
"Apa Papa sangat yakin, jika Lucia itu adalah anakmu?" tukas Brayen, tatapannya tetap menatap tajam pada Gelisa.
"Jaga bicaramu Brayen!" Bentak Gelisa yang tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Brayen.
"Kau yang jaga bicaramu! Siapa kau yang berani membentakku!" Suara Brayen begitu keras, dingin dan tajam hingga membuat Gelisa terdiam tidak berani menjawab perkataan dari Brayen.
"Kenapa kau berani membentak Ibuku!" Seru Lucia yang ikut meninggikan suaranya, dia tidak terima jika Brayen membentak Ibunya.
"Hentikan ini, Brayen kau harus mengerti son. Papa mohon mengertilah, karena ini adalah kenyataan yang harus kita terima." ujar Edwin yang berusaha untuk menghentikan perdebatan ini.
Brayen tersenyum tipis. " Kenyataan seperti apa yang Papa katakan itu?"
"Brayen, Papa tahu kau pasti akan selalu membela Devita. Tapi kenyataannya Papa telah memiliki anak dari Gelisa. Kita semua harus menerima ini, son." Edwin berusaha menjelaskan dan meminta Brayen untuk menerima ini.
Brayen kini mengalihkan pandangannya ke arah Gelisa. "Nyonya Gelisa Wilson, apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Apa maksudmu?" tanya Gelisa yang masih tidak mengerti dengan perkataan Brayen.
"Sampai kapan kau mau memainkan dramamu? Bukankah aku sudah memberikan peringatan kepadamu? Kenapa kau masih bermain api denganku? Harusnya kau tahu siapa lawanmu, Gelisa!" Peringat Brayen tajam.
Wajah Gelisa langsung berubah menjadi pucat, "Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud?"
"Brayen ada apa ini? Apa maksudmu?" Edwin terus mendengarkan perkataan Brayen yang dia sendiri tidak mengerti maksud dari menantunya itu. Kenapa terlihat Brayen begitu membenci Gelisa.
"Pa, biarkan aku berbicara sebentar dengan Gelisa? Aku ingin ikut dalam permainannya." balas Brayen datar, tatapannya masih terus menatap tajam Gelisa.
Gelisa mendongakkan wajahnya, dia memberanikan diri membalas tatapan Brayen. "Aku tidak mengerti dengan maksudmu, Brayen Adams Mahendra. Meski kau memiliki kekuasaan, aku rasa kau harus tetap menghormati seseorang yang jauh lebih tua darimu,"
Brayen menggeleng pelan. Dia menyilangkan kakinya dan tersenyum mengejek pada Gelisa. "Haruskah aku menghormati wanita sepertimu? Sayangnya, wanita seperti kau tidak pantas untuk aku hormati."
"Kau! Beraninya kau!" Geram Gelisa, lalu dia mengalihkan pandangannya pada Edwin. "Kau hanya diam saja Edwin, ketika menantumu itu menghinaku dan kurang ajar padaku? Itu caramu mendidik anakmu Edwin Smith!" Suara Gelisa berseru penuh emosi dan tersirat sindiran tajam pada Edwin.
"Pa, aku memiliki urusan dengannya jadi aku minta biarkan aku bicara dengan wanita ini?" tukas Brayen,
Edwin menganggukkan kepalanya. " Segera selesai baik - baik, Brayen."
"Edwin kau!" Gelisa menggeram, ia mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat ketika Edwin memilih untuk diam dan tidak membela dirinya.
"Dad, kenapa kau hanya diam saja ketika Mommy di rendahkan seperti ini!" Seru Lucia dengan penuh emosi. Dia kecewa dengan sikap Edwin.
"Jaga bicaramu! Kau ini tidak tahu apapun!" Tukas Brayen.
Gelisa menahan tangan Lucia, dia ingin menyelesaikan sendiri masalahnya tanpa melibatkan putrinya itu. Gelisa tidak ingin jika Lucia harus ikut campur dengan perdebatan antara dirinya dan juga Brayen.
"Tuan Brayen Adams Mahendra, sebenarnya apa yang kau inginkan?" Gelisa mendongakkan wajahnya, bertanya dengan suara tenang. "Aku rasa kau bisa langsung mengatakan maksud dari ucapanmu itu. Karena aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kau maksud tadi."
Brayen tersenyum miring, " Kau ingin aku sungguh mengatakannya? Apa kau tidak akan menyesal."
"Ya, katakanlah apa yang ingin kau katakan?" balas Gelisa dingin.
Edwin tersentak mendengar pertanyaan Brayen. Di sisi lain, dia merasakan ada sesuatu hal. Tapi dia sudah berjanji untuk membiarkan Brayen berbicara. Kini Edwin mengalihkan pandangannya, menatap lekat Gelisa. Menunggu jawaban dari wanita itu.
Wajah Gelisa semakin memucat setelah mendengar ucapan dari Brayen. Namun dengan cepat, dia kembali mendongakkan wajahnya dan bersikap untuk tenang. " Kau ini rupanya sudah kehilangan akal sehatmu. Untuk apa kau bertanya tentang itu? Sudah jelas Lucia dan juga Edgar adalah anak kandung dari Edwin."
Brayen menggeleng pelan tersenyum dan sinis, "Allright, jadi kau mengatakan Edgar dan juga Lucia adalah anak dari Ayah mertuaku."
"Ya, karena memang mereka adalah anak dari Edwin!" Seru Gelisa dengan nada tinggi.
Tanpa mengalihkan pandanganya, Brayen mengambil sesuatu dari jasnya. Sebuah amplop putih dan langsung dia berikan pada Edwin. "Bukanlah dan bacalah dengan baik, Pah."
Edwin mengerutkan dahinya saat mendapatkan amplop putih dari Brayen. Dia pun langsung mengambil amplop itu dan membuka isi dari amplop itu. Kemudian Edwin mulai membuka isi lembaran yang ada di amplop tersebut. Saat dia mulai membaca kertas tersebut, seketika Edwin terdiam. Matanya tersirat dengan penuh amarah. Edwin meremas dengan kuat kertas itu.
"Apa maksudmu ini Brayen!" Suara Edwin berseru dengan nada tinggi hingga membuat Lucia dan Gelisa terkesiap.
"Pa, kau bisa membaca dengan baik, bukan? Bukankah di situ sudah tertulis dengan jelas, jika anak Gelisa ini bukanlah anakmu." jawab Brayen dingin, tatapannya masih menatap tajam Gelisa.
Gelisa memucat, namun terlihat dia berusaha untuk tenang. "Apa yang kau maksud Brayen! Bicara apa kau!"
"Diam kau Gelisa! Kau bisa jelaskan padaku siapa Lucia dan Edgar sebenarnya! Kau datang di kehidupanku dan mengatakan mereka adalah anakku? Katakan sejujurnya Gelisa!" Bentak Edwin penuh dengan emosi.
"L- Lucia dan Edgar memang adalah anakmu, Edwin." jawab Gelisa, dia berusaha untuk tidak gugup. Mata Edwin masih terus menatap tajam dirinya.
"Mom, apa maksud semua ini?" tukas Lucia yang tidak mengerti. " Kenapa Daddy bisa meragukan aku adalah anaknya?" Lucia kembali mendesak Gelisa untuk menjawab pertanyaannya.
"Dia adalah Ayahmu! Brayen yang sudah berusaha untuk membohongi Ayahmu itu." balas Gelisa membela diri.
Brayen menyeringai. " Berani denganku, kau akan tahu akibatnya Gelisa. Hentikan omong kosongmu itu sebelum aku menghancurkan hidupmu!"
"Hanya ada satu yang bisa membuktikan! Kita kerumah sakit sekarang! Dan lakukan Tes DNA ulang di detik ini juga!" Tukas Edwin dingin.
"Tidak perlu, kau tidak perlu melakukan tes DNA itu! Karena sudah terbukti jika Lucia dan juga Edgar adalah anakmu!" Seru Gelisa dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.
"Dan aku ingin kau membuktikannya! Detik ini kita harus melakukan Tes DNA!" Sentak Edwin, menyalang menatap Brayen.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.