Love And Contract

Love And Contract
Lamaran Angkasa



Brayen menggerakkan jarinya, meminta pelayan untuk membawakan wine. Tidak lama kemudian pelayan itu mengantarkan wine. Brayen dan Angkasa pun mengambil wine tersebut.


"Well, katakan padaku. Seandainya, jika adikku tidak mengandung anakmu, mungkinkah kau ingin tetap menikahinya?" tanya Brayen sambil menyesap wine yang ada di tangannya, tatapannya begitu dingin ke arah Angkasa.


"Harus aku mengakui, aku ingin menikahi Laretta karena sejak awal dia hamil!" Jawab Angkasa menegaskan. "Aku bertemu dengannya di sebuah Club malam saat aku sedang berlibur ke Korea. Saat itu, jika kau bertanya apa penilaian ku pada adikmu, maka aku menjawabnya kalau adikmu itu sangat cantik dan terlihat berkelas. Tapi jika kau bertanya aku akan menikahi adikmu pada saat itu, jawabanku jika dia tidak hamil tentu aku tidak akan pernah menikahinya. Karena saat itu hatiku masih sangat mencintai wanita lain."


Seketika jantung Devita berdegup dengan kencang saat mendengar penuturan dari Angkasa. Dia berusaha untuk bersikap biasa. Dan Devita pun lebih memilih untuk mendengarkan percakapan Angkasa dan juga Brayen.


Brayen melayangkan tatapan dingin pada Angkasa, dia menunggu hingga Angkasa kembali melanjutkan perkataannya. Suasana di ruangan itu pun menegang, ketika Brayen mendengarkan perkataan dari Angkasa. Bahkan Citra dan Varell saling bertukar pandang ketika mendengar perkataan putranya itu.


"Tapi, pada akhirnya aku di persatukan dengan Laretta karena sebuah kejadian. Dan aku tidak akan pernah menyesali itu. Seiring berjalannya waktu aku mulai mencintai adikmu. Adikmu mampu membuatku untuk melupakan wanita yang ada di masa laluku. Tidak hanya itu, tapi adikmu juga membuatku jauh lebih mencintainya dari pada wanita yang ada di masa laluku. Mungkin dia bukan ditakdirkan untukku. Jika aku tidak mencintai adikmu, aku itu tidak mungkin bertahan hingga detik ini. Kau selalu melarangku, kau juga selalu memiliki banyak cara untuk memisahkanku dengan adikmu. Tapi kenyataannya aku tetap bertahan dan terus berjuang memperjuangkan adikmu."


"Aku rasa, kau juga pernah di sisiku, Brayen. Kau mencintai wanita yang lain, tetapi harus menikah dengan Devita. Dan setelah kau menjalani rumah tangga dengan Devita, kau jauh lebih mencintai Devita dari pada wanita yang ada di masa lalumu itu. Sekarang, aku tekankan padamu, tujuanku datang kesini adalah untuk melamar adikmu. Tidak peduli kau akan melarangku atau tidak, tapi aku akan tetap menikahi adikmu."


Angkasa melanjutkan perkataannya dengan tegas. Tatapannya membalas menatap Brayen. Tujuan dia datang kesini memang untuk melamar Laretta. Tidak perduli jika Brayen akan menolak atau pun menerimanya. Dia akan tetap melamar Laretta.


Senyum di bibir Devita terukir ketika mendengar perkataan Angkasa. Tatapannya menatap bangga ke arah Angkasa. Pria itu tidak menyerah, bahkan sangat berani mengakui itu di depan banyak orang. Devita sudah sejak awal, jika Angkasa adalah pria yang paling tepat di hidup Laretta.


"Ya ampun, sayang. Lihatlah anak kita dan calon menantu kita. Sekarang aku mulai mengingat kembali masa dimana kamu juga pernah berjuang seperti calon menantu kita itu." bisik Rena yang kembali teringat masa lalunya.


David tidak menjawab ucapan istrinya itu dan dia lebih memilih untuk mendengarkan keputusan yang akan di ambil oleh putranya itu.


Sedangkan Brayen kini sedang menyandarkan punggungnya di sofa, dia menyilangkan kakinya. Dia terdiam sesaat saat mendengar perkataan dari Angkasa, tatapannya pun masih sama, dia masih melayangkan tatapan dingin dan tak bersahabat ke arah Angkasa. Hingga kemudian, Brayen menjawabnya dengan santai. "Baiklah, kapan kau akan menikahi adikku?"


Seketika seluruh orang yang ada di ruangan tamu itu terkejut mendengar ucapan Brayen. Mereka semua menatap tak percaya apa yang di katakan oleh Brayen. Pasalnya, Brayen tidak lagi mengajukan pertanyaan setelah mendengar lanjutan perkataan dari Angkasa yang sebelumnya sudah membuat suasananya menjadi begitu menegang.


"Minggu depan." jawab Angkasa dengan tegas. "Minggu depan aku akan menikahi adikmu."


Laretta langsung tersedak saat mendengar jawaban dari Angkasa. "Apa? Minggu depan? Ya Tuhan Angkasa, apakah kamu serius dengan ucapanmu itu? Aku saja belum mempersiapkan apapun. Tapi dia sudah harus menikah minggu depan?" berbagai pertanyaan muncul di dalam hatinya karena Laretta masih terkejut dengan jawaban yang di Angkasa ucapkan tadi.


"Angkasa, apakah itu tidak terlalu cepat? Kami juga belum menyiapkan apapun." balas Rena mengingatkan.


"Nyonya Mahendra, sebelumnya saya mohon maaf jika ini membuatmu sangat terkejut."kata Angkasa. "Aku hanya tidak ingin, jika putramu itu akan kembali merubah keputusannya. Jika aku bisa menikahi putrimu hari ini, aku lebih memilih untuk menikahinya di detik ini juga."


Rena pun mengulum senyumnya, lalu dia melirik ke arah David yang duduk di sampingnya. "Lihat Dad, calon menantumu ini sama persis sepertimu."


"Mom...!" Tegur David dengan penuh peringatan.


Kini David menatap serius ke arah Angkasa yang duduk tidak jauh darinya. "Kau serius ingin menikahi putriku Minggu depan?" tanya David memastikan keseriusan Angkasa.


Angkasa mengangguk yakin, "Aku sangat serius, Tuan David. Aku akan menikahi putrimu itu Minggu depan." jawab Angkasa.


Brayen meletakkan gelas sloki di atas meja, lalu dia terdiam sesaat sebelum kemudian Brayen menjawabnya. "Alright, kau akan menikah dengan adikku Minggu depan. Jadi persiapkan semuanya dengan baik. Dan ingat! Aku itu tidak suka pernikahan yang sederhana untuk adikku."


Angkasa tersenyum. "Terima kasih, aku pastikan akan memberikannya yang terbaik untuk adikmu."


Brayen beranjak dari tempat duduknya, lalu dia melangkah mendekat ke arah Angkasa. "Ini peringatan terakhir dariku. Jika kau tidak mampu membahagiakan adikku, maka aku akan kembali mengambilnya darimu. Tidak peduli jika kau itu sudah menjadi suaminya, tapi kalau aku tahu sedikit saja kau melukai adikku, maka aku pastikan aku akan langsung melenyapkanmu!" Peringat Brayen tajam dan menusuk.


"Devita, lebih baik kita ke kamar." tukas Brayen melirik ke arah Devita.


Devita menganguk patuh kemudian berpamitan pada semua orang untuk Ikut dengan Brayen ke kamar.


"Aku pastikan, aku akan membahagiakan Laretta. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitinya." kata Angkasa dengan tegas.


Brayen menghentakkan langkahnya saat mendengar ucapan Angkasa. Dia melirik Angkasa dari sudut matanya tanpa membalikkan tubuhnya. Kemudian Brayen menjawab. "Buktikan perkataanmu itu. Karena aku tidak butuh janji." Brayen langsung menarik tangan Devita, dan melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.


"Angkasa, sama seperti yang di katakan oleh Brayen. Aku mohon, bahagiakan lah putriku." kata Rena dengan tatapan lembut ke arah Angkasa.


"Aku pastikan, putrimu itu akan selalu bahagia bersama denganku." balas Angkasa.


David menepuk bahu Angkasa. "Aku percayakan putri bungsuku padamu."


Varell dan Citra tersenyum, akhirannya putranya itu sudah mendapatkan restu untuk menikah dengan Laretta. Begitu pun dengan Alena yang tersenyum, saat melihat Kakaknya dan Laretta akhirnya bisa bersatu.


Kemudian Rena dan David, mengajak Citra, Varell dan juga Alena untuk meninggalkan ruangan itu. Rena ingin memberikan waktu untuk Angkasa dan juga Laretta


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.