
William meletakkan gelas sloki di tangannya di atas meja, kemudian dia menatap serius ke arah Brayen. "Kau benar, aku juga tidak berniat membahas tentang masa lalu. Aku datang karena ingin bertemu denganmu. Ya, aku memang menyembunyikan tentang Beatrice yang menjebakku dengan Veronica. Kau tahu, alasan kenapa aku tidak langsung memberitahumu? Karena saat itu, kau hanya percaya dengan apa yang kau lihat. Kau tidak mendengarkan apapun penjelasanku dan Veronica. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri, ketika aku tahu semuanya. Aku memilih diam dan tidak langsung memberitahumu. Setelah sekian tahun lamanya, sejak kita lulus kuliah. Aku pun tidak menyangka jika Beatrice akan kembali. Aku sudah membaca semua berita tentang Beatrice. Sungguh kasihan nasib wanita itu. Mungkin lebih tepatnya, aku ingin memberitahumu satu hal. Jika di masa depan kau memilki masalah, kau harus menyelidikinya sebelum kau meluapkan amarahmu. Beruntung, kau kehilangan Veronica, dan mendapatkan istri seperti Devita. Bagaimana jika kau kehilangan Devita, hanya karena sifatmu?" ucap William dengan nada penuh sindiran pada Brayen.
Kemudian William beranjak dari tempat duduknya, dan menatap lekat manik mata Brayen. "Aku tidak ingin berbohong padamu. Sejak dulu, aku memang sangat membencimu. Aku tidak menyukai kau yang selalu melebihiku. Seperti saat ini, kau sudah tahu aku dan Veronica di jebak, kau masih tetap tidak menyambutku dengan ramah. Tapi kau tenang saja, aku sama sekali tidak berniat untuk menjadi temanmu, Brayen Adams Mahendra."
"Aku berharap kau bisa menjaga Devita dengan baik. Dan kau harus melihat sekelilingmu. Karena dengan sifatmu yang seperti ini, kau pasti memiliki banyak musuh." William membalikkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan Brayen.
"Tanpa harus kau bilang padaku, aku bisa melindungi istriku dengan baik! Dan satu hal yang harus kau tahu. Aku memang tidak pernah menyelidiki masalahku dengan Veronica. Saat itu aku masih muda, aku berpikir bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Veronica. Jadi, kau tidak perlu menasehatiku karena Veronica dan Devita itu berbeda. Devita adalah istriku, dia akan selalu menjadi milikku!" Brayen membalas ucapan William, hingga membuat langkah kaki William terhenti.
William hanya tersenyum, dia memilih untuk tidak membalikkan tubuhnya. Dia melihat Brayen dari sudut matanya, kemudian dia melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan ruang kerja Brayen.
...***...
Devita duduk di taman sembari menyesap teh di tangannya. Tatapannya menatap lembut bunga - bunga yang tumbuh di taman miliknya, sesaat dia memejamkan matanya, ketika hembusan angin menyentuh kulitnya. Jika dulu Devita selalu ditemani oleh Laretta, kini dia menikmati sore yang indah dengan susana sore yang menyejukkan sendiri. Ya, Devita berharap anaknya akan segera lahir agar dia tidak lagi kesepian. Terlebih, Olivia yang sedang berada di negara K membuat Devita sangat kesepian.
"Nyonya...." seorang pelayan menghampiri Devita yang sedang duduk bersantai.
Devita mengalihkan pandangannya, dia menatap pelayan yang berdiri di hadapannya. "Ada apa?"
"Maaf Nyonya, menganggu anda. Tapi saya hanya ingin memberitahu kalau Nyonya besar Nadia datang," jawab pelayan itu sedikit menundukkan kepalanya.
"Ibuku datang?" Devita menautkan alisnya.
Pelayan itu mengangguk. "Benar Nyonya...."
"Apa kau tidak senang Mama datang?" Nadia yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Devita, dia langsung melangkah mendekat ke arah Devita.
Pelayan itu menundukkan kepalanya, pamit undur diri ketika melihat Nadia datang.
Devita langsung beranjak dari tempat duduknya, dan memeluk erat tubuh Devita. "Mama, aku sangat merindukanmu..."
Nadia tersenyum, dia mengusap punggung Devita. Mama juga sangat merindukanmu, sayang..."
Devita mengurai pelukannya, dia menarik tangan Nadia dan mengajaknya untuk duduk.
"Bagaimana kandunganmu, sayang?" tanya Nadia sambil mengelus lembut rambut panjang Devita.
"Baik, Ma. Apa Mama tahu, cucu Mama ternyata berjenis kelamin laki-laki. Aku sudah tidak sabar ingin melihat dia lahir ke dunia ini." ucap Devita antusias."
Nadia mengulum senyumannya, " Mama juga ikut bahagia sayang, jika anak pertamamu laki - laki biar nanti anakmu bisa menjagamu."
Devita menggangguk dan tersenyum. "Mama benar,"
"Devita, terakhir kau bilang pada Mama, ingin ke negara K. Apa Brayen sudah memperbolehkanmu?" tanya Nadia memastikan.
"Mama tenang saja, aku tidak mungkin ke negara K sendiri. Brayen sudah memperbolehkanku kesana, asalkan aku bersama dengannya." jawab Devita dengan senyuman di wajahnya.
Devita menggeleng pelan. "Anak nakal, kau pasti selalu memaksa Brayen, untuk menuruti keinginanmu itu!"
"Mama! Brayen memang harus menurutiku!" Devita mencebik, bibirnya berkerut
Devita tersenyum, dia memeluk lengan Nadia. "Mama tenang saja, aku sudah belajar menjadi dewasa. Aku juga selalu mengurus segala kebutuhan Brayen."
Nadia mendesah pelan, dia mengelus puncak kepala putrinya. "Good girl, Mama ingin kau menuruti perkataan Brayen. Suamimu itu sangat baik, Devita. Sejak dulu, Mama sudah yakin, jika Brayen akan menjadi suami yang tepat untukmu."
"Mama benar, dulu aku sangat kesal dengan sifat arrogantnya. Bahkan, aku masih ingat, ketika Brayen meledek mobilku. Dia bilang mobilku sudah kuno. Saat itu, aku berpikir aku tidak mungkin jatuh cinta pada Brayen. Tapi ternyata aku salah. Aku menyukai sifatnya. Dia sangat baik, dia menunjukkan kebaikannya tanpa harus memperlihatkan pada orang lain. Ya, terkadang aku masih kesal dengan sifat arrogantnya itu." Devita menjawab, dia kembali mengingat pertama kali mengenal Brayen.
Nadia mengulum senyumannya. "Kau tahu, sejak dulu Mama sangat menyukai sifat Brayen. Dia tidak pernah menunjukkan kebaikannya di hadapan orang lain. Dia lebih menyukai menunjukkan kebaikannya tanpa ada orang tahu. Dia juga tidak menyukai orang yang memujinya. Mama sangat bangga memiliki menantu seperti Brayen. Suamimu itu sangat sempurna, tampan, memiliki segalanya. Dan Mama yakin, pasti banyak sekali wanita yang menginginkan Brayen. Kau begitu beruntung, Devita."
Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Aku dan Brayen bisa bersatu, itu semua karena Mama dan Papa yang sudah menjodohkan aku dengannya. Aku berterima kasih karena Mama dan Papa sudah memilihkan pria yang terbaik di hidupku."
"Tidak perlu berterima kasih, tugas Mama dan Papa adalah memilihkan pria yang terbaik untukmu." Nadia mengelus lembut pipi Devita. "Ya sudah, Mama harus pulang. Papamu pasti menunggu."
Devita mengangguk. "Ya Ma, aku akan mengantarkan Mama kedepan pintu."
Saat Devita dan Mama Nadia sudah berada di depan rumah, tatapan mereka teralih pada mobil Buggati Veyron yang memasuki parkiran. Senyum di bibir Devita terukir melihat mobil Buggati Veyron yang masuk kedalam parkiran mansionnya. Tentu Devita sangat tahu itu adalah mobil suaminya. Brayen sangat jarang memakai mobil lain. Buggati Veyron warna hitam adalah salah satu mobil kesayangan Brayen.
Brayen turun dari mobil. Dia menatap Nadia dan Devita yang berada di depannya. Dia tersenyum, lalu mendekat ke arah Devita dan juga Nadia.
"Ma," sapa Brayen ketika berada di hadapan Nadia.
"Sayang, kau sudah pulang?" Nadia tersenyum, dia langsung memeluk Brayen.
"Hari ini, aku pulang lebih awal. Cuacanya mendung, aku takut akan turun hujan dan Devita sendiri di rumah." jawab Brayen.
"Kau memang suami yang begitu perhatian." Nadia mengelus rahang Brayen. "Ya sudah, Mama harus pulang. Jaga Devita baik - baik. Maafkan dia, jika selalu bersikap seperti anak kecil."
"Mama!" Devita mencebik, dia mengerutkan bibirnya.
Nadia mengulum senyumannya, dia mengecup kening Devita, lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya. Tidak lama kemudian, mobil yang membawa Nadia mulai berjalan meninggalkan mansion.
"Kita masuk kedalam." ucap Brayen, sambil memeluk bahu Devita. Mengajak istrinya untuk masuk kedalam rumah setelah mobil Nadia meninggalkan mansion mereka.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.