Love And Contract

Love And Contract
Nomor Tidak Di Kenal



Brayen terdiam. Tidak biasanya Devita mengucapkan itu padanya. Hingga kemudian Brayen menjauhkan wajahnya dari wajah Devita, lalu kemudian dia menangkup kedua pipi Devita dan menjawab. "Kenapa kau yang berterima kasih? Seharusnya aku yang berterima kasih? Karena kau menerimaku dengan segala sifat egoisku. Kau tetap mempercayaiku, ketika semua orang melihatku sebagai orang yang kejam. Dan yang harusnya bersyukur adalah diriku karena memilikimu."


"Tidak," Devita menggelengkan kepalanya cepat. Dia mengelus rahang Brayen, memberikan kecupan singkat di bibir suaminya itu. "Semua orang tidak mengenal dirimu. Sedangkan aku sangat tahu dirimu.Aku tidak peduli dengan orang - orang yang menilai dirimu. Di mataku, kau adalah suami yang sempurna."


"Aku ingin memberitahumu, tadi siang Alena datang ke rumah. Dia datang khusus menemui Laretta. Dia datang untuk meminta maaf pada Laretta. Tanpa harus bertanya, aku sudah tahu siapa yang sudah yang membebaskan Alena. Aku sungguh bangga memilikimu Brayen. Aku sungguh tidak menyangka kau akan membebaskan Alena dan memberikan kesempatan kedua padanya. Kau tahu? Apa yang telah kau lakukan benar - benar membuat Laretta bahagia."


Devita menatap lekat manik mata suaminya, matanya berkaca-kaca. Dia sungguh bangga atas apa yang telah dilakukan oleh suaminya. Hatinya begitu tersentuh. Semua orang menilai suaminya begitu kejam, tapi tidak baginya. Brayen memilki cara sendiri tanpa harus orang tahu kebaikan di dirinya. Itulah yang membuat Devita sangat bangga memiliki Brayen.


Tidak hanya itu, Devita juga mengingat. Ketika dirinya bertemu dengan Selena. Wanita itu mengatakan, jika Brayen menolak berteman dengannya. Devita tidak pernah hentinya bersyukur memiliki suami yang seperti Brayen. Lepas dari suaminya yang memiliki sifat tidak bisa mengendalikan emosinya, tapi Devita tidak memperdulikan itu. Bagi Devita, suaminya itu begitu sempurna.


"Jadi, tadi dia datang?" tanya Brayen seraya menghapus air mata Devita yang keluar dari sudut air mata istrinya itu.


Devita mengangguk. "Ya, Alena meminta maaf pada Laretta."


"Aku memintanya untuk datang besok. Tapi rupanya dia sudah datang lebih awal." jawab Brayen seolah tidak memperdulikannya. "Dia memang sudah seharusnya meminta maaf pada adikku."


Devita memeluk erat Brayen. "Terima kasih, telah memberikan kesempatan kedua untuk Alena."


Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu. "Jangan berterima kasih, semua yang aku lakukan memang demi dirimu. Aku memilih untuk tidak membalas perbuatannya, semua aku lakukan demi dirimu. Kau terlalu berarti di hidupku. Aku tidak perduli dengan orang di sekitarku yang menilai diriku. Bagiku, kau terus berada di sisiku, sudah lebih dari cukup. Karena aku hanya membutuhkanmu di hidupku."


Devita tersenyum, hatinya begitu menghangat mendengar perkataan dari Brayen. Hingga kemudian, dia menempelkan hidungnya ke hidung Brayen dan menggeseknya pelan. "Aku sudah memasak sesuatu untukmu? Apa kau mencoba masakanku?"


"Kau memasak?" Brayen mengerutkan keningnya. "Kenapa kau yang memasak? Seharusnya kau meminta Della yang mengerjakannya. Aku tidak ingin kau kelelahan."


"Tidak Brayen, aku tidak akan kelelahan hanya karena memasak untukmu," jawab Devita. "Jadi, kau mencoba masakanku atau tidak? Atau jangan-jangan kau tidak mau mencoba masakanku? Itu alasannya kau mencari alasan?" Devita mengerutkan bibirnya kesal.


Brayen menangkup kedua pipi Devita, ******* sedikit kasar bibir istrinya itu, hingga membuat Devita merintih kesakitan.


"Kenapa kau menggigitku!" Cebik Devita.


"Bibirmu itu harus diberikan hukuman karena sudah sembarangan berbicara." Brayen tersenyum tipis. "Aku harus mandi, setelah selesai mandi, aku akan makan masakan Istriku."


Brayen memindahkan tubuh Devita duduk di samping. Karena sejak tadi, istrinya itu duduk di pangkuannya. Kemudian Brayen berjalan masuk kedalam arah kamar mandi.


Ketika Brayen berjalan menuju ke arah kamar mandi, terdengar suara dering ponsel. Devita mengambil ponsel milik Brayen, dia melihat ke layar tertera nomor yang tidak di kenal menghubungi suaminya. Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian meletakkannya mendekat ke telinganya.


"Ya?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.


"Ah, maaf. Apa Tuan Brayen sedang tidak ada?" suara seorang perempuan terdengar dari sebrang telepon.


Kening Devita berkerut dalam. "Maaf, kau siapa? Aku istrinya."


"Anda istri Tuan Brayen?" tanya perempuan itu dengan nada seolah tak percaya.


"Aku Ivana, tadi meeting dengan Tuan Brayen dan membahas kerja sama. Aku hanya ingin mengingatkan besok pagi kita ada jadwal meeting lagi di pagi hari."


"Jika kau ingin mengingatkan masalah meeting. Kau bisa langsung menghubungi Albert, asisten suamiku. Jadi tidak perlu menghubungi suamiku di malam hari seperti ini."


"Baiklah, aku hanya ingin lebih dekat saja dengan pemilik Mahendra Enterprise. Lain kali aku pasti akan menghubungi Albert."


Tanpa menjawab lagi, Devita langsung mematikan ponsel milk Brayen dan meletakkan ponsel milik Brayen ke tempat semula.


"Sayang? Ada yang menghubungiku?" tanya Brayen sambil berjalan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih di lilit oleh handuk.


"Kau periksa saja ponselmu!" Ucap Devita ketus.


Brayen mengerutkan keningnya, dia menatap bingung melihat wajah kesal istrinya. Kemudian, dia melangkah mendekat lalu mengambil ponselnya. Dia melihat ke layar nomor yang tidak di kenal menghubunginya. Brayen meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula, lalu menatap lekat manik mata istrinya. Nomor yang tidak kenal menghubungiku. Biarkan saja, nanti aku akan meminta Albert untuk mencari tahu nomor itu." jawab Brayen dengan nada yang seolah tidak perduli dengan nomor yang menghubunginya.


Brayen berjalan menuju ke arah walk in closet, dia langsung mengganti pakaiannya dengan celana training dan kaos berwarna putih. Setelah selesai mengganti pakaian, dia kembali melangkah mendekat ke arah Devita yang masih duduk di sofa.


"Lebih baik kita turun sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin mencoba masakan Istriku." Brayen mengulurkan tangannya ke arah Devita, namun Devita tidak menyambut uluran tangan suaminya. Devita langsung berjalan lebih dulu. Sedangkan Brayen, dia menggelengkan kepalanya melihat sifat istrinya. Kemudian dia melangkah mengikuti Devita yang berjalan menuju ke arah ruang makan.


Saat tiba di dapur, Devita memanaskan Lobster Ravioli. Tidak lama kemudian, Devita menyajikan makanan yang sudah di panaskan itu pada Brayen.


"Aku harap kau menyukainya." tukas Devita dingin.


"Kau kenapa sayang?" tanya Brayen saat menerima piring yang berisi Lobster Ravioli.


"Tidak apa - apa. Cepat makanlah, setelah itu kita istirahat." jawab Devita datar.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.