Love And Contract

Love And Contract
Memilih Gaun



"Terima kasih Nona Laretta, saya tentu senang bisa bekerja di keluarga Mahendra." balas Nagita.


"Nagita, kau duduk dan sarapan bersama dengan kami," Kata Devita dengan nada tidak ingin di bantah.


"Tapi Nyonya-"


"Ini perintah Nagita, bukan aku yang menawarkan. Anggap saja ini tugas pertamamu." Devita langsung memotong ucapan Rena.


"Baik Nyonya," Nagita melangkah mendekat, dia memilih untuk duduk di samping Devita. Terlihat jelas wajah Nagita yang begitu takut ketika duduk di samping Devita.


"Aku tidak memakanmu, Nagita. Kenapa wajahmu tegang sekali." Devita melirik ke arah wajah Nagita yang sangat terlihat gugup dan takut.


"Maaf Nyonya, saya hanya merasa tidak enak duduk bersampingan dengan anda," balas Nagita yang sedikit menundukkan kepalanya.


"Mulai detik ini, kau harus biasakan. Karena makan bersama denganku adalah salah satu perintah dariku," ujar Devita. Nagita lalu mengangguk patuh.


"Nagita, kau harus terbiasa karena memang Kakak iparku memang sangat baik. Kau begitu beruntung memiliki atasan seperti Kakak Iparku ini. Perintah darinya tidak akan pernah menyusahkanmu," sambung Laretta.


Nagita membalas dengan senyuman di wajahnya.


"Oh ya Devita, dimana Olivia? Bukannya hari ini dia akan datang?" tanya Laretta yang baru menyadari Olivia masih belum datang. Padahal Olivia sudah mengatakan akan datang pagi ini.


"Astaga, aku lupa. Hari ini desainer yang di kirim oleh Brayen. Tapi kenapa Brayen tidak mengingatkanku," gerutu Devita. "Olivia juga kenapa belum datang. Biasanya Olivia selalu bersemangat jika ada pesta."


"Apa mungkin Olivia kesiangan?" tebak Laretta.


"Tidak mungkin, Olivia itu tidak mungkin bangun kesiangan kalau sudah memiliki janji denganku," jawab Devita. "Ya sudah, lebih baik kita sarapan dulu. Nanti setelah sarapan aku akan menghubungi Olivia."


Laretta menganggukk setuju. "Ya, kau benar. Lebih baik kita sarapan dulu."


Setelah selesai sarapan, Laretta dan Devita berjalan menuju ke ruang keluarga bersamaan dengan Nagita yang juga mengikuti Devita. Kini Devita harus terbiasa dengan kehadiran asisten barunya yang selalu mengikuti dirinya.


...***...


"Selamat pagi Nyonya Devita dan Nona Laretta," sapa seorang perempuan. Ketika Devita dan juga Laretta melangkah menuju ke ruang keluarga, mereka bertemu dengan sosok wanita yang sangat cantik yang baru saja di perbolehkan untuk masuk oleh pengawal.


"Viona? Kau sudah datang?" Laretta tersenyum, menyambut desainer langganan ibunya kini berada di hadapannya.


"Sudah Nona, maaf saya sedikit terlambat." balas Viona.


"Tidak masalah yang penting kau sudah datang," jawab Laretta.


"Devita, kenalkan ini Viona desainer langganan Mommyku." ucap Laretta yang memperkenalkan Viona.


"Ah, maaf aku tidak tahu." kata Devita yang tidak enak karena tidak mengenalinya. Karena memang selama ini Devita tidak terlalu mengenal para desainer ternama. Biasanya Nadia Ibunya yang jauh lebih mengenal desainer ternama dari pada dirinya. Devita hanya mengenal beberapa nama, tapi tidak terlalu memperhatikan wajah.


"Tidak apa - apa Nyonya. Mari saya lihat kan gaun pilihan yang paling tepat untuk Nyonya Devita dan Nona Laretta," Viona menjentikkan jarinya, meminta asistennya untuk membawakan gaun - gaun itu. Terdengar suara langkah ketukan heels yang menggema masuk. Devita dan Laretta kini menoleh ke arah pintu memperhatikan suara ketukan heels itu.


Pandangan Devita dan Laretta kini menatap sosok yang wanita yang sejak tadi mereka tunggu. Kini Olivia berjalan cepat ke arah Devita dan juga Laretta.


"Devita... Laretta... maaf aku terlambat." Olivia tersenyum ke arah Laretta dan juga Devita.


"Kau dari mana saja Olivia!" Seru Devita kesal.


Devita mendengus. "Sejak kapan kau memiliki janji denganku, tapi datang siang? Alasanmu cerdas sekali Olivia Roberto!"


"CK! Sudah yang penting aku sudah datang." balas Olivia tidak terima jika terus di salahkan.


Laretta terkekeh pelan. "Benar apa kata Olivia, yang terpenting dia sudah datang Devita."


Devita membuang napas kasar. "Sekarang lebih baik kau pilih gaun mana yang kau inginkan." tunjuk Devita ke arah gaun - gaun yang tertata rapih di hadapannya.


Olivia menatap kagum gaun - gaun itu, dia langsung mendekat dan memilih gaun - gaun yang berada di hadapannya. Begitu pun dengan Devita dan juga Laretta, mereka juga memilih gaun yang tepat untuk mereka pakai.


Devita kini menatap sebuah gaun yang berwarna gold dengan model bagian atas tali spaghetti. Tidak hanya itu, gaun yang Devita lihat ini sangat seksi dan anggun. Belahan gaun ini hingga ke pangkal paha.


"Aku mau ini!" Devita menunjukkan gaun gold yang berada di tangannya.


"Devita, kau serius?" Olivia menatap tak percaya. Pasalnya, gaun yang di pilih oleh Devita sungguh seksi. Meski harus di akui, pilihan Devita sangat sempurna.


Devita menganguk yakin. "Ya, aku rasa ini sangat cantik."


"Jika saja tubuhku masih kurus, aku mungkin akan memilih gaun sepertimu." sambung Laretta. "Tidak mungkin, ibu hamil dengan perut yang sudah membuncit ini bisa memakai gaun pilihanmu Devita."


Devita terkekeh kecil. "Itu alasan aku memilih gaun ini, aku ingin menikmati diriku sebelum diriku menjadi gemuk nanti. Kehamilanku masih kecil, jadi tubuhku masih bisa memakai gaun itu. Tapi, ketika aku sudah hamil besar aku harus rela memakai gaun yang kurang seksi."


Viona mengulum senyumannya. "Nyonya, anda salah. Karena sesungguhnya wanita hamil jauh terlihat lebih seksi. Tubuh anda sangat indah Nyonya Devita, jika perut anda membesar nanti. Saya yakin, gaun apapun yang anda kenakan akan terlihat sangat sempurna."


"Kau ini bisa saja menghiburku." balas Devita.


"Tapi itu benar Devita. Apa kau tidak lihat? Laretta sekarang, dia bertambah sangat cantik semenjak dia hamil." sambung Olivia yang menyetujui perkataan dari Viona.


"Oh, come on. Jangan membahas tentang diriku. Lebih baik bantu aku untuk memilih gaun yang tepat untuk ibu hamil yang gemuk sepertiku ini," balas Laretta.


Olivia dan Devita terkekeh. "Baiklah, kami akan membantumu."


Olivia memilih sebuah gaun yang berwarna hijau dengan model atas kemben. Sedangkan Laretta, pilihannya jatuh pada gaun yang berwarna maroon lengan panjang. Namun gaun Laretta memperhatikan punggung indah miliknya jika Laretta memakai gaun itu.


Setelah Devita, Olivia dan juga Laretta memilih gaun untuk mereka, Viona langsung berpamitan untuk pergi. Devita memanggil Nagita asistennya untuk meletakkan gaun miliknya yang berada di walk in closet miliknya. Kemudian Devita mengajak Olivia dan juga Laretta untuk bersantai di taman.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.