
"Brayen," panggil Devita dengan suara khasnya saat bangun tidur.
Brayen mengalihkan pandangannya. Dia tersenyum ke arah Devita yang sudah terbangun. "Kau sudah bangun?"
"Ya, perutku lapar. Jadi aku terbangun," jawab Devita.
Brayen mengulum senyumnya. "Aku sudah meminta Ruby untuk membelikan makanan untuk kita. Karena sudah malam, kita tidak mungkin makan di luar. Lebih baik kita makan di dalam kamar hotel saja,"
Devita mengangguk, lalu mengambil dress tidur yang sudah di siapkan oleh Brayen di atas ranjang. Devita beranjak dari ranjang dan berjalan mendekat ke arah Brayen. Dia membuka makanan, melihat makanan yang cukup aneh menurutnya. Karena Devita memang belum pernah makan makanan timur tengah.
"Brayen, ini makanan asal Turkey?" tanya Devita sambil membuka makanan itu dan menyajikannya untuk Brayen.
"Ya, ini kebab dan ini ada kokoretsi dan satunya pide," jawab Brayen.
Devita duduk di hadapan Brayen dan kembali mengamati makanannya. " Brayen, bisa jelaskan apa ini? Daging apa ini?"
"Kebab kau tahu bukan? Di kota B juga banyak penjual kebab, isinya hampir sama daging sapi. Tetapi Kokoretsi ini bukan memakai daging sapi tapi daging domba. Lalu Pide itu roti di sini atau yang biasa kita sebut pizza," jelas Brayen.
"Aku tidak tahu semuanya, karena aku tidak pernah makan - makanan Turkey. Aku lebih sering makan malam western food," balas Devita. "Tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya," lanjut Devita sambil mengambil kebab dan mulai memakannya.
"Ini enak Brayen, sangat gurih." ucap Devita yang langsung melahap kebab di tangannya. Lalu dia mencoba Kokoretsi yang Brayen katakan adalah daging domba. "Kokoretsi juga enak," gumam Devita.
Brayen mengulum senyumannya. Saat melihat cara makan Istrinya yang terlihat menggemaskan. "Habiskan perlahan. Makanannya masih banyak, Sayang. Nanti kau tersedak jika makan lahap seperti itu,"
"Hem, Brayen. Besok kita akan kemana?"
"Tempat mana yang ingin kau kunjungi,"
"Aku ingin ke Cappadocia."
"Itu jauh Devita, kita akan kesana mungkin tiga hari lagi."
Devita mendengus, "Lalu kita akan kemana? Aku tidak tahu Istanbul?"
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat nanti kamu akan tahu,"
"Baiklah,"
"Astaga aku lupa!" Seru Devita.
Brayen mengerutkan keningnya, "Lupa? Kau lupa apa?"
"Aku lupa memberitahu Mama Nadia kalau aku ke Turkey. Kau tahu kan, aku sudah lama menghindar dari Ibuku." ujar Devita seraya menepuk pelan dahinya.
"Kenapa kau menghindar?" tanya Brayen, menatap bingung Istrinya itu.
Devita tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya. "Mama Nadia sering bertanya kepadaku, kapan aku hamil. Aku tidak mau bertemu dengannya dulu. Aku pusing menjawabnya,"
"Katakan kepada Ibu mertuaku. Kita sedang dalam proses pembuatan. Minta dia untuk bersabar. Dan aku akan membuatnya setiap hari," jawab Brayen dengan santai.
Devita mendelik, menatap tajam Brayen. "Kau ini sudah gila ya? Yang benar saja setiap hari! Kau mau membuatku tidak bisa berjalan!"
"Jika kau tidak bisa berjalan. Aku akan menggendongmu. Tenang saja, aku akan selalu kuat untuk menggendongmu, Devita." balas Brayen.
"Kau ini! Kenapa otakmu jadi seperti ini!" Devita mencebik menatap kesal Brayen.
Brayen mendekatkan bibirnya ke bibir Devita. Lalu berbisik, "Aku seperti ini karena memiliki Istri sepertimu. Kau sering mengatakan tidak menginginkan, tetapi kau selalu menginginkan sentuhan suamimu."
Seketika wajah Devita memerah. Sungguh sangat malu. "Brayen sialan! Jangan menggodaku!" Seru Devita.
Brayen tertawa mendengarkan ucapan Istrinya. Dia berhasil menggoda Istrinya itu.
...***...
Hari ini, Brayen akan membawa Devita ke Galata Bridge. Sebenarnya Devita ingin pergi ke Cappadocia, tapi Brayen menundanya. Brayen memutuskan untuk membawa Devita ke Galata Bridge.
Cuaca cerah di Istanbul, membuat Devita memakai mini skirt yang sangat seksi dan kaos lengan pendek warna hitam. Di padukan dengan sepatu kets, penampilan Devita terlihat kasual, namun tetap sangat menawan. Devita mengikat rambutnya ke atas. Memperlihatkan leher indahnya. Tanda merah yang di karenakan oleh ulah Brayen di lehernya harus terpaksa di tutupi oleh fondation.
Tatapan Devita kini teralih pada Brayen yang baru saja selesai mengganti bajunya. "Brayen"
Brayen menoleh ke arah Devita dan menjawab, "Ada apa, Sayang?"
Devita mendekat ke arah Brayen, lalu berkata dengan nada kesal, "Malam ini, kau di larang meninggalkan tanda di leherku. Jika kau sampai meninggalkan tanda, awas saja aku akan memesan kamar baru untukku,"
Brayen, mengulum senyumannya. "Memangnya kenapa jika aku memberikan tanda di leher indahmu? Itu adalah tanda kepemilikan, sayang"
Devita mencebikkan bibirnya. " Kau yang benar saja, aku harus menutupi dengan fondationku. Aku ingin mengikat rambutku seperti ini, aku harus memastikan lebih dulu memastikan tanda yang kau buat ini tidak terlihat."
Brayen merapatkan tubuhnya pada tubuh Devita, lalu memeluk pinggang Istrinya itu. "Kenapa harus di tutupi, Hem? bahkan lehermu kelihatan lebih indah dengan tanda merah itu."
Devita mendengus. " Kau bicara jangan yang tidak - tidak Brayen! menyebalkan sekali. Sudahlah, ayo kita berangkat."
Brayen menggeleng pelan dan tersenyum. Istrinya itu memang menggemaskan. Brayen menggenggam tangan Devita keluar dari kamar. Sopir sudah menjemput di lobby. Ruby mengikuti Brayen dan Devita. Sebenarnya ini seperti bukan bulan madu. Brayen membawa asisten untuk Devita, alasannya sungguh lucu, hanya demi karena dia tidak ingin Devita kelelahan mengemasi barang-barang.
Brayen dan Devira masuk ke dalam mobil. Brayen memang sengaja menyewa mobil bersama dengan sopirnya karena dia malas jika harus menyetir. Di tambah harus memperhatikan GPS.
Selama perjalanan, Devita selalu memandang keluar. Dia menikmati suasana indah di Turkey. Bahkan dia tidak menyangka akan datang ke Turkey, untuk berbulan madu. Rasanya seperti mimpi. Turkey memang salah satu daftar negara yang harus di kunjungi oleh Devita. Tapi tentu saja Devita berpikir jika dirinya bisa pergi bersama dengan Olivia.
"Sepertinya Turkey sudah membuatmu jatuh cinta," ucap Brayen yang sejak tadi melihat Devita, tidak henti menatap keindahan negara Turkey.
"Ya, ini sangat indah Brayen. Aku menyukainya. Andaikan aku di izinkan Ayahku, pasti aku sudah sejak lama ke Turkey," ujar Devita dengan yang masih terus menatap ke luar.
Brayen menempelkan kepalanya di bahu Devita. "Terpenting saat ini kau bisa pergi berlibur ke Turkey bersama denganku,"
"Kau benar, jika pergi bersama denganmu aku bisa berbelanja sepuasnya. Aku bisa membeli apapun yang aku inginkan," kata Devita sambil tersenyum, dia mengedipkan sebelah matanya, menggoda suaminya itu.
"Kebetulan uang suamimu ini sangat banyak. Tenang saja, aku mampu membelikan apapun yang kau inginkan," Brayen mendekatkan bibirnya, ke pipi Devita dan memberikan banyak kecupan di pipi Istrinya itu.
"Devita mendengus, "Kau ini sombong sekali!"
...***...
Brayen dan Devita kini sudah tiba di Galata Bridge mereka turun dari mobil. Meski bersama dengan Ruby, Brayen meminta Ruby untuk menjaga jarak, Brayen tidak ingin di ganggu.
"Brayen, kita ada dimana?" tanya Devita, yang dia masih belum tahu nama tempat ini.
"Galata Bridge, kau pasti sangat menyukainya. Karena aku tahu hobymu itu makan," jawab Brayen dan Devita langsung mengerutkan bibirnya.
Galata Bridge adalah salah satu dari beberapa jembatan yang melintasi teluk Golden Horn, di Instabul. Galata Bridge bertingkat tua. Tingkat atas berupa jembatan yang di gunakan untuk lintasan mobil dan pejalan kaki. Lintasan term yang membawa penumpang dari daerah Sultanahmet kota lama ke Kabatas daerah kota baru, juga melewati bagian ini. Adapun di bagian bawah jembatan adalah tempat wisata Turkey ini di gunakan sebagai tempat kuliner. Banyak kafe dan restauran yang menawarkan hidangan laut, bisa di temui di Galata Bridge
"Brayen, kita harus berfoto sebelum makan. Aku ingin foto kita banyak, Brayen," kata Devita bersemangat.
"Ya baiklah," jawab Brayen datar.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.