
"Ayo kita makan, aku akan mentraktirmu mau makan apa saja sepuasnya," ucap Devita mengajak sahabatnya itu, dia merasa bersalah pada Olivia karena sudah menunggu dirinya.
Olivia tersenyum senang, "Kau memang wajib harus mentraktirku."
Kemudian mereka berjalan meninggalkan Dixon' s Group. Mereka memilih salah satu restoran terdekat dengan Dixon's Group.
Setibanya di restoran, Olivia memesan sirloin steak dan juga juga jus prawn untuknya, serta orange juice dengan dessert red velvet dan juga ice cream. Devita menggelengkan kepalanya ketika melihat sahabatnya seperti seorang yang tidak pernah di berikan makan. Devita terkekeh kecil, ternyata sifat Olivia sejak masih kecil hingga dewasa tidaklah berubah.
"Olivia, kau ini seperti tidak pernah di kasih makan saja!" Komentar Devita.
Olivia mendengus kesal dan berkata, "Aku kelaparan karena ulahmu! Kau ini, lama sekali berbicara dengan Tuan William!" Balas Olivia ketus.
"Tunggu, Tuan William yang waktu itu pernah datang ke kampus kita bukan?" tanya Olivia sambil menikmati makanannya yang baru saja di antar oleh pelayan.
"Ya, kau benar. Dia teman Brayen tapi aku rasa mereka tidak berhubungan dengan baik." jawab Devita.
"Tidak berhubungan dengan baik bagaimana maksudmu?" tanya Olivia kembali.
"Brayen, tidak mengakui berteman dengan William. Lalu, ketika dia menatap William yang aku lihat adalah tatapan kebencian." Devita menjawab sembari meneguk orange juice miliknya.
" Tapi aku lihat William orangnya sangat lembut dan ramah. Di tambah dia juga tampan meskipun tidak setampan suamimu itu. Tapi tetap saja William itu tampan. Pasti banyak gadis yang mengejarnya," ujar Olivia mengingat wajah William.
Devita memutar bola matanya malas dan berkata, " Jika dia tampan, lalu aku harus apa?"
"Apa kau tidak menyukainya? Aku saja, jika di dekat pria tampan, jantungku selalu berdebar kencang." kata Olivia dengan antusias.
"Kau ini bagaimana, pria tampan di dunia ini sangat banyak! Lalu, ketika kau di samping pria tampan dan jantungmu selalu berdebar keras? begitu?" Devita menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan pemikiran Olivia.
"Tidak semua, hanya beberapa saja. Mungkin lebih tepatnya aku mengagumi para pria tampan," kata Olivia dengan senyuman di wajahnya.
"Lebih baik kau mencari kekasih, dan mulai lah menjalin hubungan." ucap Devita memperingati sahabatnya itu.
"Belum ada yang sesuai dengan hatiku.Nanti saja setelah aku menemukan pria tampan yang tidak hanya membuat jantungku berdegup dengan keras. Tapi juga membuat tubuhku bergetar hebat," ucap Olivia menjelaskan alasan dia masih menyendiri.
Devita tertawa kecil "Kau sungguh gila, Olivia. Aku akan menyetrummu dengan tegangan listrik yang tinggi hingga membuat tubuhnya tidak berhenti bergetar."
"Kau ini! Aku ini sedang serius. Tapi kau malah bercanda!" Gerutu Olivia.
"Sudahlah, nikmati makananmu. Apa kau ingin menambah sesuatu lagi?" tawar Devita.
"Ya, aku ingin membungkusnya untuk di rumah. Saat pulang nanti, pasti aku sangat kelaparan!" Balas Olivia.
Devita menggeleng pelan dan mengulum senyumannya kemudian berkata, " Ambillah sepuasmu, Oliv."
"Ah! Kau sungguh yang terbaik, Devita. Kau memang sahabatku yang paling terbaik!" Seru Olivia tersenyum puas.
"Devita, apa kamu sudah tanya dengan Brayen? Waktu itu kita sudah melihat Brayen di artikel sedang bersama dengan artis cantik yang berasal dari Italia " kata Olivia mengingatkan.
"Di perjanjianku dengan Brayen, kita tidak boleh mencampuri urusan masing - masing. Jadi lebih baik tidak perlu bertanya padanya. Lagi pula untuk apa aku juga bertanya, kami hanya akan menikah tiga tahun saja." ucap Devita menjelaskan, dan dia tidak ingin ikut camour masalah Brayen.
Olivia berdecak kesal dan berkata, " Devita, tidak ada yang tidak mungkin. Kalian akan jatuh cinta nantinya! Kalian tinggal satu atap! Dan dia adalah pria yang sangat tampan dan kau juga gadis yang sangat cantik."
"Sudahlah, jangan bicara seperti itu. Karen aku berharap tidak ada cinta di antara aku dengannya. Dia itu, pria yang sangat menyebalkan!" Dengus Devita kesal.
Olivia membuang napas kasar dan berkata, "Terserah saja kau, Devita! Awas saja, jika suatu hari nanti kau menyesal!"
...***...
Devita turun dari mobil, dia melangkah masuk ke dalam rumah. Devita melirik arloji, kini sudah jam empat sore. Sebelumnya Devita di halaman parkir rumahnya, Devita belum melihat ada mobil Brayen yang di pakai Brayen pada pagi hari ini. Itu artinya Brayen masih belum pulang.
Saat tiba di dalam kamar, Devita melepaskan sepatunya dan duduk di sofa. Seketika mengingat dirinya belum menghubungi Mom Rena dan menekan tombol hijau untuk menghubungi Ibu mertuanya itu.
"Mommy?" sapa Devita, saat panggilan terhubung.
"Ya, sayang?" suara lembut Rena terdengar dari sebrang telefon.
"Mom, maaf kalau Devita sudah menganggu, Mommy," ucap Devita.
"Begini, Mom. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada Mommy, karena Mommy sudah membelikanku banyak barang. Di walk in closet milikku sudah penuh dengan branded stuff yang sudah di belikkan oleh Mommy. Ini sungguh berlebihan Mom, aku tidak enak menerimanya. Padahal, sebelum menikah saja Mommy sudah membelikanku banyak sekali barang - barang."
"Sayang, Mommy memang mempersiapkannya untukmu, tetapi Brayen juga ikut membelikannya," ucap Mommy Rena.
Devita mengerutkan keningnya, ketika mendengar Brayen membelikan barang - barang itu. " Brayen, juga membelikannya untukku, Mom?" tanya Devita yang masih tidak percaya.
"Iya sayang. Brayen juga ikut membelikannya. Itu kenapa barang - barangmu sangat banyak,"ucap Mommy Rena memberitahu.
Devita mendesah pelan dan berkata, " Baiklah Mom. Kalau begitu terima kasih, Mom. Aku hanya merasa tidak enak,"
"Tidak perlu tidak enak sayang. Itu memang sudah menjadi kewajiban Mommy sebagai Ibu mertuamu,"
"Terima kasih, Mom. Kalau begitu, aku tutup dulu ya Mom,"
"Iya sayang,"
Panggilan pun berakhir. Devita meletakkan ponsel di atas nakas. Devita terdiam kenapa Brayen membelikan barang - barang untuknya. Pantas saja, banyak barang di walk in closet miliknya. Ternyata tidak hanya dari Ibu mertuanya tetapi juga dari Brayen.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Devita mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Devita menatap Brayen melangkah masuk ke dalam kamar.
"Brayen, kau sudah pulang?" sapa Devita yang lebih dahulu menegur Brayen saat masuk ke dalam kamar.
"Menurutmu?" tukas Brayen dingin.
Devita mengumpat di dalam hati, Suaminya itu benar - benar menyebalkan.
Devita beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah mendekat ke arah Brayen dan berkata, " Aku ingin bicara denganmu,"
"Ada apa?" tanya Brayen, sambil mengambil Ipadnya, lalu membuka email masuk tanpa memperdulikan Devita yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Kau yang sudah membelikkan barang - barang walk in closet milikku? Mom Rena tadi bilang, bukan hanya dia saja yang membelikan barang.Tapi kau juga membelikannya untukku," ujar Devita yang sudah sejak tadi dia ingin menanyakan ini.
"Jika kau tidak suka, kau bisa langsung membuangnya," jawab Brayen dingin.
Devita mendengus kesal. " Kau ini! Jika kau membelikannya! Aku hanya ingin berterima kasih!"
Tanpa menghiraukan ucapan Devita, Brayen memilih untuk berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Dia menyebalkan sekali!" Gerutu Devita ketika melihat Brayen masuk ke dalam kamar mandi.
Devita kembali duduk di sofa dia mengambil ponsel dan memilih untuk membuka social media. Tadinya Devita ingin berendam, tapi karena Brayen yang sudah terlebih dahulu masuk, mau tidak mau Devita menunggu pria menyebalkan itu selesai mandi.
Tidak lama kemudian Brayen berjalan keluar dari kamar mandi. Brayen sudah mengganti pakaiannya dengan celana training panjang dan kaos putih. Tatapan Devita kini teralih pada Brayen yang memakai kais putih. Bahkan, sangat terlihat jelas dada bidang dan otot perutnya. Brayen memang sungguh sangat tampan. Dengan cepat Devita menepis pemikirannya.
Melihat Brayen yang sudah selesai mandi, Devita langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.Devita, terburu - buru, karena Devita tidak ingin Brayen mengetahui dirinya yang sejak tadi sudah memperhatikannya. Jika Brayen tahu, itu sama saja membuat pria itu percaya diri.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.