
Brayen keluar dari ruang rawat Devita. Kini istrinya itu sudah tertidur pulas. Brayen pun meminta Laretta untuk menemani Devita. Hatinya kini jauh lebih tenang. Pikirannya juga jauh lebih baik. Meski harus mengurus beberapa hal yang belum terselesaikan tapi yang terpenting, istrinya itu sudah sadar.
Brayen baru hanya mengabari keluarga Olivia, di belum memberitahu mertuanya dan keluarganya sendiri. Pasalnya, Brayen ingin agar Edwin jauh lebih tenang. Sejak Edwin membaca surat yang di tulis oleh Gelisa, mertuanya terlihat murung dan merasa bersalah. Sedangkan David, Ayahnya kesehatannya masih menurun karena berita Brayen melakukan pencucian uang hingga membuat saham di perusahaannya menurun.
Brayen berjalan keluar menuju ke ruang rawat Olivia. Ada hal yang harus dia bicarakan pada Felix. Saat Brayen melangkah, dia menatap Albert yang baru saja keluar dari lift dan berjalan cepat kearahnya.
"Tuan Brayen," sapa Albert menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Brayen dingin.
"Tuan, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Ini sangat penting, Tuan." jawab Albert.
Brayen menautkan alisnya, " Hal apa yang ingin kau sampaikan?"
"Di media sudah tersebar berita tentang Gelisa Wilson yang menjatuhkan nama Tuan. Semua berita tentang pencucian uang yang melibatkan nama anda, sudah berhasil di hapus, Tuan. Publik sudah mengetahui semua ini adalah ulah dari Gelisa Wilson. Beberapa wartawan yang ingin meminta keterangan langsung dari Tuan, sudah saya tangani. Dan sebagian sudah di bantu oleh direktur operasional untuk memberikan keterangan." jelas Albert.
"Kabar terakhir, saham milik Wilson Company telah menurun signifikan, Tuan. Selain itu, berita tentang kematian Edgar Rylan Wilson sudah di ketahui oleh publik. Sedangkan, Gelisa yang mendengar berita kematian Edgar, dia berteriak histeris, Tuan. Hingga pihak kepolisian meminta kita untuk membawa Gelisa ke psikolog. Karena di tidak berhenti berteriak dan memberontak. Sekarang Gelisa berada di rumah sakit. Namun, Dokter harus menyuntikkan obat penenang pada Gelisa.
"Kau carikan dia psikologi. Ayah mertuaku nanti akan menemuinya. Aku tidak ingin dia membuat ulah ketika Ayah mertuaku datang menghampirinya." balas Brayen. " Lalu, bagaimana dengan Lucia? Apa dia masih di rumah sakit?"
"Tidak Tuan. Lucia Wilson, sudah di bawa oleh anak buah kita, Tuan. Sekarang, dia sudah di kurung. Tapi Tuan, ada hal penting yang ingin saya sampaikan." kata Albert, hati - hati.
Brayen menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya. "Ada apa lagi?"
"Ini tentang Edgar Rylan Wilson, Tuan." Albert menunduk tidak berani menatap Brayen.
Brayen membuang napas kasar. "Ada apa? Kau sudah mengatakan sebelumnya, bukan? Dia tidak bisa di selamatkan?"
"Maafkan saya, Tuan. Ternyata Dokter yang memeriksa Edgar adalah sahabat dari Edgar Rylan Wilson. Ternyata luka tembak Edgar tidak mengenai jantungnya, di berhasil selamat." Albert masih terus menunduk tidak berani untuk menatap Brayen.
Rahang Brayen mengeras, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Beraninya di menipuku! Apa tujuannya, dia berani menipuku! Apa dia ingin membebaskan adik dan juga Ibunya karena hutang budi? Tidak akan!" Seru Brayen dengan penuh emosi. Karena memang, meski Edgar sudah menolong dirinya, Brayen tidak akan pernah melepaskan Gelisa dan juga Lucia. Mereka harus tetap mendapatkan balasan dari apa yang mereka perbuat.
"T- Tuan. Ini tidak seperti yang Tuan pikirkan. Lebih baik Tuan bertemu dengan Dokter yang memeriksa Edgar. Karena Arthur asisten dari Edgar mengatakan. Edgar Rylan Wilson tidak berniat untuk menipu Anda, Tuan. Dan saya pun sangat yakin, jika Edgar tidak berani menipu Anda, Tuan. Di keadaan yang seperti ini, jika dia berani menipu Anda itu sama saja dengan dia menghancurkan hidupnya sendiri."ujar Albert yang berusaha untuk menenangkan kemarahan dari Brayen.
Brayen pun menggeram, apapun alasannya. Brayen tidak akan pernah memaafkan orang - orang yang telah menipunya. "Sekarang katakan padaku, apa Edgar Rylan Wilson sudah sadar?" tukas Brayen sorot matanya tajam dan menunjukkan kemarahannya.
"Dia sempat sadar sebelumnya, Tuan Tapi sekarang dia masih dalam pemulihan. Lebih baik, Tuan mendatangi Dokter yang memeriksa Edgar. Karena saya yakin, Dokter itu tahu apa tujuan dari Edgar," jawab Albert hati - hati.
"Antarkan aku kesana sekarang," tukas Brayen dingin. Albert mengangguk patuh. Kemudian Brayen melangkah menuju ke arah ruang rawat Edgar.
...***...
"Albert, apa kau sudah memastikan Dokter nanti berbicara denganku tidak menipuku?" Brayen melemparkan tatapan tajamnya pada Albert, dia tidak akan mentoleransi jika ada orang yang berani menipu dirinya.
"Tidak Tuan, kali ini saya yakin. Ini semua adalah bagian dari rencana Edgar Rylan Wilson." jawab Albert meyakinkan.
"Permainan apa yang dia rencanakan." seru Brayen, dia berusaha untuk mengendalikan amarahnya.
"Selamat siang, Tuan Brayen Adams Mahendra. Perkenalkan saya Dokter Gisella. Saya yang memeriksa Tuan Edgar." kata wanita yang bernama Gisella dengan senyuman ramah menatap Brayen meski Brayen memasang wajah datar dan tidak menunjukkan keramahan.
Brayen duduk di hadapan wanita itu, tatapannya menatap tajam Dokter yang ada di hadapannya. "Aku tidak suka berbasa-basi. Katakan padaku, kenapa kau mau bekerja sama dengan Edgar? Apa kau tahu, aku bisa menghancurkan karirmu jika kau berani menipuku!"
Gisella mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Maaf Tuan Brayen, atas kelancangan saya yang membohongi anda. Tapi saya hanya membantu Edgar yang ingin memulai kehidupannya yang baru." jawab Gisella dengan suara yang tenang.
"Jelaskan sekarang!" Ucap Brayen dingin.
"Edgar sempat sadar ketika peluru berhasil dikeluarkan. Dia meminta saya untuk memberitakan kematiannya pada publik. Dia hanya mengatakan kepada saya jika dia ingin memulai kehidupan yang baru. Dia juga berpesan setelah dia sadar sepenuhnya, Tuan Brayen harus menemuinya. Dia akan menjelaskan semuanya. Karena memang, dia tidak ada berniat jahat Tuan. Jika memang Edgar berniat untuk menipu anda, maka sudah pasti dia tidak akan berbicara tentang ini. Saya harap Tuan Brayen bisa menunggu hingga Edgar bisa sadar dan membaik." jelas Gisella.
Brayen membuang napas kasar, "Bagaimana keadaannya? Kapan aku bisa berbicara dengannya?"
"Dua atau tiga hari lagi, Tuan bisa berbicara dengan Edgar. Saat ini, kondisinya jauh lebih baik." jawab Gisella. "Dan untuk masalah media yang ingin meminta keterangan tentang Edgar Rylan Wilson. Saya sudah mengatakan pada pihak media rumah sakit tidak bisa memberikan keterangan."
"Aku pegang ucapanmu. Jangan coba-coba kau berani menipuku atau kau akan tahu akibatnya jika sampai kau berani menipuku!" Peringat Brayen tajam dan menusuk.
"Tidak Tuan, saya tentu tahu siapa anda. Saya tidak mungkin berniat menipu anda. Jika bukan saya mengenal baik Edgar tentu saya tidak akan memberikan sebuah keterangan yang akan menghancurkan masa depan saya, Tuan." ujar Gisella dengan suara yang tenang.
Brayen tidak memperdulikan ucapan Dokter yang ada di hadapannya itu, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan. Albert menunduk pada Gisella, lalu Albert langsung mengikuti Brayen berjalan keluar ruangan.
"Tuan, saya dengar Nyonya sudah sadar?" tanya Albert hati - hati yang kini sudah berada di samping Brayen.
"Ya, kau hubungi orang tuaku dan juga mertuaku. Kabarkan pada mereka kalau Devita sudah sadar." tukas Brayen dingin. "Sekarang, aku harus bertemu dengan Felix, kau tangani semuanya. Dan ingat jangan sampai Lucia melarikan diri!"
Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan."
Kemudian Brayen melangkah menuju ke ruang rawat Olivia. Saat ini, Brayen harus membahas ini semua pada Felix. Termasuk tentang Edgar yang menipu publik.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.