Love And Contract

Love And Contract
Aku Tidak Peduli



Setelah Devita dan Brayen berpamitan pulang pada semua orang. Mereka langsung berjalan kedalam mobil. Brayen sengaja langsung mengajak pulang Devita lebih awal. Dia tidak ingin istrinya terlalu lelah.


Di sisi lainnya, dua wanita cantik di dalam sebuah mobil berwarna putih, terus menatap kepergian mobil Brayen. Tatapan dua wanita cantik itu tidak lepas dari mobil Brayen yang kini mulai menghilang dari pandangan mereka.


"Ivana, sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya seorang wanita di sebelahnya.


"Aku hanya melihat saja dari kejauhan," jawab Ivana dengan pandangan lurus kedepan.


Wanita itu mendesah pelan. "Anak buahmu yang mengikuti Brayen dan Devita, tidak lagi mengikuti mereka. Terakhir Brayen menyandari kalau ada yang mengikutinya."


Ivana tersenyum miris. "Aku sungguh merindukannya. Sudah lama sekali aku tidak melihat Brayen."


"Ivana, sadarlah! Dia itu tidak mengingat siapa dirimu," balas wanita itu.


"Dulu aku sering memberikan Brayen hadiah, aku yakin Brayen pasti mengingatku." tukas Ivana.


"Sampai kapan kau seperti ini, Ivana? Kau sudah bertahun-tahun mengaguminya. Berhentilah Ivana, hiduplah dengan mencari pria lain," ujar wanita itu yang memberikan saran.


Ivana menggelengkan kepalanya dan dengan tegas dia menjawab. "Tidak Monika! Aku tidak mungkin bisa melupakannya! Aku sudah menunggunya bertahun-tahun hanya demi melihatnya lebih dekat! Aku sudah menunggu waktu ini!"


"Ivana Wilson! Pria yang selalu kau kagumi, dan pria yang menjadi obsesi mu itu tidak mengingat siapa dirimu! Jangan bertindak seperti seseorang yang kehilangan akal sehat!" Seru wanita yang bernama Monika itu dengan tatapan dingin ke arah Ivana.


"Maka, jika Brayen tidak mengingatku. Aku yang akan mengingatkannya! Aku sudah menunggunya sangat lama, Monika! Dengan segala usahaku akhirnya aku bisa kembali ke Indonesia, itu tidak mudah!" Tukas Ivana menekankan.


Monika membuang napas kasar. "Ingat Ivana! Brayen itu sudah menikah. Kau sangat tahu itu, bukan? Untuk apa kau masih mengingat seorang pria yang sudah menikah."


"Aku tidak perduli!" Jawab Ivana. "Selama aku masih hidup, aku akan tetap mencintai Brayen Adams Mahendra."


"Dan pria yang kau cintai itu tidak mencintaimu Ivana Wilson! Sadarlah! Hentikan obsesimu pada Brayen! Kau hanya akan membuang waktu untuk hal yang sama sekali tidak penting!" Balas Monika sarkas.


"Brayen adalah pria yang terpenting dalam hidupku. Aku tidak bisa melepaskannya, Monika! Aku tidak peduli jika Brayen sudah memiliki istri! Seharusnya saat di Las Vegas rencanaku sudah berhasil untuk menyingkirkan Devita."


"Ivana, kau sudah gila ya! Kau pernah berniat untuk membunuh Devita. Hei sadarlah, dia itu sedang mengandung, Ivana! Kenapa kau bisa bertindak sejauh itu."


"Diamlah Monika!"


...***...


Brayen membawa Devita masuk kedalam kamar. Dia membaringkan tubuh Devita di atas ranjang. Dan juga membantu Devita melepaskan flat shoes yang masih Devita pakai. Kemudian Brayen menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Brayen sudah tahu, istrinya itu pasti mudah kelelahan. Ini yang membuat Brayen ingin pulang lebih dulu saat di rumah orang tuanya. Karena Brayen tahu, Devita pasti akan mudah lelah.


Terdengar suara ketukan pintu, membuat Brayen mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dia beranjak dari tempat duduknya dan segera melangkah ke arah pintu dan langsung membukanya.


"Tuan Brayen, maaf mengaggu waktu anda," sapa Nagita menundukkan kepalanya, ketika Brayen sudah membukakan pintu.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin.


"Saya ingin memberitahu, Tuan Albert sudah datang. Beliau menunggu anda, di ruang kerja anda, Tuan." ujar Nagita.


"Ya, aku akan kesana. Dan aku minta kau jangan meganggu istriku." tukas Brayen dingin.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Nagita kembali mendudukkan kepalanya. lalu undur diri dari hadapan Brayen.


Setelah Nagita pergi Brayen melangkah menuju ke ruang kerjanya. Hari ini Brayen meminta Albert untuk datang kerumahnya. Sejak ada mobil yang mengikuti dirinya, membuat Brayen tidak tenang. Bukan karena takut, tapi Brayen hanya memastikan keselamatan anak dan istrinya.


"Tuan," sapa Albert ketika Brayen melangkah masuk kedalam ruang kerjanya.


"Apa ada masalah di perusahaan?" Brayen duduk di kursi kerjanya dengan menyilangkan kaki. Tatapannya menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya.


"Tidak Tuan. Semua berjalan dengan lancar," jawab Albert. "Nona Ivana Wilson, sudah menanda tangani surat perjanjian kerja sama dengan kita."


Brayen menggangguk singkat, lalu dia menuangkan wine ke gelas sloki kosong di hadapannya. Dia mengambil gelas sloki yang kini sudah terisi dengan wine, lalu menyesapnya. "Aku ingin kau periksa CCTV di mobilku. Aku juga ingin kau memeriksa CCTV di Furious Road. Aku melewati jalan itu, saat kerumah keluargaku. Hari ini ada mobil hitam yang mengikutiku. Kau pastikan plat mobil dan pemilik mobil itu."


"Baik Tuan." jawab Albert patuh.


"Ya, aku akan kembali besok." balas Brayen. "Tapi aku ingin, besok kau kosongkan jadwalku di pagi hari. Besok aku akan membawa istriku."


"Taun, besok anda masih ada Meeting dengan Ivana Wilson." kata Albert.


"Minta Felix yang mewakilkanku. Aku sedang tidak ingin meeting dengan siapapun." jawab Brayen dingin.


"T-Tapi Tuan, Nona Ivana Wilson memaksa untuk bertemu jika Tuan sudah kembali ke perusahaan." balas Albert hati - hati.


Brayen membuang napas kasar. "Katakan padanya, tidak ada bedanya jika dia bertemu dengan Felix. Karena Felix juga memiliki kekuasaan di Mahendra Enterprise. Jika dia terus memaksa, lebih baik kita batalkan saja kontrak kerja sama itu. Aku tidak ingin ada orang yang mengatur diriku. Kau sangat tahu itu Albert. Aku tidak suka ada orang yang mengatur dan memaksa diriku. Jika hanya karena Mahendra Enterprise bekerja sama dengan Wilson Grup, bukan artinya Ivana Wilson bisa melakukan apapun."


Brayen mengatakannya dengan tegas dan penuh peringatan. Sejak dulu, Brayen itu tidak suka jika ada memaksa dirinya. Bagi Brayen hanya dia yang bisa mengatur. Tidak perduli dengan siapa dia harus berhadapan.


Sedangkan Albert hanya menggangguk patuh. Dia tidak berani membantah sedikitpun.


...***...


Suara dering ponsel yang tidak berhenti berdering membuat Devita yang tengah tertidur pulas itu harus terbangun karena suara dering ponsel itu terus berbunyi. Devita mendengus kesal. Dia langsung mengambil ponselnya dan menatap ke layar. Devita mengerutkan keningnya, melihat nomor yang tidak di kenal menghubunginya. Meski awalnya ragu Devita memilih untuk menjawab panggilan telepon itu.


"Hallo?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.


"Hallo?!" Devita kembali menyapa, ketika tidak ada suara yang berbicara. Devita menatap ke layar panggilan itu terputus.


"Siapa yang menghubungiku? Kenapa tidak ada suara?" gumam Devita.


"Kau sudah bangun, sayang?" Brayen yang berdiri di ambang pintu, dia langsung masuk kedalam kamar mendekat ke arah Devita, lalu duduk tepat di samping istrinya.


"Brayen? Kau darimana saja?" tanya Devita saat Brayen sudah di duduk di sampingnya.


"Aku tadi bertemu dengan, Albert." Brayen mengecup kening Devita.


Suara dering ponsel Devita, kembali berdering. Devita mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Dia menatap ke layar, dia mengerutkan keningnya, nomor tidak di kenal yang sebelumnya menghubungi dirinya, kembali menghubunginya.


"Siapa yang menghubungimu?" tanya Brayen, dia menatap Devita yang hanya diam dan tidak menjawab teleponnya.


"Aku tidak tahu, sebelumnya nomor ini menghubungiku, tapi tidak ada suara. Mungkin hanya salah sambung saja." jawab Devita.


Suara dering ponsel tidak henti berdering. Brayen langsung mengambil ponsel Devita yang berada di genggamannya. Tanpa menunggu lama, Brayen langsung menjawab panggilan telepon itu.


"Kau siapa?" Brayen menjawab dengan nada dingin saat panggilannya terhubung.


"Hallo?" seru Brayen yang mulai emosi. Pasalnya, panggilannya tetap terhubung tapi tidak ada suara yang berbicara. Hingga akhirnya, Brayen langsung mematikan sambungan telepon itu.


"Mungkin hanya salah sambung, sayang." Devita mengelus lengan Brayen. Menenangkan suaminya itu untuk tidak kesal.


...***********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.