Love And Contract

Love And Contract
Merancang Perjodohan



Pagi itu, cuaca begitu cerah. Kini Laretta tengah menatap cermin. Laretta memoles make up tipis di wajahnya. Dengan balutan dress berwarna tosca membuat Laretta terlihat sangat cantik. Kandungan Laretta kini sudah memasuki usia enam belas minggu. Perut Laretta pun sudah terlihat membuncit. Bahkan berat badan Laretta sudah bertambah beberapa kilogram. Tapi Laretta tidak perduli dengan beratnya yang sudah bertambah. Bagi Laretta kesehatan bayi yang ada di kandungannya jauh lebih penting.


Laretta mengatur napasnya, berusaha untuk menenangkan dirinya. Hari ini, dia akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Setidaknya dia akan berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuanya jika Angksa adalah pria yang tepat di hidupnya.


Suara dering ponsel terdengar, Laretta mengambil ponselnya yang berada di meja rias. Senyum di bibir Laretta terukir saat dirinya menatap ke layar tertera nama Angkasa mengirimkan pesan. Dengan cepat Laretta langsung membuka pesan dari Angkasa.


Aku sudah di depan rumah. Kau bisa keluar sekarang - Angksa


Laretta kembali tersenyum membaca pesan dari Angkasa. Laretta mengambil tasnya lalu melangkah keluar meninggalkan kamar. Saat Laretta keluar dari kamar, dia berpapasan dengan seorang pelayan.


"Selamat pagi, Nona Laretta." sapa pelayan itu menundukkan kepalanya.


"Pagi, apa kau melihat dimana Devita?" tanya Laretta, dia ingat hari ini Devita dan juga Brayen akan datang ke rumah orang tuanya.


"Nyonya Devita masih di kamar, Nona. Tadi Nyonya Devita berpesan untuk Nyonya Laretta untuk berangkat lebih dulu. Nanti, Nyonya Devita dan Tuan Brayen akan menyusul," jawab pelayan itu.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat. Tolong sampaikan pada Devita dan juga Kakakku, aku sudah berangkat bersama dengan Angkasa." balas Laretta.


Pelayan itu mengangguk. "Baik Nona."


Laretta melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan rumah. Di depan rumah Laretta bisa melihat mobil sport milik Angkasa yang sudah terparkir di halaman parkir. Laretta melangkah mendekat, lalu masuk kedalam mobil Angkasa. Tidak lama kemudian, Angkasa mulai melajukkan mobilnya meninggalkan mansion.


...***...


"Devita, kau yakin tetap akan pergi ke rumah orang tuaku?" tanya Brayen sambil memijit tengkuk leher istrinya. Setiap pagi, kini Devita selalu merasa mual dan pusing. Meski dokter sudah memberikan obat, tetap saja Devita sering merasa mual.


"Minumlah dulu." Brayen membantu istrinya untuk minum teh, lalu meletakkan kembali gelas ke tempat semula.


"Aku tidak apa - apa Brayen." jawab Devita. Dia langsung membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Semenjak hamil, Devita lebih ingin dekat dengan suaminya. Bahkan kalau Brayen menerima telepon di malam hari, Devita akan marah karena tidak ingin di tinggal.


Brayen mengeratkan pelukannya. Dokter sudah mengatakan, jika wanita hamil lebih sensitif. Brayen tidak keberatan sama sekali jika istrinya itu jauh lebih manja dari sebelumnya. Melihat istrinya itu sering merajuk dan tidak ingin jauh darinya, membuat Brayen sangat senang.


Devita mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan suaminya, "Brayen, nanti ketika kita di rumah Mom Rena dan Dad David. Kau harus berjanji untuk tidak berdebat dengan Angkasa. Aku tidak ingin melihatmu berdebat di depan Mom Rena dan Dad David."


"Semua itu tergantung dari pria itu," jawab Brayen dingin.


Devita mencebik kesal. "Jangan seperti itu, Brayen. Kau tahu, Angkasa akan menjadi adik iparmu."


"Laretta belum tentu memiliki perasaan pada Angkasa." balas Brayen.


Devita mengulum senyumannya dan memilih untuk tidak menjawab. Dia tidak ingin menceritakan tentang perasaan Laretta pada Angkasa. Devita membiarkan suaminya ini berpikir jika Laretta tidak memiliki perasaan pada Angkasa. Karena Devita menunggu sampai Laretta mengatakan ini sendiri.


"Brayen, menurutmu anak kita itu laki - laki atau perempuan?" Devita mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membahas lagi Laretta dan juga Angkasa.


"Aku juga demikian, tidak masalah laki - laki atau perempuan. Paling terpenting bayi kita itu sehat." balas Devita. "Dan Brayen, kau harus mengurangi sifat arrogantmu itu. Aku tidak ingin, jika anakku memiliki sifat arrogant seperti Ayahnya."


Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya kenapa kalau anakku memiliki sifat yang sama denganku? Tentu saja mereka akan mirip denganku, bukan? Karena aku Ayahnya."


"Kalau kita memiliki anak perempuan, itu tidak baik, Brayen! Para pria pasti akan membenci anak kita!" Dengus Devita kesal. Kali ini dia tidak akan membiarkan anak perempuannya memiliki sifat yang sama dengan Brayen.


"Kau harus ingat, Devita. Anak perempuan kita nanti, memang tidak bisa sembarang dekat dengan seorang pria. Karena aku sudah merancang masa depan untuk anak - anak kita nanti. Dan aku pastikan anak - anak kita nanti akan mendapatkan pasangan yang pantas." kata Brayen menekankan. "Aku tidak akan mau memiliki menantu yang tidak pantas bersanding dengan anakku."


Devita berdecak pelan, "Kasihan sekali nasib anak - anakku nanti. Aku saja dulu saat di sekolah merasakan kehidupan yang sederhana!"


"Tidak ada kata sederhana di kehidupan keluarga Mahendra." tukas Brayen. "Dan aku juga ingin memberitahukan satu hal yang penting padamu."


Devita membuang napas kasar, "ada apa?"


"Jika anak kita laki - laki, aku akan menjodohkannya." jawab Brayen. Devita tersentak, dia tidak habis pikir dengan apa yang di katakan oleh Brayen. Suaminya itu akan merancang perjodohan untuk anaknya. Sedangkan, anaknya saja belum lahir.


"Apa kau ini sudah gila Brayen? Apa kau sudah kehilangan akal sehat mu? Anak kita saja belum lahir, tapi kau sudah merancang perjodohan untuknya?" Devita mengurai pelukannya dan menatap tajam suaminya itu.


"Ini yang terbaik untuknya. Aku tidak ingin, jika anakku mendapatkan wanita sembarangan. Aku sudah menentukan yang terbaik." balas Brayen. "Tapi ini berbeda dengan kita, kalau dulu kita mengenal dan satu minggu kemudian kita sudah menikah. Kali ini, aku ingin memberikan sedikit waktu untuk anak kita nanti mengenal pasangannya."


Devita menggeleng tak percaya, dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu. Kepalanya langsung sakit mendengar rencananya suaminya itu. Benar - benar sungguh kasihan nasib anak - anaknya. Ini sudah Devita duga dari awal, Brayen pasti sudah mengatur kehidupan anak-anaknya nanti.


"Brayen, kau sudah membuatku sakit kepala. Memikirkan nasib anak - anakku yang pasti tidak bisa memilih apa yang mereka suka. Kau itu benar-benar Brayen!" Cebik Devita kesal.


Brayen tersenyum tipis. Dia kembali menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. "Karena memang aku yang mengendalikan semuanya, sayang. Kau harus bisa menerima ini. Kau dan anak - anak kita nanti selalu berada dalam kendaliku."


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.