
Tiga tahun kemudian.....
Devita turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam rumah. Ya, dirinya baru saja kembali dari perusahaan milik keluarganya. Kini Smith Group sudah berada dalam pimpinan Devita. Tentu Brayen turut membantu Devita dalam perusahaan.Sebagai anak tunggal, Devita tidak mungkin tidak menjalankan perusahaan yang telah di serahkan padanya. Edwin, ayahnya lebih banyak menghabiskan waktunya memimpin di perusahaan cabang. Edwin sudah tidak lagi memegang kendali perusahaan pusatnya. Semuanya, Edwin serahkan pada Devita dan juga Brayen.
Selama tiga tahun terakhir, Devita fokus mengembangkan perusahaan keluarganya. Begitu pun dengan Brayen, perusahaan miliknya berkembang pesat. Brayen mampu menambah puluhan ribu saham tersebar di luar negeri. Namun, meski Brayen dan juga Devita sama - sama di sibukkan dengan urusan perusahaan, Devita akan selalu pulang kerumahnya setiap jam tiga sore. Karena itu adalah aturan dari Brayen. Brayen memperbolehkan Devita untuk bekerja, namun tidak lebih dari jam tiga sore.
Nagita, asisten Devita yang kini lebih banyak membantu Devita dalam masalah perusahaan. Biasanya, jika Devita sudah pulang lebih awal, Devita menyerahkan tugas itu pada Nagita. Sejak awal, Devita selalu meyakinkan pada Brayen bahwa anak mereka akan menjadi prioritas yang utama.
Saat Devita melangkah masuk kedalam rumah, dia mendengar suara keributan dari dalam. Dengan cepat, Devita berlari masuk ke dalam rumah.
"Vania.... Sean.... Ada apa ini sayang?" tanya Devita dengan suara yang lembut. Dia menatap Vania yang menangis, sedangkan Sean duduk tenang dengan robot yang ada di tangannya.
"Bibi Devita, kenapa Sean tidak mau bermain boneka barbie denganku? Apa barbieku tidak bagus?" ucap Vania dengan suara polosnya.
Devita mendesah pelan, dia melirik Sean yang terus bermain robot. Vania Nakamura Grace, anak Laretta dan Angkasa telah di titipkan pada Brayen dan juga Devita. Saat ini Laretta tengah menemani Angkasa melakukan perjalanan bisnis ke negara A. Awalnya mereka mengajak Vania, tapi putri mereka tidak mau. Vania selalu mengatakan tidak ingin jauh dari Sean. Sejak dulu, Vania menyukai dekat dengan Sean. Dia selalu mengajak Sean bermain barbie, namun tentu saja Sean hanya melihat, karena Sean selalu bermain dengan robot pemberian Ayahnya.
"Vania, sayang... Kak Sean itu laki - laki, jadi dia bermain dengan robotnya." Devita mendekat, dia mengelus pipi gemuk Vania.
"Jadi, laki - laki tidak bisa bermain barbie ya, Bibi?" tanya Vania dengan suara polosnya.
"Tidak sayang, Barbie hanya untuk perempuan." jawab Devita sembari memberikan kecupan di pipi gemuk Vania.
Kemudian, tatapan Devita teralih menatap putranya yang sedang asyiknya bermain dengan robot. "Sean, sayang come to Mommy."
"Iya Mommy, Sean mendekat. Dia langsung memeluk Devita.
"Jika adikmu, Vania menangis kau harus menenangkannya ya, sayang? Okey boy?" Devita mengecup pipi Sean gemas.
"Tapi, Vania selalu memaksaku bermain barbie, Mommy. I don't want it! It's not cool!" Seru Sean dengan wajah angkuhnya.
Devita mengulum senyumannya, Sean benar - benar sangat mirip dengan Brayen. Devita langsung banyak memberikan kecupan di pipi putranya gemas. "Kau sangat tampan, sayang."
"Ya, Mommy. Aku tampan seperti Daddy." jawab Sean dengan bangga.
"Seperti Daddy? Kenapa tidak seperti Mommy?" Devita memincingkan matanya dia menggoda putranya itu.
"No, Mommy. Mommy itu cantik dan bukan tampan. Jadi aku mirip Daddy." ucap Sean dengan senyuman yang memperlihatkan gigi putihnya.
Devita tersenyum, kemudian tatapannya kembali menatap Vania. "Vania, sayang. Kemarilah...."
Vania menurut dan dia mendekat langsung memeluk Devita. "Bibi Devita, apa ketika aku dewasa nanti akan secantik Bibi?"
"Kau akan jauh lebih cantik dari Bibi, sayang." ucap Devita sembari mengelus rambut pirang Vania.
"Ada apa ini?" Brayen yang baru saja pulang, dia berdiri di ambang pintu mendapati Sean, Vania dan istrinya seperti tengah membahas sesuatu.
"Daddy...." Sean langsung berlari menghampiri Brayen dan langsung memeluk erat Brayen.
"Uncle...." Begitu pun dengan Vania yang berlari menghampiri Brayen dan memeluk Pamannya itu.
Seperti biasa, Brayen langsung menggendong Sean dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menggedong Vania. Baik Sean dan Vania langsung memeluk erat leher Brayen.
Devita mengulum senyumannya. Putra dan keponakannya itu memang sangat manja dengan Brayen.
"Brayen, kau pulang cepat hari ini." Devita mendekat, dan dia berjinjit mengecup bibir Brayen.
Brayen mengangguk. "Iya sayang, apa kau sudah mempersiapkan semuanya untuk besok?"
"Daddy, besok kita jadi kan pergi ke negara M untuk bertemu Paman Felix dan Bibi Olivia?" tanya Sean dengan begitu antusias.
"Uncle, aku juga akan ikut, kan?" Vania mengerutkan bibirnya.
"Kau juga ikut, Vania." Brayen kini mengecup pipi gemuk Vania.
Selama tiga tahun ini, Felix dan Olivia memutuskan untuk menetap di negara M. Seharusnya tahun ini, adalah tahun terakhir mereka tinggal di negara M. Tapi karena Devita dan Brayen ingin mengajak Sean dan juga Vania berlibur ke negara M, itu yang membuat Felix menunda kepulangan mereka.
"Brayen, apa nanti Angkasa dan juga Laretta akan menyusul ke negara M?" tanya Devita sambil menatap Brayen.
"Aku sudah menghubungi Angkasa, harusnya malam ini dia sudah lebih dulu berangkat." jawab Brayen.
Devita mengangguk. "Sean, Vania kalian makan dulu. Bibi Syifa akan menemani kalian makan."
Sean dan Vania menurut. Brayen menurunkan Sean dan Vania, kemudian Syifa langsung membawa Sean dan Vania. Setelah melihat Sean dan Vania pergi. Devita langsung memeluk lengan Brayen, membawa suaminya itu untuk masuk kedalam kamar.
Saat tiba di dalam kamar, Devita membantu suaminya melepaskan dasi dan juga jas. Lalu, meletakkannya ke tempat pakaian kotor. Kini mereka berdua duduk di sofa.
"Brayen, berapa lama kita akan ke negara M?" tanya Devita sambil mengelus rahang Brayen.
"Mungkin dua minggu." Brayen mengecup bibir Devita. "Kenapa? Apa kau punya banyak pekerjaan?"
"Tidak, aku sudah menyerahkan semua pekerjaanku pada Nagita. Nanti dia yang akan melaporkannya padaku." Devita membenamkan wajahnya dalam pelukan suaminya. "Brayen, aku sungguh sangat mengagumi Felix. Dia menunggu Olivia hingga selama ini. Bahkan aku belum mendengar kabar mereka akan menikah."
Brayen mengelus rambut Devita, dia mengecup puncak kepala istrinya. "Ya, dia benar-benar mencintai Olivia, dia memang harus berjuang meski harus menunggu lama."
Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen, lalu menatap suaminya itu. "Apa kau juga akan menungguku seperti Felix yang menunggu Olivia?"
Brayen menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sanggup menunggumu selama itu."
Devita mendengus, dia menatap Brayen kesal. "Kau sama saja tidak mencintaiku!"
Brayen mengulum senyumannya, dia menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya. "Aku akan memaksamu berada di sisiku. Aku bukan Felix yang tetap menunggu. Tapi aku tetap Brayen, yang akan memaksamu dirimu. Jika kau pergi dariku, maka aku akan menarikmu kembali padaku. Aku tidak akan pernah sedikitpun, membiarkanmu berpikir untuk meninggalkanku. Kau tahu sayang, dengan atau tanpa persetujuan darimu, kau adalah milikku."
Devita menggigit bibir bawahnya, Devita tersenyum mendengar ucapan suaminya. Kemudian Devita mendekatkan bibirnya ke bibir Brayen dan berbisik. "Tanpa kau harus memaksa, aku juga tidak sanggup berpisah darimu. Aku ingin selalu berada di sisimu."
Brayen langsung menangkup kedua pipi Devita, lalu ******* dengan lembut bibir istrinya itu. "Sayang, sepertinya sudah saatnya Sean memilki adik. Aku ingin kita memiliki anak perempuan."
Devita mencebikkan bibirnya, "Nanti Brayen, kau tidak lihat, Sean saja masih begitu ingin di manja olehmu."
"Aku tetap akan memanjakan putraku, meski nantinya kita akan memiliki anak lagi." jawab Brayen sembari mengecup bibir Devita.
Devita mendengus. "Sudahlah,aku ingin berendam saja."
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.