Love And Contract

Love And Contract
Meminta Pendapat



"Maaf jika kedatanganku menganggu kalian. Sepertinya kalian tengah berbicara begitu serius," suara pria itu bernada rendah namun tatapannya menatap lekat Gelisa dan juga Edwin yang berada di hadapannya.


Edwin tersentak, dia berusaha untuk bersikap tenang. "Brayen? Kau di sini son?" sapa Edwin.


Brayen mengangguk singkat, di berjalan melangkah mendekat. Menarik kursi yang berada di samping Gelisa dan duduk sedikit berjauhan dengan Gelisa. "Aku kesini hanya ingin melihatmu. Devita menanyakan kabarmu." balas Brayen.


Gelisa tersenyum kaku saat Brayen berada di sampingnya, meski berjarak namun terlihat begitu jelas raut ketakutan dari wajah Gelisa. Wanita itu berusaha untuk mengatur napasnya, dan berusaha untuk mengulas senyum hangat di wajahnya.


"Papa baik, kau bisa lihat sendiri." jawab Edwin.


"Lalu Nyonya Gelisa Wilson, kenapa anda bisa di sini? Apa anda memiliki urusan dengan mertuaku?" suara Brayen terdengar begitu dingin dan tajam. Tatapannya menatap lekat Gelisa. Hingga membuat raut wajah wanita itu menegang. Saat Brayen menatap dirinya.


"Ah, itu aku memiliki beberapa urusan dengan Edwin. Bagaimana pun aku dengannya adalah teman lama." jawab Gelisa dia mengulas senyuman di wajahnya.


Brayen menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum sinis pada Gelisa. "Boleh aku tahu, urusan tentang apa?"


"Tidak, itu bukan sebuah urusan yang penting. Hanya ingin bertemu dengan teman lama." jawab Gelisa cepat.


"Benar Brayen, tidak ada yang penting." sambung Edwin yang menengahi agar menantunya ini tidak lagi menginterogasi Gelisa.


Brayen menganggukan kepalanya seolah mempercayai semuanya. Namun, tanpa mereka sadari sudah sejak tadi, Brayen di depan ruang kerja Edwin. Dia sengaja menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke dalam ruang kerja Edwin. Dia membiarkan Gelisa untuk memainkan permainannya. Lagi pula, Brayen ingin tahu, tujuan asli dari Gelisa kembali muncul dan mengusik kehidupan keluarga dari istrinya.


"Pa, ada yang ingin aku katakan padamu?" ujar Brayen.


Edwin menautkan alisnya, menatap lekat Brayen. " Ada apa son?"


"Aku ingin meminta pendapat darimu?"


"Pendapat? Kau ingin bertanya tentang apa?"


Brayen tersenyum tipis. " Jika suatu hari, Papa menemukan seseorang yang sejak awal Papa percaya dan kenyataan sebenarnya bahwa orang itu terlah menipu kita dengan wajah polosnya. Dan orang itu juga membuat diri kita seperti orang bodoh karena terus merasa bersalah. Apa yang akan kau lakukan, Pa? Hanya diam atau membalas dan memberikan pelajaran pada penipu itu?"


Edwin mengerutkan dahinya, dia mencoba mencerna semua pertanyaan dari Brayen. "Apa kau sedang berada dalam masalah?"


Brayen menyilangkan kakinya, lalu dia menatap lekat Edwin. " Lebih tepatnya, aku ingin meminta sebuah pendapat. Jadi apa yang harus Papa lakukan pada orang itu? Hanya diam atau membalasnya? Karena jika hanya diam, aku rasa penipu itu tidak akan mendapatkan pelajaran dari apa yang telah dia lakukan."


Saat Brayen mengucapkan perkataan ini, tanpa sadar Gelisa memucat. Brayen melirik sedikit ke arah Gelisa. Namun, wanita itu langsung memalingkan wajahnya. Brayen tersenyum sinis, saat Gelisa berusaha memalingkan wajahnya.


Edwin menarik napas panjang, dia menyadarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya masih menatap lekat Brayen. "Jika Papa berada di posisi itu, tentu saja rasa marah dan benci tidak bisa Papa tutupi. Papa juga bukan orang yang sebaik itu, yang hanya bisa memaafkan dengan mudah orang yang telah menipu. Terlebih orang itu membuat diri kita menjadi orang yang bodoh karena sebuah penyesalan yang besar. Dan tentu saja Papa akan memberikan pelajaran yang berharga pada orang itu. Bahkan pelajaran berharga yang Papa berikan padanya, tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya."


Brayen tersenyum miring. "That's my Dad."


Edwin tersenyum, ia melirik arlojinya. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya. "Papa harus meeting ada perusahaan asal Singapura yang sudah menunggu Papa " Kemudian Edwin mengalihkan pandangannya pada Gelisa. "Gelisa, kau pulanglah lain waktu kita bicara nanti."


Gelisa tersenyum kaku, lalu dia mengangguk singkat, "Ya tentu saja, tidak masalah. Hari ini aku tidak terlalu sibuk. Aku masih memiliki waktu." jawab Gelisa cepat. "Edwin, jika kau ingin meeting, pergilah sekarang. Jangan membuat rekan bisnismu menunggu. Aku meminjam ruang mu untuk berbicara sebentar dengan Tuan Brayen Adams Mahendra." lanjutnya.


"Baiklah, kalau begitu pergi sekarang dan Brayen, pakailah ruang kerja Papa sesukamu." kata Edwin, lalu dia berjalan meninggalkan Brayen dan juga Gelisa.


Melihat Edwin yang sudah meninggalkan ruang kerjanya, Brayen beranjak dari tempat duduknya. Dia memilih untuk pindah dan duduk di kursi kerja Edwin.


Edwin mengatur napasnya, lalu dia menatap lekat Brayen yang kini duduk di kursi kerja Edwin. "Ada hal apa yang ingin kau katakan padaku?"


Brayen tersenyum sinis. "Mungkin suatu hal yang sangat penting. Aku sudah mendengar semua permintaanmu. Kau meminta Ayah mertuaku untuk bertemu dengan kedua anakmu, bukan?"


"Jika ya, apa urusannya denganmu Brayen? Aku rasa kau tidak bisa ikut campur. ini bukan masalahmu." tukas Gelisa menekankan.


"Well, bukan urusanku? Semua masalah yang menyangkut Devita istriku itu sudah menjadi urusanku. Terlebih ada yang menggangu kehidupan keluarga dari istriku. Aku tentu tidak akan tinggal diam untuk itu. Bukankah aku sudah mengingatkan padamu? Jangan terlalu lama bermain api. Karena nanti kau bisa terbakar Gelisa. Berhati - hatilah" balas Brayen tajam.


Gelisa tersenyum tipis. "Aku tidak pernah mencari masalah. Sejak kapan aku mencari masalah? Aku hanya mengatakan pada Edwin untuk datang menemui anaknya. Aku yakin dia juga ingin menemui kedua anaknya. Karena bagaimanapun Lucia dan juga Edgar adalah anak dari Edwin. Dan suka atau tidak suka, itu adalah takdir yang harus kalian terima. Termasuk Istrimu itu, katakan pada istrimu untuk menerima semua kenyataan ini. Jangan menghalangi Edwin, jika dia ingin menemui anaknya. Karena Devita bukanlah satu - satunya anak Edwin."


Brayen menyeringai, dia terus menatap lekat Gelisa. "Jadi, Ayah mertuaku harus menemui kedua anakmu? Bagaimana kalau aku adalah orang yang menghalanginya? Aku sangat mampu menghalangi mertuaku untuk tidak menemui kedua anakmu itu."


Gelisa menggeram, dia menajamkan matanya pada Brayen. "Anakku, berhak bertemu dengan Ayah kandungnya! Kenapa kau berani - beraninya menghalangi ini! Jangan karena kekuasaan yang kau punya, kau melakukan itu semaumu!"


Brayen beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah mendekat ke arah Gelisa. Dia menundukkan sedikit kepalanya, lalu mendekatkan dirinya pada Gelisa. "Karena aku mampu melakukan apapun yang aku inginkan. Aku adalah orang pertama yang mampu menjadi penghalangmu. Aku peringatkan padamu Gelisa Wilson, aku bukan orang yang baik. Aku bisa menghancurkanmu hingga membuatmu tidak bisa merasakan posisimu saat ini." senyuman sinis terukir di wajah Brayen.


"Menyerahlah Gelisa, sebelum aku menghancurkanmu. Tidak hanya diriku tapi Ayah mertuaku juga akan menghancurkanmu. Kau pasti masih ingat perkataan Ayah mertuaku bukan?"


"Kau..." Gelisa menggeram, dia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Brayen menegakkan tubuhnya, lalu dia tersenyum sinis pada Gelisa. Brayen kini melangkah mendekat meninggalkan ruang Edwin. Brayen tidak memperdulikan Gelisa yang terlihat begitu marah. Karena Brayen memang menunggu apa tujuan dari Gelisa.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.