
Melihat Brayen yang sudah selesai mandi, Devita langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.Devita, terburu - buru, karena Devita tidak ingin Brayen mengetahui dirinya yang sejak tadi sudah memperhatikannya. Jika Brayen tahu, itu sama saja membuat pria itu percaya diri.
Saat tiba di dalam kamar mandi Devita mengatur napasnya. Jantungnya berdegup dengan kencang ketika melihat Brayen tadi.Devita segera memilih untuk berendam. Kini Devita mulai menanggalkan pakaiannya. Namun, langkah kaki Devita tiba - tiba terpeleset dengan lantai yang licin.
Brak.
"Awww..." jerit Devita keras.
Brayen yang ada di luar ruangan langsung berlari ke arah kamar mandi. Tatapan Brayen menatap Devita yang tersungkur di lantai hanya memakai bra dan panty. Brayen menelan salivanya. Dia melihat dengan jelas tubuh Devita yang sangat indah. Kulit Devita yang putih mulus terlihat jelas di mata Brayen.
"B...Brayen kenapa kamu kesini?" cicit Devita, tangannya langsung menutup bagian dadanya.
Brayen segera menepis itu dari pikirannya. " Bodoh! Kau menjerit sangat kencang! Bagaimana bisa aku tidak menghampirimu!" Balas Brayen dingin.
Brayen melangkah mendekat ke arah Devita. Dia melihat kaki Devita yang sedikit memar kemudian berkata, " Apa kau tidak bisa sedikit berhati - hati?"
"Aku juga tidak ingin terjatuh Brayen!" Cebik Devita kesal.
"Tunggulah, aku akan meminta pelayan untuk membantumu mandi," ucap Brayen. Kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi pelayan wanita untuk membantu Devita membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, dua wanita paruh baya datang dan berjalan menghampiri Devita dan juga Brayen.
"Kau bantu Istriku untuk membersihkan diri." perintah Brayen kepada kedua pelayan itu.
Pelayan itu mengangguk patuh dan berkata, "Baik Tuan,"
Ketika pelayan membantu Devita, Brayen langsung berjalan meninggalkan kamar mandi.
Satu jam kemudian, Devita sudah selesai membersihkan diri. Devita juga sudah mengganti pakaian dengan gaun tidur. Devita memakai gaun tidur berwarna navy tanpa lengan dengan bahan sutra. Gaun yang sangat nyaman, dan warna gaun yang sangat kontras dengan kulit putih milik Devita. Gaun tidur yang di belikan oleh Brayen. Karena sebelumnya walk in closet Devita penuh dengan lingerie. Tidak mungkin Devita memakai lingerie di hadapan Brayen. Itu sama saja seperti tidak memakai baju.
Brayen yang tengah duduk di sofa tengah menaikkan sebelah alisnya, ketika Devita berjalan keluar sudah mengganti bajunya. Brayen membuang napas kasar saat melihat cara berjalan Devita. Mau tidak mau Brayen harus membantu Devita, karena memar di kaki Devita cukup parah, hingga membuat wanita itu kesulitan untuk berjalan. Brayen beranjak dari tempat duduknya, dia langsung menghampiri Devita dan membopong tubuh istri kecilnya itu.
"B...Brayen kenapa kau menggendongku?" tanya Devita gugup.
"Jangan melontarkan pertanyaan bodohmu! Aku malas melihatmu berjalan lama menuju ranjang!" Jawab Brayen dingin. Dia langsung membaringkan tubuh Devita di atas ranjang.
Devita mencebik. "Ya terima kasih,"
"Bagaimana hari pertamamu magang?" tanya Brayen yang kini sudah membaringkan tubuhnya di samping Devita.
"Semuanya baik. Ternyata CEO di Dixon's Group adalah William." jawab Devita sambil tersenyum.
"Aku tahu! Jadi, kau jangan terlalu dekat dengannya!" Peringat Brayen.
Devita mendengus, " Memangnya kenapa? Dia sangat baik Brayen. Aku tidak mengerti kenapa kau tidak menyukai William "
"Aku tidak mau ada pemberitaan mengenai dirimu dan William. Jika sampai ada skandal di antara kalian berdua, aku akan menghabisi kalian berdua dengan tanganku sendiri!" Desis Brayen tajam.
Devita menelan salivanya susah payah setelah mendengar ancaman dari Brayen. " Tenanglah Brayen. Aku tidak akan pernah tertarik dengan William. Aku hanya menganggapnya teman saja. Lagi pula, dia pemilik perusahaan di tempatku magang. Hubunganku dengan dia, hanya sebatas atasan dan juga bawahan saja."
"Bagus, kalau kau sudah memiliki pemikiran seperti itu," balas Brayen. " Sekarang katakan padaku, apa rencanamu setelah lulus? Apa kau jadi membuka perusahaan event organizer?"
Devita mengedikkan bahunya dan berkata, "Aku tidak tahu, aku belum memastikannya. Aku takut, semua keinginanku akan berubah."
Devita mendesah pelayan, " Ya baiklah, aku akan memikirkannya."
...****...
Pagi hari Devita, sudah bersiap - siap memilih pakaian dengan memakai mini dress berwarna maroon lengan pendek di padukan dengan wedges berwarna cream yang membuat kaki jenjangnya semakin indah.
Setelah selesai berias, Devita sebenarnya ingin terlebih dahulu ke ruang makan. Tetapi dia memutuskan untuk ke walk in closet milik Brayen, karena sejak tadi Brayen belum juga selesai.
Saat Devita tiba di walk in closet milik Brayen. Devita menatap Brayen tengah mengencangkan kemejanya. Pria yang telah menjadi suaminya itu, masih belum memilih dasi dan juga arloji.
Tidak ingin menunggu lama, Devita langsung berjalan masuk. Dia memilihkan dasi dan juga arloji untuk Brayen. Pilihan Devita jatuh pada dasi berwarna navy dan arloji merk Rolex Silver. Seketika Brayen terkejut melihat Devita membantunya memakaikan dasi.
Dalam hidup Brayen. Ini pertama kalinya ada seorang wanita yang memasangkan dasi untuknya. Elena kekasihnya saja tidak pernah memakaikan dasi untuknya. Biasanya jika Brayen tidur bersama dengan Elena dan Brayen ingin pergi ke kantor, maka Brayen sendiri yang akan mempersiapkan dirinya.
"Selesai," ucap Devita yang sudah memakaikan dasi untuk Brayen. Brayen tidak bergeming dia masih menatap Devita yang baru saja selesai membantunya untuk memakaikan dasi.
"Ayo Brayen, kita sarapan. Aku membantumu untuk mempercepat waktu. Sekarang aku sudah sangat lapar." seru Devita sembari menarik tangan Brayen.
"Hemm.." Brayen pun berjalan mengikuti Devita menuju ke arah ruang makan.
Saat sampai di ruang makan, Devita langsung memilih sandwich dan juga susu kacang. Sedangkan Brayen, lebih memilih roti gandum dengan kopi espresso.
"Devita, hari ini kau tidak perlu bawa mobil," kata Brayen sambil menyesap kopinya. Tatapan matanya masih menatap koran yang tengah ia baca.
Devita mengalihkan pandangannya lalu menatap Brayen. " Kalau aku tidak bawa mobil, berarti aku harus naik taksi?"
"Tidak. Aku akan mengatarmu." jawab Brayen datar.
"Kenapa kau yang mengatarku? Dixon' s Group dan arah perusahaanmu berbeda arah. Apa kau tidak takut terlambat?" tanya Devita yang menghkawatirkan Brayen. Dia tidak ingin Brayen terlambat datang ke kantor.
"Kau ini bodoh atau apa! Jelas - jelas aku adalah pemilik perusahaan.Aku bisa datang kapanpun yang aku inginkan," tukas Brayen dingin.
"Meskipun kau ini pemilik perusahaan, kau seharusnya memberikan contoh yang baik pada para karyawanmu!" Devita mendengus kesal, " "Lagi pula, ada hal apa kau mengantarkanku ke tempat magang?"
"Aku harus bertemu dengan William Dixon." ucap Brayen sambil menyesap kembali kopinya. Tatapannya kembali tidak melihat
ke arah Devita. Meski sejak tadi Devita selalu menatap ke arahnya.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.