengambil mu dariku."
Devita tersenyum, dia mengusap rambut Brayen. "Kau sudah tahu itu Tuan Brayen Adams Mahendra. Selamanya aku akan tetap menjadi milikmu. Meski akan banyak yang meganggu hubungan kita, tapi aku hanya akan tetap memilihmu."
"Ya, aku tahu itu. Kau akan tetap menjadi milikku," Brayen membawa tangan Devita mendekat ke bibirnya, lalu mengecup punggung tangan istrinya.
Devita merapatkan tubuhnya ke tubuh Brayen, dia menyadarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Apa kau bisa mempercayaiku? Aku tidak ingin kau terus salah paham karena hal ini."
"Aku bukannya tidak mempercayaimu, aku hanya tidak suka jika kau menutupi sesuatu dariku, sayang." Brayen mengelus punggung istrinya.
"Maaf..." Devita membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Aku berjanji akan selalu bercerita padamu."
"Lupakan masalah ini, lebih baik kita beristirahat sekarang." Brayen mengecup puncak kepala istrinya. Devita membalas dengan anggukan kepalanya.
Brayen beranjak dari tempat duduknya, dia membopong tubuh Devita gaya bridal menuju ke arah ranjang. Dan Devita kini bisa bernafas dengan lega, karena Brayen tidak lagi marah padanya. Hatinya bisa jauh lebih tenang.
...***...
Suara kicauan burung di pagi hari saling bersahutan. Devita yang masih tertidur pulas terbangun karena sinar matahari menembus jendela menyentuh wajahnya.
Devita menggeliat dan menguap. Perlahan Devita mulai membuka matanya, dia menoleh ke arah samping menatap ranjang yang sudah kosong. Jika biasanya Devita sudah marah karena Brayen sudah lebih dulu berangkat, kali ini Devita memilih untuk mengerti. Pandangan Devita menatap sebuah note, yang dia tahu pasti itu dari suaminya. Devita pun langsung mengambil note itu dan langsung membacanya.
*Sayang maaf, aku ada meeting pagi ini. Jangan marah karena aku tidak membangunkanmu. Karena aku tidak ingin meganggu anak dan istriku yang masih tertidur pulas. - Your Husband Brayen.*
Devita meletakkan note itu di tempat semula dan beranjak dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi. Suara dering ponsel, membuat Devita menghentikkan langkahnya. Devita membalikkan tubuhnya, dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Kemudian menatap ke layar tertera nama Olivia. Devita menggeser tombol hijau, sebelum kemudian menempelkannya ke telinganya.
"Ya Olivia?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.
"Devita? Apa kau sudah bangun?" tanya Olivia dari sebrang telepon.
Devita mendengus, "Aku sudah menjawab telepon darimu! Jika aku masih tertidur, mana mungkin aku bisa mengangkat telepon darimu!"
Olivia terkekeh dari balik teleponnya. "Benar juga, baguslah jika kau itu sudah bangun."
"Katakan ada apa kau menghubungiku sepagi ini?" tanya Devita
"Aku hanya ingin bertanya, apa kau semalam bertengkar dengan Brayen?"
"Lalu bagaimana sekarang? Kau sudah menjelaskannya pada Brayen?"
"Sudah, beruntung Brayen mau memaafkanku karena menutupi ini darinya."
"Baguslah, aku ikut senang mendengarnya. Tapi aku tidak habis pikir, pria yang menganggumu itu benar - benar orang gila."
"Aku juga tidak tahu, memikirkannya saja sudah membuatku sakit kepala. Aku harap dia tidak lagi mengangguku lagi."
"Kau tenang saja, Devita. Aku yakin suamimu itu tidak akan tinggal diam."
"Aku tidak ingin Brayen menggunakan kekerasan lagi, sudah cukup kekacauan tadi malam saja."
"Kau salah Devita, menurutku tadi malam Brayen sangat hebat. Suamimu itu mampu menghajar pria itu, hingga wajah pria itu hancur."
Devita mendecak kesal. "Kau gila Olivia! Aku masih ingat tadi malam kau mendukung Brayen untuk menghajar Raymond!"
"Itu bagus! Ah, kau sudah menyebut namanya.Kalau aku sih, tidak sudi untuk menyebut nama pria itu."
"Sudahlah, aku ingin segera berendam. Tubuhku sangat lelah."
"Ya, ya. Selamat menikmati waktu bersantai mu Nyonya Mahendra."
Panggilan terputus, Devita meletakkan kembali ponselnya di tempat semula, lalu dia melanjutkan lagi langkahnya menuju ke arah kamar mandi.
...***...
"Angkasa? Kau di sini?" Laretta terkejut saat melihat Angkasa masuk kedalam studio lukisnya.
Angkasa melangkah mendekat, dia duduk di samping Laretta. "Apa aku sudah menganggumu?"
"Tentu saja tidak, kau tidak mungkin menggangguku. Aku hanya terkejut kau ada di sini." balas Laretta.
"Ya, karena aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan ibuku. Hari ini ibuku baru saja kembali dari Kanada." jawab Angkasa. "Apa kau bisa bertemu dengan ibuku hari ini?"
"Ibumu ingin bertemu denganku?" tanya Laretta memastikan.
Angkasa mengangguk. "Ya, ibuku ingin sekali bertemu denganmu, apakah kau bisa?"
"Astaga Angkasa, aku itu belum membelikan apapun untuk Ibumu, kenapa mendadak sekali?" seru Laretta.
Angkasa menyentuh tangan Laretta dan meremasnya pelan."Kau tidak perlu membawa apapun. Lebih baik kau siap - siap saja sekarang."
"Tapi-"
"Laretta, bagiku dengan dirimu yang berada di di sisiku itu jauh lebih penting." Angkasa lebih dulu memotong ucapan dari Laretta.
Laretta tersenyum, "Tunggu sebentar, aku tidak akan lama."
"Aku akan selalu menunggumu." balas Angkasa kemudian Laretta beranjak dari tempat duduknya, dia langsung berjalan ke arah kamarnya untuk bersiap - siap.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.