
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar. Devita kini tengah menatap ke cermin. Memoles wajahnya dengan makeup tipis. Tadi pagi, Brayen sudah lebih dulu berangkat ke kantor. Sejak tadi malam, Brayen juga tidak berbicara dengannya. Saat Devita berusaha untuk mengajaknya untuk berbicara, Brayen memilih untuk langsung diam dan tidur. Hingga di pagi hari, Brayen berangkat ke kantor tanpa meninggalkan note yang biasa Brayen lakukan jika lebih dulu berangkat.
Devita mengambil tas dan ponselnya di atas meja rias, dia berjalan meninggalkan kamar menuju ke ruangan makan. Sesekali Devita melirik ke layar ponsel tapi tidak ada satupun pesan dari Brayen. Padahal tadi malam Devita sudah meminta maaf padanya.
"Morning Devita," sapa Laretta, saat melihat Devita melangkah masuk kedalam ruang makan.
"Morning," balas Laretta, dia langsung duduk di hadapan Laretta. Kemudian pelayan mengantarkan tenderloin steak dan tomato juice untuknya.
"Devita apa kau sedang sakit?" tanya Laretta yang sejak tadi melihat wajah Devita yang terlihat pucat.
"Tidak. Mungkin aku terlalu lelah, Laretta. Belakangan ini banyak tugas kuliah yang aku kerjakan." jawab Devita.
Laretta pun mengangguk paham. " Dulu saat aku masih kuliah juga seperti itu. Nikmatilah Devita, terlebih kau sebentar lagi lulus kuliah. Saat kau lulus kuliah nanti, pasti kau akan sangat merindukan masa kuliahmu."
"Kau benar, seperti sekarang aku juga sangat merindukan masa SMA ku." balas Devita mengulum senyumannya.
Laretta tersenyum, " Lalu bagaimana dengan skripsimu? Apa sudah selesai?"
"Lebih tepatnya sudah hampir selesai, hanya tinggal di Bab akhir yang masih belum selesai. Tapi aku yakin, bulan ini akan segera selesai. Aku ingin segera lulus kuliah." Devita menyesap tomato juice yang tadi di bawakan oleh pelayan, lalu mengambilkan gelas yang dia pegang itu ke tempat semula.
"Kalau begitu, kau akan benar - benar sibuk Devita. Karena dulu saat aku skripsi, aku sungguh di buat pusing dengan banyaknya penelitian yang harus aku kerjakan." kata Laretta yang kembali mengingat masa kuliahnya dulu. Jika di ingatkan membuat Laretta selalu tersenyum, karena dia sangat berbeda dengan Kakaknya.
"Ya, kau benar. Aku yakin aku akan di buat pusing dengan semua masalah skripsiku," balas Devita yang membenarkan perkataan Laretta. Karena memang semenjak Devita menyusun skripsi, waktunya banyak tersita.
"Oh ya Devita, tadi pagi saat aku selesai berolahraga. Aku sudah melihat Kakakku lebih dulu berangkat. Saat aku menyapanya, dia sama sekali tidak menjawabku. Aku lihat di wajahnya sepertinya memiliki banyak sekali masalah. Apa dia bercerita padamu?" tanya Laretta yang sudah sejak tadi pagi saat melihat Brayen, dia sangat penasaran. Tidak biasanya raut wajah Brayen terlihat jelas memiliki masalah.
Devita mendesah pelan. " Aku sedikit bertengkar dengannya. Selain itu juga dia memiliki masalah di perusahaannya. Aku pun tidak tahu, masalah apa, tapi saat aku mendengar percakapan antara Albert dan juga Brayen. Albert mengatakan tentang kabar di media. Aku belum melihat berita dari sejak sejak kemarin. Jadi, aku belum tahu, lagi pula kau tahu terkadang pemberitaan di media itu tidak benar."
"Berita di media?" Laretta mengernyitkan dahinya, dia langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan mencari berita utama di internet. Saat Laretta menemukan satu artikel, Laretta kembali menatap berita itu, dia menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat ini.
"Devita lihat ini." Laretta menyerahkan ponsel yang ada di tangannya pada Devita. Kemudian Devita mengambil ponsel milik Laretta itu, kini Devita menatap berita yang ada di internet. Seketika Devita terkesiap dengan berita yang baru saja dia lihat ini. Devita meletakkan ponsel itu di atas meja. Menatap kosong dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Laretta, ini pasti bohong kan. Tidak mungkin Brayen melakukan pencucian uang. Lagi pula untuk apa? Brayen sudah sangat kaya. Tidak mungkin Brayen melakukan itu semua."Devita masih tetap tidak akan percaya. Karena dia sangat yakin, suaminya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Devita memang mendengar pencucian uang yang Brayen lontarkan amarahnya kepada Albert. Tapi dia tidak mengira itu akan menjadi berita utama bahkan menjadi tranding topic hingga membuat saham perusahaan Brayen menurun akibat berita itu.
"Kau tenang saja Devita, aku yakin itu adalah berita omong kosong. Keluargaku tidak akan pernah melakukan hal yang licik. Lagi pula Daddy dan Mommyku mereka berdua sama - sama memiliki perusahaan keluarga. Mungkin kau tidak tahu, kalau Mommyku adalah salah satu pewaris dari Alfaro Enterprise. Dengan segala yang dimiliki oleh Kakakku, dia tidak akan pernah melakukan itu." Laretta berusaha untuk meyakinkan Devita agar tetap bersikap tenang. Laretta sangat tahu, itu adalah berita omong kosong yang tidak mungkin benar.
Devita tersenyum hangat, "Ya Laretta, aku juga yakin jika suamiku tidak akan seperti itu."
"Aku senang jika kau mempercayai Kakakku." Laretta sudah yakin pasti Devita akan mempercayai Kakaknya.
"Ya sudah, aku segera berangkat ke kampus." pamit Devita dan Laretta mengangguk dan tersenyum. Kemudian Devita beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar meninggalkan ruang makan menuju mobil. Beruntung tadi malam anak buah Brayen sudah mengambil mobil Devita yang terparkir di Mall.
...***...
Devita membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir kampus. Dia turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam. Langkah Devita terhenti saat di lobby, dia melihat Olivia yang sudah berdiri di hadapannya.
"Olivia? Kenapa kau di sini?" Devita menautkan alisnya saat melihat Olivia berada di lobby.
Devita tersenyum, " Sudah jangan di pikirkan. Kau bisa kembali berusaha untuk membujuk Ayahmu. Berikan sedikit waktu untuk Ayahmu. Aku yakin, dia akan mengerti dirimu, Olivia."
"Ya, kau benar." balas Olivia kemudian dia menatap lekat Devita. " Apa kau sedang sakit Devita? Kenapa kau terlihat sangat pucat? Meski kau memoles wajahmu dengan makeup seperti biasa tapi aku melihat kau tidak terlihat seperti biasanya."
"Mungkin aku hanya lelah. Kau tahu, belakangan ini aku melakukan penelitian dari beberapa perusahaan sample ternama di Indonesia sesuai permintaan dari Mr. Gerald." Devita menjelaskan alasan dirinya terlihat pucat. Karena memang belakangan ini, Devita terlalu banyak mengerjakan tugas kuliah. Menjelang lulus, Devita harus di sibukkan dengan banyaknya permintaan sang dosen.
"Aku juga sama sepertimu, sudah lebih baik kita ke kafe dan minum hot chocolate. Aku rasa pagi ini, mereka memiliki menu jenis cake." Olivia mengajak sahabatnya untuk bersantai menikmati waktu. Devita mengangguk setuju. Olivia langsung memeluk lengan Devita, berjalan meninggalkan lobby kampus.
Devita dan Olivia tidak pernah ke kafe dekat kampus menggunakan mobil. Mereka lebih suka berjalan kaki sembari mengobrol membahas masalah sekolah mereka yang sering sekali mereka bahas. Bahkan rasanya mereka tidak pernah bosan membahas masa sekolah mereka.
"Devita, aku ingin memberitahumu sesuatu." seketika Olivia baru mengingat jika dirinya ingin menceritakan sesuatu pada sahabatnya itu.
"Tentang apa?"
"Ini tentang Joshua teman sekolah kita dulu."
Devita mendesah pelan, " Ada apa dengan Joshua?"
"Apa kau tahu? Aku melihatnya di sosial media, di benar - benar sangat berubah. Dia sudah tidak lagi memakai kacamata tebal dan dia juga sudah tidak lagi gemuk. Sekarang dia terlihat sangat tampan." Olivia mengulum senyumannya. Pikirannya tertuju pada pria culun dan gemuk yang sekarang sudah menjelma menjadi pria yang sangat tampan.
Devita menggelengkan kepalanya, " Sudah jangan macam-macam! Kau membuatku semakin pusing."
"Kau ini menyebalkan sekali!" Cebik Olivia kesal. Dia mengalihkan pandangannya dari sahabatnya itu. Namun, saat Olivia mengalihkan pandangannya, dia menatap sebuah mobil pick up berkecepatan penuh ke arah dirinya. Olivia menggeleng cepat, tidak bukan ke arah dirinya tetapi ke arah Devita. Olivia terkesiap saat melihat laju mobil itu semakin cepat ke arah Devita.
"Devita awasss!!" Teriak Olivia kencang dia mendorong Devita sekuat tenaga.
Brukkk.
Devita dan Olivia terlempar jauh. Devita masih membuka matanya, dia menatap lirih Olivia yang sudah tidak sadarkan diri. Hingga akhirnya pandangan Devita mulai buram, dia tidak mampu lagi membuka matanya.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.