Love And Contract

Love And Contract
Aku bukan Bonekamu!



Devita mendengus dan berkata, "Jika kau ada masalah dengan William, jangan melibatkan Richard! Kau ini sudah tua Brayen, tapi kau masih bersikap kekanak-kanakan "


"Jangan berani membelanya! Kita pulang sekarang!" Brayen mulai menghidupkan mesin, dan menginjak rem. Kemudian dia mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


"Kau sungguh gila Brayen! Aku bekerja, bagaimana bisa aku seenaknya pulang!" Geram Devita. Dia melayangkan tatapan tajam pada Brayen.


"Kau bisa pilih, ingin magang di perusahaan itu dengan menurutiku. Atau aku akan memaksamu keluar, dan kau magang di perusahaanku," tukas Brayen pandangannya tetap ke depan. Dia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun ke arah Devita. Wajahnya tetap memperlihatkan sikap dingin dan angkuhnya.


"Bagaimana bisa kau seperti itu Brayen? Apa hakmu mengaturku? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing? Kau ini kenapa selalu mencampuri urusanku?" seru Devita kesal. Dia tidak terima Brayen selalu mencampuri urusan pribadinya. Padahal mereka sudah sepakat untuk menjaga batasan mereka. Tapi apa? Brayen selalu melewati batasan itu.


"Jika kau tidak lupa dan otakmu masih berfungsi dengan baik. Aku akan mengingatkanmu berapa kali lagi jika seorang suami berhak mengatur Istrinya! Jika kita berpisah nanti baru kau akan bebas!" Tukas Brayen menekankan.


"Great Brayen Adams Mahendra! Disini yang otaknya tidak berfungsi dengan baik, aku rasa itu dirimu. Bukan aku! Kau tahu, kita harus menjaga batasan kita. Kau juga sudah sepakat bukan, bahwa dalam beberapa hari ini tidak mencampuri urusan masing-masing. Jadi aku harap Brayen Adams Mahendra, kau jangan seperti pria yang sering berubah - ubah!" Balas Devita sinis.


"Kau sudah cerdas rupanya membalas ucapanku. Maka aku akan membatalkan batasan itu. Aku berhak untuk mencampuri urusan pribadimu itu. Tidak ada batasan antara aku denganmu. Selama kau menjadi Istriku, maka aku berhak mengatur hidupmu!" Tukas Brayen menegaskan.


"Begitu Brayen Adams Mahendra? Berarti aku juga berhak mengatur hidupmu. Termasuk melarangmu untuk bertemu dengan kekasihmu? Dengan begini akan jauh lebih adil!" Balas Devita yang tak mau kalah.


"Tidak bisa! Aku menjalin hubungan dengan Elena sudah hampir empat tahun kau tahu itu, dia akan membuat masalah jika aku tidak menemuinya!" Seru Brayen.


Devita mengangguk paham, " Berarti kau jangan berharap bisa mencampuri masalah pribadiku,"


"Devita ini berbeda. Sebelum denganku kau tidak memiliki kekasih, sedangkan aku memiliki kekasih,hubunganku dengan Elena sudah empat tahun. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku kasihan padanya Devita. Dia tidak seberuntung dirimu. Dia bukan lahir dari keluarga berkecukupan sepertimu Devita. Mengertilah!" Kata Brayen dengan nada penuh dengan penekanan.


Devita tersenyum mengejek, "Jadi dia hanya lahir dari keluarga biasa, maksudmu begitu? Orang tuamu memilihku karena aku adalah anak dari keluarga Smith? Begitu maksudmu? Alasanmu sangat luar biasa tidak masuk akal."


Brayen membuang napas kasar, " Devita, bisakah kau tidak membuatku marah? Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Kau jauh lebih beruntung dari pada Elena. Banyak hal yang aku tidak bisa meninggalkannya."


"Banyak hal? Apa karena kau mencintainya?" tanya Devita dengan nada penuh sindiran.


"Aku rasa memiliki hubungan selama empat tahun dengannya tanpa cinta, itu tidak mungkin bukan? Jadi kau tahu jawabannya," tukas Brayen.


Devita kembali tersenyum sinis, " Listen to me Brayen Adams Mahendra! Aku bukan boneka mu! Jika kau bilang aku beruntung karena lahir dari keluarga Smith, maka aku akan menunjukkan aku adalah putri dari keluargaku. Tidak ada satupun orang yang bisa melarangku dan mengatur hidupku. Aku juga tidak perduli dengan hubunganmu dengan kekasihmu. Jadi jangan pernah mencampuri urusanku!" Seru Devita, dengan menatap tajam Brayen.


Saat mobil Devita sudah tiba di mansion, Devita dengan cepat langsung turun dari mobil. Dia tidak perduli pada Brayen yang meneriakan namanya. Devita langsung berlari menuju kamar tamu dan langsung mengunci pintu kamarnya.


Brayen mengumpat kasar setelah mendengar ucapan dari Devita. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Entah kenapa saat Devita bertanya apa dirinya mencintai Elena, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Tapi dulu, dirinya begitu yakin jika dirinya memang sangat mencintai Elena. Tidak mungkin tidak mencintai Elena, hubungan Mereka sudah empat tahun.


Devita duduk di ranjang meringkuk, dan memeluk tubuhnya. Air mata membasahi pipinya. Mendengar Brayen mencintai kekasihnya membuat hati Devita sangat terluka. Devita terus menangis, perkataan Brayen sangat melukai hatinya.


Devita membenci hatinya yang terluka hanya karena mendengar Brayen mencintai kekasihnya. Berkali - kali dia sudah meyakinkan diri, dia tidak boleh jatuh hati pada pesona Brayen. Karena dia tahu hanya luka yang dia dapat. Brayen sangat egois, dia selalu mengatur Devita sesuka hatinya. Mencampuri kehidupan pribadi Devita. Seenaknya Brayen masuk ke dalam kehidupan Devita, sedangkan dia sendiri tidak membiarkan Devita masuk dalam kehidupannya.


"Aku membencimu Brayen Adams Mahendra! Aku membencimu saat kau melukai hatiku! Aku membencimu karena kau selalu mengatur hidupku!" Isak tangis Devita. Hatinya begitu sesak dan sakit.


Brayen berdiri di depan kamar tamu. Devita lebih memilih untuk mengunci diri di kamar tamu. Ketika Brayen ingin mengetuk pintu kamar tamu, dia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya. Percuma saja, dia pasti akan kembali bertengkar dengan Devita.Lebih baik baginya untuk saat ini, membiarkan Devita menenangkan dirinya.


Brayen memilih melangkah menuju ke arah kamarnya, namun tidak lama kemudian terdengar suara deringan ponsel miliknya. Dia mengambil ponselnya dan melihat ke layar ponselnya tertera nama Elena. Brayen membuang napas kasar, dia baru saja mengingat jika dirinya memiliki janji untuk bertemu dengan Elena. Jika dia tidak datang, sama saja akan menambah masalah baru. Tidak ada pilihan lain, Brayen langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian meletakkan di telinganya.


"Ya Elena," jawab Brayen saat panggilannya terhubung.


"Brayen, kau ada dimana? Kenapa belum datang?" tanya Elena dari sebrang telepon.


"Elena, sepertinya aku tidak bisa datang malam ini,"


"Tidak! Kau harus datang malam ini! Jika kau tidak datang malam ini, maka aku akan datang ke mansionmu. Aku sudah tahu dimana alamat mansionmu yang baru!"


"Elena! Kau tahu aku tinggal di sini dengan Istriku! Jangan mencari masalah!"


"Jangan sebut kata Istri! Aku sangat membencinya! Aku tidak mau tahu! Jika kau tidak malam ini, maka aku yang akan datang ke mansionmu!"


Brayen membuang napas kasar, " Aku akan datang,"


Panggilan terputus, mau tidak mau Brayen harus menemui Elena. Jika tidak, itu sama saja akan menambah masalah baru. Brayen menyambar kunci mobilnya, lalu berlari ke luar kamar menuju mobilnya.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.