Love And Contract

Love And Contract
Pergi Berbelanja



"Devita?" tegur Brayen.


"Ah iya." Devita langsung menghentikkan lamunannya. Devita mengumpat di dalam hati, kenapa dia bisa melihat Brayen seperti itu. Sungguh, benar - benar memalukkan. Beruntung Brayen sepertinya tidak menyadarinya, karena ini akan mempermalukkan dirinya. Pria itu akan mengira jika dia menyukainya.


"Brayen kau sudah siap?" tanya Devita yang berusaha mengalihkan suasana.


"Ya sudah. Kau ambillah ini," Brayen menyerahkan ampplop coklat pada Devita.


"Ini apa Brayen?" tanya Devita, sambil mengerutkan keninganya, menatap bingung amplop coklat yang ada di genggaman tangannya.


"Bukalah," jawab Brayen datar.


Devita mulai membuka amplop cokelat itu. Namun, saat Devita membuka amplop coklat itu, dia terkejut karena isi amplop tersebut berisi uang tunai yang jumlahnya itu tidak sedikit. Tidak hanya itu, mata Devita membulat tak percaya karena di dalam kartu itu juga ada Dubai First Royale Master Card.


Devita menatap tak percaya, di usianya yang masih 20 tahun dia sudah memiliki Dubai First Royale Master Card dengan namanya sendiri. Kartu kredit ini tidak bisa di miliki oleh sembarangan orang. Devita sangat tahu, kartu kredit itu terbuat dari berlian 235K. Bahkan sisi kiri dari kartu kredit itu terbuat dari potongan emas. Designnya juga tak kalah mewah dengan JP Morgan Card yang di miliki oleh Devita sebelumnya namun hilang, karena kartu kreditnya di letakkan di dalam dompet.


"Brayen ini?" Devita tidak bisa lagi melanjutkan kata - katanya. Meskipun Devita juga terlahir dari keluarga yang cukup kaya, tapi Edwin tidak memanjakan dengan semua fasilitas. Edwin dan Nadia ingin agar Devita bisa belajar dan menghargai sesuatu. Semua kartu kredit Devita yang di berikan oleh orang tuanya selalu memiliki limit, Ya, meskipun limitnya tetap besar namun Edwin memang tidak ingin putrinya lepas kendali.


"Saat pulang nanti, aku sudah menyiapkan dua kartu lagi untukmu. Jadi kau bisa memakainya sepuasnya," kata Brayen sembari membaca email di Ipadnya.


"Tapi ini uangnya, terlalu banyak Brayen." Devita menghela nafas dalam. Suaminya itu tidak hanya memberikan kartu kredit tapi juga memberikan uang cash yang cukup besar. Selama ini Devita tidak memiliki uang tunai yang banyak. Biasanya Devita selalu menggunakan kartu kredit atau kartu debit untuk membeli yang dia inginkan.


"Ya, kau simpan saja uangnya di tasmu. Jangan di masukkan kedalam dompet. Biasakan kau memiliki uang yang di simpan di luar dompetmu. Jadi jika terjadi hal buruk seperti kemarin, paling tidak kau masih memiliki uang," jelas Marsha. " Kartu kreditmu dan kartu kredit yang kau hilangkan kemarin semuanya sudah di blokir. Jadi kau tidak perlu khawatir, saat kita pulang ke Kota B. Kau akan menerima kartu kredit barumu."


"Brayen, kenapa kau memiliki kartu Dubai First Royale Master Card? Pengusaha kaya pun tidak mudah untuk mendapatkan ini. Kartu kredit itu terbuat dari berlian dan juga emas," kata Devita. Dia sungguh tidak menyangka, Brayen memiliki kartu Dubai First Royale Master Card.


"Tidak sulit bagiku untuk mendapatkan apapun yang aku inginkan. Kartu kredit yang sebelumnya aku berikan padamu, juga tidak bisa di miliki oleh sembarang orang." balas Brayen dengan nada angkuh.


Devita mendengus kesal mendengar kesombongan suaminya itu.


"Tapi, apa kau akan membuka perusahaan di Dubai?" tanya Devita yang masih penasaran.


"Ya, aku sudah berencana untuk membangun Apartemen dan Hotel di sana. Aku akan bekerja sama dengan keluargamu. Tapi sepertinya Ayahmu nanti akan memintamu untuk menangani proyek kerja sama ini." jawab Brayen.


Mendengar perkataan Brayen membuat Devita terkejut. " Apa? Kenapa harus aku yang bertanggung jawab? Bagaimana bisa, aku tidak mengerti apapun tentang dunia bisnis." seru Devita.


"Perusahaan keluargamu sedang berkembang pesat. Ayahmu mengatakan kepadaku, jika proyek kerja sama denganku rencananya akan di serahkan kepadamu. Dia ingin kau belajar Devita," balas Brayen.


"Tapi aku masih belum lulus kuliah Brayen. Usiaku juga masih sangat muda untuk masuk ke dalam dunia bisnis!" Gerutu Devita. Sejak dulu, dia memang tidak berniat untuk memimpin perusahaan.


Brayen meletakkan Ipad di atas nakas, kemudian dia berdiri menatap Devita yang berdiri di sampingnya. "Usia bukan alasan, kau tahun depan sudah lulus kuliah. Kau harus berpikir kemana langkahmu selanjutnya. Aku berpikir kau lebih bagus membuka perusahaan properti seperti keluargamu. Semua orang pasti membutuhkan tempat tinggal, memiliki bisnis property itu sangat bagus. Dari segi investasi pun kau tidak akan mengalami penyusutan. Karena properti setiap tahunnya akan bertambah mahal.


Devita mencebik kesal. "Kenapa kau yang sekarang menentukkan masa depanku? Bukankah kau membebaskanku untuk memilih bisnis apa yang akan aku jalani setelah lulus kuliah nanti?"


"Kau boleh bisnis lain, tetapi untuk langkah awal kau harus membuka perusahaan properti!" Tukas Brayen menekankan dan tidak ingin di bantah.


"Aku tidak mau!" Tolak Devita dengan tegas.


"Terserah kau sajalah! Aku malas berdebat denganmu!" Balas Devita dengan nada kesal. Dia memilih untuk menuruti keinginan Brayen. Dia malas jika harus berdebat dengan suaminya itu.


"Good girl. Kita berangkat sekarang," Brayen mengambil ponselnya lalu berjalan meninggalkan kamar. Dengan kesal, Devita menghentakkan kakinya lalu melangkah mengikuti Brayen.


...***...


Devita dan Brayen kini sudah berada di Kunfurstendamn, tempat dimana surga belanja bagi para wanita. Butik - butik merk ternama dunia ada di sini. Dengan sangat atusias Devita langsung mengajak Brayen untuk mengunjungi Louis Vuitton, Gucci, Prada, dan juga Hermes.


Brayen membuang napas kasar menemani Devita berbelanja. Devita membelikkan oleh - oleh untuk mertuanya, orang tuanya sendiri dan juga untuk sahabatnya. Tidak hanya itu, dia pun memilihkan baju untuk Brayen. Baju, sepatu, jaket semua Devita pilihkan untuk Brayen. Sedangkan Brayen, dia tidak menyangka di tengah Devita yang sedang berbelanja tapi Devita ternyata memilihkan untuknya juga.


"Brayen, apa sepupumu itu ada di kota B juga?" tanya Devita sembari memilih tas yang dia inginkan.


"Maksudmu Felix dan Eldrick?" Brayen mengerutkan keningnya.


"Ya, apa Felix dan Eldrick ada di kota B saat ini?" tanya Devita memastikan.


"Harusnya saat kita kembali Felix ada di kota B. Tetapi jika Eldrick, sepertinya dia tidak ada di Kota B karena dia sedang berada di kota A. Memangnya kenapa?" tanya Brayen bingung. Tidak biasanya Devita menanyakan tentang sepupunya itu.


Devita tersenyum. "Aku sudah membelikan oleh - oleh untuk Felix, Eldrick dan tunangannya Clara dan juga Albelrt sudah aku belikan oleh - oleh."


"Kau banyak sekali membelikan oleh - oleh untuk orang lain," balas Brayen.


"Tentu!" Seru Devita antusias. " Aku juga sudah mencatat apa saja yang akan aku belikan untuk Mom Rena, Mama Nadia, Daddy David, Papa Edwin, Olivia, Alberlt, Felix, Eldrick, Clara dan juga adikmu Laretta,"


"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya Brayen, karena sejak tadi, Devita banyak membelikan barang untuk orang lain.


"Kau tenang saja. Aku juga membelikkan untuk diriku. Tidak terlalu banyak memang, karena kemarin aku sudah berbelanja." balas Devita.


Brayen pun mengangguk samar. "Kau sudah membeli dompet untukmu?"


"Astaga, aku lupa!" Teriak Devita sambil menepuk dahinya. Padahal, tujuannya datang kesini ingin membeli dompet, menggantikan dompetnya yang hilang. Tapi bisa - bisanya dia lupa membelikan dompet untuknya.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.