
Dan suara tembakan pun terdengar....
Semua orang yang berada di sana pun sangat terkejut kala mendengar suara tembakan, lalu menatap sosok pria yang terjatuh di lantai dengan darah yang mengalir banyak dari tubuhnya.
"Tidak Edgar!" Suara Lucia berteriak histeris melihat saudara kembarnya tergeletak di lantai dengan penuh darah, tangisannya pecah, dia meraung dan memanggil nama Edgar. Pandangan Lucia mulai buram, hingga akhirnya dia terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri.
"Tuan Edgar?" seru Arthur asisten Edgar yang panik saat melihat Edgar sudah di lumuri dengan darah.
Brayen tergelak, menatap Edgar yang sudah di penuhi oleh darah. Brayen bersimpuh di lantai, menekan luka Edgar, agar darah berhenti mengalir.
"Bodoh! Kenapa kau menyelamatkan ku!" Seru Brayen, menyalang penuh emosi. Dia tidak suka jika harus berhutang budi, terlebih pada anak dari Gelisa.
"B- Brayen, aku sudah menyelediki alasan Ibuku sangat membenci Edwin. Kau ambil surat di brankas ruang kerjaku. Dan Arthur akan membantumu. Aku-" Edgar menutup mata, dia tidak mampu lagi untuk melanjutkan perkataannya. Brayen mengepalkan tangannya dengan kuat. Pengawal Brayen langsung membawa Edgar kerumah sakit. Brayen meminta Albert untuk menghubungi Edwin. Sedangkan Lucia yang tergeletak pingsan di bawa oleh salah satu pengawal Brayen.
Felix mengumpat di dalam hati, dia tidak menyangka jika Lucia akan berniat menembak Brayen. Tapi Edgar yang berkorban untuk membantu Brayen. Karena memang kejadian itu begitu cepat, hingga Felix tidak menyadari tembakan yang di arahkan pada Brayen.
...***...
Brayen duduk di sofa, dia menyewa ruangan tempat di samping kamar Devita. Bukannya tidak ingin dekat dengan istrinya, tapi pikirannya kini tidak bisa berpikir jernih. Edgar kini masih dalam penanganan. Sedangkan Albert, mengambil surat yang di maksud oleh Edgar. Di sisi lain, Brayen ingin sekali membalas semua yang di lakukan oleh Lucia. Tapi dia harus menunggu. Karena Brayen ingin melihat dan mengetahui apa alasan sebenarnya Gelisa ingin menghancurkan keluarga dari Istrinya itu.
Terdengar suara ketukan pintu, Brayen mengalihkan pandangannya dan langsung memintanya untuk masuk.
"Brayen?" sapa Edwin melangkah masuk, dia di hubungi oleh Albert untuk datang ke rumah sakit untuk menemui Brayen.
"Pa, masuklah ada yang ingin aku katakan padamu," balas Brayen.
Edwin mengangguk singkat, dia berjalan mendekat ke arah Brayen dan duduk di samping menantunya itu. "Ada apa son?" tanya Edwin menatap lekat Brayen, tersirat jelas kini Brayen tengah memiliki banyak hal yang di pikirkan.
"Pa, sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak memberitahu Papa tentang masalah kecelakaan Devita." kata Brayen, sejak awal memang dia tidak memberitahu pada Edwin, jika kecelakaan Devita bukan kecelakaan murni. Brayen hanya tidak ingin membuat Edwin menjadi cemas dan khawatir, dia memilih untuk merahasiakan ini untuk sementara waktu.
"Maksudmu apa, Brayen?" tanya Edwin yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh menantunya ini.
"Lucia Wilson membayar seseorang untuk mencelakai Devita. Tapi saat itu, Olivia berhasil menyelamatkan Devita. Ini alasan luka Olivia teman Devita itu jauh lebih parah dari pada Devita." Brayen mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya. " Dan hari ini, Lucia berusaha untuk melarikan diri. Aku dan pengawalku berhasil menangkapnya. Saat aku lengah, Lucia berusaha untuk menembakku. Sayangnya yang terkena tembakan itu Edgar. Pria itu mengorbankan dirinya menyelamatkanku."
Edwin menggeram, "Dimana Lucia! Beraninya dia berniat membunuh putriku!"
"Lucia sedang berada di rumah sakit ini, dia pingsan ketika melihat Edgar tertembak. Papa tidak perlu khawatir, dia berada dalam pengawasan anak buahku. Wanita itu akan mendapatkan balasan yang telah dia lakukan." balas Brayen. "Tapi ada hal penting yang ingin aku katakan padamu. Ini tentang, alasan Gelisa sangat membencimu."
"Apa alasan wanita itu membenciku?" Edwin terus menatap lekat Brayen.
"Saat Edgar, masih sadar dia mengatakan kepadaku, jika Gelisa menuliskan sebuah surat yang berisi alasan kenapa dia begitu membencimu. Albert sedang mengambil surat itu."
"Aku tidak pernah memiliki salah apapun pada Gelisa." tukas Edwin.
"Tuan," Albert menundukkan kepalanya saat masuk kedalam ruangan.
"Tuan Edwin," sapa Albert. Edwin mengagguk singkat.
"Kau sudah mendapatkan suratnya?" tanya Brayen langsung.
"Sudah Tuan, tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan." jawab Albert.
Brayen menautkan alisnya, "Ada apa?"
"Silahkan di baca dulu Tuan, isi surat ini. Setelah itu saya akan memberitahukannya." kata Albert sembari memberikan surat pada Brayen. Namun, Brayen mengarahkan pada Albert untuk memberikannya kepada mertuanya.
*Dear Edwin Smith,
Aku menulis ini saat diriku tahu, anakmu telah menikah dengan Brayen Adams Mahendra. Aku membaca kehidupanmu dari media. Hidupmu sangat sempurna. Kini kau berhasil mendapatkan kesuksesan. Aku sangat bangga padamu.
Mungkin suatu saat kau akan membenciku jika aku datang di hidupmu dengan membalaskan dendamku. Aku ingin sekali mengubur dendam ini. Tapi sayangnya aku tidak bisa. Aku memang sangat bangga melihatmu bisa sukses seperti saat ini. Tapi ketahuilah, lepas dari itu semua aku membenci kau memiliki kehidupan yang bahagia. Dengan istrimu yang cantik dan anakmu yang akhirnya menikah dengan pria hebat.
Saat kau pergi meninggalkan Kanada, aku tengah mengandung anakmu. Aku mencarimu tapi tidak menemukanmu. Aku kabur dari rumah, dan hidup di jalanan dengan kondisi hamil. Aku tidak lelah untuk mencarimu, aku selalu berusaha mencari keberadaanmu tapi pada akhirnya aku tidak menemukanmu. Hingga tubuhku melemah, aku jatuh pingsan di jalanan. Aku gagal menjaga anak kita Edwin. Karena kondisiku begitu lemah hidup di jalanan.
Aku berusaha menjalani kehidupanku tanpamu tapi itu tetap tidak bisa. Sampai suatu hari, aku putus asa dengan segala hal yang terjadi di hidupku. Aku mendatangi klub malam, dan minum hingga mabuk. Kesialan menimpa diriku, ketika di pagi hari aku bangun aku sudah tidur dengan pria asing.
Lima tahun aku membesarkan anakku Lucia dan Edgar yang aku sendiri tidak mengenal Ayah mereka. Kemudian aku melihatmu di media, kau sudah menjadi seorang pria yang hebat dan memiliki seorang istri.
Aku sangat membencimu karena kau begitu lemah Edwin, kau begitu mengalah pada dunia yang menghina dirimu. Di saat kau memiliki segalanya, kau sudah memilih wanita lain tidak menoleh ke belakang. Padahal aku selalu menunggumu untuk menjemputku. Tetapi kenyataannya kau tidak pernah menjemputku Edwin. Jangan salahkan aku, jika suatu saat aku menghancurkan kehidupanmu.
Gelisa Willson*
Edwin meremas dengan kuat surat yang ada di tangannya, tanpa sadar air matanya mulai menetes. Benar yang di katakan oleh Gelisa dia terlalu lemah dengan hinaan yang datang padanya saat itu. Bahkan ketika Edwin memiliki segalanya, dia tidak mencari Gelisa. Tapi tidak, Edwin tidak pernah menyesal memiliki Nadia dan juga Devita.
Surat itu terjatuh dari tangan Edwin, Brayen langsung mengambil surat itu. Ketika dia membaca surat itu, Brayen terdiam. Ini alasan kenapa Gelisa begitu membenci keluarga istrinya.
"Apa yang ingin kau katakan, Albert? Katakan itu sekarang. Aku sudah membaca surat dari Gelisa." tukas Brayen dingin.
"Maafkan saya, Tuan. Luka tembak Edgar Rylan Wilson mengenai jantungnya. Dokter mengatakan dia sudah tidak bisa terselamatkan." kata Albert hati - hati.
Brayen memejamkan matanya, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia membenci jika memiliki hutang Budi, terlebih pada seseorang yang bersangkutan pada wanita yang telah mencelakai istrinya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.