
"Devita?" Laretta yang baru saja turun dari tangga, dia menatap Devita yang masuk kedalam rumah.
Devita tersenyum lirih, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. "Laretta, aku pikir kau ke studio lukis."
Laretta tidak menjawab perkataan Devita, pandangan Laretta kini menatap wajah Devita yang terlihat sedih. Dengan cepat Laretta melangkah mendekat ke arah Devita.
"Ada apa Devita?" Laretta mengelus lengan Devita. "I'am here Devita, kau bisa menceritakannya padaku."
"Tidak apa-apa, Laretta." Devita menggelengkan kepalanya. "Mungkin, aku hanya terlalu lelah saja."
"Devita," Laretta menyentuh tangan Devita. "Kau tahu, aku adalah adik iparmu dan sahabatmu. Selama ini, aku selalu berbagi segala kesusahanku. Kau selalu berada di sisiku ketika semua orang menyalahkanku. Aku tahu, kau itu sedang dalam masalah. Katakan ada apa Devita?"
"Brayen..," Isak tangis Devita. Air matanya kembali berlinang membasahi pipinya. Devita berusaha untuk tidak menangis, tapi perkataan Brayen begitu menyakitkan.
Laretta memeluk erat tubuh Devita, dia mengusap punggung Kakak Iparnya itu. "Ada apa Devita? Apa Kakakku menyakitimu?"
"Brayen, sangat marah padaku?" Devita mengurai pelukannya. "Dia tidak mau berbicara denganku." Devita terisak tertahan, dia berusaha untuk menghentikan tangisnya.
"Lebih baik kita duduk." Laretta menarik tangan Devita dan membawa Devita untuk duduk di sofa.
"Katakan, ada apa Devita?" tanya Laretta. Dia mengelus tangan Devita memberikan ketenangan pada Kakak iparnya itu.
"Aku rasa Brayen tidak akan pernah memaafkanku," kata Devita lirih. "Saat aku datang dia mengatakan jika aku ini menganggunya."
Laretta mendesah pelan. "Dia berbohong! Kakakku hanya terbawa emosi padamu Devita! Percayalah, dan semuanya akan baik-baik saja. Berikan sedikit waktu untuknya."
"Selama ini aku memang selalu menutupi masalah dari Brayen. Aku hanya tidak ingin Brayen tidak bisa mengendalikan emosinya. Tapi aku selalu lupa siapa suamiku. Dengan tidak mengatakannya, cepat atau lambat Brayen akan segera mengetahui segalanya." Devita menundukkan wajahnya, Isak tangisnya yang tertahan membuat napasnya semakin sesak.
"Devita, aku mengerti kenapa kau tidak memberitahu Kakakku!" Balas Laretta. "Terkadang, sifat keras Kakakku yang membuat dirinya sering lepas kendali. Lebih baik kau tenangkan dirimu, Devita."
"Tapi, bagaimana jika Brayen tidak akan pernah memaafkan aku Laretta?" wajah Devita kembali berubah menjadi muram. Tersirat raut wajah kesedihan dan terlihat begitu rapuh di wajah wanita itu.
"Tidak mungkin," sela Laretta cepat. "Kakakku begitu mencintaimu, Devita. Tidak mungkin, Kak Brayen tidak memaafkanmu."
"Tapi tadi-"
"Itu karena dia sedang marah denganmu!" Laretta langsung memotong ucapan Devita. "Kakakku tidak mungkin tidak memaafkanmu Devita. Singkirkan pikiran burukmu itu. Kalian itu akan segera memiliki anak. Tidak mungkin Kakakku itu meninggalkanmu. Sekarang, lebih baik kau beristirahat di kamar. Hilangkan pikiran burukmu Devita. Ingat kau ini sedang hamil! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga kandunganmu karena kau terlalu banyak memikirkan perkataan dari Kak Brayen"
Devita mengangguk pelan, kemudian dia menuruti Laretta untuk beristirahat. Devita melangkah menuju ke arah kamar. Tatapannya kosong, wajahnya masih tampak muram. Sedangkan Laretta, dia begitu sedih melihat keadaan Devita saat ini.
...***...
Devita melangkah masuk kedalam kamar. Meletakkan tas di atas meja, lalu berjalan menuju ke arah ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Devita berusaha untuk memejamkan matanya. Namun, setiap kali Devita berusaha memejamkan matanya, dia selalu mengingat perkataan Brayen yang begitu menyakitkan. Devita tidak bisa menutupi kalau dirinya begitu terluka dengan perkataan suaminya itu.
Suara dering ponsel terdengar, Devita mengambil ponselnya. Menatap ke layar tertera nama Nadia ibunya yang tengah menghubunginya. Tanpa menunggu, Devita menggeser tombol hijau, sebelum kemudian menempelkan ponsel ke telinganya.
"Mama?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.
"Sayang? Kau dimana? Apa kau sibuk?" tanya Nadia dari sebrang telepon.
"Aku di rumah? Bagaimana dengan kota K, Ma?"
Helaan nafas berat Nadia terdengar dari balik telepon. "Sudah tiga tahun Mama tidak kesini. Papamu kadang selalu mengeluh meminta cepat kembali ke kota B karena cuaca di sini terlalu panas. Mama hampir setiap hari berdebat dengan Papamu hanya karena dia ingin segera pulang ke Kota B."
Devita mengulum senyumannya. "Bukankah cuaca di Kota B sama saja dengan di kota K? Sebenarnya ada apa Mama pergi ke kota K?"
"Kau benar sayang, tapi menurut Papamu di kota K cuacanya jauh lebih panas di banding kota B. Dan juga Papamu akan mendirikan perusahaan teknologi di sini. Perusahaan itu khusus Papamu bangun untuk anak pertamamu nanti."
"Untuk anakku? Jadi, Mama dan Papa jauh - jauh ke kota K sedang mempersiapkan perusahaan untuk anak pertamaku?"
"Ya, Mama dan Papa sudah mendiskusikan ini sejak awal. Mama ingin anakmu nanti, bisa sering berkunjung ke Kota K. Itu kenapa Mama dan Papa ingin membangun perusahaan teknologi khusus untuk anak pertamamu nanti."
"No sweetheart. Mama dan Papa bekerja keras semua demi kehidupanmu, Devita. Mama tahu, Brayen pasti akan mencukupi kebutuhan kalian. Tapi saat Mama dan Papa tidak ada lagi, semua harta akan jatuh pada anak dan cucu Mama."
"Ma, please jangan berbicara seperti itu. Mama dan Papa akan selalu panjang umur. Kalian berdua akan menemaniku hingga aku tua nanti!"
Nadia tersenyum dari balik telepon. "Semoga Tuhan memberikan Mama dan Papa umur yang panjang agar bisa menemanimu sayang."
"Aku selalu mendoakan Mama dan Papa."
"Terima kasih, sayang."
"Ma, tapi sungguh aku tidak ingin membebani Mama dan Papa. Lebih baik, Mama dan Papa pergunakan uang kalian untuk berlibur. Habiskan waktu kalian lebih banyak untuk berlibur."
"Devita, ini sudah menjadi keputusan Mama dan juga Papa. Kami telah merancang semuanya untuk anak - anakmu nanti. Mama dan Papa hanya memberikan yang terbaik untuk kamu, Devita. Jadi kau tidak bisa melarangnya."
Devita menghela nafas dalam. "Baiklah Ma. Apa Brayen juga sudah mengetahui ini semua?"
"Tentu suamimu sudah mengetahuinya. Sejak Smith Company berada di bawah kepemimpinan suamimu, perusahaan keluarga kita jauh berkembang pesat Devita. Mama harus mengakui suamimu itu begitu hebat dalam memimpin perusahaan. Sangat pantas, jika Mama melihat menantu Mama selalu masuk kedalam majalah bisnis. Devita, apa nanti kau di perbolehkan memimpin perusahaan oleh Brayen?"
"Ya Mama benar, Brayen memang sangat hebat dalam memimpin perusahaan." balas Devita dengan suara tenang. " Kalau untuk memimpin perusahaan aku tidak tahu. Mungkin, ketika anakku besar nanti, aku akan mengambil alih perusahaan keluarga kita. Tapi semua itu tergantung Brayen."
"Baiklah Mama mengerti. Kau memang harus selalu menurut pada suamimu. Selama ini Brayen selalu membantu keluarga kita. Beberapa minggu lalu, Papamu mengalami masalah di perusahaannya. Tapi Brayen langsung mengatasinya dengan baik, hingga tidak ada kerugian sedikitpun. Mama sangat menyukai Brayen sejak awal, kau bisa melihatnya bukan? Dunia suamimu hanya bekerja. Bahkan Mama tidak pernah mendengar berita buruk tentang suamimu?"
Devita terdiam sebentar mendengar perkataan ibunya itu, hingga kemudian dia menjawab. "Brayen membantu Papa? Kenapa dia tidak pernah menceritakannya padaku?"
"Sayang, kau harus belajar untuk memahami suamimu. Brayen tidak suka jika kebaikannya itu di ketahui oleh banyak orang. Bukan dia tidak ingin memberitahumu. Mama ingin selalu ingatkan padamu Devita, percayalah pada suamimu. Karena Mama sangat yakin, Brayen akan menjagamu dengan baik."
"Iya Ma, aku akan selalu percaya pada Brayen?"
"Baiklah Devita, ada hal lain yang ingin Mama tanyakan padamu?"
"Ada apa, Ma?"
"Mama mendengar Alena Nakamura berada di dalam penjara? Dan tersangkut masalah dengan Brayen. Apa kau ada di balik alasan Brayen menjebloskan Alena Nakamura kedalam penjara?"
Devita mendesah pelan. "Alena menolak Laretta, dia masih mengingat janji yang aku ucapkan saat aku kecil. Aku berjanji pada Alena, jika aku dewasa nanti aku akan menikah dengan Angkasa. Saat di pesta ulang tahun temannya Laretta, Alena memfitnah Laretta dengan mengatakan anak yang di kandung Laretta tidak jelas siapa Ayahnya. Dan Brayen mendengarnya." Devita memilih untuk menjelaskannya pada Nadia. Dia tidak ingin ibunya berpikir yang tidak-tidak.
"Mama sudah tahu kelanjutan nasib dari Alena Nakamura jika sudah tertangkap oleh Brayen. Devita, Mama hanya ingin mengingatkan padamu. Mama tahu, takdir yang telah mempertemukan Angkasa dan Laretta. Tapi, kau dan Angkasa terlibat dalam hubungan masa lalu. Kunci dari semua ini adalah kejujuran. Mama percaya, kau bisa membedakan mana yang terbaik Devita."
"Aku mengerti Ma..."
"Ya sudah, Mama harus tutup dulu. Nanti Mama akan menghubungimu lagi."
Panggilan terputus, Devita meletakkan ponselnya di tempat semula. Devita mengingat semua perkataan Nadia. Banyak hal yang Devita tidak tahu dari Brayen. Tapi, itu semua adalah kebaikan yang dilakukan oleh suaminya. Sedangkan dirinya? Meski tujuan Devita agar Brayen bisa mengendalikan amarahnya, namun kenyataannya semuanya berbalik. Brayen jauh lebih marah ketika mengetahui Devita menutupi sesuatu.
Air mata Devita mulai berlinang membasahi pipinya, dirinya begitu merindukan suaminya. tapi di detik ini Devita tidak tahu, akan sampai kapan suaminya itu akan marah padanya. Perlahan, Devita memilih untuk memejamkan matanya. Hatinya begitu sesak dan pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan suaminya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.