
Malam semakin larut, Devita dan juga Brayen sudah berada di rumah. Setelah makan malam di rumah Olivia, Devita lebih memilih untuk pulang ke rumah. Tadi pagi orang tua Olivia sudah kembali ke Kanada, itu kenapa Felix lebih memilih untuk menginap di rumah Olivia. Felix masih belum ingin meninggalkan Olivia.
Devita menoleh ke arah jam dinding, kini sudah pukul sepuluh malam. Entah kenapa, Devita belum mengantuk. Devita duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Devita mengambil novelnya di atas nakas dan memilih untuk membaca novel sambil menunggu rasa kantuknya tiba. Mungkin, alasan Devita tidak bisa tidur karena suaminya kini sedang berada di ruang kerja. Padahal Devita sudah melarang Brayen untuk bekerja, tapi suaminya itu selalu mengatakan hanya sebentar.
Terdengar suara dering ponsel, Devita mendesah pelan kenapa malam - malam ada yang menghubunginya. Devita mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, lalu menatap ke layar. Kening Devita berkerut dalam, ketika nomor tidak di kenal menghubunginya. Tanpa pikir panjang, Devita langsung mengusap ke layar ponsel untuk menerima panggilan itu. Sebelum kemudian, Devita meletakkan ponsel di telinganya.
"Hallo?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.
"Devita, apa aku menganggumu?" suara bariton terdengar dari sebrang line.
Devita terdiam sebentar berusaha mengenali suara yang menyapa dirinya. nomor yang tidak di kenal menghubunginya dan ini bukan nomor ponsel dari Indonesia. Seketika Devita langsung mengingat pemilik suara ini.
"Kau? E-Edgar?" ucap Devita memastikan, dia sendiri juga belum yakin, jika pria yang menghubunginya adalah Edgar.
"Ya, kau benar. Aku Edgar, lama tidak bertemu Devita." suara Edgar terdengar begitu lembut.
"Ada apa Edgar?" Devita memilih untuk langsung bertanya langsung, apa alasan Edgar malam - malam seperti ini menghubunginya.
"Aku hanya ingin minta maaf atas segala yang di perbuat oleh adik dan juga Ibuku, yang telah berniat menghancurkan keluargamu. Selain itu, aku juga ingin berpamitan padamu. Karena sebelumnya aku belum berpamitan padamu. Aku ingin sekali bertemu langsung denganmu. Tapi itu, sangat tidak mungkin. Aku minta maaf sekali karena adikku, hampir saja membunuhmu dan anakmu Devita. Aku sungguh menyesal tidak bisa mencegah adik dan juga Ibuku."
"Edgar, kau tidak perlu meminta maaf. Aku sungguh sudah memaafkan Ibu dan juga adikmu. Mereka telah mendapatkan pelajaran dari apa yang telah mereka perbuat. Jadi kau tidak perlu meminta maaf. Dan aku juga sudah mendengar, kau meninggalkan Indonesia. Aku berharap kau memiliki kehidupan yang baik Edgar."
"Terima kasih, Devita. Kau memang sangat baik. Kalau begitu aku harus tutup dulu. Aku senang pernah mengenalmu. Semoga kau dan Brayen selalu hidup bahagia."
"Terima kasih, Edgar. Aku juga senang mengenalmu, Edgar."
Panggilan tertutup, Devita meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Devita tersenyum lega. Saat ini masalah keluarganya sudah selesai. Ayah dan Ibunya sudah kembali menjadi pasangan yang sempurna, yang selalu bahagia seperti sebelumnya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, Devita melihat ke arah pintu dan melihat Brayen melangkah masuk kedalam kamar.
"Kau belum tidur?" Brayen melangkah mendekat ke arah Devita, dia langsung duduk di sampingnya.
"Kau ini lama sekali Brayen! Kau mengatakan padaku, bahwa kau tidak akan lama!" Gerutu Devita kesal. Brayen mengatakan akan sebentar tapi sudah dua jam suaminya itu meninggalkan dirinya.
"Maaf sayang, tadi aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan," Brayen mengelus dengan lembut pipi istrinya.
Devita mendengus kesal. "Bahkan di malam hari, kau masih sibuk memikirkan pekerjaan!"
"Perusahaanku baru saja mendapatkan kerja sama dengan perusahaan asal Rusia. Kau tahu sekarang, Ayahku sudah tidak lagi memikirkan proyek kerjasama." Brayen berusaha memberikan pengertian pada istrinya itu.
Devita membenamkan wajahnya di leher suaminya itu. Mencium aroma parfum yang sangat ia sukai. "Tapi aku ingin kau tidak terlalu lelah, Brayen." bisiknya.
"Ya, maafkan aku. Kedepannya aku akan lebih banyak meluangkan waktu untukmu," balas Brayen, dia mengusap dengan lembut rambut istrinya.
"Brayen, aku lapar..." Devita mendongakkan kepalanya, merajuk pada suaminya itu.
"Kau lapar?" Brayen mengerutkan dahinya. Padahal, istrinya baru saja makan, tapi sekarang sudah lapar lagi.
Devita mengagguk pelan, "Aku ingin ketoprak."
"Ketoprak? What is that?" kening Brayen berkerut dalam saat mendengar nama makanan yang di ucapkan oleh istrinya.
"That Indonesian food Brayen! And i want it!" Tukas Devita.
"Aku tidak ingin chef Della yang membuatkannya untukku." ucap Devita ketus.
"Lalu kau ingin siapa? Kita hanya memiliki satu Chef asal Indonesia dan itu hanya chef Della. Jika kau tidak menyukai Chef Della, aku akan meminta Albert untuk besok mencarikan Chef baru untukmu."jawab Brayen.
"Tidak Brayen, aku tidak mau!" Devita menggelengkan kepalanya.
Brayen membuang napas kasar, "Lalu, kau ingin siapa yang memasak untukmu?" tanya Brayen.
"Aku ingin kau yang membuatkan ketoprak untukku!" Tukas Devita.
Brayen menatap Devita tak percaya. Bagaimana bisa istrinya meminta dirinya untuk memasak makanan aneh itu. Bahkan dia saja tidak tahu itu jenis makanan apa.
"Aku tidak bisa Devita! Jenis makanan yang kau maksud saja aku tidak tahu." Brayen menghela nafas dalam, dia tidak habis pikir dengan apa yang di minta oleh istrinya itu.
"Tapi ini permintaan dari anakmu, Brayen! Bukan permintaanku. Jadi kau harus menurutinya." Devita merajuk, dia memaksa suaminya untuk membuat ketoprak yang sejak tadi sudah terlintas di pikirannya.
"Devita, lebih baik kau memintaku untuk membelikan mobil baru atau rumah baru. Aku tidak bisa masak, Devita. Kau tahu itu!" Brayen menggeram tertahan, dia berusaha untuk menahan kesalnya.
Devita mendengus tak suka, "Jadi kau tidak mencintaiku Brayen! Kau juga tidak mencintai anakmu!"
Mata Devita mulai berkaca-kaca, air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. Brayen memejamkan matanya singkat dan mengumpat di dalam hati, karena semenjak hamil Devita jauh lebih sensitif. Tidak kali ini, bukan hanya sensitif tetapi meminta hal yang aneh bagi Brayen.
"Tidak sekarang, sayang. Besok aku akan meminta Chef Della untuk mengajariku membuat makanan yang kau mau." Brayen mengelus dengan lembut pipi istrinya. Menghapus air mata Devita dengan jemarinya. Namun, Brayen tidak berhenti mengumpat dalam hati karena permintaan aneh dari istrinya itu.
Senyum di wajah Devita terukir, mata Devita berbinar ketika mendengarkan ucapan suaminya itu. "Benarkah Brayen? Besok kau akan membuatkannya untukku?"
Brayen mengangguk terpaksa, "Ya sayang, besok aku akan membuatkan makanan apapun yang kau inginkan."
"Terima kasih Brayen!" Suara Devita berseru bahagia dia langsung memberikan kecupan bertubi - tubi di pipi suaminya itu.
"Lebih baik kita tidur sekarang. Ini sudah malam." Brayen membantu Devita untuk berbaring, lalu menarik selimuti untuk menutupi tubuh istrinya itu. Brayen memang sengaja langsung meminta istrinya untuk tidur. Jika tidak, istrinya itu akan kembali meminta makanan yang aneh yang baru pertama kali dia dengar.
"Brayen, kau tidak kesal kan padaku?" Devita menatap wajah suaminya yang terlihat seperti menahan kesal.
Brayen memaksakan senyuman di wajahnya. "Tidak. Lebih baik kau tidur."
Kemudian, Brayen membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Devita langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Seperti biasa, tidur di dalam pelukan Brayen adalah hal yang ternyaman bagi Devita. Kini Brayen mulai memejamkan matanya, berusaha untuk melupakan permintaan aneh dari istrinya itu. Dalam hati Brayen berdoa, semoga saja istrinya itu sudah melupakan keinginannya untuk memakan makanan aneh itu.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.