
"Kenapa kau itu mudah sekali memaafkannya!" Brayen melayangkan tatapan dingin pada istrinya.
"Brayen, aku tidak apa - apa kau lihat sendiri bukan? Aku juga tidak terjatuh. Beruntung tadi aku berpegangan dengan Laretta." kata Devita yang kembali berusaha untuk menenangkan suaminya itu.
Brayen membuang napas kasar lalu mengalihkan pandangannya menatap Laretta. "Hubungi Dokter Keira, aku harus kembali ke Hotel. Katakan pada Dokter Keira, dia harus datang menemuiku ketika aku sudah sampai di hotel."
Laretta mengangguk patuh. "Iya Kak, aku akan segera menghubungi Dokter Keira."
Devita mendesah pelan, "Brayen, aku tidak apa-apa."
"Biar Dokter yang memeriksamu!" Tukas Brayen, di langsung menarik tangan Devita meninggalkan kasino. Bahkan Brayen tidak menunggu Felix dan Angkasa yang tengah bermain kasino.
Laretta menggeleng pelan, dia sudah tahu ini pasti akan terjadi. Laretta tahu, Kakaknya itu begitu overprotektif pada istrinya.
...***...
Di satu sisi lain, orang yang hampir mendorong Devita sekarang berada di sebuah ruangan di sekitar kasino untuk bertemu dengan seorang wanita cantik yang terlihat begitu marah padanya.
"Kerja enggak becus! Apa yang ada dalam otakmu itu? Hah!" Bentak kemarahan seorang wanita cantik tersebut, "Hanya untuk mendorong perempuan hamil itu sampai terjatuh saja kamu nggak bisa!" Sambung wanita cantik itu.
"Maafkan saya Nona! Sebenarnya tadi saya hampir berhasil, kalau bukan wanita hamil itu berpegangan pada temannya itu."
"AAKKKHHHH,...... DEVITA AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU!!" Teriak wanita itu dengan keras. "Kita lihat saja, Devita! Aku pasti akan datang lagi untuk membunuhmu!" Sambung wanita cantik masih dengan kemarahan yang sama.
...***...
Devita melirik ke arah wajah Brayen yang terlihat begitu marah. Sejak dalam perjalanan menuju ke arah hotel, Brayen hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Padahal Devita tidak terjatuh, tapi Brayen benar - benar berlebihan.
Saat Brayen sudah tiba di depan kamar hotel, Dokter Keira menundukkan kepalanya melihat Brayen dan Devita yang sudah berada di hadapannya.
"Tuan Brayen, Nyonya Devita." sapa Dokter Keira.
"Periksa istriku, tadi Istriku hampir jatuh. Dan pastikan agar kandungan istriku tetap sehat dan tidak terjadi masalah pada istri dan juga anakku," tukas Brayen dingin.
Dokter Keira mengangguk patuh. "Baik Tuan Brayen."
Devita membuang napas kasar, dia sudah kehilangan kata - kata. Dengan terpaksa Devita melangkah masuk kedalam kamar. Kini Dokter Keira langsung memeriksa kandungan Devita.
Tidak lama kemudian, setelah pemeriksaan Dokter Keira melangkah menghampiri Brayen bersama dengan Devita.
"Bagaimana keadaan istriku?" Brayen sudah lebih dulu bertanya sebelum Dokter Keira menjelaskan.
"Kandungan Nyonya Devita baik - baik saja, Tuan. Tidak perlu di khawatirkan. Selama ini Nyonya Devita selalu mengkonsumsi obat penguat kandungan dan vitaminnya. Nyonya juga selalu memperhatikan asupan makanan yang dia makan."jelas Dokter Keira.
"Dokter Keira, kau boleh kembali ke kamarmu sekarang," kata Devita yang sudah terlebih dulu memotong percakapan Dokter Keira dan Brayen.
"Baik Nyonya. Kalau begitu saya permisi." ucap Dokter Keira menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Devita dan juga Brayen.
"Kau lihat Brayen, aku dan kandunganku itu baik - baik saja! Kau ini berlebihan sekali! Bahkan kita meninggalkan Olivia, Felix, Laretta dan juga Angkasa di sana!" Dengus Devita kesal.
"Mereka tahu jalan kembali ke hotel, tidak perlu mencemaskan mereka," balas Brayen. Dia melangkah mendekat ke arah Devita. Menangkup kedua pipi istrinya dan memberikan kecupan di bibir Devita.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu," Brayen menempelkan keningnya pada kening Devita.
Devita menghela nafas dalam, Brayen memang sangat berlebihan. Padahal dirinya tidak sampai terjatuh. Jika tadi benar, dirinya sampai terjatuh. Dia yakin, Brayen akan menghabisi pelayan yang membuatnya terjatuh itu.
"Aku tidak apa - apa, Brayen." ucap Devita.
Brayen menarik Devita dan membawanya kedalam pelukannya. "Aku sudah bisa tenang, kalau dokter sudah memeriksamu."
"Ya," Brayen menarik dagu Devita, dia mencium dan ******* lembut bibir Istrinya. "Kau ganti bajumu, setelah itu beristirahat. Kau pasti lelah."
Devita mengagguk pelan, lalu berjalan menuju koper dan mengambil gaun tidurnya. Setelah berganti pakaian dan menghapus make up di wajahnya, Devita langsung melangkah menuju ke arah ranjang. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Satu hari ini, Devita memang sangat lelah, berbelanja bersama Olivia dan juga Laretta.
Brayen menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya. Perlahan Devita pun mulai memejamkan matanya. Brayen mengusap lembut pipi Devita. Dia juga memberikan kecupan di bibir, dan hidung istrinya itu. Melihat istrinya sudah terlelap, Brayen beranjak dan berjalan ke arah kamar mandi. Brayen memilih untuk membersihkan diri sebelum membaringkan tubuhnya.
...***...
Devita mulai terlelap dalam tidurnya, namun perlahan dia mulai menggeliat dan membuka matanya. Devita terbangun karena mulai merasakan lapar. Devita mengerjap, di mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan menatap ke layar, sekarang sudah pukul dua belas malam.
Devita menoleh ke arah Brayen yang masih tertidur sambil memeluknya. Devita pun tidak tega untuk membangunkan Brayen, tapi dia itu sangat lapar dan tidak mungkin dia menahannya.
"Brayen bangun, aku lapar.." Devita menggoyangkan bahu Brayen, namun suaminya itu masih tetap memejamkan matanya.
Devita mendengus kesal, karena suaminya itu masih memejamkan matanya dan tidak juga bangun. Padahal, biasanya Brayen menghina Devita yang jika tidur seperti tidak akan pernah bangun lagi. Ternyata sama saja, Brayen juga tidak langsung bangun.
"Brayen bangun, aku lapar..." Devita mencoba kembali untuk membangunkan Brayen. Dan hasilnya pun masih sama, suaminya itu masih memejamkan matanya.
"Brayen bangun! Aku lapar!" Suara Devita sedikit berteriak, dia tidak memiliki cara lain selain berteriak memanggil suaminya itu.
Brayen mengumpat di dalam hati mendengar suara teriakan istrinya itu. Dia pun langsung membuka matanya kesal dan melayangkan tatapan dingin pada Devita yang kini memasang senyum manis untuknya.
"Devita, apa kau tahu? Ini masih malam!" Seru Brayen.
Devita mencebik, "Tapi aku sangat lapar Brayen! Aku dari tadi membangunkanmu tapi kau tidak juga bangun!"
Brayen membuang napas kasar, dia langsung bangun dan mengambil ponselnya. "Kau ingin makan apa? Aku akan meminta pelayan membawakan makanan untukmu."
"Tidak Brayen," Devita menggelengkan kepalanya, "Aku ingin kita makan di luar Brayen. Aku tidak ingin pelayan membawakan makanan untukku.
"Devita, ini sudah malam. Tidak mungkin kita makan di luar." balas Brayen.
"Tapi aku ingin makan di luar Brayen!" Devita merengut kesal.
"Kau ingin makan apa?" sebisa mungkin Brayen berusaha untuk mengatur rasa kesalnya, dia sudah melihat ponselnya sekarang ternyata sudah jam dua belas lebih.
"Aku ingin makan Rao's Meatball," jawab Devita antusias.
"Devita ini sudah tengah malam, kenapa kau ingin makan itu?" Brayen menghela nafas berat. Dia masih berusaha untuk menahan rasa kesalnya.
"Tapi aku ingin sekali makan itu, Brayen." Devita merajuk, dia mengerutkan bibirnya. Devita pun tahu ini sudah malam tapi dia sangat ingin makan Rao's Meatball.
"Aku tidak tahu, apakah ada restoran 24 jam di sekitar hotel atau tidak," balas Brayen.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.