Love And Contract

Love And Contract
Kedatangan Angkasa



Brayen masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Setelah dia meninggalkan Devita di hotel, hatinya tetap tidak bisa tenang. Meski Devita meminta waktu padanya, tapi dia tetap tidak bisa menerimanya. Rasanya Brayen ingin sekali memaksa Devita untuk pulang ke rumah tapi, semakin dia memaksa Devita itu sama saja dengan membuat Devita semakin membenci dirinya.


Brayen memukul stir mobil dengan keras, dirinya sungguh menyesal apa yang telah dia lakukan pada Devita. Dia tidak menyangka akan begitu melukai Istrinya. Rasa cemburu membuat Brayen kehilangan akal sehatnya.


"Apa yang aku lakukan padamu, Devita! Bagaimana cara supaya kau mau memaafkan aku, Devita!" Teriak Brayen dengan keras. Dia sungguh menyesal apa yang telah dia lakukan pada istrinya. Hingga membuat istrinya memilih untuk menjauh darinya. Brayen tidak pernah bisa untuk jauh dari Devita.


Jika Brayen tidak membawa wanita itu, mungkin tidak akan seperti ini. Saat itu Brayen terlalu di butakan oleh kecemburuan. Bahkan dirinya tidak menyangka, telah mencium wanita itu di depan istrinya sendiri. Pantas jika Devita sangat marah pada Brayen. Tidak ada seorang wanitapun yang rela suaminya jika mencium wanita lain.


Mobil Brayen sudah tiba di mansion, dengan pikiran yang saat ini sangat kacau karena tidak henti memikirkan Devita. Brayen melangkah masuk kedalam rumah. Hatinya terasa begitu kosong. Biasanya istrinya selalu menyambutnya ketika dia pulang dari kantor. Tapi kini dia kehilangan sosok itu.


Laretta yang melihat Brayen berjalan masuk sendirian, dia langsung mendekat ke arah Brayen. " Ka, dimana Devita?" tanyanya dengan suaranya yang lembut. Laretta melihat wajah Brayen yang begitu muram.


"Dia butuh waktu sendiri," jawab Brayen singkat, lalu dia berjalan menuju ke kamar.


Di dalam kamar, Brayen kembali menatap kamarnya yang kosong. Biasanya sudah ada istrinya yang tertidur pulas di ranjang. Sungguh saat ini, hati Brayen merasa sangat bersalah. Dia tidak berhenti menyalahkan atas apa yang sudah dia lakukan. Hidupnya sudah terbiasa dengan adanya Devita, jika tidak ada Devita, dia tidak tahu bagaimana untuk menjalani hidupnya.


"Devita, maafkan aku sayang," ucap Brayen dengan suara yang lemah. Tanpa sadar air mata keluar dari sudut matanya.


...***...


Keesokan pagi, Brayen sudah berada di ruang kerjanya. Pagi ini, dia memang berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. Dia sengaja berangkat lebih pagi, sungguh dia merasa kehilangan sosok istrinya. Biasanya Devita selalu menyiapkan jas dan dasi untuknya tapi saat Brayen bangun di sampingnya tidak ada istrinya. Meski baru hanya satu hari, tapi rasanya dia tidak sanggup. Brayen tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Dia tidak bisa menahan diri, ingin sekali dia menjemput Devita untuk pulang. Tapi dia yakin, Devita pasti akan menolaknya.


Brayen menyandarkan punggungnya, di kursi kemudian dia menekan tombol interkom, untuk menghubungi Albert. Dia meminta asistennya itu untuk segera menemuinya. Tidak lama kemudian, Albert masuk kedalam ruang kerja Brayen. "Tuan," sapa Albert sambil menundukkan kepalanya saat melangkah masuk kedalam.


"Kosongkan jadwalku hari ini, aku sedang tidak ingin di ganggu." tukas Brayen dingin.


Albert mengangguk patuh, "Baik Tuan,"


"Albert, aku ingin bertanya padamu?" kini Brayen menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Albert.


"Apa jika kau melakukan kesalahan pada kekasihmu lalu kekasihmu tidak akan memaafkanmu?" tanya Brayen dengan hati - hati.


"Maaf Tuan, apa anda sedang membicarakan, Nyonya?" tanya Albert dengan hati - hati.


Brayen membuang napas kasar. "Istriku marah padaku, aku terlalu cemburu saat mendengar pria di masa lalunya muncul. Aku mabuk dan membawa seorang wanita pulang kerumah. Aku tidak sadar mencium wanita itu di depan Istriku. Sekarang, dia meminta waktu untuk menenangkan diri."


Albert terdiam sesaat mendengarkan ucapan Brayen, hingga kemudian dia menjawab, "Tuan, menurut saya biarkan Nyonya menenangkan diri. Saya yakin Nyonya hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Saya bisa melihat bahwa Nyonya begitu mencintai anda, Tuan."


"Tapi aku tidak bisa menahan diriku, aku tidak bisa terlalu lama berpisah jauh darinya!" Seru Brayen.


"Tuan, saya mengerti. Tapi jika anda semakin memaksa Nyonya, saya rasa Nyonya akan semakin marah. Lebih baik biarkan Nyonya dalam keadaan yang tenang." ujar Albert memberi saran.


"Apa dia akan memaafkan aku, Albert? Aku tidak mungkin berselingkuh darinya." Brayen mengepalkan tangannya dengan kuat. Dirinya terus memikirkan Devita. Dia tidak henti menyalahkan atas apa yang dia lakukan pada istrinya itu.


"Tuan, perasaan seorang wanita memang sangat sensitif. Terlebih ketika melihat pasangannya itu berciuman dengan wanita lain. Meski itu tidak di sengaja. Tapi tetap mereka akan terluka. Saya rasa anda butuh waktu untuk mendapatkan permohonan maaf dari Nyonya. Selain itu, anda juga harus meyakinkan Nyonya jika anda sangat mempercayainya." jelas Albert.


Brayen memejamkan mata singkat. "Kau benar. Aku memang telah melukai hati istriku. Aku telah di butakan oleh kecemburuanku. Aku tidak akan lelah meminta permohonan maaf dari Istriku,"


"Siapa itu?" tanya Brayen dingin.


"Saya tidak tahu, Tuan." jawab Albert jujur.


Tanpa menunggu, Brayen langsung menginteruksi untuk masuk, tidak lama kemudian, sosok wanita cantik melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Selamat pagi, Tuan Brayen." sapa wanita itu dengan senyuman di wajahnya. Dia menunduk ketika berada di hadapan Brayen.


Brayen mengerutkan keningnya saat melihat wanita itu, " Siapa dia, Albert?" tanya Brayen dengan suara dingin.


Albert langsung menepuk keningnya pelan. "Maaf Tuan, saya lupa memberitahu anda. Ini Raisa, Sekretaris baru anda, Tuan."


Brayen mengangguk samar, lalu menatap sekretaris barunya itu. " Ada keperluan apa kau kesini, Raisa?"


"Maaf Tuan, di depan ada tamu. Beliau memaksa untuk bertemu dengan anda, Tuan" jawab Raisa.


"Aku sudah mengatakan bukan? Aku sedang tidak ingin menerima tamu hari ini?" tukas Brayen dengan nada dingin, dan tatapan tak suka ke arah Raisa.


"Bagaimana jika aku yang datang, Tuan Brayen Adams Mahendra?" suara bariton yang tiba - tiba menerobos masuk kedalam ruang kerja Brayen.


Tatapan Brayen langsung teralih, ke sumber suara itu. Seketika, sorot matanya menajam. Rahangnya mengetat, kala melihat Angkasa kini berada di hadapannya.


"Untuk apa kau kesini?" seru Brayen, dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah Angkasa.


"Apa begini caramu menyambut kedatangan tamu?" Angkasa tidak memperdulikan ucapan Brayen. Dia melangkah, lalu duduk di hadapan Brayen.


Brayen mengibaskan tangannya memberikan isyarat pada Albert dan sekretarisnya yang baru untuk segera meninggalkan ruang kerjanya. Kemudian mereka menunduk dan undur diri dari ruang kerja Brayen.


"Aku tidak memiliki waktu untuk berbicara denganmu. Katakan, untuk apa kau datang kesini?" tanya Brayen dingin.


"Apa kau tidak ingin menawarkan minuman untukku?" jawab Angkasa santai.


"Jangan bermain denganku! Aku bisa saja menghabisimu detik ini juga!" Desis Brayen menyalang menatap tajam Angkasa yang duduk di hadapannya.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.