
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. Inilah Olivia dia selalu saja seperti ini. Benar - benar.
Brayen yang melihat Devita sudah selesai membuka hadiahnya, dia langsung mendekat ke arah Devita dan memeluk pinggang Devita. "Hari ini, kau tidak usah berangkat kuliah, aku sudah meminta Albert untuk mengurusnya. Kau ganti bajumu, aku ingin membawamu ke suatu tempat," bisiknya di telinga Devita.
Devita menoleh dan menatap Brayen. " Kau ingin membawaku kemana, Brayen?" kening Devita berkerut menatap bingung Brayen.
"Kau sudah menerima hadiah dari semua orang bukan?" Brayen mengelus lembut pipi Devita.
Devita mengangguk, " Ya, aku sudah menerimanya."
"Itu artinya tinggal aku yang belum memberikan hadiah untukmu. Brayen, menarik dagu Devita, dia mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu.
"Dimana hadiahmu, Brayen? Kenapa aku tidak melihat kotak hadiah darimu?" tanya Devita sambil melirik tumpukan hadiah yang tadi.
Brayen tersenyum, " Tidak di sini, sayang. Aku ingin memberikan hadiahmu di tempat lain. Gantilah bajumu, aku akan membawamu ke suatu tempat."
Devita menghela nafas dalam. "Baiklah, aku akan mengganti bajuku. Tunggu sebentar," Devita langsung meninggalkan ruang makan, menuju kamarnya. Ya, kali ini dia harus berpenampilan sangat cantik. Terlebih ini adalah tahun pertamanya merayakan ulang tahun dengan suaminya.
...***...
Devita melangkah keluar kamar, kini tubuhnya terbalut gaun berwarna gold yang begitu indah. Gaun ini begitu tampak sempurna, ketika Devita memakainya. Gaun yang bermodel tali spaghetti dan belahan gaun hingga ke pangkal paha, membuat lekuk tubuh Devita begitu indah.
Senyum di bibir Brayen terukir kala melihat Istrinya tampak begitu cantik dengan balutan gaun berwarna gold itu. Sesaat Devita dan Brayen saling beradu pandang. Tatapan mereka saling memuja satu sama lain. Brayen menatap kagum Devita yang terlihat begitu sempurna di matanya, begitu pun dengan Devita yang menatap Brayen dengan tatapan yang memuja. Tubuh Brayen sudah terbalut oleh tuxedo yang begitu pas di tubuhnya. Dada bidang, lengan kekarnya tercetak sempurna.
Kini Brayen melangkah mendekat ke arah Devita dan mengulurkan tangannya pada Istrinya itu. Devita tersenyum, dia menyambut uluran tangan Brayen.
"Kau sangat cantik, sayang." Brayen membelai lembut pipi Devita.
Devita tersenyum. "Kau juga sangat tampan,"
"Rasanya aku ingin mengurungmu di kamar," Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lagi bibir Istrinya.
Devita mencebikkan bibirnya, " Kau ini bagaimana! Bukannya kau bilang, kau ingin memberikanku hadiah? Kenapa kau ingin mengurungku di kamar?"
Brayen mengulum senyumannya, dia mencium hidung Devita gemas. " Baiklah, kita akan berangkat sekarang,"
"Sebenarnya, kau ingin membawaku kemana?" tanya Devita sembari mengelus rahang Brayen. Jujur saja, sejak tadi dia selalu menerka - nerka, kemana suaminya akan membawanya nanti.
Devita tersenyum. "Aku pasti akan selalu menyukai hadiah darimu." Kemudian, dia memeluk lengan Brayen dan berjalan meninggalkan rumah, menuju mobil yang telah di siapkan.
...***...
Eoteca Sociale adalah Italian Restaurant, yang di pilih oleh Brayen. Kini mobil Brayen mulai memasuki restoran itu. Brayen lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Brayen merengkuh pinggang Devita, mengajak Istrinya memasuki restoran. Seketika Devita begitu terkejut, melihat hiasan yang ada di restoran itu tampak begitu indah dengan banyak bunga yang menghiasi restoran itu. Ya, restoran itu sudah di pesan khusus oleh Brayen. Tatapan Devita tidak henti menatap kagum hiasan restoran itu. Tidak pernah terpikir oleh Devita, Brayen akan memberikan kejutan yang sangat manis, seperti sekarang ini.
Terdengar suara piano yang begitu indah. Devita mengalihkan pandangannya kala mendengar suara piano. Senyum di bibir Devita terukir, ada seseorang yang memainkan piano sambil bernyanyi begitu indah.
Nothing's gonna change my love for you.
You oughta know by now how much i love you.
One thing you can be sure of I"ll never ask for more than you love.
Nothing's gonna change my love for you.
You oughta know by now how much i love you.
But nothing's gonna change my love for you.
Devita tersenyum haru mendengar nyanyian itu. Bait yang di nyanyikan begitu menyentuh hati Devita.
"Lihatlah kedepan." Brayen berbisik sambil memeluk pinggang Istrinya.
Kemudian, Devita mengalihkan pandangannya, menatap sebuah layar LED besar di hadapannya. Seketika dia terkejut melihat apa yang ada di layar tersebut. Devita terus menatapnya sebuah video pernikahan Brayen dan dirinya. Tepat dimana Brayen dan Devita mengucapkan janji suci pernikahan mereka. Janji dimana mereka tidak akan pernah berpisah hingga maut memisahkan mereka.
Mata Devita berkaca - kaca melihat video pernikahan mereka. Dulu Brayen dan Devita tidak saling mencintai. Mereka di persatukan tanpa adanya cinta di antara mereka. Namun, kini mereka begitu mencintai satu sama lain. Sungguh, jika melihat video pernikahannya dengan Brayen, membuat Devita tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Pada akhirnya, dia telah jatuh cinta pada suaminya sendiri.
"Brayen," Devita menoleh ke arah Brayen. Namun, dia tersentak melihat Brayen yang kini bersimpuh di hadapannya.
"Devita, aku mengenalmu karena sebuah perjodohan. Kita tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Meski pada awalnya kita tidak saling mencintai. Tapi pada akhirnya kita saling jatuh cinta. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu dalam hidupku, Devita. Devita, aku sangat bahagia karena Tuhan mengirimkan aku seorang pendamping hidup yang begitu sempurna," Brayen menatap dalam manik mata Devita yang berdiri di hadapannya. Mata Devita semakin berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya itu.
"Bersama denganmu adalah hal yang terindah dalam hidupku. Mengenalmu dan jatuh cinta padamu, membuat hidupku semakin sempurna. Hingga detik ini, aku tidak pernah berhenti bersyukur mendapatkan istri yang sempurna sepertimu. Devita Smith, maukah kau menikah denganku? Menjadi Ibu dari anak - anakku? Dan menemani hari - hariku hingga kita menua bersama." Brayen melanjutkan perkataannya. Tatapannya terus menatap manik mata Devita.
"B... Brayen? Kita sudah menikah?" tanya Devita dengan mata yang berkaca-kaca dan gugup. Devita tampak begitu bingung, karena Brayen meminta dirinya untuk menikah dengannya.
"Ya, kita memang sudah menikah. Tapi aku belum pernah melamarmu. Pernikahan kita karena perjodohan dari orang tua. Sekarang aku ingin meresmikannya dengan melamarmu." Brayen menggenggam tangan Devita, dia mengecup punggung tangan istrinya itu. " Devita Smith, maukah kau menikah denganku? Menjadi Ibu dari anak - anakku dan menemani hari - hariku hingga kita menua bersama? Please say yes." kata Brayen kembali dengan nada penuh permohonan.
Air mata Devita terus berlinang, dia tidak pernah menyangka Brayen akan mengatakan ini. Devita menundukkan kepalanya, dia menangkup pipi Brayen dan mencium bibir Brayen. " Yes Brayen, absolutely yes!" Serunya dengan wajah yang begitu bahagia.
Brayen langsung menarik tengkuk leher Devita, mencium dan ******* bibir Devita. "Terima kasih," bisiknya.
Devita memeluk erat leher Brayen. Air matanya terus membasahi pipinya. Ya, Air mata kebahagiaan, selama Devita hidup, ini adalah hadiah terindah yang pernah Devita miliki. Tidak pernah terfikir oleh Devita, jika dirinya akan di lamar oleh Brayen. Pernikahan mereka memang di landasi oleh perjodohan, namun pada akhirnya mereka saling mencintai.
Kini Brayen mengeluarkan sebuah kotak kecil dari jasnya, sebuah cincin berlian dengan batu permata ruby merah yang sangat indah. Brayen menarik tangan kanan Devita dan memasangkan cincin itu di tangan Devita.
"Brayen, kau sudah membelikanku banyak perhiasan. Kenapa kau harus membelikannya lagi?" Devita menatap cincin yang begitu indah yang terpasang di jarinya. Cincin itu tampak begitu indah.
"Ini berbeda, ini cincin tepat aku telah melamarmu. Dan sebelumnya aku tidak pernah melakukan itu," Brayen menyentuh tangan Devita, dia mengecup jari istrinya yang sudah tersematkan cincin darinya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.