Love And Contract

Love And Contract
Membicarakan Masa Depan



Enam bulan kemudian....


Kandungan Devita memasuki minggu ke tiga puluh tujuh. Menjelang melahirkan, Devita lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan terkadang membantu Sean untuk belajar. Seluruh perlengkapan bayi pun telah di siapkan oleh Nadia, Ibunya dan Rena, Ibu mertuanya. Selama kehamilan ini, Devita sudah tidak lagi menyentuh pekerjaannya. Perusahaan keluarganya telah di ambil alih oleh Brayen. Tentu karena Brayen tidak ingin Devita memikirkan tentang masalah perusahaannya. Di kehamilan ini, Brayen dan juga Devita. Memutuskan untuk tidak memeriksakan jenis kelamin anak mereka. Bukan tidak ingin, tapi mereka ingin menjadikannya itu sebuah kejutan. Selain itu, di sela - sela kesibukannya, Brayen selalu banyak meluangkan waktunya untuk istri dan juga anaknya.


Brayen yang baru saja pulang dari kantor,dia langsung menuju ke arah taman. Tentu dia tahu kebiasaan sang istri yang selalu menghabiskan waktunya di taman. Kemudian Brayen melangkah mendekat ke arah istrinya yang sudah sejak tadi tidak menyadari kehadiran dirinya.


"Sayang?" panggil Brayen yang sudah berada di hadapan istrinya.


Devita mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara sang suami. Senyum di bibir Devita terukir kala melihat Brayen."Kau sudah pulang?"


Brayen mengecup kening Devita lalu duduk di samping istrinya. Devita langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Apa kau sudah makan?" tanya Brayen sambil membawa tangannya mengelus perut buncit Devita.


"Sudah Brayen. Aku sedang mengandung dua bayi, tentu kau tahu aku mudah sekali lapar. Lihatlah tubuhku ini sudah naik lima belas kilogram. Pinggangku sudah tidak lagi terlihat!" Devita mencebikkan bibirnya. Brayen mengulum senyumannya, dia menangkup kedua pipi Devita dan memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya. "Kau selalu sangat cantik, sayang."


Devita mendesah pelan. "Ya, ya. Kau akan selalu mengatakan aku sangat cantik."


"Aku tidak pernah berbohong. Kau itu sangat cantik." Brayen mencium hidung Devita gemas.


Devita pun tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia sudah tidak asing lagi mendengar pujian dari suaminya. Sejak dulu, suaminya itu selalu memuji dirinya.


"Brayen....." Devita memanggil suaminya dengan wajah yang tampak ragu.


"Ada apa, sayang?" Brayen menatap Devita dengan tatapan yang penuh kasih sayang.


"Apa kau ingin menjodohkan Sean dan bayi kembar kita nanti? Maksudku, kenapa kau tidak membiarkan anak - anak kita sejenak menikmati masa kanak-kanaknya. Aku ingin mereka fokus pada pendidikan dan masa depannya, Brayen." ujar Devita yang akhirnya memberanikan diri mengucapkan itu.


"Devita..." Brayen menyelipkan rambut istrinya ke daun telinganya. "Aku tentu akan lebih mengutamakan masa depan anak-anak kita. Pendidikan dan nantinya mereka akan memimpin perusahaan yang sudah aku bangun untuk mereka. Saat ini, aku tidak akan membahas tentang jodoh untuk mereka. Aku ingin kita membesarkan anak-anak kita dan menikmati kebersamaan kita dengan anak - anak kita."


Seketika senyum di bibir Devita terukir. Mendengar ucapan dari sang suami. Terima kasih, Brayen.


"Jangan berterima kasih," Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya. "Aku ingin kita membesarkan anak-anak kita bersama. Suatu saat, ketika Sean mengambil alih posisiku, aku ingin kita berkeliling dunia."


Devita mengulum senyumannya. "Jika Sean sudah mengambil alih posisimu di perusahaan. Itu artinya kau sudah tua, sayang..." ucapnya yang sengaja meledek sang suami.


Brayen langsung menangkup kedua pipi Devita. Memberikan kecupan bertubi - tubi di seluruh wajah istrinya. "Ya, aku akan menua denganmu. Tapi meski demikian, aku masih bisa membuatmu hamil."


Devita mendengus. "Bayi kembar kita yang terakhir, Brayen. Tiga anak sudah lebih dari cukup. Kau ini menyebalkan sekali!"


"Sayang, apa kau tidak ingin memilki satu anak lagi? Empat lebih baik." ujar Brayen yang berusaha untuk membujuk sang istri.


"Tiga saja sudah cukup, Brayen. Kau ini kenapa ingin sekali memiliki banyak anak?" Devita mencebikkan bibirnya menatap kesal sang suami.


Brayen mengulum senyumannya, mencubit pelan hidung istrinya. "Sayang, Sean saja menginginkan banyak adik, kenapa kau keberatan?"


Devita mencebikkan bibirnya. "Yang mengandung itu aku, Brayen. Bukan dirimu!"


"Daddy... Mommy...." Sean berlari masuk ke dalam taman menghampiri Brayen dan juga Devita.


"Sayang?" Devita beranjak dari tempat duduknya, kala melihat Sean menghampiri dirinya. Kemudian dia sedikit menunduk dan membuka kedua tangannya. Sean langsung menghamburkan pelukan pada Devita.


"Mommy, I want u kiss me. Aku ingin mendapat banyak kiss dari Mommy." ucap Sean dengan suara polosnya.


Devita terkekeh, dia menangkup kedua pipi Sean dan memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah putranya. Sean pun langsung tertawa kala Devita menciumnya. Kemudian Brayen langsung menggendong putranya itu serta memberikan banyak kecupan di pipi gemuk Sean.


"Daddy, kapan adikku akan lahir?" Sean melingkarkan tangan mungilnya ke leher Brayen. "Aku ingin segera melihat adikku Daddy, adikku harus cantik seperti Mommy."


"Adikmu itu akan sangat cantik seperti Mommy, Sean..." jawab Brayen sambil mencium hidung Sean gemas.


"Kau sebentar lagi akan menjadi big brother. Mommy ingin, nanti jika adikmu lahir, laki - laki atau perempuan kau harus menjaga dan menyayanginya. Apa kau bisa berjanji pada Mommy?" Devita mengelus lembut pipi Sean.


Sean mengangguk. "Iya Mommy. Aku akan menjaga adikku. Tapi aku ingin adik perempuan, Mommy. Aku ingin adik yang cantik seperti, Mommy "


"Adikmu pasti perempuan, Sean." Brayen kembali mencium seluruh wajah putranya.


"Yeay! Adik perempuan dan cantik seperti Mommy!" Pekik Sean kegirangan.


Devita mendesah pelan. "Brayen, tapi kita belum tahu jenis kelamin bayi kita. Dan bagaimana kalau bayi kembar kita itu laki - laki dan bukannya perempuan?"


Brayen tersenyum, dia merengkuh bahu Devita dengan tangan kirinya dan tangan kanannya masih menggedong Sean. "Aku akan membuatnya lagi, sayang. Aku tidak akan berhenti sampai bisa mendapatkan bayi perempuan. Tapi aku juga Daddy - nya. Aku yakin bayi kembar kita nanti pasti perempuan."


"Sean, apa kau ingin adik yang banyak?" tanya Brayen yang meminta dukungan dari putranya.


Sean mengangguk. "Aku ingin banyak adik, terutama adik yang cantik seperti Mommy.".


"Sayang lihat? Sean saja ingin punya banyak adik." Brayen mencubit pelan hidung istrinya


"Ayah dan anak sama saja!" Cebik Devita kesal.


"Mommy, Mommy angry?" Sean memiringkan kepalanya dengan tatapan mungilnya yang di topang dagu.


Devita menghela nafas dalam, dia membawa tangannya mengusap pelan pipi Sean. "Tidak Sean, Mommy tidak angry."


Brayen mengulum senyumannya, dia langsung mengecup puncak kepala Devita. Kemudian dia membawa anak dan istrinya masuk ke dalam rumah.


...***...


"Olivia, pagi ini aku berangkat lebih awal. Karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan menggantikan Brayen." ucap Felix.


"Aku mengerti. Kabari aku jika sudah sampai ke kantor. Jangan lupakan makan siangmu," balas Olivia mengingatkan.


Felix mengangguk kemudian mengecup singkat bibir Olivia, lalu Felix melangkah keluar meninggalkan kamar.


Beberapa hari ini Olivia sering merasakan kesepian. Karena Felix yang sering menggantikan Brayen. Devita pun tengah menyiapkan kelahiran bayi kembarnya Sedangkan Laretta dia harus bedrest karena kehamilan keduanya.


Kini tatapan Olivia teralih pada sebuah kotak yang ada di atas nakas,dia pun mengambil kotak yang yang berukuran sedang itu, lalu membukanya. Seketika Olivia terdiam, menatap banyaknya test pack yang ada di kotak itu. Ya, hampir setiap minggunya Olivia tidak pernah menyerah untuk memeriksa kehamilannya. Namun nyatanya, dia selalu mendapatkan hasil yang membuat dirinya menyerah.


"Apa aku harus mencobanya lagi?" gumam Olivia, saat menggenggam test pack baru di tangannya. Air matanya mulai membasahi di pipinya, dia ingin lagi memeriksa tapi ketakutannya begitu besar. Dia takut, hasil yang dia dapatkan akan menghancurkannya.


"Setidaknya aku sudah berusaha, apapun hasilnya, aku harus menerima itu." Olivia menghapus air matanya dengan jemari tangannya, dia berusaha menguatkan dirinya dan mencoba kembali melakukan test kehamilan.


Lima belas menit kemudian, Olivia melangkah keluar dari kamar mandi, tubuhnya bergetar ketakutan.


"Bagaimana jika hasilnya negatif lagi?" Olivia bersimpuh di lantai. Dia meletakkan test pack yang tertutup sapu tangan itu ke atas ranjang. Dia takut dirinya akan gagal. "Jika sampai aku masih belum bisa memberikan Felix anak, lebih baik aku meminta Felix untuk mencari wanita yang sempurna. Tidak sepertiku." isaknya pelan. Hatinya begitu terluka kala mengatakan itu. Tidak akan ada seorang wanita yang merelakan suaminya menikah dengan wanita lain.


"Sayang, dokumen yang ada di atas meja tertinggal." Felix menerobos masuk ke dalam kamar. Seketika dia terkejut melihat Olivia yang bersimpuh dan menangis. Dengan cepat Felix langsung berlari menghampiri Olivia, dia pun ikut bersimpuh. "Olivia? Ada apa? Kenapa kau menangis?" Felix menangkup kedua pipi Olivia, menatap mata istrinya yang memerah itu. Terlihat Felix begitu panik dan cemas kala melihat wajah Olivia yang begitu rapuh dan hancur.


"Tidak, Felix. Aku baik - baik saja. Mataku hanya kemasukan debu." ucap Olivia.


Felix membuang napas kasar, dia menahan kesal karena Olivia tidak mau jujur padanya. Namun, tiba - tiba di saat Felix mengalihkan pandangannya, dia menatap benda yang di tutup oleh sapu tangan yang berada di atas ranjang dengan cepat Felix langsung mengambil benda itu dan melihatnya.


"Felix...." Olivia terkejut saat melihat Felix mengambil test pack yang di tutupi oleh sapu tangan. Dia hendak mengambil namun Felix mencegahnya.


Seketika tubuh Felix mematung setelah melihat hasil dari test pack itu.


"Kau hamil Olivia... kau hamil." ucap Felix kegirangan. Sontak membuat Olivia terkejut.


"H-Hamil? Bagaimana mungkin?" Felix menatap Felix tidak percaya.


"Lihatlah..." Felix menunjukkan test pack yang dia pegang tadi ke hadapan Olivia.


"Felix, aku sungguh hamil? Aku hamil?" mata Olivia berkaca - kaca, dia takut apa yang dia rasakan ini semua mimpi.


"Terima kasih, Olivia. Hari ini, kau sungguh membuatku bahagia Olivia" Felix menangkup kedua pipi Olivia dan mencium lembut bibir istrinya dengan lembut. Olivia pun membalas ******* suaminya. Mereka meluapkan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Ya, segala penderitaan dan tangis, akan tergantikan dengan kebahagiaan. Kini Olivia dan Felix akan menjalani kehidupan barunya. Sebuah kehidupan memasuki Bab baru, yaitu dengan kehadiran anak - anak mereka.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.