Love And Contract

Love And Contract
Menerima Takdir



"Jadi bagaimana keadaan kekasihku? Apa kondisinya sekarang sudah membaik?" tanya Felix yang masih cemas dan khawatir.


"Kondisi Nona Olivia memang saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Rahim Nona Olivia masih bisa di selamatkan. Dan Nona Olivia juga bisa melakukan pengobatan untuk rahimnya." jawab sang Dokter.


Felix tersenyum. "Terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi," kemudian Dokter itu meninggalkan Felix.


Mendengar perkataan Dokter, Felix bisa bernafas dengan lega. Setidaknya, Olivia masih bisa memiliki keturunan. Meski itu hanya kemungkinan kecil. Tapi Felix yakin, Olivia akan bisa memiliki keturunan.


Felix membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah masuk kedalam ruang rawat Olivia. Namun, saat Felix melangkah masuk, dia mendengar ada suara Devita yang memanggil namanya.


"Felix." suara Devita berteriak memanggil Felix.


Felix menoleh dan menatap Devita dan Brayen mendekat ke arahnya. "Devita? Kau masih di sini? Aku dengar, kau sudah di perbolehkan untuk pulang."


"Ya, aku sudah boleh pulang. Tapi aku ingin bertemu dengan Olivia sebelum aku pulang." balas Devita.


"Baiklah, kalau begitu kita masuk ke dalam. Olivia pasti akan senang melihatmu." kata Felix. Devita mengangguk. Lalu mereka masuk ke dalam ruang rawat Olivia.


"Devita, kau di sini?" Olivia sedikit terkejut. Devita kini berada di ruang rawatnya. Karena sebelumnya Olivia mendengar Devita sudah di perbolehkan untuk pulang.


"Ya, aku di sini. Aku ingin melihatmu sebelum pulang." balas Devita.


"Brayen, Felix? Bisa kalian tinggalkan aku berdua dengan Olivia?" pinta Devita.


"Ya, aku menunggumu di depan." Brayen mengecup kening Devita dan langsung melangkah keluar.


"Olivia, aku diuar." ucap Felix. Olivia mengangguk pelan.


Melihat Felix dan Brayen sudah pergi. Olivia menoleh ke arah Devita yang berada di sampingnya. "Aku senang kau sudah sehat Devita."


"Aku juga senang melihatmu sudah lebih baik Olivia." balas Devita. "Kau tahu? Selama kau sakit, Felix selalu menunggumu. Dia sungguh mencintaimu, Olivia. Aku bisa melihat itu."


Olivia tersenyum, "Aku tahu Devita. Aku bisa melihatnya sendiri. Felix sangat tulus dan begitu mencintaiku. Aku sungguh beruntung memilikinya."


"Tidak hanya kau yang beruntung. Felix juga beruntung memilikimu." Devita menyentuh tangan Olivia dan menatap sahabatnya itu. "Olivia, aku ingin memberitahumu sesuatu."


"Ada apa, Devita?" Olivia mengernyitkan dahinya.


"Sebentar lagi kau akan memiliki keponakan." Devita mengelus dengan lembut perutnya.


Olivia tersentak. "Kau hamil?"


"Ya, aku hamil." Devita tersenyum. "Anakku ini, akan menjadi anakmu juga Olivia. Kau ingat bukan? Saat kita dulu masih sekolah, kau meminta padaku, jika aku memiliki anak, dia harus memanggilmu, Mama."


"Benarkah? Kau mengizinkannya, Devita?" senyum di bibir Olivia terukir, saat mendengar ucapan Devita.


"Tentu, aku pasti mengizinkannya." balas Devita antusias. "Cepatlah sembuh Olivia, temani aku. Aku ingin kau menemaniku. Terlebih sebentar lagi kita akan lulus. Pasti nanti kita akan jarang bersama, karena kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu dan begitu pun denganku"


"Tidak Devita, meski kita lulus kuliah. Aku ingin terus selalu bersama denganmu. Kau tenang saja, aku akan melamar di perusahaan Felix atau perusahaan milik suamimu. Ingat, kalau aku ingin bekerja di perusahaan suamimu, kau harus membantuku. Kau sangat tahu sifat suamimu itu," ujar Olivia mengingat sifat keras yang di miliki oleh Brayen.


Devita terkekeh, "Kau tenang saja. Aku akan membujuk Brayen. Kau tidak perlu cemas.".


"Sungguh, aku tidak sabar dengan kelahiran anakmu, nanti." ucap Olivia. "Andai aku bisa hamil, aku pasti akan sangat bahagia." lanjutnya dengan wajah yang kini berubah menjadi lebih muram.


Devita terkesiap mendengar ucapan Olivia. Dia tidak tahu, jika Olivia sudah mengetahui tentang kesehatannya sendiri. Olivia menatap Devita yang terlihat begitu terkejut.


"Aku tidak apa - apa, Devita. Aku sudah dengar jika rahimku masih bisa di selamatkan. Aku hanya bisa berdoa, agar suatu saat nanti aku bisa di berikan keturunan." Olivia menyentuh tangan Devita. "Jangan pernah salahkan dirimu, Devita. Karena aku melakukan semua ini dari hatiku. Melihatmu bahagia, aku juga ikut bahagia Devita."


Devita terdiam mendengar ucapan dari Olivia. Dia langsung menatap lembut sahabatnya itu. "Aku yakin kau pasti bisa hamil Olivia. Kau tidak perlu khawatir, orang baik sepertimu pasti memiliki kehidupan yang sangat sempurna.".


"Sekarang, lebih baik kau fokus pada kesehatanmu, Olivia. Aku tidak ingin kau memikirkan apapun. Percayalah, kau akan memiliki kehidupan yang sangat bahagia." lanjut Devita meyakinkan Olivia.


Olivia mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Aku berharap demikian."


...***...


Laretta menatap chef Della yang tengah menata makanan di atas meja makan. Hari itu Laretta tahu, Devita sudah di perbolehkan untuk pulang. Laretta sengaja tidak menjemput karena menyiapkan menu makanan Indonesia untuk Devita. Tidak hanya makanan asal Indonesia, tetapi hidangan asal Italy dan French juga Laretta siapkan untuk Brayen dan juga Angkasa. Karena memang Laretta tahu, Brayen tidak menyukai makanan Indonesia yang terkenal pedas itu. Hanya beberapa menu masakan Indonesia yang di sukai oleh Brayen. Sedangkan untuk Angkasa, Laretta mengetahui jika Angkasa sangat menyukai French cuisine.


"Nona Laretta, apa Nona ingin memesan tambahan menu? Jika ada, saya akan menyiapkannya." tanya chef Della, yang baru saja menghidangkan makanan di atas meja.


"Tidak, aku rasa ini sudah cukup." jawab Laretta.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Chef Della menunduk lalu undur diri dari hadapan Laretta.


Tanpa Laretta sadari, Angkasa sudah berdiri di depan pintu dan terus menatap dirinya. Angkasa tersenyum, kini melihat tubuh Laretta yang terlihat mulai berisi. Wanita itu, bahkan jauh lebih cantik dari sebelumnya. Angkasa kini melangkah mendekat ke arah Laretta


"Apa aku menganggumu?" suara Angkasa dari arah belakang membuat Laretta terkejut. Laretta membalikkan tubuhnya dan menatap Angkasa yang sudah berada di hadapannya.


"Kau mengejutkanku!" Seru Laretta.


"Maaf, karena tadi kau begitu serius memperhatikan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja." kata Angkasa.


"Aku juga minta maaf karena tidak melihat kau datang." balas Laretta. "Ya sudah, lebih baik kita duduk di depan sambil menunggu Devita dan Kakakku datang." Laretta langsung memeluk lengan Angkasa dan membawa Angkasa meninggalkan ruang makan. Angkasa mengangguk dan tersenyum melihat Laretta kini memeluk lengannya.


"Bagaimana kandunganmu, Laretta?" tanya Angkasa. Saat dia dan Angkasa sudah berada di ruang keluarga.


"Baik Angkasa. Kakakku Brayen selalu meminta Dokter untuk memeriksa kandunganku ketika aku menjaga Devita." jawab Laretta.


"Nanti selanjutnya, biar aku yang menemanimu menemui Dokter kandungan." ujar Angkasa.


Laretta mengangguk setuju. "Aku senang, kalau kau mau menemaniku."


"Laretta, ada yang ingin aku tanyakan?" Angkasa menatap serius Laretta yang duduk di hadapannya.


"Ada apa?" Laretta mengernyitkan dahinya, menatap bingung ke arah Angkasa yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu yang serius.


"Aku dengar kesehatan orang tuamu sudah mulai membaik. Apa besok kita bisa menemui kedua orang tuamu?"


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.